(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Ini Rumah Tangga Kita!


__ADS_3

Dinda sampai kerumahnya tepat pukul 2 siang. Ia langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Saat sampai di dalam kamar, Dinda langsung melempar tasnya ke kasur lalu ia juga menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dengan rebahan seperti ini, kepala Dinda terasa jauh lebih ringan dan rasa cenat-cenutnya juga semakin berkurang. Ia menyisir rambut dengan menggunakan jarinya. Dalam genggamannya, ia melihat beberapa helai rambut yang telah rontok akibat perbuatan Feza tadi.


Karena Dinda enggan untuk beranjak dari tempat tidur, ia pun membuang rambut itu ke bawah tempat tidur. Nanti akan ia sapu, pikirnya.


-


"Hooaaaammm" Dinda meregangkan kedua tangannya ke atas kepala. Ia baru saja terbangun dari tidur siangnya.


"Ya ampun, ketiduran. Udah jam 3 lagi, gue harus buru-buru masak buat nanti malam nih".


Dengan tetap menggunakan pakaian formalnya, Dinda segera mencuci muka sebentar lalu segera kedapur untuk menyiapkan makan malam dirinya dan suaminya.


Dinda lupa, di dalam kamar ia meninggalkan helaian rambut rontok yang berserakan di lantai samping tempat tidurnya. Apalagi jumlahnya tak sedikit, sudah seperti rontokan rambut yang tak normal lagi.


Pukul 5 sore Dinda sudah selesai dengan kegiatan masaknya, ia pun langsung mengangkat jemurannya dan membawa ke dalam ruang gosok. Setelah itu, Dinda mencuci peralatan masak yang baru saja ia gunakan.


Tak lama kemudian, terdengar suara klakson dari luar. Ia sudah tahu bahwa itu adalah suaminya. Karena memang setiap kali Nanda baru sampai pasti akan membunyikan klakson, alasannya hanya untuk menggoda Dinda saja.


"Assalamu'alaikum sayang" sapa Nanda saat masuk rumah.


"Wa'alaikumsalam" teriak Dinda dari arah dapur.


"Wanginya" puji Nanda yang sudah mencium aroma masakan yang di buat Dinda.


"Aku bikin cah kangkung tuh, kesukaan kamu banget" ujar Dinda yang masih mencuci peralatan masaknya.


"Pakek toge gak yank?" tanya Nanda yang langsung ia lihat sendiri di dalam tudung saji di meja makan.


"Gimana? Ada gak togenya?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Ada. Yes, biar tokcer nih" goda Nanda sambil menghentak-hentakkan pinggulnya seperti gerakan sedang bercint@.


Dinda langsung menyiram sedikit air yang sudah ia tampung dari keran ke arah Nanda. Ia masih sering jengkel dengan ulah suaminya yang sangat liar itu.


"Cie, masih malu-malu aja. Padahal lebih sering kamu lho ngajakin aku adu mekanik" canda Nanda dengan memfitnah Dinda.


"Gak ada ya, enak aja. Emangnya aku cewe apaan" sambut Dinda yang tak terima dirinya di tuduh begitu.


Nanda pun tertawa melihat respon Dinda yang memegang spatula siap ingin memukul Nanda. Dengan cepat ia menghindari istrinya dengan berlari masuk kamar.


Saat sampai di kamar, Nanda langsung membuka satu persatu kancing setelan kerjanya. Lalu saat ia akan meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur, Nanda tanpa sengaja melihat seonggok rambut rontok di lantai yang jumlahnya terbilang sangat banyak.


Sepengetahuannya selama ini, rambut Dinda biasanya rontok tak sampai sebanyak ini. Dan ia pun langsung mengecek ke dalam laci-laci meja hias dan laci yang ada dilemari guna mencari obat-obatan yang sekiranya Dinda sembunyikan darinya.


Namun, Nanda tak menemukan satu obat pun selain kotak P3K yang isinya pun sudah jelas hanya perban, obat luka, antibiotik, dan obat batuk. Obat-obatannya pun hanya obat dosis rendah. Lalu, mengapa rambut Dinda rontoknya sangat banyak. "Apa Dinda juga belum pernah mengeceknya ke dokter?" tanya Nanda yang kini sudah memunguti rambut itu dari lantai.


Nanda yang tadinya ingin bersih-bersih kini mengurungkan niatnya. Ia segera menghampiri istrinya yang berada di teras depan sedang menyirami tanaman sambil membawa rontokan rambut Dinda di tangannya.


"Sayang, apa ini?" tanya Nanda berdiri di belakang Dinda yang masih menunduk menyirami tanaman.


"Sebenarnya aku mau tutupin, tapi aku kan gak bisa bohong dari kamu. Jadi, tadi aku dijambak Feza Yank" Dinda berkata apa-adanya pada Nanda. Karena ia juga merasa membohongi Nanda adalah suatu yang sia-sia, Nanda pandai mendeteksi kebohongan dari sorot mata Dinda bahkan sampai gerakan alisnya pun turut diperhatikan Nanda.


"Serius?" Nanda seolah tak percaya dengan yang diucapkan istrinya.


"Iya, tapi aku gak balas kok Yank. Aku takut jadi bumerang buat pekerjaan kamu kalo aku ikut balas perbuatan dia" ujar Dinda yang menyampaikan ke khawatiran akan suaminya.


"Tapi Feza yang aku kenal dia orangnya ceria dan lemah lembut Yank, apa kamu mancing emosi dia duluan?" tanya Nanda yang membuat Dinda terluka karena Nanda yang seolah meragukan kejujuran darinya.


"Kamu gak percaya sama aku?" tanya Dinda yang kini sudah berkaca-kaca.


"Bukan, bukan gitu. Maksud aku .... emh" Nanda kehilangan kata-kata. Ia juga bingung mau bilang apa.

__ADS_1


"Yank, aku tersinggung lho dengan cara kamu yang gak percaya sama aku. Aku ini istri kamu. Seharusnya kamu lebih kenal sifat aku dibanding dia. Apa selama kita jadian aku pernah berbuat kelewatan? Apa selama ini kamu pernah dengar kabar aku berantem sama orang?" Dinda menghempas kasar alat penyiram tanamannya di hadapan Nanda. Ia lalu masuk kedalam rumah karena tak sanggup menahan tangis di hadapan suaminya.


Nanda yang merasa sudah kelewatan terhadap istrinya pun segera menyusul Dinda kedalam rumah.


Dinda yang kini sudah sampai lebih dulu di kamar berniat menutup pintu, namun Nanda dengan cepat menahan pintu itu agar dirinya bisa masuk.


"Sayang" ucap Nanda penuh rasa bersalah.


Nanda pun memeluk Dinda. Beberapa kali ia menciumi ceruk leher Dinda. Nanda yang mendengar istrinya menangis di bahunya pun ikut merasakan iba. Air mata mengalir di pipinya.


Nanda memeluk Dinda erat sampai Dinda merasa tenang. Setelah itu ia melepaskan pelukannya. Nanda mengusap kedua pipi Dinda menggunakan kedua tangannya. Istrinya terlihat sangat kacau jika sedang menangis.


"Kenapa gak balas jambak Feza, sih?" tanya Nanda yang membuat adegan romantis mereka rusak. Dinda yang tadinya menatap lurus pada sorot mata Nanda malah jadi membuang muka.


"Aku mau mandi aja" elak Dinda yang heran kenapa bisa-bisanya Nanda berkata demikian saat Dinda berharap suaminya itu mengatakan sesuatu yang lebih enak di dengar.


"Yank" cegah Nanda namun Dinda keburu mengunci pintu kamar mandinya.


"Yank, harusnya kamu jambak dia sampe botak. Tunjukin kemampuan kamu kalo kamu memang lebih layak jadi istri aku di banding dia" oceh Nanda dari luar kamar mandi.


"Kamu mau aku jadi kriminal? Dasar pabo!" teriak Dinda dari kamar mandi.


"Bukan gitu Yank, tapi kamu memang harus mati-matian mempertahankan aku. Jangan mau kalah sama dia. Kan aku suka banget kalo kamu perjuangin segitunya" ujar Nanda dengan berandai-andai di atas tempat tidur.


"Ogah, harusnya kamu berjuang buat aku. Kan aku cewek. Ini kok malah sebaliknya" gerutu Dinda sambil membersihkan tubuhnya.


"Sekali-kali Yank. Intinya kalo ada pelakor mau merusak rumah tangga kita, kamu jangan mau kalah Yank. Aku padamu" timpal Nanda dengan posisi nyaman berbaring sambil menatap pintu kamar mandi.


●●●


Jangan lupa:

__ADS_1


Vote, komen, dan likenya ya guys...


Terimakasih:)


__ADS_2