
Selamat siang sore malam para pembaca setiaku. Teruslah setia membaca novel ini yaa... Meski ada banyak novel bagus lain yang juga layak kalian baca hehe... Sedih deh aku kalo di tinggalin gitu aja. Setidaknya kalau tidak suka, kasih alasan di kolom komen kenapa kalian gak suka baca novel ini🙂
...*...
...**...
...***...
Sehabis makan malam bersama, Feza mengamati segala kegiatan yang terjadi dirumah mertuanya. Mama yang sangat telaten menjadi seorang istri yang baik, mengurusi papa yang seperti orang terkena stroke itu dengan sangat baik. Sehabis papa makan bubur, mama langsung meminumkan obat tablet beberapa butir untuk papa yang sudah dicampurkan dengan air.
Sedangkan Arse, sehabis makan malam tanpa berkata apa-apa ia langsung pergi menuju kamarnya yang ternyata bersebelahan dengan kamar Rama. Berbeda dengan Puput dan mama yang tetap berbincang hangat diruang tv. Mungkin karena mereka sama-sama perempuan jadi betah berlama-lama ngobrol.
Feza mengamati itu dari depan kamarnya. Ia berdiri sambil bertopang tubuh pada pagar besi yang membuat dirinya bisa melihat mama dan Puput dibawah.
Tiba-tiba Feza tertegun saat tangan kekar suaminya mengungkungnya dari belakang. "Ngeliatin apa?" tanya Rama.
"Itu, mama sama Puput seru banget. Pengen ikutan tapi gak berani" ucap Feza.
"Kenapa harus takut, sana turun. Siapa tahu dari tadi mereka gosipin kamu" ujar Rama mengompori.
"Ish, gak mungkinlah. Ada-ada aja" jawab Feza membantah tuduhan Rama.
"Put, Kak Feza mau gabung" teriak Rama dari atas.
Puput dan mama mendongak menatap pasangan itu. "Sini turun Za, gabung aja langsung kenapa musti sungkan?" ajak sang mama mertuanya.
"Iya kak, sini aja gabung. Kita lagi nungguin film horor yang bakalan tayang nih di tv" ujar Puput.
"Udah sana turun" Rama mendorong punggungnya untuk turun.
"Mas!" kesal Feza karena dipaksa-paksa. Tanpa harus didorong pun ia akan tetap turun.
Rama terkesiap.
"Eh, manggil apa tadi?" teriak Rama saat Feza sudah berada di pangkal tangga. Feza pun tak menggubris pertanyaannya.
__ADS_1
Feza duduk diruang keluarga bersama Puput dan mama sampai jam 10 malam. Tepat saat film horor yang mereka tonton habis, mama langsung pamit duluan menyusul papa yang sudah lebih dulu tidur.
Tinggallah Feza dan Puput disana. Feza pun akhirnya berkesempatan untuk bertanya akan sesuatu yang mengganjal dihatinya.
"Put, kakak boleh tanya sesuatu gak?" raut wajah Feza mendadak serius. Puput jadi ikutan serius mendengar pertanyaan Feza.
"Kak Feza mau tanya apa?" sahut Puput.
"Put, Arse gak suka ya sama kakak? Soalnya kakak gak pernah dengar Arse tuh ngomong sepatah katapun saat kakak disini" ujar Feza menghela nafas dalam. Dirinya yang lahir tanpa memiliki adik ini pun menjadi kekhawatirannya sendiri. Takut tak bisa mendekatkan diri dengan anak kecil, seperti adiknya Rama.
"Oh itu, nggak kok kak. Arse bukan gak suka sama kakak. Jangankan sama kakak, sama kita semua juga Arse gak pernah ngomong" ungkap Puput.
Feza jadi makin penasaran, "Lho, kan kalian satu rumah. Masa gak pernah ngomong, Put?" tanya Feza.
"Atau... Maaf ya Put, apa Arse bisu?" sambung Feza ingin tahu langsung ke intinya.
"Nggak kak, Arse gak bisu. Dia bisa ngomong kok. Tapi... Arse berubah sejak papa jatuh sakit. Arse emang dekat banget sama papa, kadang sering diajak papa juga kekantornya. Aku juga gak tahu apa separah itu kesedihan Arse kehilangan temen main. Aku sama mama udah pernah bawa Arse ke psikolog, tapi Arsenya yang gak pernah mau ngejawab pertanyaan psikolog, akhirnya sia-sia kita ke psikolog. Dan sampe sekarang, Arse masih gak berubah kak. Ke siapapun gak mau ngomong"
Mendengar hal itu, Feza turut merasa prihatin pada adik iparnya. "Terus disekolah gimana?" tanya Feza lagi.
"Aneh ya kak, biasanya orang tuh diem-diem cepirit. Kalo Arse another level, diam-diam rangking 1 hehehe" ujar Puput masih bisa bercanda.
"Terus dia seharian biasanya ngapain Put kalo dirumah?" lanjut Feza bertanya.
"Dia jago lukis kak, tiap hari ngelukis. Masuk aja kekamarnya kalo berani. Ada banyak lukisan bagus disana" ungkap Puput.
Sedangkan di atas, Rama keluar kamar dan menemukan mainan pistol air milik Arse yang tergeletak di depan pintu kamarnya. Rama mengambilnya lalu mengisi air.
Dengan jahilnya, ia menembakkan pistol itu kebawah dan mengenai Feza dan Puput yang masih asyik berbincang.
"Ih, air apa ini Put?" kaget Feza saat rambut dan lengannya terkena tetesan air.
Puput mendongak ke atas dan sekelilingnya. Feza juga ikut-ikutan meneliti sudut sekitar. Nihil, tidak ada siapa-siapa.
"Apa ini ulah Arse?" tanya Feza.
__ADS_1
"Gak mungkin kak. Arse gak punya sisi humor kaya gini. Dia aja gak mau interaksi sama semua orang kok" kata Puput.
"Apa jangan-jangan mas kamu nih" ucap Feza.
"Bisa jadi, tapi nyiramnya pakek apa?"
Ditengah-tengah kebingungan dua perempuan tersebut, Rama kembali menembakkan pistol air kearah mereka lalu tiarap lagi dilantai biar tidak kelihatan. Sambil terkikik geli menertawai adik dan istrinya.
"Mas... Ah ini pasti mas kan? Mas... Gak lucu deh" kesal Puput sambil berdiri tepat di bawah kamar Rama mendongak mengamati pintu kamar Rama yang tertutup.
"Mas mu mungkin udah tidur Put. Biasa jam segini kalo gak kerja ya molor" tutur Feza.
"Iihhh takut kak, habis nonton film horor lagi. Bubar-bubar, aku beneran merinding nih sekarang" ujar Puput yang langsung berjalan cepat menuju kamarnya.
"Put... Yaahhh" Feza sudah berdiri sendirian di ruang tengah yang sangat luas itu. Dengan langkah terbirit-terbirit sambil membaca doa Feza menaiki tangga yang melingkar menuju ke kamarnya.
Sampai di lantai atas, Rama tertawa lepas menyambut istrinya datang. Terlihat barang bukti berupa pistol air ditangannya.
"Gila!" hanya itu kata yang mampu Feza ucapkan.
Sedangkan Rama, justru makin kencang tertawa.
"Jahat banget ngerjain aku sama Puput" ujar Feza kesal tapi juga lemas tak bertenaga. Jantungnya yang sempat memompa lebih kencang, kini sudah mulai teratur seiring dengan nafas yang mulai normal.
"Lagian penakut tapi nontonnya hantu-hantuan" ejek Rama.
"Gak ada hubungannya penakut sama hantu" elak Feza.
"Ya adalah"
Keduanya pun masuk ke kamar setelah berdebat kecil. Seperti biasa, Feza selalu mencium sekilas pipi Rama sebelum dirinya terlelap. Feza terus menunjukkan sikap lembut dan penuh kasih sayang pada Rama. Tapi, sampai detik ini Rama masih tidak pernah mengungkapkan rasa cintanya pada Feza. Padahal, Feza sudah menanti-nantikan itu sejak lama. Bagi perempuan, sangat memerlukan yang namanya pengakuan. Hanya saja, sampai detik ini Rama masih tidak peka.
(puk puk puk, yang sabar Za. Gak cuma Rama doang kok. Yang lain juga gitu, kata Author hehe)
Jangan lupa tekan likenya sebelum lanjut scroll ke bawah ya guys😍
__ADS_1