
Di tengah malam yang sudah memasuki tanggal 22 April, Ariel menelepon Dinda untuk menjadi orang pertama dan spesial yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Dinda yang kini tepat berusia 20 tahun pasti sedang tidur nyenyak sambil peluk berbagai macam boneka yang tergelatak berhamburan di atas tempat tidurnya.
Tuuuuut....tuuuuut....tuuuut....
Hingga terdengar suara operator yang menyebutkan jika nomor yang anda hubungi tidak dapat menerima panggilan, cobalah beberapa saat lagi.
Sudah 10 kali Ariel menelepon namun tak kunjung di angkat. "Ini tidur apa mati sih, niat hati mau romantis ngucapin tengah malam, malah jadi kesel sendiri" gerutu Ariel sambil memandangi layar ponselnya.
Lama memandangi layar ponselnya yang memperlihatkan tampilan chat Whatsapp Dinda yang offline, Ariel pun beranjak dari sofa tempat ia duduk menuju ke tempat tidurnya. Sia-sia begadang malam ini, pikirnya.
Pukul 07.00 Wib
Dinda baru bangun dari mimpi indahnya, ia mengucek mata dan meregangkan tangannya ke atas kepalanya. Benar-benar tidur berkualitas.
Ia tidak tahu jika di rumah seberang itu ada seorang laki-laki yang baru tertidur pukul setengah 1 dini hari karena sibuk menghubunginya demi mengucapkan selamat ulang tahun.
"Ya ampun, aku ngga sholat subuh" pekik Dinda karena ia baru sadar jika bangun kesiangan.
Tanpa babibu, Dinda segera mandi karena ia akan pergi ke kampus pukul 8 pagi ini.
Dinda sendiri sepertinya lupa jika hari ini adalah hari pertambahan usianya. Buktinya ia sendiri tak langsung mengecek ponselnya karena khawatir jika banyak panggilan tak terjawab di tengah malam dari Ariel atau teman-temannya.
Pagi itu, Dinda sudah bersiap-siap dan menuju ke arah meja makan untuk sarapan. Setelah sampai di meja makan, barulah ia sempatkan untuk membuka ponselnya.
Di sana tertera tulisan "15 panggilan tak terjawab". Setelah di cek ternyata pelakunya 10 dari Ariel dan 5 nya dari 2 orang teman kampusnya.
Dinda yang sudah terbiasa berangkat ngampus pagi selalu bareng Ariel, seketika langsung menghubungi Ariel karena ia sudah mendapat firasat tak enak kalau-kalau si Ariel itu masih molor di atas ranjang kebesarannya.
Panggilan Dinda tidak di angkat beberapa kali, "Huft, pasti masih tidur" ucap Dinda berbicara sendiri.
Akhirnya Dinda pun berdiri mengambil sepotong roti tawar yang agak jauh dari posisinya, ia mengoleskan selai cokelat dan kemudian langsung pamitan kepada ke dua orang tuanya yang belum menampakkan batang hidungnya di ruang makan.
__ADS_1
"Maaaa paaaaa, Dinda udah sarapan, Dinda pergi dulu yaaa...." teriak Dinda sambil berjalan menenteng buku di tangan kirinya dan sepotong roti di tangan kanan.
"Hati-hati dijalan yaa" sahut mama yang baru nongol saat punggung anaknya mulai tak terlihat di balik pintu.
Dinda keluar dari rumahnya menuju rumah Ariel. Saat sampai di sana, mama Ariel ternyata sedang merapikan dasi sang suami yang ternyata mereka berdua sepertinya akan pergi. Entahlah pergi kemana.
"Eh Dinda, kamu cari Ariel ?" sapa tante yang malu-malu kepergok mesra-mesraan sama oom.
"Eh iya tante" ucap Dinda sambil berjalan mendekat ke arah om dan tante untuk bersalaman dengan mereka.
"Masuk aja, Din. Kalo dia belum bangun langsung siram aja pakek air ya" kata Tante yang menyenggol bahu Dinda pelan.
"Din, tante samo om pergi dulu ya, ga enak nih kalo telat ke acara koleganya oom" sambung tante lagi.
"Pergi dulu ya, Din, kamu masuk aja sana". Kali ini oom yang bicara.
"Iya om, oom sama tante hati-hati di jalan. Dinda masuk dulu ya, daa" pungkas Dinda kemudian sedikit berlari kecil menuju pintu utama rumah tersebut.
Dinda menuju lantai atas karena ia akan membangunkan Ariel biar tidak terlambat ke kantor.
Tok tok tok
Dinda mengetuk pintu, namun di dalam tak terdengar suara apapun. Akhirnya Dinda memberanikan diri untuk membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Pintu terbuka, "oh, ternyata ga di kunci" gumam Dinda. "Kok, kamarnya udah rapi aja. Ariel mana ya?". Dinda mulai mencari ke sana kemari termasuk ke kamar mandi yang ada dalam kamar tersebut. Tapi nihil. Ia tidak menemukan Ariel.
Hingga pada saat Dinda akan membalik badan meninggalkan kamar mandi...
Dorr
"Allahu akbar" latah Dinda. Setelah detak jantungnya mulai normal, Dinda mulai ngomel.
__ADS_1
"Kamu ngapain sih kagetin aku, bete deh di kaget-kagetin. Kaya anak kecil aja. Aku tuh kesini mau bangunin kamu, di telponin ga di angkat, aku kira kamu belum bangun, ternyata malah udah rapi" omel Dinda seraya berjalan menuju sofa depan tv yang ada di dekat mereka.
"Berani-beraninya kamu ngomelin aku, harusnya aku yang ngomel" ucap Ariel dengan raut wajah datar.
"Lho, justru yang bikin telat kan kamu, kok jadi aku yang harus di omelin" kilah Dinda sambil meletakkan buku yang sedari tadi ia pegang dan menghabiskan sisa roti yang masih berukuran 1 gigitan lagi.
"Coba kamu liat hp kamu, kira-kira aku nelpon kamu semalam jam berapa? Bisa-bisanya makan roti sendiri, aku ga di bagi. Aku laper tau ga, mana ga sempet sarapan. Udah ah, malah ngecek hp. Ayo berangkat" ketus Ariel yang berjalan meninggalkan Dinda yang tengah memeriksa hpnya.
"Sayang, tungguin" teriak Dinda saat menyadari langkah Ariel sudah menuruni tangga.
Ariel berjalan ke dapur hendak mencari apa saja yang bisa ia makan di mobil. Ternyata di sana tak di temui roti tawar, yang ada hanya bubur ayam dan nasi goreng. Ariel bergegas mencari kotak bekal dalam lemari penyimpanan piring saat Dinda sudah berada di dapur.
"Aku laper, ini aku mau sarapan bubur ayam. Tapi makannya di jalan aja, kamu suapin aku" ucap Ariel dengan 1 nafas. Kemudian ia mulai menyendok bubur sesuai dengan porsi makannya, kemudian menyendok ayam suwir, lalu menyendok potongan daun bawang dan bawang goreng yang tersedia di meja. Kemudian menyiram kuah di atasnya.
Tak tak tak, kotak bekal pun tertutup rapat. Jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat 56, sedangkan mereka baru saja mau berangkat menuju kampus Dinda.
"Sayang, makan" ucap Dinda yang hendak menyuapi Ariel.
Ariel pun menurut dan membuka mulutnya.
"Anak pintar" puji Dinda saat Ariel mengunyah sebentar makanannya lalu kembali membuka mulut.
"Jadi kamu udah tau alasan kenapa pagi ini aku ngomel sama kamu?" tanya Ariel yang kembali ingat kekesalannya terhadap Dinda.
"Karena telpon kamu semalam ga aku angkat" sahut Dinda datar sambil tetap melanjutkan kegiatan menyuapi Ariel.
"Tuh tau" kesal Ariel.
"Kamu tumben telpon aku tengah malam, ada apa emangnya?" tanya Dinda lagi yang membuat muka Ariel memerah menahan kesalnya.
Tarik nafas, buang.
__ADS_1
"Nanti aja, pulang ngampus baru aku kasih tau" ucap Ariel pasrah.