
Seorang Nanda yang memiliki tingkat kesabaran yang sangat tipis setipis kulit bawang mana mampu dirinya menahan diri untuk tidak menemui Feza. Hari itu, dirinya berpamitan pada stafnya untuk menemui seseorang. Ia pergi keseluruh sudut kota dengan insting yang ia punya untuk mencari keberadaan Feza. Dan bukan perkara sulit bagi Nanda yang berpangkat tinggi itu untuk melacak keberadaan Feza.
Nanda sudah mendapat informasi bahwa Feza sedang berada di sebuah rumah sakit jiwa terkenal di kota ini. Ia melajukan mobilnya berputar arah menuju ke tempat tujuan.
Sampai di bagian depan rumah sakit jiwa itu, Nanda bingung harus kemana mencari Feza. Namun, tidak ada salahnya kan jika mencoba bertanya di bagian resepsionis? Nanda pun akhirnya menghampiri meja yang terletak paling depan dari gedung rumah sakit jiwa itu.
Dan ternyata memang ada seorang pasien yang bernama Feza. Dari info yang Nanda dapatkan, kini ia sudah tahu ruangan mana yang akan ia tuju.
Dengan langkah tegap dan panjang, Nanda memasuki rumah sakit jiwa itu melewati lorong demi lorong lalu memasuki lift yang akan mengantarkannya ke lantai 7 gedung itu.
Sampai di lantai 7, Nanda sudah menyiapkan banyak makian dalam hatinya yang akan ia tujukan pada Feza walau dirinya sendiri tidak mengerti mengapa Feza berada ditempat ini.
Mungkin saja ia merasa bersalah atas perbuatannya pada Dinda sehingga membuatnya frustasi sendiri karena tak mungkin berani menemui Dinda atau aku lagi, pikir Nanda.
Saat Nanda berbelok menuju ruang konsultasi, Nanda menangkap basah Feza yang baru saja keluar dari sebuah ruangan bersama Rama. Tak mau berlama-lama lagi. Nanda langsung saja ingin mendamprat Feza saat itu juga.
Nanda berjalan dengan cepat kehadapan Feza, setelah berjarak cukup dekat Nanda berhenti berjalan dan ia melipat tangan di depan dada, "Lo yang culik istri gue? Bunuh anak gue? Apa bahagia hidup lo setelah merusak kebahagiaan gue? Dasar pembunuh".
Feza dan Rama yang tak menyangka akan bertemu Nanda pun seketika terdiam sejenak menatap Nanda. Lalu Feza menangis dan berlari menuju tangga darurat yang berada di depan lift.
__ADS_1
Rama tak sempat mengejarnya karena lebih dulu langkahnya di cegat oleh Nanda. "Gue tau lo sahabatnya, tapi membenarkan perbuatan dia itu salah. Dan kenapa lo gak bilang waktu itu kalo Feza sudah menggugurkan anak gue?" bentak Nanda yang tak habis pikir dengan cara Rama melindungi Feza.
"Lo datang kesini cuma untuk ngelabrak dia? Banyak banget waktu luang lo sampe datang sejauh ini. Asal lo tahu, gue pontang-panting siang malam bujuk dia biar mau konsultasi sama psikolog buat mengobati trauma dia akibat pelecehan yang dia alami. Dan baru kali pertama konsultasi terus lo datang maki-maki dia" cebik Rama kesal. Rama pun akhirnya pergi meninggalkan Nanda untuk mencari keberadaan Feza yang pergi entah kemana. Namun belum jauh ia berlalu, Nanda kembali berteriak padanya.
"Ma, lo gak tau seberapa kehilangannya gue. Apalagi kejadian itu udah berlalu sekian minggu dan gue baru tau. Dan Feza lagi Feza lagi. Apa salah Dinda sampe dia jadi setega itu" pekik Nanda yang mampu menghentikan langkah Rama.
"Lo bisa pelan gak kalo ngomong? Ini rumah sakit jiwa, banyak orang tertekan disini. Lo tau, setelah kejadian dia jambak bini lo dia di kirim ke pelosok sama bokapnya biar gak bertingkah kelewatan lagi. Tapi apa yang Feza dapat ditempat itu, dia dilecehin bahkan pelaku masih hidup dengan nyaman diluaran sana dan lihat? Feza depresi dan itu yang mendasari dia menculik bini lo. Secara gak langsung, dia beranggapan bahwa Dinda-lah penyebab dia dikirim kesana. Lo polisi, apa lo cuma bisa nyalahin Feza tanpa mau peduli dengan apa yang dia alami dan dia pendam sendiri? Kalo lo gak mau bantu gue cari dia sekarang, gue cap lo sebagai polisi gadungan" Rama saat ini ingin sekali menonjok Nanda yang datang tak diduga dan menghancurkan usahanya yang sudah berhasil membujuk Feza untuk berkonsultasi namun baru saja selesai kini Feza menghilang dan selanjutnya pasti akan susah lagi membujuk wanita itu untuk berkonsultasi.
"Jangan lo pikir gue gak punya hati. Baik, mari kita cari" Keduanya pun masuk ke dalam lift dengan tujuan lantai 3 tempat dimana ruang perawatan Feza berada. Namun, mereka tak menemukan Feza disana. Hingga akhirnya mereka turun ke lantai dasar untuk mencari Feza di sekitaran ruang terbuka di lingkungan rumah sakit tersebut.
Saat Rama dan Nanda berpencar di sekitaran taman dan parkiran, tiba-tiba terdengar orang-orang berteriak histeris. "Aaaaa", "Jangan mbak, jangan", "Tolongin woy tolongin" pekik orang-orang yang ada disana.
Seketika tubuh Rama menegang. Ia berteriak sekuat yang ia bisa, "Fezaaaaa. Zaaaaa, tolong jangan lakuin ini Za. Hidup lo masih panjang. Gue sayang lo Za" Rama menangis sejadi-jadinya. Ia bingung saat ini. Mau menyusul Feza ke atas tapi takut Feza nekat meloncat. Hingga akhirnya Nanda baru sampai ke kerumunan itu. Dan ia langsung berlari dengan cepat menuju lantai teratas di gedung itu.
"Semoga Rama bisa nahan dia buat gak loncat" ucap Nanda gelisah sembari menunggu pintu lift ini terbuka.
Saat pintu lift terbuka ternyata bukan pada rooftop yang ia tuju. Padahal Nanda sudah memencet lantai maksimal di gedung itu. Dan akhirnya Nanda memutuskan untuk menggunakan tangga darurat.
Beruntunglah Nanda sudah terbiasa latihan fisik saat menjalani pendidikan kepolisiannya dulu. Sehingga dirinya tak kesusahan ketika harus menaiki anak tangga itu dengan berlari.
__ADS_1
Nanda pun membuka pintu yang ada di hadapannya. Angin kencang dengan senang hati menyambutnya.
Kini ia berdiri 20 meter di belakang Feza yang siap melompat kapan saja. Nanda berjalan terus dengan perlahan agar Feza tak terkejut dengan kedatangannya.
Nanda mendengar secara langsung Feza menangis terisak. Ia bisa merasakan kepiluan yang mendalam dari tangis itu. Nanda tak bisa lagi menahan kata-katanya.
"Za, please turun" ucap Nanda dengan lembut. Ia berusaha membujuk Feza untuk turun dari tembok itu.
Feza semakin kencang menangis. Nanda tetap mensiagakan dirinya jika ada pergerakan yang tiba-tiba dari Feza.
"Za, ayo turun" ucap Nanda lagi dengan perlahan-lahan mendekatkan dirinya ke tembok itu.
"Jangan mendekat!" bentak Feza.
"Oke, tapi lo turun dulu ya" kata Nanda lagi.
"Buat apa gue hidup? Gue akan lebih bahagia kalo gue mati" teriak Feza tanpa rasa takut sedikitpun saat ia melihat ke bawah.
"Cuma pengecut yang ngomongnya kaya gitu" ungkap Nanda mencoba memancing Feza untuk bernegosiasi sembari tetap maju selangkah demi selangkah.
__ADS_1