(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
17. Kepergok


__ADS_3

Masih penasaran sama kelanjutannya? Like dan komen dulu ya sebelum lupa😷🤑


...$...


...$...


...$...


Dinda menikmati makan siangnya diruang tamu sambil melirik-lirik kearah rumah depan yakni rumah Ariel. Ia mau memantau tapi tak mau sampai kelaparan juga.


Sampai kandas makanannya, Ariel tak kunjung keluar. Namun karena sudah izin kepada orangtuanya tapi tak kunjung berangkat, dan daripada ditanyain mulu sama mama "kok belum berangkat juga ?", alhasil Dinda memutuskan segera ke mobil dan menunggu di depan komplek perumahan saja. Toh disana banyak tempat parkir, jadi Ariel juga tak akan menyadarinya.


Dengan berpakaian kasual, Dinda menuju ke arah gerbang komplek secara santai mengendarai mobilnya. Karena cuaca yang terik, Dinda memesan es tebu yang biasa mangkal depan minimarket 24 jam dekat komplek rumahnya.


Saat hendak membayar, Dinda mendengar suara deru motor yang sangat familiar ditelinganya. Dan benar saja, ternyata yang lewat itu Ariel.


Dinda yang tak mau kehilangan jejak sebab lapangan tempat Ariel main basket suka pindah-pindah. Jadi, Dinda buru-buru masuk mobil dan belum sempat menikmati es tebu yang baru saja ia beli.


Dinda sangat senang sebab sepanjang jalan ia tak kehilangan jejak Ariel. Meski begitu, ia tetap saja ngedumel karena Ariel pergi saat itu memang memakai pakaian kantor yang biasa ia pakai. Hanya saja tidak menuju ke arah kantor, tetapi ke arah yang berlawanan dengan kantor.


Cukup lama Dinda mengikuti Ariel, yakni setengah jam ia diperjalanan. Kini mereka telah sama-sama sampai di parkiran gedung olahraga. Dinda parkir agak jauh dari Ariel sebab memang jenis kendaraan mereka berbeda.


Setelah sampai Dinda mengikuti Ariel lagi yang kini telah masuk kedalam dan setelah itu Dinda tak tau kemana perginya Ariel.


Huft, ngilang kemana lagi ni orang.


Karena kondisi disana cukup rame, maka Dinda cuek-cuek saja dan ikut duduk di samping lapangan basket berjejer dengan para pemain cheerleaders disana. Sepertinya sedang ada latihan basket serta latihan cheerleader, pikir Dinda.

__ADS_1


Sekian menit tak melihat Ariel, hingga akhirnya latihan pun dimulai, dan muncullah Ariel di tengah-tengah lapangan basket dengan sudah mengganti pakaian menjadi kostum basket bersama beberapa temannya yang ternyata akan melatih beberapa tim basket dari SMA dan SMK di kota ini. Dinda memperhatikan dari posisi duduknya saat ini. Ada rasa bangga memiliki Ariel sebab, selain tampan ia juga memiliki banyak keahlian di bidang olahraga, dan memiliki tubuh yang sangat memanjakan mata cewek-cewek di luaran sana, termasuk disini juga. Di tempat latihan ini. Karena Dinda mendengar jerit histeris para cewek saat Ariel selesai memasukkan bola kedalam ring yang disaat bersamaan menampilkan perut kotak-kotaknya karena baju yang tersingkap.


Namun, Dinda-lah yang jadi pemilik hati Ariel dan tak bisa di geser siapapun. Karena Ariel tak main-main dengannya.


Sepanjang latihan, Ariel beberapa kali melihat Dinda. Hanya saja Dinda langsung membuang muka ke arah lain agar tak ketahuan Ariel bahwa ia mengikutinya. Berkat topi yang Dinda gunakan saat ini, membuat rambut panjangnya tak kelihatan. Sehingga membantunya berkamuflase. Ia yakin pasti Ariel tak mengenalinya.


Saat menjelang pukul 5 sore, Ariel yang sudah selesai dan hendak pulang dengan kembali memakai pakaian kantornya pun terlihat berjalan menuju parkiran motornya. Dinda yang tidak ingin kehilangan momentum, segera berdehem tepatnya di belakang Ariel yang sedang berjalan itu.


"Ehem" sapa Dinda dibelakang Ariel.


Ariel memutar badannya melihat kebelakang, namun yang ia temui justru seorang perempuan yang tadi ia lihat duduk di samping lapangan. Dengan topi yang Dinda pakai sampai menutup setengah wajahnya, alhasil hanya kelihatan hidung kebawah. Ariel masih tidak menyangka bahwa itu adalah Dinda.


"Hm" jawab Ariel sekenanya tapi seperti masih menunggu respon lawan bicaranya.


Dinda yang sudah geregetan pengin jewer telinga Ariel pun segera melepaskan topi yang membuat wajahnya terpampang jelas. Tentu saja hal ini membuat Ariel terkejut dan mulai senyum-senyum cengengesan.


"Udah selesai periksa berkasnya?" tanya Dinda dengan tatapan maut.


"Kamu tuh bener-bener ya, kalo kamu jujur juga pasti aku ijinin. Tapi ini gara-gara kamu bikin aku sebel. Ga jadi temenin aku nonton. Kamu tau kan kalo aku juga pengin jalan bareng kamu, bukan cuma jalan dari rumah kekampus. Tapi aku mau kaya pasangan lainnya. Kamu tuh sibuk mulu" omel Dinda dengan gaya imutnya yang membuat Ariel tak bisa lagi menjawab hanya bisa ber "iya iya" saja.


"Aku ga percaya lagi sama kamu. Kamu udah berani bohong sama aku" ujar Dinda yang kemudian duduk di sisi depan gedung karena malu diliatin orang.


Sekarang giliran Ariel yang mengekori Dinda, duduk samping Dinda sambil mengelap-elap keringatnya.


"Sayang, kamu ikut aja kalo gitu. Daripada gini. Kamu jadi ga percayaan sama aku" terang Ariel yang memiliki jalan tengah agar tetap bisa main bareng teman dan tanpa dicurigai Dinda lagi.


"Ya udah, kalo aku mau aku ikut" jawab Dinda yang merasa apa yang Ariel katakan ada benarnya juga.

__ADS_1


"Kamu tuh gak yakin ya sama aku?" tanya Ariel yang menatap mata Dinda tulus.


"Ga gitu, aku yakin sama kamu. Tapi tolong dong, waktu kamu buat main sama buat aku tuh adil. Jangan main mulu. Aku bosen, nungguin kamu main tuh suka lama" gerutu Dinda sambil manyun dan membuat Ariel senyum-senyum karena ia sangat senang Dinda begitu jujur tentang perasaannya. Dan itu membuat hati kecil Ariel merasa bersalah. Seolah ia telah membuat Dinda mengemis waktunya.


Ariel cuma mikir bahwa yang penting selalu antar jemput Dinda saja, tapi ternyata yang Dinda mau lebih dari itu. Dan seharusnya Ariel juga paham. Yaah, namanya juga cowok, mikirnya kompleks banget. Ga tau kalo cewek butuh perhatian lebih, pengen diajak jalan-jalan juga.


Ini nih, karena pengalaman si Ariel kurang banget dalam memahami isi hati perempuan. Untung saja Dinda tidak menuntut pake bahasa kode-kodean tapi langsung nyerocos. Membuat Ariel jadi mudah paham.


"Kamu jangan nangis dong sayang, ntar aku dikira ngapa-ngapain kamu lagi" ucap Ariel yang sadar ternyata Dinda kini sedang menangis dan tak mau menatap kearahnya.


"Aku sebel sama kamu, ngerti gak sih" keluh Dinda sambil mengusap air matanya yang ia sendiri tidak tahu mengapa kini ia begitu sensitif dan mudah sekali menangis.


"Sayang, aku minta maaf ya, kamu jangan nangis lagi. Sekarang kamu mau apa, aku turutin" rayu Ariel agar sang pujaan hati tak sedih lagi.


"Ayo jalan, sekarang. Pokonya aku mau keliling-keliling sama mau makan bakso" ucap Dinda yang tetap dengan merengeknya.


"Cup cup cup, iya sayang. Ayo kemotor kalo gitu" bujuk Ariel sambil memegang tangan Dinda mengajaknya berdiri.


"Mobil aku gimana?" tanya Dinda yang tak lagi menangis.


"Ya udah, motor aku titip sama Hendra aja biar nanti dia yang bawa pulang. Kita jalan-jalan sebentar aja pake mobil kamu, ya?" tanya Ariel meminta persetujuan Dinda.


Dinda hanya membalasnya dengan anggukan dan kemudian Ariel masuk lagi ke dalam untuk memberikan kunci motornya kepada temannya yang bernama Hendra, sekaligus tetangga juga. Karena hanya beda 2 blok saja dari rumah Ariel.


...$...


...$...

__ADS_1


...$...


Terimakasih sudah membaca, mohon diberi like dan komen ya biar novel ini masih semangat otor lanjutin🙄


__ADS_2