(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Layu Sebelum Berkembang


__ADS_3

Setelah kencan ke panti asuhan waktu itu, Rama mendadak menghilang dari peredaran. Sherly terus mencoba mengiriminya pesan namun tak kunjung di balas. Yang lebih menyakitkan adalah Rama sering kali terlihat sedang online namun dirinya tak menggubris pesan yang Sherly kirimkan.


-


Hari ini tepat 1 minggu hidup Sherly tanpa Rama. Sherly masih terus mencoba menghubungi Rama baik itu melalui panggilan ataupun pesan. Semua cara telah ia coba termasuk mendatangi apartemen Rama dan rumah sakit tempat Rama bekerja. Namun, tetap saja usahanya itu sia-sia. Ia tak pernah menemukan Rama dimanapun tempat biasa Rama berada.


Sherly


Pak dokter, aku salah apa ya? Kok tega banget sih sama aku. Niat aku kan baik cuma pengen jalin silaturahmi. Mohon dibalas ya:)


Sherly kembali mengirimi Rama pesan yang ia juga tak yakin bahwa pesan itu akan mendapat balasan atau bahkan di baca oleh Rama. Entah kenapa pria itu kini berubah menjadi sombong pada Sherly. Padahal sebelumnya Rama sangat baik dan selalu membalas pesan-pesan darinya.


Sherly berkutat di meja belajarnya. Ia yang biasanya terkenal memiliki otak yang encer dibanding teman-temannya yang lain. Kini bahkan menjawab pertanyaan mudah pilihan ganda dihadapannya saja ia pusing tujuh keliling. Setiap membuka buku, dirinya selalu merasa tak bersemangat. Lagi-lagi yang hadir dalam otaknya hanya Rama dan Rama.


2 jam kemudian


Sherly mengecek pesan yang tadi ia kirim pada Rama. Dan sama seperti pesan-pesan sebelumnya, tak di baca. Sherly pun meneteskan air matanya. Rama adalah cinta pertamanya. Entah apa sebutan orang-orang atas kisahnya ini. Cinta monyet kah? Namun bagi Sherly ia tak main-main akan rasa yang ada dalam hatinya ini. Ia serius mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Rama. Bukan pada saat pandangan pertama melainkan saat mereka sering berkirim pesan sebelum pergi ke panti asuhan. Nyaman, itulah alasan Sherly menaruh hati pada Rama.


Sherly menangis pelan. Ia mengusap air mata yang mengalir tanpa seizinnya itu. Ternyata sakit hati bisa semenyakitkan ini. Pantas saja ada yang sampai bunuh diri karena tak sanggup menanggungnya.


Dan lagi-lagi, Sherly mengirimi Rama pesan. Mungkin ini untuk yang terakhir kali. Batas pertahanan dirinya sudah habis. Sedangkan Rama yang entah dimana mungkin saat ini sedang menari di atas penderitaannya. Tanpa tahu bagaimana Sherly melalui hari selama 1 minggu ini.


Sherly

__ADS_1


Rama, gue udah gak mau bersikap sopan sama lo. Terserah mau lo tersinggung kek, bodo amat. Karena gue juga tersinggung sama sikap lo yang tiba-tiba sombong dan ga pernah balas chat gue satu pun. Apa karna lo tau kalo gue naksir lo terus lo dengan seenaknya memperlakukan gue kaya gini? Iya memang, gue memang naksir lo. Tapi hanya sampai detik ini aja. Karena gue udah tau kalo lo gak sebaik yang gue kira. Selamat ya karena sudah berhasil memporak-porandakan hati gue. Gue memang seperti yang lo bilang, masih kecil dan belum lulus sekolah. Tapi bukan berarti lo bisa mempermainkan gue seenaknya. Nyesal gue udah menaruh hati sama lo yang gak punya hati. Sbshdhdhrjdkdjahgasjjdndhdhdjdkdkdowkwieiesznh"


Karena terlalu kesal dan sakit hati akan sikap Rama padanya, Sherly sampai tak sanggup lagi mengetik dengan normal. Ia memencet sembarang huruf lalu setelah puas ia pun menekan tombol enter untuk mengirimnya. Dan setelah itu ia mencampakkan ponselnya ke kasur. Lalu mencoba menenangkan diri dan kembali fokus pada PR (pekerjaan rumah)nya.


Setelah selesai dengan segala tugas-tugas yang menumpuk itu. Sherly pun beranjak dari meja belajarnya menuju balkon. Ia duduk sembari menikmati semilir angin yang berhembus dengan lembut menerpa wajahnya. Disaat galau begini, bagi Sherly memang melihat langitlah obatnya.


Tak lama ia mendengar ponselnya berdering. Namun Sherly tak begitu menghiraukannya. Karena benda persegi itu sedang sangat ia benci saat ini. Mungkin benda itu akan ia telantarkan sampai waktu yang tidak ditentukan.


Dimalam harinya, Nanda dan Dinda sempat berkunjung sebentar ke rumah orang tuanya karena keduanya habis pulang dari suatu tempat dan memutuskan untuk mampir sebentar kesana.


Saat hanya Dinda, Nanda, dan Sherly saja yang duduk diruang tengah. Tiba-tiba Nanda teringat dengan foto yang sempat diperlihatkan Jovan padanya saat Sherly pergi ke panti asuhan bersama Rama.


"Ehm, ada yang ke panti gak bilang-bilang" sindir Rama dengan tatapan fokus ke televisi.


Sherly yang tahu bahwa abangnya itu sedang menyindir dirinya. Ia hanya sempat mendengus sebal namun juga tak melihat ke arah Nanda.


"Yank, kamu gak makan dulu sebelum pulang?" tanya Dinda berusaha mengamankan nasib Sherly dari pertanyaan atau sindiran Nanda selanjutnya.


"Gak yank, aku makan dirumah aja" jawab Nanda singkat, padat, dan jelas. Dan sepertinya Nanda tak berniat untuk berhenti menggoda sang adik.


"Gak belajar? Atau sekarang udah sibuk pacaran?" ucap Nanda lagi.


"Apasih bang? Aku nggak pacaran kok sama Rama. Waktu itu cuman ngaku-ngaku pacar aja sama mama, gak seriusan" ungkap Sherly yang terpojok karena terus-terusan di pancing Nanda.

__ADS_1


"Syukur deh. Karena dia udah ketuaan buat kamu" sambut Nanda.


"Apa iya cuma gara-gara dia ketuaan? Bilang aja abang gak suka aku deket-deket sama cowok" timpal Sherly.


"Sayang, pulang yuk. Udah jam 10 nih, besok kita kerja" ucap Nanda menghindar dari tuduhan Sherly yang tepat itu.


Akhirnya sepasang suami istri itu pun pamit pulang pada mama papa yang sedang beristirahat di kamar. Sherly pun menghantarkan mereka sampai ke depan.


"Dek, kita pulang dulu ya. Kamu belajar yang rajin, jangan begadang" begitu ucap Dinda pada Sherly saat mobil mereka akan meninggalkan rumah kedua orang tuanya.


"Iya kak, hati-hati dijalan" jawab Sherly sembari melambaikan tangan saat mobil Nanda sudah melaju meninggalkan halaman rumahnya.


Saat mobil Nanda sudah tak terlihat dari pandangannya dan pak satpam juga sudah menutup pintu gerbang. Sherly pun segera masuk dan tak lupa mengunci pintu rumahnya.


Ia kembali ke lantai 2 menuju kamarnya. Sejak tadi sore ia tak menyentuh sedikitpun ponselnya. Kini sudah malam, matanya belum terasa kantuk. Dan ia sudah terbiasa memegang ponsel sebelum tidur sampai matanya lelah.


Sherly pun akhirnya membuka ponsel. Terlihat ada 2 panggilan tak terjawab dan satu pesan dari Rama.


Rama


Sher, segitu dendamnya ya sama saya? Sampe telpon saya gak kamu angkat.


Sher, saya minta maaf karena sejak kepulangan kita dari panti saya gak pernah lagi balas chat dan angkat telpon dari kamu. Saya sedang sibuk mempersiapkan pertunangan saya. Maaf juga jika kabar ini melukai hati kamu. Tapi jujur selama ini saya hanya anggap kamu sebagai adik karena usia kita terpaut cukup jauh. Masa depan kamu juga masih panjang Sher, jangan dulu mikir cinta-cintaan. Katanya pengen jadi dokter? Kamu fokus belajar aja dulu. Urusan cinta belakangan.

__ADS_1


Semoga sukses ya💪.


Oh iya, semua pesan kamu udah saya baca.


__ADS_2