(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Comeback Home


__ADS_3

~sebelum membaca harap tap jempol dulu ya guys. Aku tau sih kalian itu ga perlu diingetin pasti udah pahamšŸ˜—~


°


°


Sepulangnya Nanda, Rama, dan Pak Prima dari masjid, tak lama kemudian disusul kedatangan Mas Rahmat yang baru sampai untuk menjemput mereka. "Siang Pak, Mbak. Udah siap semua?" tanya Mas Rahmat saat baru saja sampai dan melihat ruang tengah sudah di penuhi barang-barang milik calon penumpangnya.


"Udah Mas, tapi Mas Rahmat kalo mau istirahat gak pa-pa istirahat aja dulu" ucap Feza karena pasti Mas Rahmat lelah apalagi perjalanannya untuk sampai ke desa ini sangat jauh.


"Saya udah biasa Mbak, tergantung Mbak Masnya aja mau berangkat sekarang atau sebentar lagi" sahut Mas Rahmat.


"Semua udah siap kan? Gak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Nanda sambil memperhatikan semua barang bawaan milik istri dan teman-temannya.


"Udah, udah di cek semua. Gak ada yang ketinggalan" jawab Feza.


"Astaghfirullah" pekik Rama lalu kembali masuk ke dalam kamar. Tak lama ia kembali lagi menenteng bantal dan guling apartemennya.


"Giliran make ga tau diri, pas pulang ga ada yang peduli" gerutunya lalu mengikat bantal dan guling menjadi satu dengan tali rapia.


Semua pun hanya bisa nyengir kuda karena dimarahin Rama. "Buruan angkut-angkutin, jadi pulang gak sih?" teriak Rama dari luar karena temannya masih saja diam diruang tamu. Pak Prima saja sudah dari tadi duduk di mobil karena sudah selesai memasukkan barangnya ke dalam bagasi.


Setelah menata ulang semua barang agar muat, akhirnya koper dan bantal guling milik Rama terpaksa diikat di atap mobil karena kursi di bagian bagasi akan di pakai karena kini mereka nambah satu personel yaitu Dinda. "Ya ampun, koper mahal gue lagi" ucapnya sendu menatap Mas Rahmat yang sedang mengikat kopernya.


"Alah, mahal-mahal tapi bukan lo yang beli" ketus Feza.


"Terus siapa, Za?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Ya mantannya dong, kan hadiah ultah sekalian liburan bareng. Makanya sayang banget sama tuh koper" cerita Feza.


"Mas, saya aja yang nyetir. Biar Mas Rahmat bisa istirahat" titah Nanda yang langsung mendudukkan dirinya di kursi pengemudi.


Lalu disampingnya di isi oleh Pak Prima. Dikursi bagian tengah diisi Dinda dan Feza, dan kursi paling belakang ada Mas Rahmat dan Rama.


Perjalanan pun dimulai, namun sebelum itu mereka mampir dulu ke rumah Bapak Kepala Desa untuk menyerahkan kunci rumah dinas serta berpamitan karena akan kembali ke Jakarta. Disana, mereka tidak mampir terlalu lama karena Pak Kadesnya juga sedang mau pergi ke suatu tempat dan mereka pun langsung melanjutkan perjalanan kembali.


Di perjalanan kali ini, Dinda dan yang lain kembali bisa menikmati pemandangan yang tersaji di kiri kanan jalan. Pepohonan yang rapat dan tinggi-tinggi membuat teduh pemandangan.


Ditambah lagi Nanda menyalakan lagu di ponselnya yang terhubung ke audiocar dengan volume yang sedang. Membuat semua penumpang di mobil itu jadi semakin terhanyut karena begitu pas dengan suasana saat ini.


"Nah disini Din pohon yang waktu itu kita singgahin terus Rama diganggu kunti" ucap Feza yang membuat Dinda ikut memperhatikan pohon yang Feza tunjuk. Sampai mobil melesat jauh meninggalkan pohon itu.


"Lo gak mau pamit dulu Ma? Nanti dia tersinggung lho" tanya Dinda sekaligus iseng pengen ngerjain Rama.


"Amit-amit" ucap Rama sambil getok bagian atap mobil di atas kepalanya. "Gak ada kerjaan banget gue pake pamit-pamit segala. Udah gue yang digangguin, terus gue juga yang musti hormat ama dia" celoteh Rama membuat yang lain tertawa.


"Din, apa gak ada pertanyaan laen? Pala gue jadi mumet nih" ucap Feza karena tidak menyangka pertanyaan Dinda akan se-amazing itu.


"Tau nih. Dikira kita anak indigo apa sampe tahu hal-hal macam begitu" sahut Rama.


"Kayanya anak indigo pun gak ada yang kepikiran mau negur duluan, yang ada kan mereka yang di kejer-kejer buat di ajak komunikasi" sahut Pak Prima yang kebetulan pernah punya pasien yang merupakan anak indigo namun dengan kondisi anak itu yang belum terbiasa melihat penampakan. Alhasil, anak itu di sangka mengalami kondisi psikilogi yang buruk oleh orangtuanya sehingga di bawa ke psikolog.


Setelah berbincang-bincang bahas perhantuan, kini mulut mereka terkatup akibat lapar. Gak kepikiran sebelum berangkat tadi untuk makan siang terlebih dahulu. Sedangkan rumah makan yang berjejer dikiri kanan jalan ini tampaknya khusus menjual makanan non-halal. Jadi, mereka terpaksa harus menunggu lebih lama sampai mereka menemukan tempat makan yang sesuai dengan yang mereka mau.


Setelah menemukan rumah makan padang, mereka pun mampir untuk makan sepuasnya dan sholat ashar. Kurang lebih satu jam mereka menghabiskan waktu di rumah makan itu, mereka pun melanjutkan lagi perjalanan yang masih bersisa kurang lebih 4 jam itu.

__ADS_1


Diperjalanan panjang itu, semua diam. Nanda yang sedang mengemudi pun melihat ke belakang dengan spion tengah. Tidak ada yang bersuara karena ternyata semua penumpang belakangnya ini tertidur. Hanya Pak Prima yang masih membuka mata.


"Pantes sunyi Pak. Pada tidur ternyata" ucap Rama.


"Kamu jangan Nan, nanti kalo kamu ikut tidur kita bangunnya udah beda alam" canda Pak Prima.


Keduanya pun berbincang-bincang membahas kehidupan masing-masing. Dengan perbedaan latar belakang, mereka menjadi saling antusias mendengarkan cerita-cerita seputar pekerjaan dan kehidupan rumah tangga. Termasuk hal-hal absurd yang pernah di alami selama menjalani pekerjaan masing-masing.


Tak berapa lama, mereka harus kembali menghentikan perjalanan. Dikarenakan harus menjalani kewajiban di senja hari.


Dinda dibangunkan oleh Nanda, lalu Dinda membangunkan Feza dan yang lain untuk sholat maghrib. Sebentar saja mampir disana, mereka pun kembali lagi kemobil untuk segera pulang.


Sorot lampu mobil lain yang melaju ikut menerangi perjalanan mereka dan menghantarkan mereka sampai ke kota tepat pukul 10 malam. Nanda menghentikan mobil di kantornya. Karena ia akan mengambil mobil miliknya yang memang sebelumnya ia tinggalkan disana.


"Mas Rahmat, nyetirnya hati-hati ya" ucap Nanda saat Mas Rahmat sudah duduk di kursi kemudi. Dan Rama juga sudah pindah ke samping Feza.


"Kalian hati-hati dijalan" ucap Nanda sambil tersenyum dan mengangkat tangan sebagai ucapan selamat jalan.


"Bye Za, Ma" Dinda ikut melambaikan tangan pada Feza dan Rama.


Setelah mobil Mas Rahmat sudah melaju pergi sampai tak tampak lagi, Dinda dan Nanda pun lalu memasukkan barang-barang mereka ke mobil dan segera pulang kerumah pribadi mereka.


Dinda pun yang baru teringat dengan ponselnya langsung berniat menghubungi sang mama untuk mengabarkan bahwa dirinya dan Nanda sudah sampai di Jakarta. Dan tidak pulang kerumah Mama melainkan akan pulang ke rumah pribadi mereka.


-


...----...

__ADS_1


Bagi kalian yang udah paham di bagian bawah ini biasanya otor ngetik apa? Betul sekali.


Like guys, komen, vote, bagi kopi atau bunga deh. Lop uā£


__ADS_2