(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Dijenguk Istri


__ADS_3

Ditempat berbeda, Dinda merasa aneh dengan sikap suaminya. "Masa sih gak rindu, tega banget chat bini dibaca doang. Udah tau chatingan senin kamis malah dianggurin doang" gerutu Dinda saat mendapati pesannya yang sudah menampilkan 2 centang biru. Entah kapan Nanda membacanya, yang jelas kini lelaki itu telah offline.


Dinda pun kepikiran untuk menyusul suaminya, tapi ia tak memiliki nomor ponsel milik travel yang digunakan suaminya itu. Akhirnya dengan bermodal nekat untuk pergi sendiri dan berniat memberi kejutan pada suami, Dinda pun mencari di kolom pencarian Google alamat resmi loket travel yang memiliki tujuan perjalanan ke Desa M****u.


Setelah mendapatkan kontak travel itu, Dinda pun segera menghubunginya. Sudah rindu berat level dewa pokoknya. Harus disusulin, mungkin kalau tidak begini caranya, suaminya itu akan lupa bahwa ada "tulang rusuk" yang ketinggalan dirumah.


"Halo, selamat siang. Apa benar ini Travel Jaya Putra?"


"Begini Mbak, apa ada keberangkatan ke Desa M****u untuk besok pagi?" tanya Dinda pada admin loketnya.


"Ah ya, kalo gitu saya pesan tiketnya buat 1 orang ya, nanti uangnya saya transfer aja. Mbak kirim aja nomor rekeningnya ke saya"


"Oh, penjemputannya bisa share-loc langsung ke sopir ya Mbak. Baik, baik. Makasih Mbak". Panggilan pun berakhir.


Dinda segera pulang meninggalkan perusahaannya karena dirinya harus mempersiapkan segala keperluan untuk menyusul sang suami. Dinda kini sedang tak mengetahui bahwa besok dirinya akan berangkat bersama Mas Rahmat, yang merupakan sopir yang sama dengan yang membawa suaminya waktu itu. Mas Rahmat kembali ke Desa M****u selain untuk mengantarkan penumpang juga karena besok adalah jadwal untuk menjemput Rama and the geng kembali ke Jakarta. Seperti kesepakatan sebelumnya yang pernah mereka buat.


-


Malam harinya di Desa M****u, Nanda dan yang lain tengah bersiap untuk ikut menghadiri acara dekorasi di rumah seorang warga yang akan mengadakan hajatan besar, yakni resepsi pernikahan. Mereka di ajak langsung oleh yang punya acara saat ikut gotong royong tadi siang.


Tak lupa, mereka juga bertanya pada Ratih apa-apa saja yang perlu di bawa kerumah pengantin. Dan Ratih bilang, "Kalian cukup bawa satu kresek besar berisi sembako. Karena memang tradisinya disini begitu. Warga kebanyakan tidak mampu memberi bantuan dengan uang, oleh karena itu kadang mereka membantu dengan tenaga atau dengan memberi sembako. Sembakonya antara lain mie telor, minyak sayur, gula, garam, kecap, teh, kopi".


Karena semua sembako yang dibutuhkan kini sudah di beli semua oleh Rama dan Feza di warung Bu Heni. Mereka pun langsung berangkat menuju rumah Pak Bimo. Walau baru jam 7 tepat mereka berangkat, nyatanya di sana sudah ramai orang yang datang. Ada berbagai kegiatan yang Nanda lihat.


Bapak-bapak kupas kelapa menggunakan tanggul kayu di bagian belakang rumah, ibu-ibu giling bumbu di teras samping rumah, sedangkan pemuda-pemudinya diteras depan membuat janur kuning dan bendera yang dibuat dengan lidi dan kertas jagung, lalu di ujungnya di cantolin permen atau uang seribu. Ini karena upacara pernikahan adalah sesuatu yang membahagiakan bagi semua kalangan. Tidak hanya tuan rumah tapi juga seluruh tamu undangan. Tidak hanya orang dewasa tetapi juga para anak-anak. Bendera itu nanti pada saat acara berlangsung, akan di berikan pada anak-anak kecil.


Nanda, Feza, Rama, dan Pak Prima pun masuk disambut dengan sebegitu hangat oleh tuan rumah. Mereka pun saling memperkenalkan diri. Nanda tak lupa menyerahkan segala yang mereka bawa kepada Bu Titin, istri Pak Bimo.


"Makasih ya, saya jadi gak enak. Seharusnya kalian gak perlu repot-repot bawa bingkisan" ucap Bu Titin.


"Gak kok Bu, kita gak meresa direpotin. Kita malah senang karena sudah diundang ke sini" jawab Feza dengan penuh rasa hormat.


Akhirnya mereka pun ikut bergabung dengan para pemuda-pemudi, terkecuali Pak Prima yang kabur keluar untuk mencari teman sebayanya.


"Abang Bani dijemput polisi, kamu tau?" ujar seorang remaja yang sedang menggunting kertas jagung.


"Eh kenapa? Aku gak tau. Ceritakanlah sama aku" jawab teman disampingnya.


"Kemaren pagi, aku mau mandi ke sungai. Selewatan sama cowok baju hitam-hitam. Seram pokoknya mukanya, kalo kamu lihat pasti kamu takut"


"Ha terus?"


"Gak jadi aku ke sungai. Aku ikuti abang-abang itu. Mereka ke rumah abang Bani rupanya. Terus waktu abang Bani buka pintu, mereka ngobrollah itu. Aku gak tau juga mereka ngomong apa. Pelan sekali suara mereka"

__ADS_1


"Ah macam mana info kamu ini. Belum tentu abang-abang itu polisi" tampik temannya itu.


"Aku memang gak dengar sama sekali. Tapi mereka punya pistol. Terus bang Bani di bawa entah kemana"


"Gak kau ikuti lagi abang-abang itu?" tanya temannya.


"Ya nggaklah, aku kan mau mandi. Belom lagi cuci baju. Bisa dimarahi ibukku nanti"


Sepanjang mereka bercerita, Feza menguping sambil tangannya sibuk merangkai lidi menjadi bendera. Feza pun tak terlalu ambil pusing mendengar berita itu, malah dirinya merasa lega karena pelaku akan mendapat ganjaran dari perbuatannya.


"Za, udah nyampe aja" sapa Ratih saat mendapati Feza yang sudah lebih dulu datang.


"Iya Tih, aku kira kamu malah udah datang duluan" jawab Feza tersenyum senang mendapat teman ngobrol.


"Ihhh, aku tadi bantu Windu bikin PR dulu" jawab Ratih.


"Dasar mak-mak" canda Feza.


"Emang" balas Ratih dengan tertawa-tawa.


Walau Ratih adalah seorang janda, namun dirinya lebih nyaman bergabung dengan kegiatan para muda-mudi dengan alasan lebih nyambung kalo di ajak ngobrol. Apalagi dengan usianya yang masih muda, mudah berbaur dengan remaja di desa ini.


Keakraban Rama, Nanda, Feza, dan Ratih terjalin sangat dekat. Bahkan Feza dan Nanda sering kali meledek Ratih dan Rama yang terlihat cocok. Bahkan mereka disebut 2R.


Ratih hanya tertawa saat yang di ejek adalah bapaknya. Karena dirinya sudah biasa dari zaman sekolah main ejek-ejekan nama bapak.


"Sembarangan, bapak orang dijadiin becandaan" umpat Rama.


"Cie marah, calon mertuanya di ledekin". Semakin Rama kesal Nanda juga semakin semangat menjodoh-jodohkan mereka berdua.


Pak Prima lagi-lagi menjadi pihak tengah yang tidak pernah diminta untuk menengahi mereka. Pak Prima sudah sangat paham dengan kelakuan dan keberisikan yang mereka buat. Sehingga dirinya hanya diam menikmati sampai acara ledek-meledek itu berhenti sendiri.


-


Keesokan harinya, Dinda di jemput Mas Rahmat di rumah orang tuanya. Saat itu, penumpangnya hanya 3 orang, termasuk Dinda. Namun, ternyata yang paling terakhir turun adalah Dinda.


"Nanti turun di desa M****unya dimana Mbak?" tanya Mas Rahmat.


"Di rumah dinas depan puskesmas" jawab Dinda.


"Oh, dapet kerja disitu?" tanya Mas Rahmat berbasa-basi selama diperjalanan.


"Iya" sahut Dinda berbohong. Karena ia masih tidak tahu bahwa Mas Rahmat ini juga mengenal suaminya.

__ADS_1


Sore hari sesampainya Dinda di desa itu, Feza kaget melihat Dinda turun dari mobil saat dirinya hendak menemui Mas Rahmat untuk mengatakan bahwa mereka menunda kepulangan ke Jakarta hari ini.


"Dinda?" ucap Feza dengan pelan.


"Feza" ucap Dinda tersenyum tipis. Antara ia dan Feza masih terasa canggung. Namun, ia berusaha menunjukkan sikap ramah pada Feza.


Feza menghampirinya yang masih menurunkan barang di mobil Mas Rahmat. "Dinda, gue bantu ya" ucap Feza tak enak hati atas segala kejahatan yang pernah ia lakukan pada Dinda.


"Ga papa Za gak usah" tolak Dinda karena tak mau merepotkan Feza namun Feza sudah lebih dulu menurunkan tote bag milik Dinda yang berisi tupperware keripik singkong buatan Bi Hanum.


"Mas, aku mau kasih tau. Kita gak jadi pulang hari ini. Udah pada sepakat mau pulang hari Jum'at" ucap Feza pada Mas Rahmat.


"Ya udah Mbak, kalo gitu saya pulang aja. Jum'at saya jemput ya" Mas Rahmat pun kembali pulang sendirian tanpa membawa satu penumpang.


"Lah, kenal?" tanya Dinda heran.


"Sopir kita sama" jawab Feza tersenyum.


Dinda dan Feza pun berbagi tas untuk di bawa ke dalam. Namun, Dinda merasa ada yang kosong. Dimana suaminya itu berada.


"Nanda mana?" tanya Dinda saat mereka masih di teras.


"Ada di dalem. Yuk masuk" Feza membuka pintu selebar-lebarnya dan membiarkan Dinda lebih dulu masuk.


"Za, ssstttt. Gue mau kasih kejutan" ucap Dinda saat matanya menangkap keberadaan punggung sang suami di dapur yang kini tengah berjongkok dan berbincang bersama Rama dan seorang pria lagi. Yaitu Pak Prima, namun belum pernah dikenalkan pada Dinda.


Dinda pun dengan langkah hati-hati berjalan ke dapur ingin menutup mata suaminya dari belakang tanpa harus ketahuan oleh ketiga pria itu.


"... Biarpun janda, tapi masih okelah. Badan bagus, kulit putih bening, jarang di desa nemu yang kaya gitu" ucap Nanda.


"Ehem" seketika Dinda tak jadi mengejutkan suaminya dengan cara menutupi matanya dari belakang. Sepertinya akan lebih bagus jika pria yang diam-diam ternyata hidung belang itu berbalik sendiri dan mendapati keberadaan istrinya yang sudah kembang kempis akibat mendengar pujian suaminya untuk wanita lain.


Dan benar saja, Nanda berbalik dan setengah terkejut saat melihat Dinda dengan wajah memerah sedang berdiri di balik punggungnya.


"Jadi gitu? Gak ada aku kamu puji-puji wanita lain".




**Tapi aku tetep mau nodong kalian buat kasih like dan komen, karena kalian bisa tanya aja ke yang pernah komen, pasti aku balesin. Karena aku suka banget punya kesempatan buat sharing atau menjawab pertanyaan kalian. Sungguh pembaca setiaku yang baik budiman, hehe**.


__ADS_1


**Kalo bisa vote sama hadiahnya juga🗡**


__ADS_2