
Setelah Dinda selesai mandi dan sholat, ia buru-buru turun ke bawah dan membantu Bi Hanum meyiapkan makan malam. Setelah semua sudah tertata rapi di meja, Dinda memanggil kedua orang tuanya untuk segera ke meja makan.
Sedangkan, untuk Dinda sendiri justru membawa makan malamnya ke kamar. Karena ia akan makan sambil menemani Nanda yang wajib di pantau malam ini lewat telepon.
"Halo" sapa Dinda saat panggilan telepon yang menyala dari tadi itu ia tinggalkan sebentar buat ambil makan ke bawah.
"Udah di ambil makanannya?" tanya Nanda yang sebetulnya juga lagi lapar tapi Lita dan teman-temannya belum juga nongol. Sampai-sampai ia harus pergi sholat sendirian.
"Udah, kamu ga makan? Jangan di biasain telat makannya. Nanti sakit siapa yang urus" ucap Dinda memperingatkan.
"Ada, istri orang" ujar Nanda bercanda, eh ngga deng.
"Uhuk... uhuk" Dinda pun keselek medengar penuturan Nanda barusan.
"Kamu hati-hati, makannya pelan-pelan aja" kata Nanda perhatian.
"Kamu beneran ada main sama istri orang?" tanya Dinda tanpa filter.
"Hahaha, ya ngga lah. Maksud aku, ART di rumah. Kan dia istri orang" ujar Nanda tanpa rasa bersalah.
Dinda pun bisa bernafas lega, kirain memang beneran Nanda ada main sama istri orang. Kan gawat kalo saingan sama yang berpengalaman, udah pasti kalah Dinda.
Mereka pun lanjut mengobrol lewat telepon sampai 2 jam. Dan itupun bagi mereka hanya terasa seperti 15 menit karena di jalani dengan hati yang senang.
Keduanya merasa saling nyaman dan makin mengetahui sifat masing-masing. Mereka pun saling menceritakan kesan pertama mereka saat pertama kali bertemu.
Dan ternyata Nanda memang sudah lama ngincar untuk ngajak Dinda kenalan, tapi karena tidak ahli dalam hal ngajakin cewek kenalan alhasil niatnya itu selalu tertunda. Tapi gara-gara mobil Dinda yang salah parkir, akhirnya bisa memuluskan niat awal Nanda untuk bisa mengenal Dinda lebih jauh.
__ADS_1
Sampai pukul 10 malam, di dalam panggilan telepon itu Dinda tidak hanya mendengar suara Nanda namun juga suara Lita. Ternyata teman-teman Nanda sudah balik ke mobil. Dan mereka berencana untuk kembali ke kantor dan melanjutkan pemeriksaan terhadap tempat tersebut esok hari.
Nanda pun segera mengakhiri panggilan teleponnya dengan Dinda dan meminta Dinda untuk segera beristirahat dan tak perlu mengkhawatirkannya sebab, nanti kalau sudah sampai rumah pasti Nanda juga akan langsung mandi dan istirahat.
Mendengar hal itu, Dinda pun mematuhi perintah Nanda. Setelah panggilan itu berakhir, Dinda mengembalikan piring bekas makannya ke bawah lalu sholat Isya dan langsung tidur.
Keesokan harinya
Dinda yang sudah berdandan rapi menuruni tangga untuk sarapan, dan Bi Hanum yang melihatnya langsung mengatakan bahwa ternyata Nanda menunggu di depan.
Dengan langkah pasti, Dinda pun segera menuju ke ruang tamu. Dan ternyata benar, di sana sudah ada Nanda yang duduk sambil memperhatikan layar ponselnya.
"Ehem" sapa Dinda.
"Nanti ya, aku belum sarapan. Kamu udah sarapan?" tanya Dinda sambil ikut duduk berhadapan dengan Nanda.
"Belum juga sih, soalnya tadi aku bangun agak telat. Kalo sarapan dulu, bisa terlambat ke sininya" terang Nanda yang segitu pedulinya dengan Dinda.
"Ooh, tapi kan semalam aku ga bilang minta di jemput kamu. Terus juga biasanya kamu bilang-bilang ke aku dulu kalo mau jemput. Kok hari ini tumben tiba-tiba nongol" ujar Dinda dengan wajah penuh keheranan.
"Pengen ngetes aja. Siapa tahu kalo aku bilang ga mau kesini terus kamunya di jemput orang lain" ucap Nanda karena ia hanya ingin memantapkan hati untuk menjadikan Dinda sebagai kekasihnya.
"Yee, siapa juga yang mau jemput-jemput aku selain kamu" kata Dinda sambil menaikkan kedua alis matanya.
"Ayo masuk, kamu sarapan bareng aku aja" ajak Dinda dengan tulus.
__ADS_1
"Ga mau, aku makannya banyak" jawab Nanda yang merasa malu kalo makan banyak di hadapan orangtua Dinda.
"Papa juga makannya banyak, udahlah kamu tenang aja. Ga usah malu gitu. Aku jadi gemes deh" ujar Dinda memaksa Nanda untuk ikut ke meja makan bersamanya.
Karena sudah di seret Dinda, Nanda pun tak berani menolak lagi. Akhirnya ikut duduk melingkar bersama kedua orang tua Dinda di meja makan.
Mereka sarapan nasi goreng spesial buatan Bi Hanum, karena Dinda masih belom bisa masak kecuali bikin kue. Orang tua Dinda sudah sempat berkenalan dengan Nanda sebelumnya.
Sesekali mereka bertanya perihal pekerjaan Nanda, dan Nanda dengan sopan menjelaskan segala macam kejahatan yang pernah ia tangani termasuk yang baru-baru ini. Bukan hanya bisa ngobrol nyambung, tapi Nanda juga bisa bercanda menyesuaikan dengan siapa ia berbicara.
Dan sepertinya orang tua Dinda cocok sekali bercanda dengan Nanda, karena mungkin pengaruh pekerjaan juga kali ya. Sebagai polisi pasti Nanda sering berjumpa dengan orang banyak dan dengan berbagai macam gaya komunikasi. Jadi, ia dengan mudah nyambung sama kedua orang tua Dinda. Tapi malah Dinda yang ga nyambung. Sebab mereka cerita ngalor ngidul sampe ke lagu lawas pun ikut di bahas.
Namun karena jam terasa bergerak lebih cepat, Dinda pun terpaksa menghentikan bincang-bincang mereka karena harus segera berangkat ke kantor. Dinda pun pamitan dan menyalami kedua orang tuanya. Begitupun dengan Nanda yang ikut mencium punggung tangan kedua orang tua Dinda.
Lalu kemudian mereka melangkah keluar menuju mobil. Dinda pun tersenyum cerah saat menatap liar pemandangan di halaman rumahnya. Lalu mereka menuju mobil dan berlalu dari halaman rumah Dinda.
"Kenapa senyum-senyum ga jelas gitu?" tanya Nanda jahil. Karena sebenarnya ia pun juga pengen senyum-senyum ga jelas hari ini.
"Siapa yang senyum, cuma lagi terapi pipi tirus" elak Dinda yang mencari-cari alasan.
"Bilang aja bahagia kan lihat aku sama mama papa kamu bisa gampang akrab" ujar Nanda geer, tapi fakta sih.
"Iya, kok bisa gitu ya?" tanya Dinda ingin tahu. Karena bisa saja ternyata Nanda sudah kenal lebih dulu dengan orang tua Dinda.
"Aku memperlakukan mereka seperti orang tua aku sendiri, makanya aku ga canggung. Aku sebanarnya juga kangen sama orang tua aku. Udah lumayan lama aku ga ziarah ke sana sama Sherly" ungkap Nanda dengan tatapan sendu namun ia berusaha terlihat tegar di hadapan Dinda. Dan tanpa Nanda ketahui, Dinda pun ikut sedih di dalam hatinya melihat Nanda yang bisa menjadi abang sekaligus orang tua bagi Sherly. Tentu tidak mudah kehidupan yang Nanda jalani sebelumnya, yang Dinda tahu Nanda dan Sherly hidup berkecukupan dan bahagia tanpa tahu suka duka mereka saat baru-baru di tinggal pergi oleh orang tuanya.
●●●
__ADS_1
Gais, aku usaha up 1 episode tiap hari yaa... maaf belum mampu buat crazy up soalnya mata suka perih kalo liat layar hp mulu. Belom lagi nonton yutub, kegiatan wajib tuh hehe...