
Kepala Dinda sudah tertuju ke belakang, matanya sudah menangkap sosok yang berani memukul pundaknya dengan cukup lembut namun karena tangannya yang kekar itu, membuat pundak Dinda seketika merasa berat jika tangan itu di biarkan bertengger di pundaknya lebih lama.
"Eh... a... ada apa ya Pak" sahut Dinda yang bengong dengan laki-laki yang berada di dekatnya ini. Alhasil membuat Dinda buru-buru memperbaiki duduknya karena ingin berhadapan langsung dengan laki-laki yang ia sendiri bingung mau di panggil nama saja, atau abang, atau di panggil pak tapi terlalu muda.
"Lihat itu" tunjuknya pada mobil Dinda.
"Itu mobil saya Pak, kenapa ya dengan mobil saya?" ucap Dinda polos membuat lawan bicaranya melipat tangan depan dada dan menatapnya tajam.
"Saya ga nunjuk mobilnya, tapi tiang depan mobil kamu" ujarnya dengan tegas.
"Astaga! Pak maaf, saya bener-bener ga sengaja. Soalnya saya ga liat kalo di situ di larang parkir" pekik Dinda yang menyesali kelakuan cerobohnya.
Bisa-bisanya ia parkir tepat di depan tiang huruf P yang di beri tanda silang yang artinya di larang parkir.
Tapi setelah di ingat-ingat, biasanya dulu Dinda juga parkirnya di sana. Dan seingatnya ga ada plang itu. Apa baru di tegakin ya tiangnya?
"Jangan pura-pura ga tau. Mana KTP? Ga punya kan? Makanya, kalo masih kecil jangan maksa bawa kendaraan. Kapok kan jadinya" ujar Pak polisi itu dengan gaya tengilnya. Ganteng siiih, tapi sok tahunya itu lho, jadi nyesel muji dia ganteng.
Dinda pun merogoh dompetnya dan mencari di mana KTP-nya itu nyelip. Ia ingin membuktikan pada si Pak polisi ini kalau ia sudah memiliki KTP, jangankan KTP, SIM pun ada. Apapun yang dia mau, ada. Duh, jadi nyolot kan Dindanya.
"Udahlah Dek, nyari HP buat telpon orang tua, kan? Gini aja, mobilnya saya bawa dulu ke kantor. Nanti minta orang tuanya datang ke kantor saya buat ambil mobilnya dan tanda tangan surat pernyataan kalo anak di bawah umur di larang bawa kendaraan dan kalo terbukti melanggar, biar orang tuanya kami mintai pertanggungjawaban" ujarnya dengan nada yang sudah melunak tapi tetap tak enak di dengar.
"Bisa sabar dulu ga? Saya nyari KTP bukan HP. Pak, saya nih udah dewasa, bukan anak di bawah umur. Saya udah Sarjana Pak, Sarjana Hukum. Kerja di Firma Hukum Aidil Khalid Alfarizi S.H.,M.H. Duh, udah saya jelasin kan? Masih ga percaya juga?" geram Dinda sambil tangannya tetap mencari-cari di mana KTP itu berada. Sebab hanya benda kecil itulah yang menjadi sevalid-validnya bukti.
Pak polisi yang bernama Nanda itu pun diam mendengarkan dengan sabar sambil sesekali ia memutar badannya untuk melihat ke sekitarnya. Mungkin jenuh juga kali ya nungguin cewek manja di depannya ini ngomel sambil grasak-grusuk cari sesuatu yang sedari tadi masih ia ragukan.
Tak lama kemudian, kartu penting yang Dinda cari-cari itu akhirnya di temukan. Dengan senyum mengembang ia memamerkan kartu tersebut tepat 5 centi depan wajah Nanda.
__ADS_1
Dengan gesit, Nanda merampas kartu itu dan memasukkannya ke dalam dompetnya.
"Lho, Pak itu kan punya saya. Kalo saya butuh gimana?" ucap Dinda merengek sambil menggoyang-goyangkan tangan Nanda.
"Kamu pilih mana? Di tilang atau KTP di tahan 2 hari" ucap Nanda memberi 2 pilihan yang cukup mudah untuk Dinda menentukan pilihan.
"Ya udah, tahan aja. 2 hari ya, berarti rabu aku jemput. Kantor bapak di mana?" tanya Dinda yang langsung memasang pengingat di kalender ponselnya. Sebab ia takut lupa.
"Sekali lagi kamu panggil saya Bapak, saya perpanjang masa penahanan KTP kamu" ucap Nanda dengan senyum menyeringai yang membuatnya semakin kelihatan maskulin.
"Terus panggil apa? Nanda?" tanya Dinda yang membuat Pak polisi itu berdecih.
"Jangan, aku lebih tua dari kamu. Ga sopan banget sih" ketusnya membuat Dinda serba salah lalu ia melangkah untuk duduk di samping Dinda. Ringan bener ya, kaya ga ada beban. Tahu-tahu duduk manis samping Dinda. Nyebelin nih orang.
"Terus apa? Abang?" tanya Dinda lagi.
"Ck, abang abang. Emangnya aku jualan apa. Yang enakan di denger napa?" ujarnya lalu dengan santai memesan 1 gelas es tebu pada pedagangnya, mengabaikan Dinda yang masih mencari-cari panggilan yang enak di dengar.
Setelah Nanda menerima es tebu pesanannya, ia pun kembali melirik Dinda yang masih asyik dengan pikirannya.
"Enak?" ucap Dinda.
"Iya" sahut Nanda spontan karena ia pikir Dinda menanyakan rasa es tebunya. Padahal bukan itu.
"Ya udah enak aja kalo gitu" ujar Dinda santai lalu menyeruput es tebunya yang sudah hambar.
"Maksudnya?" tanya Nanda kembali dengan nada tegasnya dan melipat kedua tangannya depan dada. Hal ini membuat Dinda merasa di intimidasi.
__ADS_1
"Tadi kata kamu, minta di panggil dengan panggilan yang enak di dengar. Terus aku tanya, enak? Kamu jawab iya. Ya udah, berarti panggil enak aja ya, kan?". Kalimat Dinda barusan berhasil membuat wajah Nanda merah padam. Tadinya ia pikir bahwa perempuan ini adalah anak di bawah umur. Justru kini ia sendiri merasa telah di permainkan oleh Dinda.
"Kamu" ucap Nanda menggantung dan menatap Dinda dengan tajam. Mengisyaratkan bahwa kini ia sedang menahan sesuatu dalam dirinya.
Dinda pun ketakutan melihat laki-laki di depannya akan ngamuk. Dari segi fisik saja Dinda sudah kalah jauh. Bagaimana nanti kalau laki-laki absurd ini menantangnya adu jotos. Bisa mati konyol Dinda kalau meladeninya.
"Traktir saya makan, saya laper" ujarnya begitu saja. Tak peduli seberapa sesaknya nafas yang Dinda hirup, tahu-tahu malah minta di traktir makan. Dasar aneh.
Kalau bukan karena KTP yang udah kepalang di tangan dia, mana mau gue nraktir polisi gadungan ini, rutuk Dinda dalam hati.
"Malah bengong. Woi" gertaknya lagi yang membuat Dinda kesal sekesal-kesalnya.
"Bisa ga sih jangan ngageting wai woi wai woi" ucao Dinda melayangkan protes terhadap Nanda.
"Ya udah iya iya mau makan apa" ujar Dinda merepet. Mendadak ia juga mulai berani untuk berbicara dengan nada tinggi terhadap Nanda.
"Denger ya, gue ga ada maksud buat morotin lo. Tapi kesalahan lo banyak" ungkap Nanda yang membuat Dinda memasang wajah bertanya-tanya.
"Pertama, lo melanggar rambu di larang parkir sedangkan lo adalah sarjana hukum dan bekerja di firma hukum. Hidup lo tuh berkaitan erat dengan yang namanya aturan, tapi lo sendiri ceroboh ga mentaati aturan" cecar Nanda dengan senyum mengembang seolah apa yang ia katakan adalah kebenaran mutlak atas Dinda.
Arggggg, kenapa harus ketemu dia sih. Kenapa ga polisi yang laen aja yang negur gue. Kayanya sama polisi yang laen urusan jadi lebih gampang. Tilang ya tilang deh, eh jangan. Gue malu sama profesi hehehe, cerocos Dinda dalam hatinya.
โโโ
Selamat malam epribadehh, jangan lupa sholat yaa...
Lupa makan ga papa asal jangan lupa sholat.
__ADS_1
Dan jangan lupa komen di bawah ya, kira-kira bagus ga sih novel aku? Sarannya apa nih dari kalian, kalo masih ada kekurangan
Di tunggu yaaa, allaview๐๐