(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
38. Jadi Lebih Baik


__ADS_3

Malam itu, mereka menikmati banyak jajanan yang di borong Ariel demi membahagiakan hati Dinda. Mama dan papa ikut gabung bersama mereka di salah satu meja yang ada di bawah tenda kecil milik salah satu pedagang.


"Malam ini bagus banget ya, langitnya cerah banyak bintang" ucap papa membuka suara di tengah kegiatan makan mereka.


"Malam kemaren juga gini om langitnya" kata Ariel memberi komentar.


"Masa iya ? Bukannya gerimis ?" sahut mama.


"Eh iya, lupa" timpal Ariel sambil meringis.


"Kamu ini Riel, masih muda udah pikun. Kalah dong sama suami tante" kata mama sambil menepuk bangga pundak papa yang duduk di sebelahnya.


"Oom juga pelupa kok tante. Waktu kita di grebek di hotel oom hampir aja pakek kolor aku sebelum tidur. Untung cepat aku sadarin" tutur Ariel yang langsung dapat hadiah tepokan di tangannya oleh papa Dinda.


"Kecilin suaranya. Di denger orang gak enak. Nanti di kira apa pula kita di grebek-grebek" peringatan papa sambil tengak-tengok kiri-kanan sambil senyum-senyum ga jelas ke orang yang bertatapan mata dengannya.


"Ampun om..." tukas Ariel.


"Becanda becanda" sambungnya dengan menaikkan sedikit volume suaranya.


Mereka lanjut bercengkrama sambil sesekali menceritakan kisah masa kecil Dinda dan tentang keluarga kecil mereka. Meski sebanarnya Ariel sudah mendengar ini puluhan bahkan ratusan kali tapi ia tetap menghargai dan menjadi pendengar yang baik.


Ariel hanya merespon sesekali kalo ada kesempatan. Biar berasa komunikasi 2 sisi, begitu.


Jam menunjukan pukul 22:00, mereka sepakat untuk segera pulang. Karena kalau di biarkan bisa pulang larut malam.


Sebab memang langit sedang bagus-bagusnya dan taman ini kian ramai oleh anak-anak SMA sampe kuliahan yang nongkrong minum bandrek dan minuman hangat lainnya di pinggir taman ini. Membuat Ariel dan Dinda enggan untuk meninggalkan tempat ini meski masih ada minggu-minggu selanjutnya.


Setelah sampai di rumah, Ariel hendak langsung pamit pada kedua orang tua Dinda. Setelah bersalaman dengan Ariel, kedua orang tua Dinda langsung masuk ke dalam rumahnya.


Sedangkan Dinda masih berdiri sambil mengamati laki-laki yang katanya mau langsung pulang namun tidak kunjung pergi. "Kamu ga jadi pulang?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Jadi dong, kamu ga mau ikut?" tanya Ariel balik.


"Ngapain?" kata Dinda.


"Mana tahu, udah kepengen serumah sama aku" sahut Ariel sambil menaikkan sedikit gulungan lengan bajunya.


"Dasar ngaco, aku emang cinta mati sama kamu tapi aku belum masuk ke tahap gilanya" sungut Dinda sambil cubit bahu Ariel. Hal yang sudah biasa ia lakukan sejak awal jadian dulu. Dan itu juga hal yang paling Ariel rindukan.


"Kira-kira kapan tuh? Masuk tahap gilanya" tanya Ariel dengan di iringi tawa jahatnya.


"Ogah, jangan sampe Tuhan. Kemaren aja ngegalauan orang ini nyeselnya setengah mati. Apalagi sampe mengorbankan kewarasan" ucap Dinda sambil menatap langit.


Ariel pun tertawa. "Iya, jangan sampe kamu gila gara-gara. Cukup aku aja yang gila sama kamu"


"Sok banget sih, paling juga kamu yang duluan lupa sama aku" tutur Dinda.


"Hei, no no no" kata Ariel sambil menggerakkan telunjuknya depan muka Dinda.


"Berapa kali aku bilang, menyibukkan diri sambil mencoba lupain kamu itu apa ? Bukti tuh kalo aku udah tergila-gila sama kamu" beber Ariel berusaha menciptakan suasana romantis seketika.


"Astaga, tante suka banget ngagetin aku ih" ucap Ariel sambil mengusap-usap dadanya.


"Mama ih, kasihan Ariel. Nama baiknya udah rusak, sekarang giliran jantung Ariel mama rusakin" ucap Dinda yang langsung membuat mama tertawa kemudian kembali masuk lagi ke dalam.


"Rese' banget sih, siapa bilang nama baik aku rusak" cubit Ariel ke bahu Dinda pelan


"Buktiin aja ke kantor Satpol PP kemaren" jawab Dinda cengengesan.


"Tuh tuh, mama kamu juga. Nongolnya tiba-tiba perginya pun ga bilang-bilang" cetus Ariel memandang ke pintu utama yang terbuka lebar.


"Tuh, sekarang ngerti kan? Yang namanya di tinggal tanpa aba-aba itu sakit" cetus Dinda seketika keingat lagi dengan lika-lika perjalanan cinta mereka.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim, Dindaku sayang. Alangkah baiknya babang pulang sekarang. Biar perempuan cantikku ini bisa segera istirahat" pungkas Ariel yang cemas kalau-kalau ada perang dunia ke-3 malam ini.


"Gitu, aku cuman ngomong berapa kata aja kamu langsung ngejauh. Kalo bosan sama aku bilang, jangan langsung ngilang. Terus auto ada yang baru aja" omel Dinda di telinga Ariel.


"Ampun sayang, aku cuma ga mau kita berdebat. Padahal tadi kita udah kaya dulu lagi. Aku udah seneng lho kita baikan. Nih biar kamu percaya, kita tukeran hp aja" tukas Ariel yang langsung ke mobil dan mengambil ponselnya untuk di berikan ke Dinda.


"Mau kamu kuasain semua sosial media aku, boleh. Mau kamu blok kontak wa atau akun ig siapapun, boleh. Aku cinta kamu pokonya" sambungnya lagi berusaha meyakinkan Dinda bahwa tidak ada lagi perempuan-perempuan penggoda di tengah-tengah mereka.


"Terus kerjaan kamu gimana? Urusan kampus au gimana?" tanya Dinda yang bingung jika nantinya ada info penting seputar perkuliahannya atau kerjaan Ariel.


"Jangan di persulit sayang, rumah kita bahkan ga lebih dari 20 langkah, amanlah kalo ada apa-apa tentang kuliah kamu aku pasti langsung kasih tau kamu. Terus kerjaan aku juga santai kok, kan aku bosnya. Simpan nomor sekretaris aku aja di hp kamu juga bisa" beber Ariel kemudian mencubit pipi tomat Dinda karena gemas dengan muka Dinda yang betul-betul polos dan kian imut di pandang.


"1 minggu ga liat kamu ternyata banyak perubahan ya" ucap Ariel memperhatikan Dinda dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Apaan?" tanya Dinda sambil mengikuti arah tatapan Ariel.


"Makin gede" jawab Ariel sambil nunjuk ke objek yang dimaksud tapi dengan arah yang berbeda. Tangan kanan nunjuk pipi, tangan kiri nunjuk dada.


"Dasar mesum, aku kira seminggu ini waktu yang cukup buat ngebersihin otak kamu. Tenyata ngga, masih kotor" ledek Dinda sambil berusaha mau matahin telunjuk Ariel. Tapi sama Ariel justru di angkat tinggi-tinggi biar Dinda ga nyampe.


"Hahaha, nih sekarang nambah kotor" sahut Ariel sambil menunduk karena posisi tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Dinda.


"Tanggung jawab ya" sambungnya lagi.


"Kamu yang mancing-mancing aku maju deket kamu, enak aja di suruh tanggung jawab" omel Dinda lalu perlahan mundur ke posisi awalnya.


"Ini yang ga bisa aku lupain dari kamu, suka ngomel sama ngegemesin uuuuu" kata Ariel sambil cubit pipi Dinda lagi.


"Jangan bertingkah kaya gini ke orang lain ya, cukup aku aja. Karena yang boleh sayang sama kamu cuma aku". Dan cup, Ariel mencium sekilas kening Dinda. Itu hal yang paling Dinda tunggu-tunggu. Pergerakan singkat namun bikin panas-dingin. Dan jadi salah satu penyebab susah move on -nya.


"Aku pulang dulu ya, ini hp kamu juga udah aku kantongin. Hp aku jangan di rusak. Udah ga pernah macam-macam lagi aku. Berani sumpah deh" ucap Ariel sambil mengusap-usap bahu Dinda.

__ADS_1


"Sana masuk" ucapnya lagi sambil mendorong sedikit tubuh Dinda agar segera masuk ke dalam rumahnya.


"Daaa..." ucap mereka bergantian.


__ADS_2