
Sewaktu hampir Maghrib, Dinda lekas meletakkan penyiram tanamannya dan merapikan pot-pot bunga yang berjejer berantakan. Namun ia masih sempat melirik ke arah rumah Ariel dan ternyata Ariel sedang berjalan menuju pagar rumahnya.
Mungkin mau nutup pagar rumahnya, batin Dinda.
Lalu Dinda berbalik badan dan pura-pura sibuk menata tanaman, ia sengaja melakukannya demi menghindari jika saja nanti Ariel akan mengajaknya bicara.
Ternyata benar, Ariel berjalan dan menutup pagar rumahnya namun sebelum itu, ia menatap ke arah Dinda dan mulai menggoda Dinda.
"Cewek, rajin bener" goda Ariel yang memang senang sekali menggoda Dinda. Apalagi orang yang digoda adalah cewek cantik dan ternyata gokil pula. Sebelumnya Ariel sempat mikir saat pertama kali bertemu, Dinda adalah cewek pendiam, kalem, jaim alias jaga image. Tapi ternyata justru sebaliknya, Ariel merasa Dinda cewek yang benar-benar sefrekuensi dengannya. Apapun lelucon yang di oper sama Ariel, pasti ada saja balasan mengejutkan dari Dinda. Ariel kagum pada Dinda. Sebab jarang sekali ada cewek cantik tapi dengan paket lengkap seperti itu.
"Baru tahu?" balas Dinda sambil membalik badan dan menggerakkan dagunya seperti menantang Ariel untuk berduel.
"Ampun bosque, kan memang baru liat" kilah Ariel sambil memamerkan senyum seperti bocah yang minta jajan sama mamanya sambil mengedipkan kedua matanya dengan perlahan.
"Uluh-uluh gemesnya, jadi pengen nampar" sahut Dinda sambil berusaha menaikkan lengan bajunya sampai ke bahu.
"Sini-sini tampar aku. Tapi aku requestnya pake bibir ya hahaha" ejek Ariel yang tidak tahan melihat ekspresi Dinda yang kocak itu.
"Paa, ada orang mesum ni" jerit Dinda yang sengaja memanggil Papanya agar Ariel kapok menjahilinya.
"Hush hush, becanda doang ini. Tapi kalo mau serius juga gakpapa" jawab Ariel yang panik dan langsung buru-buru kabur kedalam rumahnya karena takut berhadapan dengan Papa Dinda.
"Hahaha, gitu doang langsung ciut. Dasar penakut. Papa aja lagi gak ada dirumah" celoteh Dinda yang bicara sendirian karena merasa lucu dengan tingkah Ariel yang panik karena ketakutan.
Setelah selesai dengan kegiatan seputar tanamannya, Dinda langsung bergegas kekamarnya untuk melaksanakan sholat Maghrib. Setelah melaksanakan kewajibannya, Dinda bergegas turun untuk makan malam bersama sang mama, sedangkan papa tadi sore pergi ke kantor karena ada hal yang darurat untuk diselesaikan.
Setelah makan malam itu, Dinda duduk diruang tengah sambil menemani mamanya nonton drama Korea yang memang akhir-akhir ini sangat sering di siarkan di televisi. Karena Dinda bukan pecinta drama Korea tentu saja hal itu membuatnya merasa bosan dan lebih suka mengotak-atik handphonenya. Mulai dari keluar masuk Whatsapp, cek Instagram, buka-buka twitter, yang terakhir sampailah ke aplikasi belanja online.
Dinda yang asyik melihat-lihat segala macam jenis pakaian, perawatan kecantikan, dan lain-lain mulai tergiur untuk membeli satu barang saja, tapi ia masih tidak tahu mau membeli apa.
Setelah menelusuri sampai jauh, dan melihat ke segala kategori, tiba-tiba balik keberanda langsung muncul gambar helm. Dinda teringat bahwa ia belum punya helm, siapa tau itu berguna jika suatu saat ia berangkat sama Ariel lagi.
__ADS_1
Tanpa berlama-lama Dinda langsung memilih helm yang seperti apa yang cocok dengannya dan langsung membuat pesanan.
Setelah jenuh kelamaan di depan tv, Dinda pamit kepada mamanya ingin beristirahat dikamar. Sampai dikamar, Dinda masih sibuk mengotak-atik handphonenya dan mengecek Whatsapp dari teman-temannya yang belum sempat ia balas.
Namun justru masuk pula chat bertubi-tubi dari Ariel. Dinda sempat kaget karena tak biasanya Ariel begini.
Paan nih, tumben banget sekali chat langsung 3 gini, batinnya.
Karena Dinda memang sedang online di Whatsapp, langsung saja Dinda membuka pesan dari Ariel tersebut.
"Gue laper, temenin gue makan di luar yok"
"balas oii"
"Helllloooo, laper nih"
Karena malas ngetik balasan untuk Ariel, Dinda memilih langsung menelponnya saja. Panggilan tersambung, ketika nada dering kedua, panggilan langsung dijawab.
"Dimana kek yang enak, yang deket-deket sini aja" jawab Ariel.
"Oke, lu tunggu dulu. Gue mau siap-siap" jawab Dinda.
"Okee" balas Ariel yang langsung menutup panggilan teleponnya.
Setelah sambungan teleponnya dimatikan, Dinda keluar kamar terlebih dahulu untuk meminta izin sama mamanya bahwa ia akan keluar sebentar untuk menemani Ariel cari makan. Dan setelah perizinan selesai dengan syarat "jangan lama-lama" Dinda pun segera mengganti pakaian santainya dengan jaket merah muda dan celana panjang kulot warna hitam. Dandan tipis-tipis, kemudian semprot parfum sana-sini, rambut yang dicepol di bagian atas, dan akhirnya...
"Sempurna" ucap Dinda yang masih berdiri di depan kaca.
Tak ingin Ariel kelaparan menunggunya, Dinda segera menuju keluar rumah, ternyata ada mobil yang terparkir di luar pagarnya dengan mesin yang menyala dan nampak pengemudinya didalam meski kacanya tertutup. Dengan penasaran Dinda segera membuka pagar rumahnya dan berniat menghampiri mobil tersebut untuk menanyakan kenapa parkir didepan rumahnya. Ternyata saat hendak mengetuk kaca mobil tersebut, posisi kacanya langsung bergerak turun. Serta dengan langsung memperlihatkan sang pengemudi yang ada di dalamnya. Ternyata itu Ariel.
"Masuk, jangan planga plongo. Gue laper nih nungguin lu. Lama banget" sewot Ariel yang ternyata sudah menunggu Dinda sedari tadi bahkan saat panggilan telepon dimatikan ia langsung menuju ke mobil dan menunggu Dinda depan rumahnya.
__ADS_1
"Ya ampun, segitu laparnya ya nungguin aku. Maafin aku ya" ucap Dinda dengan tulus dan selembut mungkin karena merasa bersalah telah membuat Ariel kelaparan menunggunya.
"Udah, jangan gitu. Gue juga minta maaf ya. Kita jalan sekarang" ucap Ariel yang langsung menggenggam tangan Dinda dengan hangat dan mengelusnya lembut.
Dinda yang tangannya digenggam oleh Ariel merasa deg-degan sekaligus bahagia juga. Kejadian itu membuat senyum terukir diwajah Dinda. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena Ariel perlu mengoper persneling agar mobilnya bisa berjalan.
Meski pegangan tangannya dalam waktu singkat, Dinda merasa benar-benar bahagia malam itu. Dan sepanjang perjalanan mereka saling diam karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hingga keheningan itu dipecahkan oleh suara berat milik Ariel yang meminta rekomendasi makanan apa yang enak dan tidak terlalu jauh dari perumahan mereka.
"Kamu kan tinggal disini udah lama, kira-kira makanan yang enak apa ya di deket deket sini?" tanya Ariel yang tanpa ia sadari ia sudah memanggil Dinda dengan sebutan "kamu".
"Aku biasanya makan makanan pinggir jalan bareng mama papa atau bareng temen. Tapi kamu emang mau makan makanan pinggir jalan?" tanya Dinda yang langsung melihat ke arah Ariel untuk melihat bagaimana responnya.
"Apa aja, asalkan bareng kamu" sahut Ariel dengan menatap tajam kedua bola mata Dinda.
Meski keadaan di dalam mobil sedikit gelap, namun dengan dibantu oleh pencahayaan dari lampu jalan dan lampu kendaraan yang lewat, tentu saja mereka masih bisa melihat tatapan satu sama lain.
"Kalo gitu, makannya nasi uduk aja mau?" tanya dinda yang langsung mendapat jawaban anggukan dari Ariel.
"Nanti dipertigaan depan, kamu belok kiri. Terus pelan pelan aja, soalnya ga jauh dari situ tempat makannya" titah Dinda memberi perintah.
"Okee" jawab Ariel yang senang diberi perintah oleh Dinda. Itu tandanya sudah ada kemajuan dalam hubungan pertemanan mereka.
...-...
...-...
...-...
Jangan segan-segan tap tombol likenya ya, biar Otor tau yang absen tuh siapa aja😍
__ADS_1