
^^^Sebelum lupa, otor ingatin dari sekarang buat absen dulu ya, cukup tap jempol aja kok. Gak susah kan? Mau yang susah juga bisa, coba pake dagu deh. Selamat mencoba✌^^^
^^^Salah deng, selamat membaca😄^^^
-
-
Waktu bergulir kedepan dan semakin maju, begitu juga Rama. Kini ia sudah tak melakukan hal yang tak berguna itu lagi. Tentu saja yang di maksud adalah memperhatikan Maudy, mencuri-curi pandang pada Maudy, dan mengharapkannya kembali.
Kini Rama sudah ikhlas dengan apa yang terjadi, sudah berdamai dengan keadaan. Walau begitu, ia tak ingin terburu-buru memaksakan diri untuk membuka hati meski beberapa kali orangtua dan kakeknya menyuruhnya untuk segera menikah. Rama hanya menanggapi dengan senyum tipis saja jika sudah ditanya-tanya kapan nikah.
Dua hari yang lalu, ia bertemu Feza di sebuah coffee shop. Feza menceritakan bahwa kini dirinya sudah benar-benar sembuh dari rasa traumanya. Semua karena bantuan konsultasi dengan Pak Prima dan juga karena padatnya kesibukan Feza sebagai Dokter di klinik.
Rama ikut bahagia mendengar kabar baik dari Feza. Ia sampai mentraktir Feza makan di sebuah restoran mewah hanya untuk merayakan kesembuhan Feza.
Sampai tak lupa mempostingnya di sosial media. Lalu Dinda melihat dan berkomentar. Dinda mengajak makan malam dirumahnya, karena makan malam yang di usul-usulkan sejak dulu tak pernah terlaksana. Bahkan grup Titik Kumpul pun tak lagi aktif.
Mereka pun akhirnya sepakat akan mengadakan acara makan malam di malam minggu tepatnya di kediaman Dinda dan Nanda. Dan lagi-lagi Pak Prima tak bisa hadir karena mendapat kabar dari luar kota kalau ibunya Pak Prima yang tiba-tiba harus dilarikan kerumah sakit setelah terpeleset di kamar mandi. Membuat Pak Prima harus segara terbang menyusul kesana.
...-...
Acara makan malam
Feza datang bersama Rama ke rumah pribadi Nanda. Mereka disambut hangat oleh pasangan suami istri itu. Walau sudah hampir 4 bulan tak bertemu dan hanya komunikasi sesekali melalui chat, mereka tetap berteman hangat. Dinda dan Feza yang paling sering saling bertanya kabar dan kesibukan.
"Kita langsung ke dalem aja ya, ke meja makan" ucap Dinda.
Rama dan Feza mengikuti pasangan itu menuju ruang makan. Sampai disana, ternyata sudah ada Sherly yang menunggu mereka di meja makan. Dinda sengaja mengajak adiknya itu biar Sherly bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama dirinya dan Nanda. Gadis itu juga kini semakin kecanduan dengan ponsel, inilah salah satu caranya agar Sherly tak memegang ponsel. Agar gadis itu tetap berinteraksi dengan orang disekelilingnya.
"Hai Sherly" sapa Rama yang masih ingat dengan adik Nanda itu.
"Hm" sahut Sherly acuh tak acuh.
"Apaan sih di sapa kok malah gitu" towel Nanda di pipi adiknya.
"Kalo belum minta maaf sama aku, jangan tegur-tegur" ucap Sherly sambil melipat tangan di depan dadanya.
__ADS_1
"Hai Sherly, kakak Feza" Feza megulurkan tangan hendak menyalami dan berkenalan dengannya.
"Aku Sherly kak, adeknya Bang Nanda sama Kak Dinda" ucapnya lalu tersenyum ramah.
Feza mengangguk lalu duduk tepat di samping Rama, ia masih tidak paham mengapa Sherly sangat ketus pada Rama tapi Feza tidak begitu peduli yang penting ia kesini bisa bertemu Dinda dan Nanda. Dua temannya yang sangat ia rindukan.
"Sher, bantuin kakak dulu yuk" Dinda mengajak Sherly ke belakang untuk mengambil beberapa alat makan dan kue yang telah Dinda buat.
Acara makan pun di mulai. Sherly yang tadinya cuek-cuek pada Rama kini mulai lupa dengan sikap dinginnya. Malah dirinya semakin di ledek Rama semakin senang. Feza ikut membela Sherly bahkan Sherly jadi sangat mudah akrab dengan Feza.
Acara makan malam itu benar-benar menjadi acara reuni mereka dengan tambahan Sherly sebagai hiburannya. Sherly kini sudah lebih banyak tertawa karena kelakuan Rama. Nanda sampai menyuruhnya untuk berhenti gangguin Rama. Tapi Feza dan Dinda justru sebaliknya, "Udahlah, biarin aja Nan. Kan sekarang Sherly resmi jadi adik kita semua" ucap Feza.
"Oh iya, Kak Rama katanya mau nikah ya?" tanya Sherly.
Semua jadi serentak terdiam, sebab mereka-mereka ini sudah pada tahu bahwa hubungan Rama kandas ditengah jalan. Sedangkan Sherly, anak kecil yang ketinggalan info.
Nanda mencubit pinggangnya, "Ihh jangan cubit-cubit" Sherly pun refleks memekik.
"Udah Nan, gakpapa. Namanya juga anak kecil. Kak Rama batal nikah, Sher. Dia bukan jodoh kakak ternyata" ucap Rama menjelaskan sekenanya saja pada anak kelas 3 SMA itu.
"Apa? Kenapa batal? Kak Rama kurang baik apa? Ih kalo aku di posisi dia gak mau aku sia-siain kak Rama" ucap Sherly dengan bibir cemberut.
"Tapi kan kamu sama dia beda" ujar Rama menyahuti ucapan Sherly.
"Makanya lain kali, kalo punya pacar tuh tanya aku dulu, minta izin sama aku dulu. Bisa lancar urusannya kalo udah dapet restu dari aku" ucap Sherly menceramahi Rama.
Sedangkan Rama hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Sherly yang sudah berlagak seperti orang tua saat berbicara menyangkut restu.
"Iya-iya, terus kriteria menurut kamu perempuan yang cocok buat Kak Rama kaya apa?" tanya Rama yang tertarik sekali berbicara dengan Sherly.
"Emmm, pokonya harus lebih cantik dari aku -..."
"Yah, gampang kalo itu. Bertebaran dimana-mana" potong Nanda cepat dan mendapat gelak tawa dari teman-temannya termasuk Dinda.
Sherly kembali cemberut, lalu Dinda menoel suaminya memberi kode bahwa adiknya kesal karena sudah ditertawakan. Dengan cepat Nanda mengembalikan mood Sherly.
"Terus, terus apalagi?" tanya Nanda biar Sherly kembali antusias membahas calon pacar Rama.
__ADS_1
"Terus, harus baik. Harus bisa masak, terus juga setia sama Kak Rama" ucapnya dengan menimbang-menimbang setiap kali ia ingin mengeluarkan rentetan kriterianya.
"Ya ampun mulia banget kamu Sher, makasih ya. Doain aja semoga Kakak dapet yang sesuai kemauan kamu" sambut Rama dengan senyum bahagia meski Sherly hanya ia anggap sebagai anak kecil namun setiap ucapan Sherly sangat ia dengar dan hargai.
"Kalo Kak Rama mau sama Kak Feza aku restuin" ucap Sherly singkat namun berhasil membuat Feza dan Rama salah tingkah.
"Huh, nih anak makin kemana-mana kalo ngomong. Ayo dek, bantuin kakak angkat ini aja" ajak Dinda untuk mengangkut piring kotor menuju ke westafel pencuciannya.
Feza pun ikut berdiri dan menyusun piring Rama dengan piringnya, ia telaten mengumpulkan beberapa alat bekas makan dan juga tisu kotor untuk dibuang. Segala tindak-tanduk Feza tak luput dari pandangan Rama.
Entah kenapa, usulan Sherly tiba-tiba merasuki pikirannya. Gak salah juga sih, kan Rama dan Feza sama-sama masih lajang.
Namun, Rama tak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Ia ingin menikmati momen tanpa harus stres mikirin pasangan.
Rama dan Nanda berpindah ke taman belakang. Mereka duduk sambil menikmati penampakan bulan dengan bentuk bulat sempurna.
"Gimana kerjaan? Lo jarang banget nanya kabar gue" tegur Nanda seperti pacar posesif.
"Ih, lu sendiri ga ada niat nanya kabar gue duluan" balas Rama.
"Gue sibuk. Terus lo sama Maudy gimana? Gak ketemu?"
"Pertanyaan bodoh yang pernah gue dengar. Udah jelas-jelas gue satu tempat kerja, ya pasti ketemulah" ujar Rama dengan gusar bahkan kepalan tinjunya sudah mendarat duluan di bahu Nanda sebelum menjawab.
"Kan gue cuma nanya. Terus ga lo ajak baikan?" tanya Nanda lagi.
"Gue udah sampe nangis-nangis di kakinya tapi dia tetap dengan pendiriannya. Gue mutusin berhenti ngejar-ngejar dia setelah gue liat sendiri dia di antar jemput sama cowo, disitu bener-bener sakit hati tapi itu juga yang jadi kekuatan terbesar gue untuk ngelepas dia" cerita Rama pada Nanda.
"Iya, ikhlasin aja. Toh nanti dia pasti nyesel uda sia-sian lo Bro. Oh iya, gue denger lo jadi direktur sekarang"
Akhirnya perbincangan mereka beralih topik membahas pekerjaan. Sedangkan Sherly, Dinda, dan Feza kini sudah duduk diruang tengah memenuhi ajakan Sherly untuk menonton film Thailand yang berjudul Pee Mak. Film horor komedi yang sebenarnya sudah di produksi sejak lama namun baru berkesempatan nonton sekarang.
...-...
...-...
...-...
__ADS_1
Buat yang pernah nonton film Pee Mak pasti tahu seberapa konyolnya tingkah si pemain. Otor aja sampe nonton berkali-kali tetep gak bosan.
Kalian udah pernah nonton juga ga? Komen di bawah⬇⬇⬇