
Sesuai dengan apa yang di katakan Nanda, Sherly boleh ikut dirinya bertemu Rama. Kini keduanya sedang dalam perjalanan membelah kemacetan karena padatnya jalanan.
Sherly beberapa kali menyisir rambutnya dengan jari. Menurutnya, baru kali ini ada pria yang membuatnya jatuh cinta sampai tak membiarkan cermin kecil lepas dari tangannya.
"Dek, jangan genit-genitlah. Gak semua cowok suka cewek genit" tegur Nanda karena geli melihat adiknya bahkan lebih girly dibanding Dinda.
"Huu mana ada genit" tampik Sherly.
"Tuh buktinya ngaca terus dari tadi. Kamu tuh udah cantik, kalo pun kamu tidak cantik tetap akan di hargai oleh orang yang tepat. Sedangkan kalo sama yang tidak tepat mau secantik apapun kamu kalo yang dia mau bukan kamu, jungkir balik pun kamu gak akan dia lirik". Nanda menarik nafas dalam. "Jadi apa adanya saja, karena kebanyakan cowok nyarinya yang kaya gitu" Nanda berkata begini karena jengkel melihat Sherly yang dianggapnya sebagai gadis kecil dari dulu sampai sekarang justru kini memang sudah berubah dan sangat memperhatikan penampilan. Walau Nanda suka akan perubahan positif dalam diri adiknya namun karena ditujukan untuk menarik perhatian laki-laki, Nanda tidak suka.
"Iya bang iya" Sherly pun langsung mengacak rambutnya biar Nanda berhenti mengkuliahinya. Namun setelah itu ia sisir kembali dengan jarinya karena merasa menyesal sudah mengacak rambutnya sampai kusut. Sedangkan Nanda yang duduk sambil nyetir, diam-diam tersenyum penuh kemenangan.
Tak berapa lama, keduanya telah sampai diparkiran rumah sakit tempat Nanda janjian bertemu Rama. Nanda pun menghubungi Rama untuk memberitahukannya bahwa Nanda sudah sampai.
"Halo Ma, gue udah sampe nih di parkiran"
"Lo yang kesini atau gue yang kesana?" tanya Nanda.
"Ya udah, oke oke. Gue kesana" Nanda pun menutup panggilannya dan mengajak Sherly untuk segera turun dari mobil.
Nanda dan Sherly berjalan menuju kantin Rumah sakit karena saat ini Rama sedang makan disana. Sherly yang mengekori abangnya tak bisa menutupi rasa bahagianya karena akan bertemu dengan Rama. Ia berjalan sambil mengulum senyum di belakang abangnya.
Sampailah mereka ke kantin. Nanda celingak-celinguk mencari keberadaan Rama. Sampai akhirnya ada 1 lengan terangkat yang akhirnya membuat mata Sherly dan Nanda tertuju kesana.
Ternyata itu Rama, ia duduk sendiri dimeja yang dilengkapi 4 kursi. Ia menyantap makan siangnya yang sudah sangat telat. Nanda berjalan lebih dulu menghampiri Rama lalu mereka bersalaman dan duduk berhadapan dengannya. Sedangkan Sherly, remaja yang hampir lulus SMA itu memilih duduk di samping Rama. Nanda dan Rama pun melempar pandangan aneh pada Sherly. Namun, Sherly tak bergeming akan tatapan keduanya. Ia duduk dengan nyaman di posisinya. Lalu tersenyum manis pada Rama.
Dasar genit. Dibilangin jangan genit masih juga, batin Nanda kesal dalam hati.
"Kalian mau pesan apa?" tawar Rama dengan ramah.
"Gak usah-..."
"Sherly Es jeruk aja, pak Dokter" ucap Sherly yang berbarengan dengan kalimat Nanda namun saling bertolak belakang. Dan ia sengaja menyebut dirinya dengan namanya biar tertancap di kepala Rama bahwa dirinya bernama Sherly karena kemaren tidak sempat berkenalan.
"Lo, Nan?" tanya Rama.
"Gue pesen Cappucino aja" kata Nanda akhirnya.
Rama pun memanggilkan seorang pramusaji kantin tersebut lalu menyebutkan pesanan Sherly dan Nanda. Setelah memesankan minuman kedua orang itu, Rama kembali berbincang dengan Nanda.
__ADS_1
Sherly memperhatikan sekeliling kantin sembari merapikan beberapa helai rambutnya yang tertiup angin karena bangunan kantin ini tidak tertutup sepenuhnya, hanya memiliki dinding setinggi 1 meter saja. Sehingga angin sepoi-sepoi bebas menerjang rambutnya.
Rama telah selesai makan. Mereka pun kini bisa berbicara lebih serius dari sebelumnya. Nanda menyampaikan maksud dan tujuannya pada Rama. Ia ingin menyerahkan uang yang memang sudah dirinya dan mertuanya siapkan sebagai hadiah kepada siapapun yang sudah menemukan Dinda. Namun, Rama menolak uang itu. Karena menurutnya sebenarnya Nanda tidak perlu melakukan hal itu karena Rama juga tak sepenuhnya menolong Dinda, malah awalnya Ramalah yang menculik Dinda dari rumah. Namun, karena keduanya sama-sama tidak mau mengalah dengan alasan Nanda gengsi membawa pulang uang itu lagi sedangkan Rama karena merasa dirinya tidak berhak atas uang itu. Akhirnya, Sherly pun angkat bicara untuk melerai keduanya.
"Jadi ni duit mau di kemanain?" tanya Sherly. Namun kedua lelaki dihadapannya hanya menaikkan bahu.
"Karena gak ada yang mau ya udah buat aku aja" Sherly baru saja mau mengambil uang itu untuk di peluknya namun dijauhkan lagi oleh Nanda.
"Kenapa sih? Tadi gak mau, terus giliran ada yang mau malah gak boleh" rutuk Sherly.
"Ya gak boleh, ini kan buat Rama" sambut Nanda.
"Tapi gue kan gak mau" jawab Rama.
"Gimana sih ini? Atau gini aja. Aku yang ambil, tapi gak masuk ke kantong pribadi aku. Melainkan aku sumbangin aja ke panti asuhan. Tapi sama Pak Dokter juga kesananya, kan pak Dokter sebenarnya pemilik uang ini" saran Sherly. Rama pun sedikit memikirkan ide itu dikepalanya.
"Oke deh. Kapan kita kepanti?" tanya Rama.
Mendengar pertenyaan Rama, Sherly jelas tambah semangat karena akan punya waktu untuk pergi berdua bersama Rama.
"Pak Dokter bisanya kapan?" tanya balik Sherly.
Nanda memutar bola mata jengah karena adiknya sangat pandai menjebak Rama. Ia sudah tahu bahwa ini hanya akal-akalan Sherly agar bisa jalan berdua dengan Rama. Nanti dia akan mengajak istrinya untuk ikut juga, agar rencana Sherly tidak berjalan mulus. Kalau perlu ajak Jovan juga.
"Oke. Karena aku belom diizinin buat bawa kendaraan, pak Dokter jemput aku ya. Rumah aku di Puri Kenanga Blok J No.77. Catet aja nomer aku biar kalo mau jemput bisa kabarin dulu" jelas Sherly sembari meletakkan ponselnya ke meja dengan layar yang telah menampilkan serentetan angka lalu menyeruput es jeruknya dengan gaya nan elegan. Sengaja memanfaatkan situasi karena Rama masih menatapnya.
"Oke" Rama pun mengeluarkan ponselnya. Ia menyimpan nomor ponsel Sherly.
Hebat banget adek gue. Belajar dimana dia? Kok pandai bikin keadaan jadi serba teratasi begini. Sampe nomer HP udah disiapin. Persiapan yang sangat matang, puji Nanda walau ia tidak suka.
Tiba-tiba Nanda merasa ingin buang air. Ia pun dengan terpaksa harus meninggalkan Rama bersama adiknya di kantin.
"Ma, toilet dimana ya?" pamit Nanda sebelum pergi. Rama pun menunjukkan lokasi toilet terdekat dari sana. Lalu Nanda pun pergi setelah mendapat lokasi keberadaan toilet.
Kini tinggallah Sherly dan Rama di meja itu. Sherly beberapa kali memindai Rama dari atas sampai bawah. Lelaki itu terlalu sempurna di matanya. Bahkan anak laki-laki yang dianggap paling tampan disekolahnya pun masih kalah jika dibandingkan dengan Rama.
Menyadari dirinya ada yang memperhatikan membuat Rama melihat ke arah Sherly. "Kamu ngeliatin saya?" tanya Rama.
"Iya, soalnya mubadzir kalo kegantengannya gak dinikmatin". Rama kaget mendengar jawaban bocah ingusan itu. Berani sekali anak ini.
__ADS_1
Rama pun langsung membuang wajahnya. "Jangan diliatin, saya malu" jawab Rama karena memang dirinya adalah lelaki yang pemalu terhadap perempuan kecuali orang yang sudah ia kenal lama.
"Ih si pak dokter ternyata pemalu. Jadi pengen nyubit". Mengetahui Rama adalah sosok yang pemalu, membuat Sherly semakin gencar ingin menggodanya.
"Sher, udah. Duduk tuh liatnya kedepan bukan kesamping" ucap Rama sambil memutar bahu Sherly agar tak semakin lurus menatapnya.
"Iya iya, bila didepan nanti banyak cobaan untuk kita tapi pak dokter tetap disamping aku 'kan?" rayu Sherly lagi.
"Iya" jawab Rama biar cepet.
Nanda lama banget sih, gue udah gak kuat ngadepin adeknya.
"Janji?" tanya Sherly.
"Iya" jawab Rama alakadarnya.
"Pak dokter, punya instagram gak?" tanya Sherly.
"Nggak" jawab Rama.
"Bohong, tadi aku liat ada aplikasinya kok di HPnya pak dokter" Sherly berucap dengan cemberut.
"Iya, ada" ralat Rama merevisi jawabannya.
"Namanya apa? Aku follow ya, nanti di folback" titah Sherly sembari membuka laman instagram di ponselnya.
"Ramaditya1717" ucap Rama.
"Sher, pulang yuk kak Dinda udah nanyain" Nanda datang langsung ngajakin pulang. Sedangkan Sherly baru saja selesai menemukan akun milik Rama.
"Bentar bang, duduk dulu duduk dulu" ucap Sherly dengan tanpa melihat abangnya.
"Nih, udah aku follow. Pak dokter folback dong" rengeknya.
Rama pun mengikuti mau perempuan yang duduk di sampingnya itu. Setelah sudah mandapatkan keinginannya, Sherly pun mengajak Nanda pulang karena hari sudah hampir malam. Dan uang seratus juta yang tadi mereka bawa kini kembali di bawa pulang oleh Sherly. Nanti rencananya dihari minggu akan mereka sumbangkan pada panti asuhan.
●●●●
Gais, aku udah lama gak baca komen kalian...
__ADS_1
Please dong, tinggalin komen biar aku tuh bisa tahu gimana karya aku di mata kalian. Apa kurang dan lebihnya.
Tapi buat yang udah komen, like, vote, dan kasih hadiah. Terimakasih:)