
Sepulang dari rumah Ayu, Dinda bergegas merapikan tampilannya di kamar dan mencuci muka agar menjadi lebih segar. Setelah itu, Dinda beranjak ke dapur untuk membuat 2 loyang Brownies panggang untuk Ayu dan Zapata.
Dinda menuruni kamarnya dan menuju ke dapur. Sesampainya di sana ada Papa yang lagi makan beberapa pancake durian di depan kulkas.
"Papa ngapain berdiri depan kulkas? Kaya lagi nyolong makanan aja" ucap Dinda sambil memasang apron ke tubuhnya.
"Ini, papa suka banget makan ini. Tapi karena kemaren gula darah papa naik selama di Medan, mama jadi ngelarang papa makan yang manis-manis" ungkap sang papa dengan celingak-celinguk memastikan bahwa istrinya sedang tak berada di sekitaran mereka.
"Ooh, Dinda paham. Kalo gitu Dinda laporin mama ya" ancam Dinda karena papanya tidak peduli dengan kesehatannya sendiri.
"Jangan dong, sayang. Papa cuma makan 2 ini aja, nanti juga papa minum obat habis makan siang nanti" ucap papa membela diri.
"Ya udah deh" ujar Dinda mengakhiri perdebatan dengan sang papa lalu ia berbalik badan menghadap susunan bahan-bahan kue yang ia butuhkan.
"Kamu mau ngapain?" tanya papa yang masih setia berdiri dekat kulkas.
"Mau bikin kue pa, udah lumayan lama juga kan Dinda ga nyentuh dapur" ujarnya tanpa melirik ke arah sang papa.
"Din, papa kan sekarang udah punya banyak riwayat penyakit, apa kamu belom mau buat gantiin papa mimpin perusahaan? Papa kan cuma punya kamu, Din" ujar sang papa yang mendekat pada Dinda dan merangkul bahu Dinda.
"Pa, aku belom siap. Nanti yaa kalo tiba-tiba dapet wangsit, pasti aku langsung menyerahkan diri sama papa buat gantiin papa" elak Dinda yang masih saja tidak berkeinginan untuk menjadi seperti papanya.
"Kalo gitu, kamu cari aja suami yang mau gantiin papa yah. Kan kalo ga kamu, ya menantu papa" ujar sang Papa yang membuat Dinda menggaruk belakang kepalanya padahal tidak gatal.
__ADS_1
"Iya pah iya, papa do'ain aja pokonya yah" ujar Dinda akhirnya.
"Ya sudah, bikin kue yang enak. Nanti papa cicip" pungkas sang papa lalu berjalan meninggalkan Dinda di dapur sendirian.
Dinda pun segera menuangkan bahan-bahan ke dalam sebuah wadah sesuai takarannya, lalu Dinda mencampurkan semua bahan sampai menjadi adonan menggunakan mixer. Tak lupa, Dinda menambahkan lelahan coklat dan bubuk coklat untuk di aduk ke dalam adonan menggunakan sendok yang agak besar.
Setelah di aduk sampai merata, Dinda menuangkannya ke dalam 2 loyang yang berbentuk persegi dan persegi panjang. Tak lupa, di beri taburan kacang almond di atasnya. Setelah itu Dinda memanggang kuenya dengan oven listrik menggunakan api tengah dengan suhu 170 derajat Celcius selama 30 menit.
Dengan kecanggihan teknologi yang membuat kue Dinda tidak akan gosong jika benar penggunaan suhu dan waktunya, karena ketika sudah tepat 30 menit, maka proses pemanggangannya akan segera terhenti meski kondisi ovennya tetap terhubung ke soket listrik. Dinda pun bisa beristirahat merebahkan tubuhnya di ranjang favoritnya itu sambil menunggu kuenya matang.
Dinda yang kelelahan itu pun tertidur sejenak di pembaringannya. Wajahnya yang teduh, menyiratkan bahwa tak ada kesedihan lagi di sana. Meski di perjalanan pulang tadi, ia berpapasan dengan Ariel yang sedang bersama perempuan di sampingnya.
Walau tak melihat dengan jelas siapa perempuan itu, tapi Dinda sudah terlalu yakin bahwa itu adalah calon istri Ariel. Biasanya, memang firasat seorang perempuan selalu benar. Tuhan Yang Maha Esa memang maha baik terhadap perempuan.
Kita semua pasti tahu, bahwa berbuat jahat pada siapapun adalah perbuatan dosa.
-
Dinda pun terjaga setelah 1 jam terlelap, ia merasa badannya jauh lebih ringan dari sebelumnya. Terlebih, kakinya yang sedari tadi berdiri di dapur juga sudah tak pegal lagi.
Dinda pun beranjak mencuci muka dan berwudhu karena ia belum melaksanakan kewajibannya siang ini. Setelah itu barulah Dinda turun untuk mengecek bagaimana bentuk kuenya dan tak lupa untuk makan siang.
Dinda yang melihat kondisi kuenya yang sangat menggugah selera, di tambah lagi wanginya yang memenuhi seisi ruangan membuat kedua orang tuanya yang berada di kamar mereka langsung bergegas ke dapur.
__ADS_1
"Waah, anak mama jago banget bikin kue ya... Setelah beberapa waktu udah ga pernah bikin kue lagi, sekarang malah langsung bikin 2 loyang sekaligus" sahut Mama dari arah belakang Dinda.
"Iya, ma. Soalnya aku mau kasih ke temen juga. Nih, yang loyang gede ini mau aku potong bagi 2. Setengahnya buat Ayu, setengahnya lagi buat kita" sahut Dinda yang sudah mengeluarkan kedua loyang tersebut.
"Terus yang 1 lagi buat siapa sayang?" tanya Mama penasaran.
"Buat temen mah, soalnya dia udah baik sama aku" ujar Dinda dengan masih merahasiakan nama Zapata. Karena ia takut kedua orang tuanya mengenal Zapata lalu bertanya hal-hal yang membuat Dinda tak ingin membahas pria itu lebih jauh.
"Oh gitu, ya udah buruan potong. Mama ga sabar mau cobain" ujar sang mama bersemangat.
Dinda pun merasa bahagia dengan sambutan sang mama yang terlihat sumringah ketika Dinda membuat kue untuk mereka. Ada perasaan lega dalam hatinya meski tidak melakukan sesuatu yang besar namun kebahagian kecil seperti saat ini membuat Dinda mengingingkan hal ini setiap harinya. Bahwa bahagia itu sederhana, tidak perlu sampai menghabiskan uang berjuta-juta, tapi bisa melakukan satu hal yang sederhana saja itu sudah cukup. Intinya bersyukur.
Di sakiti, bersyukur.
Di khianati, bersyukur.
Di jauhi, bersyukur.
Di remehkan, bersyukur.
Kuncinya cuma 1, kamu akan di hargai oleh orang yang tepat. Dan kalau mengalami 4 hal di atas, itu artinya Tuhan sedang menjauhkanmu dari yang tidak tepat.
Itulah yang saat ini Dinda rasakan, sedang di jauhkan dari yang ia anggap baik sebelum di pertemukan dengan yang terbaik versi Tuhan. Dan ia bisa merasakan sedikit demi sedikit betapa besarnya jalan yang terbentang di depan jika ia berlapang dada.
__ADS_1
Dindapun makan siang bersama kedua orang tuanya. Setelah makan siang, mereka ngobrol santai di ruang tengah sambil makan kue buatan Dinda dan nonton acara infotainment di televisi.
Sudah lama pa, ma kita ga kaya gini. Dinda bahagiaaa banget bisa ngumpul bareng kalian lagi, ucap Dinda dalam hatinya.