(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Rama Jatuh Sakit


__ADS_3

Jejak-jejak kesedihan Rama mereka tinggalkan di pohon rindang itu. Mereka yang sudah cukup lama berada disana kini berbalik arah kembali menuju rumah dinas.


"Jodoh itu gak bisa di logika 'kan. Kita pikir yang selalu ada bakal selamanya, belum tentu. Orang yang gak di sangka-sangka malah jadi gantinya" ucap Pak Prima lalu mengusap punggung Rama memberikan semangat saat mereka masih berjalan kaki hendak pulang. "Kamu masih muda, jalani saja hidupmu sesuai takdirNya. Lambat laun pasti Tuhan arahkan kamu menuju wanita yang tepat itu. Kita tidak tahu apa alasan kamu dan dia tidak berjodoh. Dan biarlah itu jadi rahasia-Nya" nasihat Pak Prima yang sedari tadi memilih mendengarkan keluh-kesah Rama kini akhirnya memilih bersuara.


Rama mengangguk dan mencoba tersenyum. Logikanya membenarkan ucapan Pak Prima, namun hatinya masih terasa perih. Sedikit-sedikit mulai menyalahkan diri sendiri. Belum terpikir untuk segera mencari pengganti karena hati tak secepat itu bisa pulih.


Hampir maghrib mereka sampai ke rumah dinas. Lalu satu persatu mereka wudhu untuk menjalankan ibadah. Sehabis sholat Feza mendapat giliran pertama untuk mandi. Agar saat para lelaki itu mandi Feza bisa menyiapkan makan malam mereka.


Malam itu adalah malam purnama. Halaman rumah dinas menjadi sangat terang karena tambahan sinar dari sang rembulan. Mereka berempat sepakat akan makan malam di teras dengan membentang sebuah tikar anyaman di lantainya.


"Enak banget ya hidup di desa. Makan seadanya plus rame-rame di teras begini aja nikmat" ucap Nanda senang lalu kembali melahap makanannya.


"Huft, kalo alasan kita kesini buat happy-happy gue setuju. Tapi karena disini tempat yang memberi pengalaman buruk buat gue, gak jadi deh" ucap Feza lemah.


"Za, mana semangat kamu yang waktu itu. Udah-udah jangan sedih. Ayo makan lagi makan lagi" ujar Pak Prima menyemangati Feza.


Rama sejak kepulangan dari pencarian sinyal itu kini banyak diamnya. Saat makan, ketiga orang dihadapannya sedang bercanda ia tak menyimak. Dipanggil berkali-kali baru terhenyak dan menyahut. Fokusnya seperti sedang terbagi. Keadaan Rama itulah yang membuat Feza khawatir.


Ditengah-tengah malam, Feza mendengar suara Rama mengigau. Namun, ia rasa Rama pasti bisa ditenangkan oleh Nanda atau Pak Prima.


Malam makin larut tapi suara Rama tetap terdengar. Bahkan seperti tak ada aktivitas lain dikamar itu.


Apa Nanda sama Pak Prima gak kebangun ya? Masa iya sih gak denger? Feza turun dari tempat tidurnya. Keluar kamar dan menuju ke kamar para lelaki itu. Ia tak berniat masuk, melainkan hanya ingin menguping saja. Memastikan bahwa Rama sudah kembali tidur atau Nanda dan Pak Prima yang terbangun untuk menyadarkan Rama.


Tapi hening, tak ada suara apapun. Feza pun akhirnya berniat ingin kembali kekamarnya. Dan lagi-lagi terdengar suara Rama mengigau.


"Pergiii... pergiii..." itulah suara yang Feza dengar.

__ADS_1


Akhirnya Feza mengetuk kamar yang di pakai para lelaki itu. Tok...tok...tok... Mulai dari gedoran biasa, sampai ke gedoran paling beringas pun Feza lakukan karena begitu sulit membangunkan Nanda dan Pak Prima. Hingga akhirnya Pak Prima membuka pintu kamarnya.


"Hoam, kenapa Za?" tanya Pak Prima dengan suara khas baru bangun tidur.


"Pak, Rama ngigo. Coba deh cek suhu badannya, aku khawatir. Soalnya dari setengah jam lalu aku denger suaranya" ucap Feza mengkhawatirkan kondisi Rama.


Pak Prima pun menuruti titah Feza. Ia pun menyentuh kening Rama dengan punggung tangannya. Seketika ia terkejut dan menatap Feza.


"Waduh, iya Za. Panas banget ini" ucap Pak Prima ikut mencemaskan kondisi Rama.


"Pak, aku bakal bawa kasur aku ke ruang tengah. Rama kita pindahin aja. Kalian bisa tetap tidur dikamar, Rama biar aku yang jaga di sini" titah Feza yang disetujui oleh Pak Prima.


Akhirnya Feza membawa kasurnya keruang tengah lalu Rama di bantu Pak Prima dan Feza untuk dibawa keruang tengah agar bisa dirawat oleh Feza. Feza juga kan dokter, tentu bisa merawat Rama dengan baik. Apalagi Rama adalah sahabat terbaiknya.


Rama sudah ditempatkan diruang tengah. Pak Prima diminta oleh Feza untuk kembali beristirahat saja. Dan Feza pun mulai mengompres Rama yang suhu tubuhnya sudah mencapai 40 derajat.


Lagi-lagi Rama mengigau. "Pergi...Pergiiii" ucap Rama. "Aaauuuuaaaakmau" Rama malah kini tidak hanya mengigau tapi juga meracau tak jelas.


-


Pagi harinya keadaan Rama sudah berangsur membaik karena panas ditubuhnya sudah menurun. Namun, Rama tak kunjung bangun dari tidurnya dan juga ia tetap meracau tak jelas. Nanda, Feza, dan Pak Prima juga tidak tahu mengapa Rama bisa sampai seperti ini.


Feza memeriksa Rama mulai dari matanya, rongga mulutnya, sampai detak jantungnya. Namun, tetap tak menemukan gejala apa-apa.


"Gimana ni? Sedangkan mas Rahmat bakal jemput 2 hari lagi" ucap Nanda yang tak bisa tenang melihat teman akrabnya terus meracau.


"Apa jangan-jangan Rama keracunan buah yang dia petik di tepi jalan?" panik Feza mengingat kemarin sore Rama memakan buah-buahan hutan.

__ADS_1


"Apa?" ucap Nanda tak percaya.


Akhirnya Rama di angkut ke puskesmas. Disana Feza dan seorang perawat memeriksa seluruh tubuh Rama. Dan mereka tetap tak menemukan tanda-tanda apapun seperti ruam dan alergi lainnya.


"Menurut saya, ini lebih baik di bawa ke Pak Ratmo. Pak Ratmo ahli menyembuhkan penyakit yang seperti ini" ujar perawat itu.


"Maksudnya ahli penyakit apa ya?" tanya Pak Prima.


"Yaaaa, penyakit yang seperti ini. Penyakit nonmedis" ucapnya.


Nanda, Feza, dan Pak Prima saling pandang. Ada rasa tak percaya jika ini adalah penyakit nonmedis. Lagipula, mereka ini juga termasuk golongan orang-orang yang tidak mempercayai sesuatu yang bersifat tak kasat mata. Maksudnya, percaya akan hal gaib tapi tidak sampai mempercayai bahwa hal gaib bisa menyakiti atau menguasai manusia. Misalnya santet, pelet, dan pesugihan. Nah itu yang mereka tak percayai.


Feza pun meminta perawat itu menyuntikkan cairan infus untuk Rama. Karena Rama akan ia rawat di puskesmas saja. Mereka belum terpikir untuk membawa Rama ke Pak Ratmo. Dan si perawat itu pun menghormati keputusan 3 orang yang berdiri di depannya itu dan ia mengikuti perintah Feza untuk menginfus Rama. Walau dalam hatinya sangat yakin bahwa infus ini tidak akan bekerja pada tubuh Rama.


Siang harinya mereka membeli makan di warung Bu Heni karena Feza tak sempat lagi untuk memasak. Saat itu yang pergi ke warung adalah Nanda dan Feza. Sedangkan Pak Prima menjaga Rama di puskesmas.


"Buk, kita beli nasinya 4 bungkus ya. Sama lauknya yang ini, ini, ini, terus ini. Em...." Feza fokus menatap pada etalase yang menampakkan jejeran lauk-pauk yang begitu menggoda selera sambil berpikir mau beli lauk yang mana lagi.


Sedangkan Nanda hanya duduk di bangku kayu yang tersedia di depan warung sambil berbincang dengan beberapa lelaki yang baru datang dan kebetulan juga ingin membeli makan. Lalu Feza yang sudah selesai dengan urusannya pun segera menghampiri Nanda untuk mengajaknya pulang.


"Ayo pulang, Nan" Wajah Feza tiba-tiba menegang seperti melihat hantu.


"Za, kenapa?" tanya Nanda panik sambil menggoyang-goyangkan bahu Feza.


Sorot mata Feza begitu tajam dan mengeluarkan air mata. Namun, Feza tidak bereaksi apa-apa saat Nanda mengguncang tubuhnya. Ia hanya terus saja menatap ke depan. Ke sosok pria yang kini tengah berjalan cepat menjauh dari warung.


Nanda yang menyadari ada yang tidak beres dengan lelaki yang baru saja berbincang dengannya beberapa detik lalu pun kini mulai paham. Itulah pelakunya.

__ADS_1


●●●●


Hai, spesial banget hari ini aku mau ngucapin makasih buat yang udah kasih like nya. Sesekali komen juga dong. Komen apa kek, sebutin nama mantan juga gak pp. Aku seneng baca komen kalian. Oh iya, kalo novel ini layak untuk di beri vote, silahkan kalian vote. Karena aku udah gak mau maksa lagi. Kalian juga kan gak pernah nurut sama aku, dasar beballlllll. Aku ngambek😢


__ADS_2