(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Kabur


__ADS_3

Pukul 7 pagi Nanda masuk kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya dan termasuk juga mandi. Setelah selesai mandi, Nanda keluar dengan pakaian yang sudah rapi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lita pun membuang muka saat melihat Nanda dalam keadaan tampan maksimal itu. Dan demi melancarkan niat untuk mengusir Nanda dari hatinya maka ia pun harus membiasakan diri untuk tidak terlalu sering berkomunikasi dengan Nanda. Termasuk menatap dengan intens juga ia kurang-kurangi. Hari ini masih tahap latihan, ga tau besok.


Nanda yang sudah selesai menyisir rambutnya kemudian menghampiri Lita karena ternyata sarapan buat Lita sudah datang namun belum juga di sentuh karena keterbatasan Lita dalam bergerak. Nanda pun akhirnya duduk di atas kasur pembaringan Lita lalu membuka plastik wrap untuk segera ia suapkan ke Lita. Lita pun tak banyak bunyi, ia hanya menerima suap demi suap yang Nanda berikan.


Tak lama kemudian, ponsel Nanda berdering. Namun, karena merasa tanggung dengan makanan yang tinggal sedikit lagi, ia pun akhirnya membiarkan dering ponsel itu sampai mati sendiri.


Setelah kegiatan menyuapi Lita selesai, barulah Nanda menyentuh ponselnya. Alangkah kagetnya Nanda karena mendapati pesan amukan dari Dinda.


Dinda


AKU PAMIT KERJA YAA, KAMU SUAPIN AJA LITA SAMPE SEMBUH👍


"Ya allah" ringis Nanda yang juga di dengar oleh Lita.


Setelah menerima pesan itu, tanpa pikir panjang Nanda mengambil jaket serta kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan Lita yang menatap kepergiannya dengan penuh tanda tanya. Nanda meninggalkan rumah sakit dengan raut wajah yang menahan kekesalan atas kesalahan yang ia perbuat. Ingin rasanya mengubur diri sendiri biar tak perlu repot menjelaskan ini itu pada Dinda. Karena biarpun ia menjelaskan serinci apapun kalau pacarnya itu masih sensi tetap saja Nanda yang harus menjelaskan sampai berkali-kali agar Dinda percaya.


"Ternyata pacaran bisa seseram ini. Udah bener jalan gue selama ini milih buat ga pacaran, sekarang kena batunya" ucap Nanda sambil meremas rambut yang sudah ia sisir rapi. Wajahnya memerah karena mau marah tapi salahnya sendiri yang terlalu perhatian pada perempuan lain. Dan juga masalah yang semalam belum kelar, kini ia sudah menambah masalah lagi.


"Shittt, kenapa bisa pas sih timingnya (waktunya)" ringis Nanda dengan mempercepat laju kendaraannya.


Setelah sampai di kantor Dinda, Nanda langsung menuju bagian resepsionis yang terletak paling depan dari gedung kantor itu. Akhirnya resepsionis pun menelpon ke telepon kantor yang ada di ruang kerja Dinda.


Setelah berbicara beberapa saat dengan si penerima telepon, akhirnya resepsionis itu menutup panggilannya dan meminta Nanda untuk duduk di sofa karena Dinda sendiri yang akan menemuinya.


5 menit kemudian, Dinda datang dengan raut wajah kesal. Ia kesal karena tumpukan kesalahan Nanda atau karena Nanda mengganggu jam kerjanya atau karena keduanya, entahlah.

__ADS_1


"Aku udah izin. Ngobrolnya di kafe depan aja" titah Dinda lalu berjalan lebih dulu agar Nanda mengikutinya.


Mereka berjalan kaki menyeberangi jalan untuk sampai ke kafe yang bernama Queeno. Nanda dengan wajah lesu mengikuti Dinda yang sudah seperti induknya.


Saat sampai di kafe, mereka hanya memesan 2 coffe latte untuk modal membasahi kerongkongan mereka sebelum acara debat ini di mulai.


"Langsung aja, tujuan kamu ke kantor aku buat apa?" tanya Dinda berpura-pura tidak tahu.


"Aku mau damai sama kamu. Kamu udah liat sendiri juga, ayolah Yang damai. Ngapain kita ribut-ribut kalo kenyataannya aku tetap pacar kamu. Dan ga ada rasa apapun sama Lita, demi Allah Yang" ujar Nanda yang terus menatap mata Dinda dengan dalam.


"Aku tuh udah bilang sama kamu jangan peluk-pelukan sama Lita. Tapi apa, iya bener kamu ga pelukan sama dia, kamu cuma suap-suapan. Dan entah kenapa aku tiba-tiba pengen aja kerumah sakit buat liat kamu pagi-pagi. Di telpon ga di angkat karena lagi romantisan nyuapin Lita. Apa salahnya taroh bentar makanannya terus angkat telpon aku. Kecewa banget aku sama kamu yang lebih mentingin dia daripada aku" tutur Dinda menyampaikan semua keluh kesahnya yang selalu melihat langsung tiap-tiap kesalahan Nanda.


"Udahlah, selama kamu jagain Lita kita ga usah ketemu dulu. Biar kamu fokus ke satu cewek aja" pungkas Dinda lalu menyeduh minumannya.


"Ngga, aku ga mau hubungan kita makin kusut. Ini aja udah bikin kepala aku mau pecah apalagi kalo sampe kita ga ketemu terus masalahnya makin jadi kemana-mana. Ga, aku ga mau. Pecah beneran nanti kepala aku" tolak Nanda atas usul Dinda barusan.


"Ya udah iya" ucap Dinda lembut.


"Ketahuan peluk-peluk cewek lagi, aku sumpahin kamu jadi banci" ucap Dinda yang kini sudah bisa bercanda meski Nanda masih tegang sebenarnya.


"Janji sayang. Oh iya, baju aku masih ketinggalan di sana, nanti aja ya jemputnya, bareng kamu. Aku ga mau kesana sendirian, nanti kamu tuduh lagi aku macam-macam" jelas Nanda karena tak mau membuat masalah untuk yang ketiga kalinya.


"Iya, terus kamu habis dari sini mau kemana?" tanya Dinda karena ia berhak tahu kemana tujuan sang kekasihnya itu.


"Pulang sayang, mau tidur. Retak-retak tulang aku tidur di sofa" ucap Nanda menyampaikan curahan hatinya.

__ADS_1


"Lebih enak di kasur?" tanya Dinda.


"Iyalah" jawab Nanda.


"Samping Lita" sahut Dinda.


"Iy... enggaklah. Kamu rese' banget jebak aku. Untung ga kena" ujar Nanda sambil mengelus dadanya sendiri.


"Terus kamu kesini izinnya bilang apa sama Lita?" tanya Dinda yang merasa ga mungkin kalo Lita mau di tinggalkan sendirian di ruangan itu.


"Ga pamit, kabur aja langsung" jawabnya.


Ini darurat, mana sempat pamit" kata Nanda penuh penekanan sambil telunjuknya menunjuk ke bawah.


"Jadi pentingan mana aku sama Lita?" tanya Dinda seperti perempuan pada umumnya yang minta di nilai-nilai tapi nanti kalo jawabannya ga sesuai keinginan bisa lanjut ngamuknya.


"Ya kamulah. Lita tuh sahabat aku, gimanapun aku pasti dia dukung selama itu baik. Nah kamu, cewek yang aku kejar eh dapet, ga mungkin dong aku sia-siain gitu aja" ujar Nanda sambil dalam hatinya berdoa semoga jawaban ini memuaskan hati Dinda.


"Iya, aku percaya sama kamu. Dan kamu ga akan aku atur-atur mau pergi atau kemanapun sama Lita, tapi tolong di ingat. Kalian itu 2 manusia dewasa yang berlawanan jenis. Kalian bisa ngapain aja sesuka hati kalian. Apalagi di tempat tertutup kaya rumah sakit itu. Gimana aku ga panas dingin ngebiarin kamu jagain Lita yang apa-apa mesti di bantu dulu. Sentuhan dikit aja, misal tangan kamu ke tangan dia, itu bisa aja sampe ke hatinya atau hati kamu. Perhatian kamu, bisa juga jadi hal yang suatu saat dia rindukan. Waktu yang kalian habisin berdua, pasti ga bisa di lupain gitu aja. Rasa itu bisa tumbuh karena terbiasa sayang. Jadi tolong, kamu jaga sikap. Jangan terlalu banyak kontak fisik sama Lita. Karena kamu sendiri nanti yang akan ngehapus bayang-bayang aku, dan dengan mudah terganti oleh Lita. Ini ga berlaku buat Lita aja ya, tapi ke semua cewek" Dinda memperingatkan Nanda dengan sangat lembut dan mudah untuk Nanda pahami. Ia tak ingin sampai menyesal di kemudian hari karena tak memperingatkan Nanda. Baginya, kehilangan Nanda sesuatu yang sangat ia takutkan. Dan berharap kali ini, hubungannya akan berujung indah dan tak seperti sebelumnya.


Pengalamanlah yang mengajarkan Dinda untuk menjadi lebih tegar dan tak menghabiskan waktu untuk menangis. Karena air matanya hanya boleh keluar untuk alasan yang membahagiakan.


â—Źâ—Źâ—Ź


Jangan lupa vote, komen, dan like yaaa...

__ADS_1


Karena itu bentuk support kalian untuk Othor, saranghaeyođź‘„đź’‹


__ADS_2