(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Pamit ala Nanda


__ADS_3

Nanda, Rama, dan Zapata masuk kedalam ruang kerja super canggih milik Zapata. Didalamnya terdapat meja kerja yang cukup besar dan di belakang kursinya ada papan tulis yang penuh dengan kode dan tanda panah. Sepertinya pria itu sangat jeli dan terampil dalam segi menganalisa, pikir Nanda.


"Silahkan duduk! Gue sengaja ajak kalian kesini karena semua rahasia kelam pejabat yang sempat gue kenal ada disini semua. Gue yakin aja suatu saat pasti gue butuh bukti-bukti ini. Dan sekaranglah saatnya. Nih baca!" Zapata menyerahkan buku catatan berwarna cokelat setebal 5cm ke depan Nanda. "Lo kan polisi, pasti gampang buat lo menentukan mau selidiki yang mana dulu" sambungnya.


Nanda membuka catatan itu dengan penuh ketelitian. Ia membolak-balik dari depan ke belakang lalu berbalik lagi kehalaman sebelumnya. Begitu seterusnya.


"Gimana?" tanya Zapata saat Nanda beberapa kali memijat pelipisnya.


"Ternyata ini lebih kusut dibanding yang gue kira" ujar Nanda.


Karena Rama penasaran, ia pun mengambil buku catatan itu dari tangan Nanda. Sebagai seorang dokter yang juga merangkap sebagai kutu buku, Rama sangat pandai membaca cepat dan dengan mudah menarik kesimpulan.


"Mulai dari sini!" ucap Rama tanpa disangka-sangka dengan menunjuk bagian di buku catatan. "Waktu kita gak lama. Yono lusa udah masuk jadwal sidang putusan. Kita harus bertindak cepat biar sidang itu tertunda. Dengan cara, kita bongkar kasus yang efeknya jauh lebih besar menarik perhatian masyarakat. Dan menurut gue, kasus yang ini" Rama menyampaikan pendapatnya.


Zapata dan Nanda mendekat dan membaca bagian yang ditunjuk Rama. Zapata mengangguk setuju tapi Nanda masih ada keberatan dalam hatinya. Karena kasus yang dimaksud Rama adalah kasus pertambangan batubara yang ilegal karena di buka tanpa izin dan juga menjadi sarang untuk para cukong Romi berlindung dari kejahatan lain termasuk juga korupsi. Yang mana pertambangan tersebut berada di desa M****u yang merupakan desa tempat mereka pernah tinggal bersama dulu.


Itu tandanya Nanda akan meninggalkan sang istri demi menjalankan tugas negara yang sama sekali bukan atas perintah atasan melainkan terdorong hati nuraninya saja. Zapata dengan wajah seriusnya mengangguki ide Rama, sekaligus meyakinkan Nanda bahwa tindakan yang akan mereka ambil sudah tepat.


"Baik, gue bakal kesana. Sendiri pun gue berani" ujar Nanda dengan kemantapan hati. Ia berkata demikian karena menduga tak ada yang mau pergi kesana.


"Gue akan ikut. Setidaknya ada yang bisa gue bantu meski jabatan gue sudah lepas dari genggaman" sambut Zapata mantap.


"Gue juga akan berangkat. Karena Romi punya hutang penjelasan sama gue" ujar Rama dengan tersulut emosi.


"Jadi kapan kita berangkat?" tanya Rama.


"Malam ini juga!" sahut Zapata.


"Ah nggak dong" sambut Rama cepat. Nanda mengusap wajah kasar mendengar usul Zapata.


"Lah kenapa? Lebih cepat lebih baik 'kan?" sergah Zapata.


"Kalimat andalan pejabat banget" sungut Rama.

__ADS_1


"Bro, kita berdua punya istri. Gak bisa pergi seenaknya. Anak orang mesti dihargain. Kita malam ini pamit dulu, biar perginya bisa tenang" ujar Nanda. "Berangkat besok aja gimana? Janjian dimana? Jam berapa?" ujar Nanda mengusulkan.


"Setuju nih. Malam ini spesial pamit ke istri" sambar Rama cepat.


"Ya udah yang mau kelonan, kelonan aja. Besok kita berangkat jam 7 pagi. Kumpul disini, biar berangkat pakek mobil gue aja. Gue punya mobil anti peluru, bisa ngelindungin kalo ada apa-apa. Dan kita tambah personel satu lagi. Ada rekan gue, dia jurnalis biar dia bisa menyiarkan langsung ke tv-tv dengan link yang dia punya. Percaya sama gue, dia bisa kita percaya".


Akhirnya semua sepakat akan berangkat di keesokan pagi. Nanda pun pamit dari sana dan kembali ke kantor setelah mengembalikan Rama kerumah sakit.


Sampai di kantor, semua lagi-lagi tidak berjalan mulus. Nanda mendapat peringatan dari salah satu rekannya karena terhitung sudah terlalu sering tidak masuk. Tapi Nanda tidak peduli, dirinya akan tetap pergi. Karena ia tahu yang akan ia lakukan nanti bisa saja membuatnya memiliki jenjang karir yang lebih baik. Atau kalaupun sebaliknya, ia jadi kehilangan pekerjaan. Setidaknya mertuanya sudah tahu alasan mengapa sampai seperti itu.


Nanda pun melemburkan diri di kantor karena harus pergi dikeesokan pagi. Ia tidak mau membebani terlalu banyak sehingga kalau bisa, ia pergi pekerjaannya sudah tak ada yang tertinggal. Kecuali pekerjaan yang muncul saat dirinya tidak ada di kantor.


Flashback Off


Nanda baru teringat bahwa besok malam ia tidak perlu berbohong dengan alasan lembur lagi. Karena ia akan pergi bersama Rama dan Zapata ke Desa M****u.


"Yank, aku besok mau kembali ke desa M****u. Ada perintah dari atasan buat selidikin kasus. Aku gak tau sampe kapan, tapi kalo kamu sendirian dirumah kamu balik kerumah papa aja. Aku juga udah bilang kok ke papa mau pergi kesana" ucap Nanda yang berbaring memeluk istrinya dari belakang.


"Ih masa aku ditinggal lagi. Kamu kok hobby banget pergi-pergi" ucap Dinda dengan nada kecewa.


"Tapi nggak lama 'kan?" tanya Dinda dengan berbalik dan bertatapan langsung dengan suaminya. Ia juga menempelkan keningnya dengan kening Nanda. Mata mereka bertemu lekat. Tapi tubuh mereka terhalang perut.


"Aku nggak tahu, sayang. Sebisa mungkin aku pulang cepat. Aku kesana juga sama Rama dan dua orang lagi rekan kami" tutur Nanda.


Dinda beringsut memundurkan keningnya. "Sama Rama? Rama kan bukan polisi? Kan, kamu pasti mendam sesuatu" tuduh Dinda telak.


"Jadi, tersangkanya kali ini sahabatnya papa Rama. Romi Maha Jayardi namanya. Dia juga udah racunin bokap Rama dan ngancam adiknya Rama. Makanya Rama mau ikut, itung-itung balas dendam. Ini misi tersembunyi sayang, polisinya cuma aku" ungkap Nanda apa adanya. Nanda mengelus rambut halus istrinya, agar wanita itu percaya.


"Terus dua orang lagi yang kamu bilang tuh siapa?" tanya Dinda mulai melunak.


"Mantan anggota DPR RI, Zapata namanya. Kalo satu lagi tuh jurnalis, aku gak tau namanya. Zapata yang usul buat ajak dia. Aku sama Rama oke-oke aja yang penting bisa dipercaya" lanjut Nanda.


"Hah? Zapata?" tanya Dinda dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Iya. Kamu kenal?" kali ini Nanda yang bertanya.


"Kenal gak kenal sih" jawab Dinda datar.


"Kok jawabnya gitu?" Nanda mulai cemburu. Tangan yang sedari tadi memainkan rambut Dinda terlepas karena kesal.


"Lah, kan emang gitu" sambut Dinda aneh. Masalahnya kenapa Nanda tidak yakin dengan jawabannya. Terus yang aneh siapa dong? Dinda atau Nanda.


"Kenal dimana?" tanya Nanda lagi.


"Dimana ya? Soalnya cara kenalnya gak gitu" ucap Dinda.


"Gak gitu gimana? Kan namanya kenalan pasti jelas ada waktu dan tempatnya dong" sungut Nanda kesal tapi masih bisa ditahan-tahan.


"Ngeliat pertama kali pas di kantor Aidil. Tau namanya dari Ayu. Tapi aku sama sekali gak pernah ngobrol sama dia. Cuman pernah kasih brownies panggang sekali gara-gara dia pernah bantu aku" ungkap Dinda polos. Padahal hati Nanda sudah penuh dengan kembang api yang meletup-letup.


"Ngasih kue apa ngasih kode?" tanya Nanda cemburu mode on.


"Ih kamu apaan sih. Emangnya aku cewe apaan ngasih-ngasih kode kaya gitu ke cowok" kesal Dinda.


"Dulu juga kamu gitu ke aku" tuduh Nanda asal.


"Idih, mana pernah" sangkal Dinda cepat sekaligus memutar bola mata jengah. Nanda kalau cemburu memang suka main tuduh sembarangan.


"Jadi, dia bukan mantan kamu?" tanya Nanda masih belum puas.


"Ya bukanlah. Kan udah berapa kali aku bilang, mantan aku cuma satu. Yang kamu benci-benci itu lho" ucap Dinda setengah menahan tawa karena teringat tingkah Nanda yang kekanakan kalau lagi cemburu buta. Tapi Dinda suka.


"Awas aja kamu bohongin aku" ancam Nanda dengan menunjuk tepat depan wajah Dinda namun setelahnya ia memeluk Dinda erat. Dinda membalas pelukan erat suaminya yang akan pergi esok hari.


"Yank, berarti sidang Yono kamu gak datang?" tanya Dinda setelah mengurai pelukannya.


"Sidang Yono ditunda" Nanda mantap berkata demikian meski kenyataannya belum tentu.

__ADS_1


...***...


Yang kasih komen dan boom like Aku doain rezekinya gak habis-habis๐Ÿ‘๐Ÿ’‹


__ADS_2