
Sepulang dari rumah sakit jiwa, Nanda kembali lagi ke kantor saat jam makan siang. Ia berusaha menyelesaikan semua urusan secepat mungkin biar nanti saat kepulangannya dari Desa M****u, tempat Feza mengalami pelecehan, pekerjaannya tak terlalu menumpuk. Dan juga Nanda akan memberi mandat pada Pak Agus, rekan seprofesinya untuk mewakilkan dirinya saat Nanda sedang tak masuk kantor.
-
Malam harinya, saat dirasa semua urusan kantor sudah ia urus dengan baik walau kepergiannya ke Desa itu masih belum tahu kapan waktunya. Namun, Nanda sudah cukup lega. Setidaknya persiapannya untuk meninggalkan pekerjaan beberapa hari sudah ia rampungkan di awal.
Pukul 8 malam Nanda sampai kerumah. Istrinya baru saja selesai sholat isya. Nanda meminta dilayani makan, karena ia memang selalu ingin makan dirumah ketimbang makan diluar. Apalagi istrinya memang akhir-akhir ini rajin masak, perlu di apresiasi.
Setelah makan malam, Nanda pun membersihkan diri lalu sholat isya sendirian. Dinda menghabiskan waktunya sehabis makan malam hanya dengan membaca Novel milik Sherly. Seusai suaminya sholat, Nanda pun langsung duduk di meja kerjanya.
Tumben banget pekerjaan dibawa kerumah, batin Dinda melihat suaminya serius membuka laptop dan mencetak beberapa lembar kertas menggunakan printer yang tersedia di meja kerjanya.
"Yank, serius banget" ucap Dinda.
"Sini deh". Nanda meminta Dinda untuk mendekat padanya. Dinda pun segera turun dari kasur.
Nanda menepuk pahanya, tanda ia meminta istrinya untuk duduk di atas pangkuannya. Setengah geli, Dinda tetap mengikuti instruksi suaminya itu.
Dinda tahu ini pasti ada sesuatu. Dinda pun duduk sambil melingkarkan tangannya di leher sang suami dan mencium lembut dari kening hingga ke pipi.
"Kok yang ini nggak?" tanya Nanda dengan memonyongkan mulutnya.
"Ngarep" ledek Dinda. Lalu suasana kembali serius saat Dinda menatap lekat pada manik mata suaminya.
"Pasti ada sesuatu kan? Gak mau cerita?" tanya Dinda.
"Mau" Nanda melingkarkan tangannya pada pinggang Dinda. "Aku mau minta izin sama kamu buat bantu Rama sama Feza menyelidiki kasus Feza waktu itu. Kamu tahu 'kan kasus yang aku maksud?" Dinda mengangguk paham. "Kemungkinan aku bakal pergi beberapa hari. Selama aku gak ada, kamu tinggal di rumah mama aja" Dinda pun lagi-lagi mengangguk paham.
Di lubuk hati Dinda yang paling dalam, ada rasa cemburu saat mendengar suaminya menyebut nama Feza. Terlebih Feza adalah wanita yang sudah menggugurkan anak yang ia kandung. Dan ia juga teringat bahwa kemarin Nanda yang meminta dirinya untuk jangan terlalu baik sama orang. Sekarang, malah Nanda yang begitu peduli dan perhatian pada Feza. Dinda tak mau mempermasalahkan itu, cukuplah ia pendam sendiri. Karena ia tak mau berdebat dengan suaminya. Dan juga ia percaya Nanda pasti bisa jaga hati dan perasaannya. Karena sedari dulu, sejak pacaran, Nanda memang tak pernah berselingkuh atau sekedar memuji wanita lain.
"Sebelum aku pergi, aku mau minta jatah" ucap Nanda dengan tatapan sayu karena menahan sesuatu.
"Emang perginya kapan?" tanya Dinda.
__ADS_1
"Gak tau. Rama juga belum hubungin aku lagi" jawab Nanda polos.
"Perginya aja belum tahu kapan, tapi udah minta jatah" cebik Dinda.
"Kan ngisi energi dulu" rayu Nanda.
"Mana ada ngisi energi, yang ada malah ngabisin energi" timpal Dinda.
"Itu kan menurut kamu, kalo menurut aku sebaliknya". Sebelum terdengar lagi sanggahan dari Dinda, Nanda buru-buru melum*at bibir tipis istrinya. Keduanya pun saling menikmati permainan silat lid*ah itu.
Saat Nanda sudah tak bisa lagi menahan juniornya yang tak bisa berdiri dengan sempurna karena terhimpit tubuh Dinda yang masih duduk di pangkuannya pun akhirnya segera mengangkat tubuh sang istri ke atas meja kerjanya. Nanda membuka lebar kedua pa*ha Dinda.
Nanda bermain-main disana cukup lama. Lalu mengangkat tubuh istrinya lagi ke tempat tidur sebelum akhirnya masuk ke inti permainan.
Setelah percinta*an panas beberapa ronde mereka usai, Nanda merebahkan tubuhnya di samping Dinda. Dirinya tersenyum sembari menutup mata karena dalam hati membenarkan perkataan istrinya tadi. Bahwa kegiatan ini memang menghabiskan energi. Untung saja belum pergi esok pagi.
-
Rama datang dengan segar bugar. Sepertinya kedatangannya membawa kabar baik.
"Lo siap berangkat pagi ini?".
Ditanya begitu Nanda langsung terbatuk. "Apa?" tanyanya.
"Ah, budeg banget sih ni polisi" gerutu Rama kesal. "Ayo berangkat pagi ini. Travel udah siap, Feza siap, psikolog siap, gue siap, dan lo-"
"Gak siap" potong Nanda cepat.
"Lo yang bener aja. Gue semalaman bujuk Feza biar gak menghabiskan waktu lebih lama untuk mikir. Dan dia setuju berangkat pagi ini juga. Wah, gue kecawa sama pertemanan kita. Lo gak menghargai usaha gue" ucap Rama dengan nada kecewa. "Liat ini! Mata gue kurang tidur. Ayolah, jangan sia-siain kesempatan emas kita buat meringkus si pelaku bejat itu. Mumpung Feza mau". Rama yang kecewa namun masih tetap berharap penuh pada Nanda agar siap pergi pagi ini juga.
"Psikolognya lo bawa juga?" tanya Nanda.
"Iya, karena gue juga udah konsultasiin perihal ide kita itu dan takut Feza gak terkendali jadi gue minta sarannya. Terus akhirnya dia bilang lebih baik dia ikut" jawab Rama.
__ADS_1
"Jadi, total yang berangkat berapa orang?" tanya Nanda lagi.
"Ya berempat, elu gue Feza, sama psikolognya, Pak Prima" ungkap Rama mengabsen satu-satu.
"Ya udah. Gue telpon istri dulu ya". Nanda pun langsung menghubungi istrinya. Padahal saat ini tubuhnya sedang lelah akibat kejadian semalam.
Usai mengabari niat kepergiannya pagi ini dan mendapat izin dari Dinda. Nanda pun berpamitan pada Pak Agus dan menyampaikan bahwa dirinya akan kembali dalam beberapa hari.
Nanda ikut ke mobil Rama. Mobilnya sengaja ia tinggalkan di kantor karena aman juga. Lalu mereka kerumah Nanda terlebih dahulu untuk mengambil beberapa perlengkapan yang Nanda butuhkan seperti pakaian, alat mandi, dan lain sebagainya.
Setelah dari rumah Nanda mereka bergegas lagi ke apartemen Rama. Karena Feza dan Pak Prima sudah menunggu mereka disana. Dan nanti barulah pihak Travel akan menjemput mereka disana.
Nanda juga sejak kemarin sudah menghubungi kantor kepolisian yang ada di lingkungan hukum tempat Feza sempat tinggal. Dan perihal kedatangan Nanda dan yang lain akan di rahasiakan. Mengingat korbannya adalah anak seorang jenderal dan juga berada dalam keadaan trauma. Tentu saja kepolisian disana akan patuh dengan perintah Nanda. Karena berpikir bahwa Nanda adalah utusan dari orang tua Feza.
Nanda dan Rama sudah sampai di unit apartemen Rama. Mereka pun lanjut membicarakan perihal tempat tinggal. Namun kata Feza, mereka akan bisa tinggal di rumah depan Puskesmas karena rumah itu kosong tidak ada yang menghuninya dan Feza juga dulu di tempatkan disitu.
Perihal tempat tinggal, bisa di anggap sudah beres. Lalu mereka pun berbincang santai karena Feza tak di izinkan oleh Pak Prima untuk terus-terusan membahas itu. Mereka juga sarapan ala kadarnya. Karena di apartemen Rama hanya tersedia roti tawar.
"Perjalanan kita berapa jam?" tanya Nanda.
"Kurang lebih 9 jam" jawab Rama santai. Karena memang dirinya sudah terbiasa dengan rute itu. Sejak Feza di kirim kesana Rama setiap minggu menjenguknya.
"What?" pekik Nanda dan Pak Prima bersamaan.
●●●●
Hai hai hai....
Jangan lupa kasih komen dan like ya guys, supaya hari-hariku jadi semangat mau update.
Jika kalian berkenan, bagi vote dan hadiahnya juga yaa....
Terimakasih:)
__ADS_1