(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Malam Terakhir


__ADS_3

Sebelum dibaca, harap absen jempol dulu ya. Sengaja diingetin di awal biar ga pada lupa.


-


Seusai percintaan panas mereka, Nanda beranjak keluar untuk mengambil handuk yang berada di gantungan dekat dapur. Namun, baru saja selangkah melewati pintu kamar, ia kaget ketika melihat 3 orang temannya terduduk di ruang tengah dengan posisi menutup telinga.


Suasana seketika menjadi canggung. awkward banget pokonya. Nanda sampe bingung harus berkata-kata apa.


"Sayang, buruan ambil handuknya. Masa aku di biarin bug!l begini. Yang ada nanti kamu minta tambah".


Mendengar teriakan Dinda, ketiga orang tersebut mendesah pelan. Setelahnya Nanda hanya cengengesan mendengar ucapan Dinda dan berlalu mengambil handuk miliknya dan juga Dinda.


Dinda yang masih tidak tahu bahwa di depan kamarnya ada 3 orang yang sedang tertunduk lesu, segera bangkit hendak keluar kamar ingin segera mandi. Namun, Nanda dengan cepat menghalanginya.


"Itu dada kamu tutupin pakek ini" ucap Nanda sambil mengalungkan handuknya di dada Dinda.


"Kenapa harus ditutupin. Lagian disini 'kan gak ada orang" protes Dinda.


"Itu kan menurut kamu" timpal Nanda lalu membereskan seprei tempat tidur Feza dan Dinda.


"Maksudnya?" tanya Dinda.


"Mereka udah pulang?" tanya Dinda lagi dengan suara pelan.


Nanda tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan pada istrinya. Mengetahui kalau teman-temannya sudah pulang, Dinda mengurungkan niat untuk keluar kamar dengan hanya menggunakan handuk. Justru kini ia berpakaian lengkap lalu berjalan cepat menenteng handuk dan pakaian gantinya menuju kamar mandi.


Sayup-sayup Dinda mendengar 3 temannya tertawa ngakak, sudah jelas pasti sedang menertawainya.


Setelah Dinda selesai mandi, 3 orang itu sudah tidak ada diruang tengah. Huh, lega. Ga ketemu Pak Prima sama Rama sekarang.


Sampai di kamar. "Panas-panas begini, mandi emang paling mantep ya" ucap Feza menggoda Dinda.


"Udah deh, jangan pura-pura ga tau" sahut Dinda yang ikut merebahkan diri di samping Feza.


Feza semakin mengencangkan volume ketawanya saat Dinda biasa-biasa saja di goda olehnya.


"Pelan dikit napa sih. Perempuan ketawanya kaya kuntilanak" tegur Dinda.


"Gue masih kebayang-bayang sama ah ah-nya" lanjut Feza meledek Dinda.


Dinda yang malu pun memilih untuk menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Ini baru Feza yang berkomentar, bagaimana dengan Rama? Kalau Pak Prima masih aman, karena Pak Prima orangnya lempeng, gak begitu suka berkomentar. Paling banter cuma ikut-ikutan ketawa aja.

__ADS_1


"Udah ah, ayo bantuin masak buat makan malam" ajak Feza menarik tangan Dinda.


"Ngapain masak lagi. Kan tadi kalian udah beli nasi bungkus. Kita makan itu aja" sanggah Dinda.


"Tadi gue di pondok berduaan doang sama Ratih. Rama sama Pak Prima katanya pergi beli makan. Lu juga, jahat banget habis pipis gak nongol-nongol lagi. Eh pas gue tanya Ratih katanya lu pergi sama Nanda. Tuh nasi yang udah di beli akhirnya di bagiin ke bapak-bapak petani yang juga lagi pada istirahat di pondok Pak Ratmo" ungkap Feza.


"Emang ngincer banget nunggu rumah kosong ya" sambungnya.


"Mau gue ceritain sesuatu gak? Ayo kedapur, sambil masak aja". Dinda dan Feza pun beranjak menuju dapur untuk memasak makan malam mereka.


Dinda juga menceritakan kejadian yang menyebabkan dirinya dan Nanda pulang cepat. "Cape banget punya suami yang kebanyakan fans. Belom setahun nikah udah 2 aja yang jadi saingan gue" ucap Dinda sambil mengupas bawang merah.


"Demi apa? Padahal Ratih sering kita jodoh-jodohin sama Rama lho" jawab Feza.


"Terus Rama gak srek apa gimana sama dia?"


"Rama udah mati rasa. Gak bisa jatuh cinta lagi kayanya" ujar Feza.


Mereka pun kini berganti topik menggosipi Rama. Feza menceritakan awal mula keretakan hubungan Rama-Maudy sampai ke kejadian saat Rama tidak sadarkan diri berhari-hari.


"Kita ga tau yang sebenarnya terjadi. Mungkin Maudy-nya sendiri sebenarnya masih mau berjuang, tapi dari pihak keluarganya yang udah pada nekan dia buat segera menikah. Namanya orang udah dapet tekanan, biasanya emang gak berpikir panjang lagi" ujar Dinda.


"Lo sendiri gimana? Udah punya ayang belom?" tanya Dinda.


"Gak ah, gue mau sendiri aja. Karena takut gak ada yang bisa nerima keadaan gue" tutur Feza. Ucapannya terdengar sangat putus asa namun ekspresi wajahnya tampak sebaliknya.


"Saran gue, kalo ada yang deketin sambut aja. Jangan menutupi diri, kalau bukan jodoh lo pasti akan pergi sendiri" Dinda mengedipkan sebelah matanya, berusaha mengembalikan kepercayaan diri Feza yang mulai luntur.


"Mimpi apa nih semalam tiba-tiba dapet siraman rohani" canda Feza.


"Heh, gue serius" cebik Dinda.


"Iya-iya. Siap laksanakan. Siapapun yang deketin gue, gue terima" ujar Feza.


-


Malam harinya mereka duduk berkumpul di teras rumah. Tak terasa, besok mereka sudah akan pergi meninggalkan desa ini dan kembali ke rumah masing-masing dengan aktifitas masing-masing pula. Setelah hidup bersama, saling percaya, dan bahkan saling pinjam-meminjam uang. Mungkin akan terasa ada yang kosong setelah hari ini.


"Kalau saya ada salah, tolong di maafkan ya. Saya senang sekali berkesempatan mengenal kalian. Bisa mendapatkan pengalaman berharga dan juga teman beda usia yang rasanya gak ada bedanya. Semoga silaturahmi kita tetap terjaga meski kita sudah kembali ke kota" ucap Pak Prima yang membuat hati siapapun yang mendengarnya jadi terharu.


"Gue juga, maafin gue ya. Gue udah ngerepotin kalian. Pak Prima, Za, Nan, makasih banget udah jagain gue waktu itu. Kalian manusia-manusia baik yang Tuhan kirimkan buat ngilangin kesedihan gue waktu di putusin Maudy. Dinda, lo beruntung punya suami kaya Nanda. Meski kalian berjauhan, dia tetap setia sama lo. Mulutnya aja memang kadang gak bisa di kontrol". Rama mengikuti Pak Prima yang mengucapkan kalimat perpisahan di malam terakhir mereka di desa ini.

__ADS_1


Feza membetulkan posisi duduknya, ia mulai menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar. Di tatapnya satu-persatu orang yang ikut membantu menyelesaikan masalahnya.


"Gue juga mau ngucapin makasih sama kalian. Nanda, makasih sudah menggagalkan upaya bunuh diri gue waktu itu. Dan makasih juga karena berkat lo, gue jadi kembali lagi ke desa penuh kenangan buruk ini. Tapi gue gak benci desa ini sepenuhnya. Karena masih ada hal indah yang gue dapat di sini, yang mungkin saja gak akan pernah gue dapatkan di kota.


Buat Pak Prima, psikolog terbaik. Meski pertemuan kita disebabkan oleh kejadian buruk yang menimpa aku, tapi aku tetap mensyukurinya. Bapak orang yang baik, bekerja dengan penuh totalitas dan profesional. Sampai mau ikut kesini karena mengkhawatirkan kondisi aku, yang ternyata aku disini baik-baik aja. Sekali lagi makasih ya Pak, aku tetap mau melanjutkan konsultasi sama bapak, sampai aku benar-benar sembuh.


Buat Ramaditya si dokter idola banyak kaum hawa, gue sayang banget sama lo. Hampir tiap jam saat lo gak sadarkan diri gue ngucapin itu mulu, karena terlalu gengsi kalo ngucapinnya disaat lo dalam keadaan baik-baik aja. Tapi ya itu kenyataannya. Gue se-sayang itu sama lo. Nanti kalo di Jakarta lo ketemu lagi sama Maudy dan dia bikin lo sedih lagi, bilang aja sama gue. Lo mau gue hajar dia, akan gue hajar. Gue rela berantem demi lo". Feza menatap penuh optimis pada Rama yang duduk di samping kirinya.


"Bisa serius dikit gak sih?" ucap Rama sebal.


"Buat Dinda ..., aaaaa gue pengen nangis" Feza memeluk wanita yang duduk di samping kanannya yang ikut menyusul mereka beberapa hari lalu.


"Gue gak nyangka akan sedekat ini sama lo. Kalo lo mau bales ngejambak gue, silahkan aja" sambungnya.


"Nggak Za, gue sama sekali gak ada niat buat balas lo" jawab Dinda.


"Gue tau, makanya gue berani ngomong gitu" timpal Feza lalu mengurai pelukannya.


"Ck, sebel banget" ketus Dinda karena kesal akan ucapan Feza tadi.


"Lo sahabat baru gue. Plis banget, di Jakarta kita harus sering-sering nge-mall bareng. Kalo udah janjian apapun alasannya, dapet izin suami ataupun tidak tetap harus pergi"


"Heh, ini bini gue ya. Jangan atur-atur" timpal Nanda yang duduk di samping kanannya Dinda.


"Tapi dia sahabat gue. Lo ngalah" elak Feza.


"Mana bisa gitu" bantah Nanda.


"Ya udah, lo ikut kita nge-mall aja" pungkas Feza.


...Tbc...


-


-


Habis ngelike, terbitlah komen.


Jangan lupa komen di bawah ya guise.


Sekalian minta kopi angetnya biar mata otor on terussss

__ADS_1


__ADS_2