(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
29. Muak


__ADS_3

Yoshh, terimakasih sudah membaca sampe bab ini. Aku minta likenya yaa biar makin semangat nulis hehe...


...*...


...**...


...***...


"Kamu jangan marah kaya gini" ucap Ariel lirih sambil memegang tanganku. Berharap aku masih bisa memaafkannya seperti sebelum-sebelumnya.


"Kamu pernah mikir gimana perasaan aku? Jangan cuma berani berbuat aja tapi giliran ketahuan malah ga mau ngaku. Aku selalu puji kamu Riel di depan teman-teman aku. Kamu aku kenalin ke mereka. Tapi aku? Apa pernah kamu ngakuin aku ke temen-temen kamu. Kayanya yang tau aku pacar kamu cuma anak komplek sini. Selebihnya aku kaya di sembunyiin" ucapku yang kini sudah bisa mengendalikan emosiku meski dada ini sebenarnya sangat sesak.


"Kalo memang kamu udah ga sayang aku lagi, gapapa Riel. Aku lebih baik sedih ngelepas kamu daripada sedih gara-gara kelakuan kamu. Ga puas-puas nyakitin aku" sambungku yang kini tak sanggup lagi menahan air mata yang sepertinya hendak kembali turun.


"Kamu tuh posesif, dikit-dikit ngomong putus. Kamu ga dewasa. Aku capek kamu curigain terus. Aku ga macam-macam kalo lagi kumpul sama temen aku. Tapi kamu ga pernah percaya. Kamu tuh kaya anak kecil, dikit-dikit marah. Semua keinginan kamu harus di turutin. Aku sampe ngalah ninggalin hobi aku demi kamu" beber Ariel yang tak lagi bisa menahan unek-unek yang sejak lama ia pendam.


"Jadi, aku yang salah? Jadi, aku penyebab kamu selingkuh? Riel, asal kamu tahu. Meski kamu bikin aku nangis terus, meski kamu khianatin aku terus. Aku ga pernah sama sekali cari pengganti kamu Riel. Bodohnya aku yang tetap yakin kamu akan berubah dan tetap balik sama aku. Sekarang kamu memang balik sama aku, tapi cuma untuk nyakitin aku lebih dalam. Satu lagi, itu cewek yang dulu aku pernah bilang ke kamu jangan di follow tapi tetap kamu follow kan? Aku tahu udah 1 bulanan Riel. Tapi ga ada tuh marah sama kamu. Jadi, aku posesif?" ketusku yang mulai muak dengan Ariel yang sejak dulu aku yakini adalah laki-laki dewasa dan setia. Ternyata justru sebaliknya.


"Aku pamit ya Riel, ga ada gunanya juga aku tetap di sini. By the way, semoga langgeng ya sama dia" ucapku denga tersenyum kecut.


Sumpah, aku menyesal pernah cinta sama laki-laki brengsek ini. Menyesel pernah nangisin dia. Sumpah mati, ga akan lagi aku mau ngeliat dia. Aku jijik, makiku dalam hati saat hendak meninggalkan halaman rumah Ariel.


Aku melenggang meninggalkan rumah Ariel dengan separuh nyawa yang seperti terbang entah kemana. Tapi aku berusaha tetap berjalan santai. Karena aku yakin Ariel pasti sedang memperhatikanku dari belakang.


Bisa besar nanti kepalanya jika melihatku berjalan tergopoh-gopoh atau bahkan seperti orang mau pingsan karena di tinggalkannya. Aku yakin dan percaya, bukan aku yang kehilangan Ariel. Tapi justru Ariel yang kehilangan aku.


Tuhan, kuatkan aku. Aku tahu kau sudah siapkan jodoh untukku dari jauh-jauh hari. Tapi aku malah menyibukkan diriku dengan drama-drama taik kucing ini.


Semoga jodohku tidak mengalami hal yang sama seperti yang aku alami ini. Mungkin ia sedang di pelukan orang lain saat ini.

__ADS_1


Mendadak saat kakiku memasuki pagar rumahku, aku merasa pusing yang amat sangat. Mungkin ini efek karena sedih yang amat pedih.


Yang baru kali ini saja aku alami.


Pov Dinda end


Dinda yang baru saja pulang dari acara debatnya dengan Ariel dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan membuat Bi Hanum segera berlari menyambut di depan pintu utama. Bi Hanum yang tak pernah melihat Dinda seperti ini rasanya ingin segera menghubungi majikannya untuk segera pulang.


"Bi, aku jelek banget ya?" tanya Dinda saat Bi Hanum memegang lengannya hendak ingin membantunya berjalan menuju ke dalam rumah.


"Non Dinda cantik banget. Siapa bilang Non jelek. Anak saya di kampung aja sampe naksir liat foto Non Dinda" jawab Bibi yang berkata apa adanya.


"Itu kan jawaban keseluruhan Bi. Yang aku tanyain tuh kondisi sekarang" sewot Dinda yang merasa Bibi nih bohongnya ga tertata apik. Harus banyak-banyak latihan sama Ariel.


"Hehehe, ga enak atuh Non kalo Bibi jawab yang sebenarnya" canda Bi Hanum yang sengaja mengatakan itu agar anak majikannya ini bisa ceria lagi.


"Udah ah Bi, jawabannya udah tau" sungut Dinda yang akhirnya melepaskan tangan Bi Hanum dari lengannya. Ia seperti mendapat energi lebih ketika Bi Hanum menyebutnya jelek dengan cara tersirat.


Hanya saja cinta yang baru pertama kali Dinda kenal justru pahit bener. Manis di awal doang.


Dinda yang tadinya galau banget, kini mulai sedikit tenang dan bisa mengontrol detak jantungnya. Ia kini duduk di balkon kamarnya sambil memasang headset di telinganya agar bisa melupakan kisah sedih yang baru saja ia alami.


Dinda duduk dengan posisi menghadap ke samping kanan, ke arah rumah tetangganya samping kanan. Sebab kalo hadapnya ke depan atau ke kiri, itu sama saja membuka luka lama.


Karena yang terlihat lagi-lagi pasti rumah Ariel. Argggg, kenapa harus macarin tetangga sih. Kan susah jadinya. Mau nyantai aja harus ngatur-ngatur hadap mana.


Dinda terbayang-bayang lagi dengan kenangan indahnya bersama Ariel. Padahal ia berusaha sekuat tenaga untuk jangan lagi memikirkannya tapi entah kenapa malah terputar wajah Ariel di kepalanya.


Dinda tersenyum, kemudian ia berpikir. Mungkin ini cara Tuhan ngajarin gue jadi dewasa. Dengan tidak melawan perasaan gue.

__ADS_1


"Gue benci lo, Riel. Tapi gue mau dewasa aja. Ketemu lo gue tetap senyum. Tetap elegan biar hati aja yang murung. Pokonya gue harus tunjukin ke dunia ini kalo gue gak layak buat lo campakin, Riel" dikte Dinda mengajari dirinya sendiri tutorial bertemu Ariel.


"Harus bisa pokonya" sambungnya lagi dengan tetap bermonolog.


Hingga di jam 10 malam, Dinda masih saja berkutat sendirian duduk di balkon dengan mendengarkan musik yang hanya seperti angin lalu saja. Tidak ia hiraukan karena isi kepalanya hanya Ariel saja.


Hingga pada akhirnya, ada sebuah lirik lagu yang membuat nafasnya kembali sesak.


*Mungkinkah masih ada waktu


Yang tersisa untukku


Mungkinkah masih ada cinta di hatimu


Andaikan saja aku tahu


Kau tak hadirkan cintamu


Inginku melepasmu dengan pelukan*


(Ipang-Tentang Cinta)


Dan... kembali turun air mata yang sudah mengering beberapa waktu lalu. Dinda mulai mencocok-cocokkan kisahnya dengan lirik lagu tersebut.


Semakin dalam, semakin kelam. Begitulah pandangan Dinda yang tertutupi oleh genangan air mata menangisi seseorang yang menjadi kenangan.


...*...


...**...

__ADS_1


...***...


Udah di like kan? Jangan sampe lupa lhooo👀👀


__ADS_2