(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Pengambilan Keputusan


__ADS_3

Dinginnya angin tak mampu lagi ditahan. Feza membuka mata saat waktu di ponselnya menunjukkan pukul 04:50. Entah sejak kapan ia tertidur, tahu-tahu sudah bangun saja.


Teringat akan kejadian semalam, Feza kembali berusaha menutup mata. Rasa takut tiba-tiba menyerangnya kalau terus terjaga sendirian diruangan ini. Namun, semakin di paksa semakin tak bisa.


Feza pun menggeser kursinya mendekat ke Rama. Ia mendekap tubuh lemah itu. Rama ada di depan matanya, namun bagai tiada. Feza menangis haru, melihat kondisi Rama yang tak ada perkembangan. Setiap kali cairan infus habis, Feza langsung menggantinya dengan yang baru. Tapi semua yang Feza lakukan, seperti tak ada gunanya.


"Ma, bangun. Gue gak nyangka lo selemah ini. Gara-gara sakit hati lo sampe sakit beneran kaya gini. Yang kuat dong, Ma. Lo kan cowok. Gimana nanti nasib istri lo kalo punya suami lemah begini. Semoga aja lo gak lemah syahw@t juga hehehe. Sorry ya Ma, gue gak maksud mau ngata-ngatain lo. Tapi kata Pak Prima lo harus sering-sering diajak ngobrol biar saraf lo kembali berfungsi terus lo bisa dengar ucapan gue dan merespon" Feza lagi-lagi menitikkan air mata. Sudah sering ia melakukan seperti ini tapi Rama tak pernah sedikitpun meresponnya. Mata Rama tetap tertutup rapat dan tubuhnya tak bergerak sedikitpun.


"Ma, kata Maudy dia mau balikan sama lo asal lo cepetan sadar. Dia udah gak kuat nungguin lo pulang ditambah lagi harus nungguin lo sadar. Ma, bangun Ma. Maaaaa, gue nangis nih kalo lo masih gak sadar juga. Lo jahat Ma, kalo memang lo mau pergi jauh kenapa gak ajak gue. Gue disini lebih hancur daripada lo. Gue yang pernah niat bunuh diri malah gue yang ngerasa ditinggalin. Ma, gue pengen ikut. Lo dimana Ma sebenarnya? Apa iya lo diganggu makhluk halus kaya yang dibilang Mbak Dwi waktu itu? Jangan nakut-nakutin gue ya Ma" Feza pun mengusap air matanya lalu celingak-celinguk melihat ke arah pintu dan jendela. Tidak ada apa-apa. Nanda dan Pak Prima juga masih tidur di kursinya masing-masing.


"Ma, pokoknya nanti jadwal lo mandi. Kalo lo masih gak sadar juga, gue sendiri yang bakal mandiin lo. Bakal gue obrak-abrik perkutut kecil lo itu. Apa? Gak terima kan lo dibilang kecil? Emang dasar kecil, ngaku aja lo. Apa sekalian aja gue videoin. Biar pas lo sadar nanti bisa gue lihatin videonya ke lo hahahah. Aduh, kok gue jadi geli sendiri sih" Feza menepuk-nepuk mulutnya yang telah berani mengata-ngatai perkutut milik Rama. Padahal melihatnya saja belum pernah.


Feza tersenyum. Ia memandangi wajah lelaki yang bertahun-bertahun selalu tahan menghadapinya bahkan sering membantu menyelasaikan masalahnya. Kalau Feza bertengkar dengan sang mama dan tak mau pulang, selalu ada Rama yang akan mengetikkan pesan-pesan panjang berisi permohonan maaf pada mamanya. Lalu Rama yang akan mengantarkan Feza untuk pulang.

__ADS_1


Sudah terlalu banyak Feza berhutang budi pada Rama. Namun, laki-laki itu tak pernah pamrih padanya. Hal inilah yang membuat banyak rekan-rekan seprofesinya atau bahkan adik tingkatnya di kampus dulu menggilai Rama. Karena Rama orangnya ramah dan juga ia terbukti sangat setia. Wanita liar mana yang tak tergoda untuk merebutnya dari Maudy, hanya saja Rama pandai mendeteksi wanita-wanita yang berpotensi merebutnya dari Maudy. Oleh sebab itu, ia sudah antisipasi duluan. Sehingga tak ada satu wanitapun yang berhasil menjadi orang ketiga dalam hubungannya.


"Hoaaammm" Feza tersadar dari lamunannya saat Nanda sudah terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekilas pada Nanda lalu kembali memperhatikan wajah Rama.


"Jam berapa Za?" tanya Nanda dengan suara khas seperti orang yang masih mengantuk.


"Jam lima dua puluh. Sholat subuh yok" ajak Feza. Karena kalau sendirian keluar dari puskesmas ini dirinya tak berani.


"Gue bangunin Pak Prima dulu" Nanda pun membangunkan Pak Prima. Lalu mereka pulang sebentar kerumah dinas untuk wudhu dan mengambil peralatan sholat. Karena akan sholat di puskesmas saja.


Siang harinya lagi-lagi diwarnai perdebatan antara Feza dan Rama. Pak Prima pusing harus membela yang mana. Yang satu si perempuan dengan dalilnya yang terdengar selalu benar, sedangkan yang satunya lagi, si laki-laki dengan pikiran logisnya yang tak menyetujui jalan pintas perdukunan yang Feza maksud.


"Nan, setidaknya ada usaha. Kalo begini terus kita gak tahu harus nunggu sampe kapan. Bahkan babi yang di cap haram aja, kalo dalam keadaan terdesak karena sama sekali gak ada makanan lain. Boleh dimakan. Apa maksudnya? Berarti kita tuh boleh pakek jalan alternatif ke dukun buat nyembuhin Rama". Dengan berapi-api Feza ingin Nanda mendengar pendapatnya kali ini. Sudah kesekian kali mereka berdebat tapi tak kunjung mendapat titik terang.

__ADS_1


"Oke. Kali ini gue ikutin saran lo. Kalo Rama makin parah, jangan bertindak seolah gue gak pernah ngelarang lo untuk ini" ucap Nanda tegas.


"Oke, sekarang keputusan sudah kita buat. Jadi, kapan kita mau menemui Pak Ratmo?" tanya Pak Prima yang berdiri ditengah-tengah Feza dan Nanda.


"Siang ini juga kita kerumah Pak Ratmo. Karena lebih cepat lebih baik" ucap Feza lantang. Ia lalu menemui Mbak Dwi di meja depan puskesmas untuk menanyakan alamat rumah Pak Ratmo.


"Gue udah dapet alamatnya, lo jaga Rama. Biar gue sama Pak Prima aja dulu yang kesana. Kita jemput Pak Ratmo buat kesini". Nanda pun mengangguk patuh pada perintah Feza. Lalu Feza dan Pak Prima tak mau membuang-buang waktu lagi. Mereka langsung pergi menuju rumah Pak Ratmo yang berada di bagian paling ujung desa ini.


"Ma, asal lo tahu Feza gue liat dari hari ke hari dia jadi makin dewasa dan tegas. Gue sama dia rajin banget berantem gara-gara lo. Sampe Pak Prima capek dengerin bacotan kami berdua. Dan kali ini gue mengalah sama dia, buat ngobatin lo ke dukun itu. Semoga lo bisa sadar lagi, Feza hampir gila ditinggal tidur panjang sama lo" Nanda tiba-tiba merasa entah kenapa dalam pikirannya bahwa Rama dan Feza akan berjodoh. Firasat macam apa ini. Tak biasanya Nanda memiliki gambaran masa depan seperti ini. Dirinya hanya ahli dalam hal menangkap penjahat bukan meramal masa depan. Namun hal ini tetap akan ia simpan sendiri. Biar dirinya dan Tuhan saja yang tahu.


Setengah jam kemudian, Feza dan Pak Prima sudah kembali. "Hah? Udah pulang, kok cepet banget?". Kedatangan mereka disambut oleh pertanyaan Nanda.


"Pak Ratmo lagi di kebun. Biasa pulangnya sore. Kalo ada perlu, nanti malam kesana lagi" ucap Feza mengulang kalimat istri Pak Ratmo tadi.

__ADS_1


"Ya udahlah, gue mau masak dulu buat makan malam kita" Feza pun berlalu ke rumah dinas untuk memasak menu makan malam mereka. Sedangkan Nanda dan Pak Prima menjaga Rama di puskesmas.


Bagi yang belum like, mohon segera di pencet yaa, soalnya otor gak tanggung jawab kalo tiba-tiba nanti malam kalian muntah paku👻👻👻hihihi~


__ADS_2