
Empat hari berlalu, hari ini tepatnya hari jum'at. Nanda yang sudah mendapat kesepakatan untuk mempertemukan antara Feza dan Dinda pun akhirnya izin untuk pulang cepat. Ia akan menyampaikan hal ini pada istrinya yang memilih kerja dari rumah sejak beberapa hari ini.
Sesampainya Nanda di rumah, Dinda menyambutnya dengan senyum mengembang seperti biasanya. Walau Nanda tahu istrinya ini memiliki tingkat parno yang berlebihan namun pandai ia tutupi.
"Hai, masak apa hari ini?" tanya Nanda yang langsung menyambut pelukan hangat istrinya.
"Tadi bingung mau masak apa lagi, akhirnya aku cari-cari resep di yutub. Mau cobain gak?" Dinda menggelantung manja di lengan suaminya yang selalu siap menyantap makanan apapun yang ia buat.
"Boleh deh, kebetulan tadi habis sholat jum'at aku belom sempet makan siang" ujar Nanda yang langsung menuju dapur bersama sang istri.
"Waw, ikan bakarnya mantep nih" puji Nanda saat Dinda masih menyiapkan nasi untuknya.
"Iya, tapi aku sendiri belum nyobain rasanya. Semoga aja gak ada masalah haha" canda Dinda yang juga belum makan.
"Ayo sayang kita makan bareng. Sepiring berdua aja biar seru" ajak Nanda.
Dinda pun suka dengan ide tersebut. Akhirnya mereka makan sepiring berdua. Untung saja bumbu ikan bakarnya pas, tidak gosong, dan tingkat kematangannya juga pas.
"Sayang, Pak Permana udah setuju buat ketemu nanti malam. Terus kita sembunyikan dulu perihal pertemuan nanti malam dari papa mama. Aku mau lihat reaksi Pak Permana itu gimana. Kalo dia kekeh membenarkan kelakuan anaknya, baru kita tunjukin kekuasaan papa mama biar dia gak macam-macam sama kita. Jangan gara-gara dia jenderal lalu bisa berbuat seenaknya. Kamu paham kan maksud aku?"
"Paham sayang. Aku ikut aja apa kata kamu. Tapi kan kamu sendiri bilang kalo Pak Permana tuh orangnya baik, kenapa kamu malah su'udzon sama dia?" tanya Dinda.
"Bukan su'udzon sayang. Tapi aku cuma waspada aja. Siapa tahu dia jadi orang baik selama kita gak punya urusan sama dia, giliran sekarang kita ada masalah sedikit dia jadi menyalahgunakan kewenangannya. Semisal anaknya yang terbukti salah, dia tetap ngebela anaknya dan nyalahin kamu. Aku gak terima kalo kaya gitu" tukas Nanda yang memang sangat pemikir dibanding Dinda untuk hal ini.
"Kalo semisal aku yang salah gimana?" tanya Dinda yang tingkat kepercayaan dirinya mulai menurun.
Nanda memegang dagu Dinda lalu mengangkat wajahnya yang tertunduk menatap sayu pada makanan yang ada di depannya.
"Gak sayang, kamu nyamperin dia baik-baik. Dianya aja yang ngotot duluan. Kamu tenang aja, aku juga tadi sempat telpon karyawan restoran yang ada di video itu buat datang juga nanti malam, bahkan si pengunjung yang ngerekam pun juga aku minta datang nanti malam" Nanda berharap Dinda mengerti kekhawatirannya dan tak perlu stres akan masalah yang bukan akibat dari kesalahannya.
__ADS_1
-
Waktu berganti malam
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Nanda yang memeluk Dinda dari belakang. Sedangkan Dinda sedari tadi hanya duduk diam di depan meja riasnya pun kini mulai terlihat lebih ceria. Sorot matanya juga tampak bersemangat.
"Aku udah siap. Tapi jujur, selama ini kan aku ga pernah tersangkut masalah sama siapapun, jadi aku suka overthinking Yank. Jadi suka melamun" ujar Dinda yang kini sudah banyak mengutarakan apapun yang sedang ia rasakan.
Biasanya hanya bicara seperlunya.
"Udah ah, gak usah di pikirin. Kita ini hidup bukan untuk di pikirin, tapi buat di hadapin. Yuk jalan" ajak Nanda meraih tangan Dinda untuk segera berangkat.
Dinda pun segera meraih tasnya yang sudah ia siapkan. Mereka berdua berjalan bergandengan ke mobil untuk menuju restoran tempat dimana Nanda sudah janjian akan bertemu dengan Pak Permana. Tentu saja akan ada Feza juga disana.
Sampai restoran, Nanda segera menuju kasir untuk menanyakan keberadaan meja yang sudah di pesan atas nama Pak Permana. Seorang karyawan restoran pun akhirnya mengantarkan mereka ke ruangan VIP restoran tersebut tepatnya di lantai 2.
Mereka juga berjabat tangan memperkenalkan diri masing-masing pada Dinda. Lalu mereka pun berbincang santai sembari menunggu kedatangan Pak Permana dan Feza.
Namun tak lama kemudian, pintu ruangan pun terbuka. Menampakkan wajah pria paruh baya serta wanita muda di belakangnya. Tak lain dan tak bukan adalah Pak Permana dan Feza.
Mereka semua pun duduk melingkari meja yang ada di ruangan tersebut. Dinda yang melihat Feza seperti anak baik-baik di hadapan papanya pun sedikit dongkol. Apalagi Dinda juga sempat menangkap basah Feza yang menatap penuh harap pada Nanda.
Apa Feza sengaja mancing emosi gue biar kelihatan nanti kalo gue yang cari masalah duluan. Hih, wanita licik.
Dinda pun santai menyesap minumannya dan tetap berusaha sesopan mungkin dihadapan Pak Permana. Dinda juga tak banyak bicara, hanya mendengar keterangan dari para saksi dan mendengar percakapan antara suaminya dan Pak Permana.
"Za, kini penjelasan kamu gimana? Apa alasan kamu jambak rambut istrinya Nanda?" tanya Pak Permana dengan tegas.
"Jadi, dia duluan pa nyamperin meja aku. Terus dia nuduh aku mau rebut suaminya. Padahal jelas-jelas disitu aku lagi nongkrong sama temen-temen aku bahas kerjaan" ujar Feza yang jelas berbohong akan kenyataan sebenarnya.
__ADS_1
"Bohong Pak" sanggah Dinda yang langsung di tatap oleh semua orang yang ada disana.
"Maksud kamu apa?" tanya Pak Permana.
"Cerita sebenarnya begini, Feza memang betul nongkrong sama 2 orang temannya tapi mereka tidak membahas tentang pekerjaan melainkan tentang suami saya. Anda boleh panggil dua orang temannya kalo mau" ujar Dinda sambil menahan emosi.
"Lo tu tau apa? Emang lo dengar kalo gue lagi bahas suami lo?" bentak Feza.
"Mbak, coba deh kasih tahu meja tempat saya duduk waktu itu" ujar Dinda meminta pada karyawan restoran untuk menjelaskan, karena Dinda sudah malas mendengar alibi Feza.
"Mbak Dinda pertamanya makan sama temannya di meja nomor 4 yang jaraknya mungkin sekitar 5 meteran dari meja Mbak Feza. Cuman saya lihat mbak Dinda pindah ke meja nomor 17 yang berada tak jauh dari meja Mbak Feza dan teman-temannya. Begitu pak" ujar Mbak Ita yang merupakan karyawan restoran tempat kejadian.
"Saya pindah meja karena saya dengar samar-samar nama suami saya disebut. Penasaran, ya mendekatlah saya ke mejanya anak Bapak. Udah gitu, dia kepengen banget saya dan Nanda pisah biar dia bisa menggantikan posisi saya. Kira-kira begitulah yang saya dengar. Dan jelas saya gak terima kalo dia mau mengganggu rumah tangga saya, akhirnya saya bilang ke dia kalo dia itu cantik, kaya pula. Bisa mendapatkan laki-laki manapun, tapi bukan Nanda. Karena Nanda sudah menikah. Giliran saya mau pergi tiba-tiba dijambak" ujar Dinda santai karena Feza sudah tak bisa berkutik.
"Baiklah, atas nama anak saya. Saya minta maaf sebesar-sebesarnya pada kamu dan Nanda, semoga kalian langgeng terus. Biar Feza saya yang urus. Saya akan buat dia menjadi lebih baik" ujar Pak Permana yang tak enak hati karena ulah anak perempuan satu-satunya.
"Iya Pak, saya dan istri juga minta maaf kalo ada salah sama Bapak dan Feza" sambut Nanda membalas jabatan tangan Pak Permana.
"Feza, ayo pulang" ajak Pak Permana dengan tegas. Feza pun mengikuti perintah tegas papanya. Terlihat sekali ketakutan diwajahnya.
"Kita pulang juga yuk" ajak Nanda.
Mereka semua pun meninggalkan ruangan VIP tersebut. Dinda kini mulai bisa bernafas lega karena urusannya dengan Feza sudah selesai. Ia berharap tak ada lagi Feza jilid 2 dan seterusnya dalam rumah tangganya.
●●●
Jangan lupa:
Vote, komen, dan like ygy. Terimakasih:)
__ADS_1