
Dinda dan Nanda yang belum ngantuk itu menghabiskan waktu menonton drama kesukaan Dinda di laptopnya yang tak luput ia bawa. Karena ia akan berangkat kerja dari rumah sakit.
Sesekali mereka tertawa tertahan, mengingat saat ini mereka sedang menjaga orang sakit. Namun, ditengah-tengah aktivitas menonton mereka, terdengar suara Lita terbatuk.
Nanda dan Dinda pun mendekat untuk memastikan keadaan Lita. Lita membuka matanya, ia telah terbangun dari tidurnya. Lita mengucek matanya beberapa kali.
"Lho, kok kamu disini?" tanya Lita saat ia melihat keberadaan Dinda di luar jam besuk.
"Gue yang ajak. Soalnya biar nanti kalo lo mau ke kamar mandi tengah malam ga perlu panggil suster lagi" Nanda yang menjawab.
Lita pun tersenyum kaku. Dalam hatinya "Kenapa malah bawa perempuan ini sih?"
Lita terbangun di pukul 23:20 dan dijamin ia tak akan bisa tidur lagi sampai pagi. Dinda dan Nanda pun kembali ke sofa karena Lita sudah di pastikan baik-baik saja, kecuali hatinya.
Lita memainkan ponselnya namun buru-buru di tegur Nanda.
"Ta, jangan main hp dulu. Radiasinya bahaya buat lo, nanti pusing" kata Nanda memberi teguran.
"Terus gue ngapain? Liatin kalian pacaran gitu?" dari ucapan Lita, Dinda sudah tahu pasti perempuan ini tak menyukai keberadaannya. Namun Dinda cuek saja, karena menurutnya Lita juga harus mengalah bahwa Nanda bukan miliknya saja tapi milik Dinda juga.
"Terserah lo, mata juga mata lo. Mau tidur lagi juga gapapa" jawab Nanda lalu di toel Dinda karena ucapan Nanda barusan yang kembali ketus seperti biasanya.
"Gue mau kencing" ucap Lita dengan datar dan pandangannya menuju ke sembarang arah.
"Ayo Ta, gue bantuin" Dinda pun berdiri dan memegang infus Lita lalu membantunya turun dari tempat tidur. Lita mampu berjalan hanya saja kedua tangannya masih belum sembuh total sehingga untuk memegang infusnya ia tak bertenaga.
Lita tak mampu menolak, karena hasratnya untuk ke kamar mandi tak mampu mengalahkan egonya untuk menghindari bantuan Dinda. Lita berjalan diiringi oleh Dinda di belakangnya. Saat sudah selesai, mereka pun kembali ke tempat tidur.
"Makasih Din" ucap Lita saat Dinda sudah mau berbalik ke sofa setelah menggantung kembali infus Lita pada tiangnya.
"Iya" jawab Dinda sambil tersenyum. Karena ini pertama kalinya Lita mengucapkan terimakasih padanya.
__ADS_1
Nanda sudah tertidur di sofa yang hanya untuk di duduki satu orang. Ia sengaja memberi sofa yang panjang untuk Dinda. Dinda mengetahui alasan Nanda melakukan hal itu karena Nanda pasti merasa kasihan padanya terlebih besok pagi Dinda akan berangkat kerja. Supaya punggung Dinda gak sakit sakit amat.
Dinda pun ikut merebahkan diri di sofa samping Nanda. Ia memejamkan mata berusaha menyusul Nanda yang sudah lebih dulu ke alam mimpi.
Lita hanya mampu berdiam diri karena dilarang main ponsel akhirnya ia menyalakan televisi dengan volume yang kecil agar tak mengganggu 2 orang yang saat ini sudah terlelap.
Jam 4 pagi, Lita membangunkan Dinda karena ia ingin ke kamar mandi lagi. Dinda pun melakukan tugasnya dengan baik.
Setelah itu, ia tak dapat tidur lagi. Karena takut kebablasan dan tak sholat subuh. Lita dan Dinda hanya saling diam. Beberapa kali pandangan mata mereka bertemu, namun keduanya kompak langsung membuang muka. Dinda sungguh merasa geli dan canggung bersamaan. Karena mereka berdua sudah seperti insan yang sedang jatuh cinta. Tak sanggup menghadapi kenyataan ini, Dinda pun berusaha ingin mengakhiri kecanggungan di antara mereka.
"Ada yang bisa gue bantu, Ta?" tanyanya.
"Emm, gue pengen makan apel" jawab Lita dengan lugas sambil tatapannya menuju ke arah atas kulkas. Ada 2 apel disana.
"Ooh" Dinda pun bangkit dari sofa lalu duduk di kursi samping Lita. Dinda mengupaskan buah apel untuk Lita yang ia ambil di atas kulkas.
"Makasih ya, lo juga boleh makan kalo mau" ucap Lita yang terdengar sangat baik di telinga Dinda. Dinda pun tersenyum dan ikut memakan potongan buah apel tersebut.
Tak di sangka keakraban keduanya bisa terjalin hanya karena 1 malam Dinda nginap. Sesekali mereka tertawa karena menceritakan keburukan Nanda yang selama ini tak diketahui Dinda.
Nanda pun melirik ke arah jam tangannya. Ia melihat bahwa hari masih cukup pagi, bahkan belum masuk waktu sholat subuh. Tapi mengapa Dinda dan Lita sudah asik ketawa saja.
Nanda ikut bangun dan menghampiri cewek-cewek itu.
"Aku kira suara tawa kuntilanak yang aku dengar, ternyata kalian" ujarnya sambil duduk di pinggiran tempat tidur Lita menghadap ke Dinda.
"Sana tidur, ada lo jadi ga seru" usir Lita sambil menggerak-gerakkan kakinya ke punggung Nanda.
"Kaya ga punya waktu lain aja. Cerita kok pagi buta" sahut Nanda masih pada tempatnya.
"Lho, justru itu. Biar kamu ga tahu apa yang kita bahas" kali ini Dinda ikut menimpali.
__ADS_1
"Emang bahas huaaapa?" tanya Nanda sambil nguap.
"Rahasia" ujar kedua gadis itu kompak. Lalu mereka pun tertawa diikuti dengan tatapan heran Nanda.
Nanda pun mengambil potongan apel yang ada di dekatnya. Ia heran kenapa ada orang yang pagi-pagi buta sudah ngunyah apel. Sedangkan tanpa Nanda tahu bahwa apel itu sangat dingin karena di simpan di kulkas.
"Aaa" teriak Nanda karena giginya ngilu dengan suhu buah apel tersebut. "Buset, dingin banget" pekik Nanda namun tetap mempertahankan apel dalam mulutnya. Sambil di kunyah perlahan. "Kuat banget gigi kalian" sambungnya.
"Ya iyalah, orang kita berdua makan apel yang bukan dari dalam kulkas" kata Dinda yang tertawa sebab di piring yang tersedia di tengah-tengah mereka itu tadinya memang hanya potongan apel yang di luar kulkas namun sudah habis. Karena Lita mau lagi akhirnya Dinda kupasin yang dalam kulkas. Karena masih terlalu dingin, mereka pun mendiamkannya sebentar.
"Kasih tau kek" gerutu Nanda setelah ia menelen apelnya.
"Lah, kamu juga main comot aja ga nanya-nanya" timpal Dinda dengan senyum mengejek.
Tak lama adzan Subuh dari mushalla rumah sakit terdengar meski terdengar sayup-sayup karena menghormati pasien yang sedang istirahat. Dinda dan Nanda bergantian ke kamar mandi untuk berwudhu'. Nanda sholat ke mushalla sedangkan Dinda sholat diruang rawat Lita. Dan Lita sholat sambil duduk di tempat tidur.
Sepeninggalan Nanda, Dinda membantu Lita untuk mandi. Ini kali pertama Lita mandi, karena sebelumnya hanya di usap-usap kain basah saja oleh suster.
Ini pun permintaan Lita sendiri karena ia merasa sudah lama tak mandi. Dan mumpung ada Dinda ia merasa sangat terbantu. Lita mandi tanpa keramas, sebab bekas operasinya masih belum sembuh dan tidak boleh kena air. Dinda pun sangat hati-hati membantu menyabuni tubuh Lita.
Tak lama, pintu terbuka. Bukan pintu kamar mandi heyy.
Nanda nongol dengan membawa 2 kantong kresek. Ia sempat membeli sarapan di kantin sebelum kembali ke kamar Lita.
Mendengar gemericik air di kamar mandi, ia yakin itu pasti Dinda. Lalu kemana Lita?
Dengan panik ia menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Sayang, Lita kemana? Tempat tidurnya kosong" ucap Nanda kentara sekali bahwa ia sedang panik.
Di dalam kamar mandi 2 wanita itu tertawa ngakak dan berniat mengerjai Nanda.
__ADS_1
●●●
Puasa udah seminggu. Gimana? Udah pada bukber bareng siapa aja?