
Di malam-malam sebelumnya, Dinda sudah terbiasa tidur tepat waktu. Tapi di malam ini, mata Dinda sama sekali tidak bisa merasakan ngantuk meski jam sudah menunjukkan pukul 23:50.
Dinda juga sudah kembali membuka blokiran kontak Whatsapp Ariel. Di pikirannya, mungkin dalam beberapa hari sebelum Ariel lamaran, Ariel akan menghubungi Dinda untuk ... Meminta maaf mungkin, atau ingin menjelaskan sesuatu yang menjadi penyebab waktu itu Ariel telepon Dinda.
Sebenarnya, yang paling membuat Dinda resah malam ini adalah Dinda ingin tahu, siapa perempuan yang menjadi calon tunangan Ariel itu. Dinda juga mengingat-ngingat sederet nama perempuan yang dulu pernah hadir di tengah-tengah hubungannya.
Mulai dari Deka, Mutia, Puja. Perasaan Dinda jadi tak menentu.
Ia pun sering bolak bolik kamar mandi tiap 2 jam sekali karena hasrat ingin pipis. Dinda yang tak pernah galau seperti saat ini di sepanjang hidupnya jadi mengerti bahwa ternyata seperti ini rasanya jika di tinggal pas lagi sayang-sayangnya.
Emh, tapi kan... Dinda sebenarnya sudah 5 bulan jalani hari tanpa Ariel. Atau bisa di bilang, mereka sudah putus.
Itu artinya, kalimat "di tinggal pas lagi sayang-sayangnya" ga tepat dong buat Dinda? Huftt...
Dinda berbaring dengan resah, hadap kiri, hadap kanan, kemudian terlentang. Begitu terus sampai ia mampu menidurkan dirinya sendiri meski tidak kunjung merasakan ngantuk walau jam sudah pukul 02:00 dini hari.
Setiap Dinda memejamkan mata, selalu kilatan tentang Ariel masuk ke dalam kepalanya. Dan lagi-lagi air mata Dinda keluar sampai membasahi bantalnya.
Dinda mengingat kala itu, sore hari. Ariel dan Dinda lagi naik motor mau pergi ke suatu tempat.
Di perjalanan, Dinda peluk Ariel erat dari belakang. Tak lama kemudian, Dinda lepas pelukannya di pinggang Ariel.
Ariel nanya, "Kok di lepas? Padahal aku suka lho". Ariel bertanya dengan kebiasaannya yang selalu arahin kaca spion bagian kiri ke wajah Dinda tiap dia lagi ngomong.
Sampai di bagian sini, Dinda lupa waktu itu jawab apa.
Dan sekarang, Dinda menangisi kenapa ia melepaskan pelukan itu terlalu cepat. Andai saja kala itu Dinda tahu bahwa mereka akan berakhir tragis seperti sekarang, Dinda pasti akan peluk erat Ariel lebih lama.
Begitu sesak hati Dinda, ingin rasanya menemui Ariel dan menanyakan apa sebenarnya yang waktu itu mau Ariel sampaikan ke Dinda lewat telepon. Dan Dinda juga penasaran, sejak kapan Dinda kecolongan sampai-sampai Ariel yang berada tepat depan rumahnya tahu-tahu sudah mau lamaran.
__ADS_1
Padahal Dinda yakin seyakin-yakinnya. Kalau hubungan mereka masih bisa di perbaiki kalau saja tidak di biarkan berlarut-larut sampai saat ini.
"Andai saja gengsi itu tidak ada, mungkin apa yang aku rasain sekarang ga akan pernah terjadi, Riel".
Ucap Dinda sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Ariel di Instagram.
Jam menunjukkan pukul 04:00 dan Dinda masih meratapi nasib percintaannya dengan Ariel. Kenangan-kenangan seputar Ariel selalu membayangi di setiap Dinda hendak memejamkan mata.
Bahkan Dinda tak berselera untuk makan. Dulu, Dinda juga pernah galau karena di khianati Ariel pertama kali, sakit memang.
Sampai Dinda kehilangan selera makannya. Tapi makin hari, karena keseringan di khianati.
Akhirnya Dinda mulai terbiasa dan kegalauan itu tak lagi mempengaruhi selera makannya. Dan kini, Dinda kembali menjadi seperti dulu.
Kesedihan kembali mempengaruhi selera makannya. Mungkin kesedihan kali ini memang terbilang sangat parah dari sekian banyak luka yang Ariel ciptakan.
Ia meminta kepada Tuhan, semoga ada kesempatan untuknya agar bisa mengetahui dengan jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi selama 5 bulan ini. Dinda merasa dirinya tak ada artinya di mata Ariel setelah sekian lama mereka sama-sama.
Bahkan untuk kebiasaan kecil yang terbilang sepele tentang Ariel pun Dinda sangat paham. Rasanya Dinda ingin mengulang tiap-tiap saat mereka sedang berdua, Ariel yang selalu mengelus kepala Dinda dengan lembut dan mengecup tangan Dinda tiap Ariel merasa begitu bersyukur punya Dinda.
Kini apa? Dinda bagai di buang begitu saja. Tak adakah sedikitpun pertimbangan Ariel untuk Dinda?
Sampai detik ini, sedikiiiit saja, tak adakah rasa bersalah di hati Ariel terhadap Dinda? Apakah Ariel tenang-tenang saja memulai awal yang barunya dengan orang lain tapi mengorbankan perasaan Dinda terlebih dahulu?
Atau Ariel dan seseorang itu sudah di jodohkan sejak lama? Atau mereka ta'arufan?
Dinda sangat takut, takut sekali. Ariel dengan mudahnya menemukan perempuan yang lebih baik dari Dinda.
Sedangkan Dinda, entah seperti apa ia akan hidup kedepannya. Untuk saat ini minder, pasti.
__ADS_1
Karena selalu membandingkan dirinya dengan wanita pilihan Ariel. Terlebih, bagaimana jika Ariel bahagia dengan wanita pilihannya.
Itu artinya, Dinda memang layak untuk di campakkan. Makin hancur hati Dinda membayangkan bagaimana nantinya ia akan melihat Ariel dan wanita itu menertawakannya yang seperti sampah yang tak berguna ini.
Sampai pagi ini, Dinda benar-benar menjadi orang yang overthinking dan putus asa. Ia benar-benar tak tidur semalam suntuk sampai matanya sembab dan ia terlihat sangat mengenaskan.
Dinda berniat, ingin menemui Ariel hari ini. Ariel punya banyak hutang penjelasan padanya.
Entah Dinda akan menemui Ariel di rumah atau di kantor. Yang pasti harus di temui hari ini juga, pekik Dinda dalam hatinya.
Pukul 06:30 Dinda sudah selesai mandi. Ia akan kerumah Ariel pagi-pagi karena lebih cepat lebih baik, pikirnya.
"Jangan di tunda-tunda lagi. Aku begini karena terlalu banyak menunda" ucap Dinda sambil memoleskan bedak tipis-tipis di wajahnya.
Ia pun sudah laporan dengan Ayu sejak subuh tadi bahwa ia akan menemui Ariel pagi ini. Dan Ayu hanya minta Dinda untuk "jangan emosi dan hadapi dengan tenang. Kita masih punya Tuhan, kalo bukan dia, masih ada orang lain yang Tuhan ciptain buat jadi jodoh lo kelak".
Ayu sengaja mewanti-wanti Dinda, karena ia tahu Dinda orang yang menggebu-gebu dan tidak sabaran. Ia takut menyesal belakangan kalau sampai tak memperingatkan Dinda terlebih dahulu.
Setelah siap, Dinda pun turun dan berjalan menuju pintu utama. Ia sangat bersyukur tak berpapasan dengan penghuni rumahnya.
Karena apa jadinya jika mereka melihat wajah Dinda yang begitu pucat dan mata sembab. Pasti mereka akan banyak tanya dan malah membuat Dinda batal bertemu Ariel nantinya.
Tepat saat Dinda hampir sampai di pintu depan rumahnya. Terbesit satu hal dalam hatinya.
Jika dia jodohmu, apapun yang terjadi pasti akan kembali padamu. Jika dia bukan jodohmu, itu artinya ada laki-laki yang lebih baik dari yang pernah kau temui.
Dinda berhenti sejenak, ia pun sadar bahwa apa yang akan ia lakukan saat ini pasti tidak akan ada gunanya jika memang ternyata Ariel bukan jodohnya. Lalu buat apa?
Masih ingin berjuang? Padahal belum tentu jodoh. Mau menunjukkan bahwa lo lebih baik dari pilihan dia? Bukannya cinta itu bisa merasa di mana ia nyaman?
__ADS_1