(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Hal Positif


__ADS_3

Holaa, berhubung hari ini kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Aku jadi pengen up yang agamis dikit. Sekalian berharap semoga novel ini banyak yang baca dan menghasilkan pundi-pundi rupiah (ga nyambung) hehe. Biar ada modal buat ketemu Sehun-ah.


Adakah disini kaum Exo-l atau Oshbar?


...*...


...**...


...***...


Kini, Dinda tengah berdiri menatap bunga yang akan ia beli. Tanaman itu yang katanya hanya berbunga setahun sekali dan harganya cukup fantastis.


"Kenapa bunga yang ini gak gabung sama bunga-bunga yang lain di depan, mas?" tanya Dinda.


"Karena bunga yang ini perlakuannya harus beda mbak. Kan mahal, gak mungkin sembarangan dong" jawabnya dengan penuh percayaan diri.


"Oh" Dinda hanya bergumam.


"Saya beli 5 deh, berapa harganya?" sambungnya tanpa pikir panjang langsung mau beli 5 pot. Mas penjual pun cukup kaget dengan Dinda yang tanpa pikir panjang langsung mau beli sebanyak itu. Tapi ia juga senang, akan menerima uang banyak dari hasil penjualan bunganya hari ini.


"Karena mbak beli banyak, saya kasih diskon deh. Khusus buat mbak" jawabnya dengan senyum terkembang.


"Iya, makasih. Setelah ditotal-total jadi berapa, mas?" tanya Dinda tidak sabaran.


"15 juta aja mbak".


Dinda pun langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Nanda. Biasa, wanita itu meski susah mendapat izin dari suaminya. Namun, apa-apa tetap mau memberitahu suaminya.


"Halo, masih sakit perut?" tanya Dinda saat suaminya sudah menjawab panggilannya.


"Oh. Yank, aku beli bunga 15 juta boleh ya?" tanya Dinda.


"Hah? Bunga apa yang kamu beli. Mahal amat" jawab Nanda.


"Adalah pokonya, bukan 1 pot 15 juta. Aku beli banyak" ungkap Dinda.

__ADS_1


"Oh, terserahlah" jawab Nanda pasrah.


"Ya udah, aku matiin ya. Sampai jumpa dirumah kita, emmuah" Dinda pun memutuskan sambungan teleponnya tanpa mendengar respon suaminya lagi.


Akhirnya bunga 5 pot itu dibawa dengan menggunakan gerobak dorong menuju mobil Dinda, tapi dengan ditutupi kain hitam. Dinda pun merasa tidak salah membeli bunga.


Benar-benar spesial, sampe gak boleh kena matahari langsung, gumamnya dalam hati.


"Mas, makasih ya. Uangnya juga udah saya transfer. Cek aja kalo gak percaya" ucap Dinda saat semua bunga sudah tersusun rapi dalam bagasi mobilnya. Lalu mas penjual itu pun kembali masuk kedalam gang dengan terburu-buru. Orang aneh.


Saat sampai dirumah, Dinda langsung meminta tolong Bibi untuk membawa bunga yang telah ia beli. Dan keduanya langsung mencari tempat yang cocok untuk meletakkan bunga itu.


Dan akhirnya, mereka pun sudah menentukan dimana tempat yang paling pas. Yakni di halaman belakang dan tak jauh dari tempat jemuran pakaian. Karena disana ada space yang tidak terkena sinar matahari langsung.


Setelah selesai mengurusi bunga barunya, Dinda pun istirahat mau tidur siang. Nanti saat Nanda pulang, akan ia pamerkan bunga-bunga barunya.


*


Satu minggu berlalu, Dinda dan Nanda baru saja pulang cek kandungan. Mereka sangat bahagia karena tumbuh kembang bayinya sangat stabil. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, kata dokter Fira tadi.


Meski Rama adalah dokter kandungan, namun Nanda tidak konsultasi pada Rama. Karena saat di hotel (waktu Rama dan Feza resepsi) Nanda pernah bilang, "Gue mau dokter kandungan yang perempuan aja". Saat itulah Rama merekomendasikan dokter kandungan yang perempuan pada Nanda. Sampai hari ini, dokter yang ditunjuk Ramalah yang Dinda dan Nanda percayai untuk berkonsultasi sampai melahirkan nanti.


"Iya, kamu hati-hati" Nanda pun menciumi seluruh wajah istrinya. Makin hari Dinda makin cantik, pujinya.


Saat ia sudah sampai didepan, Nanda celingukan. Menyadari sesuatu. Ia tak pernah melihat tanaman yang baru dibeli istrinya minggu lalu. Ah, sudahlah. Tanya nanti saja.


Nanda pun masuk kemobil dan melajukan kendaraannya. Sampai di kantor, ia langsung melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.


Saat hari mulai senja, Nanda baru saja sampai kerumah. Pintu rumah terbuka, menampilkan senyum manis dari istrinya yang menyambut kepulangannya. Nanda pun tersenyum hangat saat turun dari mobil.


"Udah mandi?" tanya Nanda saat dirinya baru saja menginjakkan kaki ke teras rumah.


"Udah dong, emangnya kamu" ledek Dinda.


"Mandiin aku yuk" goda Nanda.

__ADS_1


"Bayi besar"


"Aww" ringis Nanda karena mendapat cubitan kecil di pinggangnya.


Mereka pun masuk kedalam rumah. Dinda menyiapkan peralatan sholat mereka saat Nanda sedang mandi. Setelah itu, mereka bisa sholat berjamaah dikamar.


Saat sudah selesai mengucap salam dan berdoa, Dinda menciumi punggung tangan suaminya. "Yank, ngaji dong. Kan kamu dulu sempet ikut lomba ngaji jaman SMP" pinta Dinda manja biar suaminya tak bisa menolak.


"Oke" Nanda pun berdiri menuju lemari buku dekat meja kerjanya. Ia mengambil Al-Qur'an yang sempat dijadikan mahar saat pernikahannya dulu.


Nanda pun duduk kembali di atas sajadahnya dengan posisi kepala Dinda kini tengah berbaring di atas pahanya sambil mengelus-elus perutnya yang kini tambah besar. Nanda pun mengaji. Ia membaca surah Maryam dan surah Yusuf.


Konon katanya, jika ingin anak laki-laki bacalah surah Yusuf. Dan sebaliknya jika mengharap anak perempuan, bacalah surah Maryam.


"Shadaqallahul adzim" Nanda menutup Al-Qur'an kemudian menciumnya. Sudah begitu lama ia tak menyentuh kitab suci itu, ada rasa sedih dalam hatinya. Padahal sungguh selama ini Tuhan begitu ramah mengabulkan permintaannya dan begitu baik memberi segala kebahagiaan dalam hidupnya. Untuk membuka kitab suci ini saja nunggu di suruh dulu.


"Yank, selama kita nikah aku baru kali ini buka Al-Qur'an. Kalo kamu?" tanya Nanda.


Dinda pun menyentuhkan tangannya pada Al-Quran yang di pegang Nanda. "Aku bahkan baru nyentuh sekali" jawab Dinda malu.


"Setelah ini, kita rajin-rajin yuk baca Al-Qur'an. Aku malu lho, jadi suami yang hanya fokus cari uang, ngejar duniawi terus karena pengen hidup senang. Tapi lupa nyenangin yang di atas" ujar Nanda tergugu.


Dinda pun bangun dari pembaringannya. Ia mengusap air mata Nanda. "Iya, aku setuju sama kamu. Mulai hari ini, kita sering-sering baca Al-Qur'an. Kalo gak sanggup tiap jam, sesempatnya aja, tapi minimal satu hari tu ada" ujar Dinda mendukung langkah positif suaminya.


"Iya sayang" Nanda pun mencium kening Dinda. Lalu menciumi perut Dinda yang kini tampak kecil karena tertutup mukena.


Setelah bangkit dari sajadah mereka, pasangan itu pun menuju meja makan. Keduanya bercanda sambil menikmati makan malam yang terasa hangat walau hanya berdua saja.


Setelah itu, Nanda dengan kegiatannya yakni mengekuri pekerjaannya di meja kerjanya. Sedangkan Dinda menonton film Thailand yang sempat di copynya dari Sherly. Kini Dinda sudah kecanduan dengan film Thailand, gara-gara di cekoki oleh Sherly pertama kali saat makan malam bareng Feza dan Rama.


Hari terus berlalu, bunga baru Dinda kini sudah tumbuh semakin tinggi dan Nanda masih belum pernah melihatnya. Dinda sangat merawat bunga-bunga itu dengan baik dan menanti-nanti kapan akan tumbuh putik bunganya.


...*...


...**...

__ADS_1


...***...


Terimakasih sudah menyempatkan waktu membaca novel yang b aja ini hehe, jangan lupa tinggalin jejak yaa, bisa like atau komen biar aku semangat jiwa mau up karena ada kalian yang setia menunggu👅💋


__ADS_2