
--Sekedar info, di bab ini dan selanjutnya akan fokus menceritakan kisah Rama dan Maudy ya. Nanda sama Dindanya nanti dulu--
--Sebelum itu, jangan lupa like dan komen dong. Biar ada yang bisa dibaca hehe, biar ga sepi-sepi amat--
...-...
...-...
...-...
Satu minggu berlalu setelah kepulangannya dari Desa M****u, Rama juga sudah kembali ke rutinitasnya semula yakni bertemu dengan banyak pasien yang hendak memeriksakan kandungannya di rumah sakit. Walau rutinitas ini masih sama seperti sebelumnya, namun nyatanya ada sedikit perbedaan.
Rama meminimalisir dirinya untuk keluar dari ruangan pribadinya. Ia menghindari kemungkinan dirinya bertemu dengan Maudy. Ia akui saat ini ia memang seperti seorang pecundang sejati, karena ia betul-betul tidak mau bertemu dengan wanita yang hampir menjadi calon istrinya.
Walau ada rindu yang besar untuk wanita itu, namun baginya cukup dipendam saja. Karena lambat laun, wanita itu akan jadi milik orang lain meski tidak tau kapan waktunya.
Seperti keadaan siang ini, Rama rela memesan makan siangnya melalui aplikasi pesan antar. Ia memutuskan untuk makan siang sendirian diruangannya.
Namun seperti kebanyakan orang, kenyataan selalu berbanding terbalik dengan apa yang kita harapkan. Karena tiba-tiba saja ia di panggil ke ruangan kakeknya dengan tujuan tertentu yang akhirnya malah membuat Rama dengan mudah bertemu Maudy.
Ternyata Rama diminta untuk menggantikannya menjadi pemilik sekaligus Direktur di rumah sakit ini. Sebetulnya Rama ingin menolak tawaran itu, karena ia pribadi tidak begitu paham dengan tugas dari jabatan tersebut. Tapi karena sang kakeklah yang menjadi satu-satunya orang yang dulu sangat mendukungnya menjadi seorang dokter, akhirnya Rama dengan sedikit terpaksa pun menerimanya.
Kakek tersenyum bangga saat sang cucu sudah tidak lagi menentang kemauannya itu. Dan akhirnya di umumkanlah berita penting itu ke seluruh penjuru rumah sakit.
Walau begitu, Rama tak kehabisan akal. Ia menunjuk seorang asisten untuk melakukan pekerjaannya sebagai direktur. Karena Rama sendiri sudah terlanjur nyaman menjadi dokter dan senang berinteraksi dengan pasien. Ia hanya akan menghadiri rapat penting saja, selain dari itu biar asistennya yang melakukan.
__ADS_1
Dua minggu setelah Rama menjabat sebagai direktur, kini Rama kedapatan untuk melakukan sidak kepada seluruh karyawannya. Sidak ini merupakan kegiatan rutin yang dulu sering kakeknya lakukan, dan Rama memutuskan untuk mewariskannya. Dulu kakeknya melakukan sidak dengan tujuan untuk meneliti apakah pekerjaan seluruh karyawannya sudah benar? Apakah pelayanan rumah sakitnya sudah memenuhi standar? Dan apakah persediaan obat dan alat kesehatan tidak kekurangan?
Setelah sidak itu dilaksanakan, Rama juga menggelar rapat terkait dengan kemajuan rumah sakit ini. Rapat ini bertujuan untuk mendengar masukan dari berbagai pihak. Maka ia tidak hanya meminta perwakilan dari petinggi rumah sakit namun juga meminta perwakilan dari beberapa perawat untuk ikut hadir dalam rapat internal itu. Dan ternyata Maudy-lah yang terpilih menjadi perwakilan dari tim perawat untuk menghadiri rapat itu.
Saat rapat sudah bergulir setengah jam, Rama masih tak banyak bicara karena fokusnya tertuju hanya pada Maudy yang bahkan tak menatapnya balik. Sampai rapat itu berakhir, Rama masih tercenung menatapi kepergian Maudy dari ruangan itu.
Ini memang kali pertama mereka bertemu setelah hubungan mereka kandas. Tapi Rama sendiri masih yakin untuk menunjukkan betapa dirinya sangat mencintai dan masih mendamba Maudy.
Tapi tidak dengan wanita itu. Ia terang-terangan menunjukkan sikap dinginnya pada Rama. Sekalipun Rama kini resmi jadi atasannya di rumah sakit, tetap saja Maudy hanya akan ramah padanya ketika ada orang lain diantara mereka.
Dengan posisinya yang kini sudah menjadi direktur, Rama bisa dengan sebebas-bebasnya mengatur apapun sesuai kemauannya. Termasuk meminta Maudy menjadi asistennya di ruang khusus Dokter Kandungannya.
Dengan begitu Rama memiliki waktu dan kesempatan untuk bisa mendekati Maudy lagi. Maudy yang hanya perawat biasa, tidak punya kuasa untuk menolak perintah Rama. Ia pun setuju walau dalam hatinya merasa sangat tidak nyaman bekerja bareng dengan Rama.
Usaha Rama menjadi percuma. Namun ia tetap berusaha, karena ia merasa memang sepantasnya Maudy memperlakukannya seperti itu. Apalagi Maudy merupakan wanita yang tidak tergiur dengan uang, membuat Rama harus putar otak lebih ekstra agar Maudy bisa kembali padanya.
Setiap hari Rama tak henti-hentinya menatapi Maudy. Walau Maudy tak pernah mau berbicara langsung padanya, hati Rama tetap bahagia meski hanya mampu melihat Maudy baik-baik saja di setiap harinya seperti yang ia lakukan saat ini.
Asisten direktur yang Rama percayakan sebelumnya pun bahkan kini juga sudah tahu bagaimana kerasnya usaha Rama yang terlampau menyedihkan hanya untuk menggaet hati seorang wanita. Ia sedih melihat Rama yang begitu serius mengejar wanita yang bernama Maudy itu, namun selalu tak mendapatkan hasil seperti yang ia mau.
Asisten direktur yang bernama Pak Ali itu bahkan sering sekali melihat Rama melamun diruangannya. Ia kasihan dengan keadaan Rama, padahal uangnya banyak, karir juga sudah cemerlang, tapi sangat sulit bertemu jodoh.
Wanita yang dikejar-kejarnya, sama sekali tak peduli dengan semua usaha yang sudah Rama tunjukkan. Rama memang sering sekali melamun, ia mengkhayalkan Maudy terus-menerus. Sampai galau karena kini sudah mulai merasa capek.
Pada suatu pagi, kondisi rumah sakit masih sepi belum ada pasien yang mengantre. Rama menunggu kedatangan Maudy di dalam ruangan Dokter Kandungannya.
__ADS_1
Saat Maudy datang, Rama langsung menghampiri. "Dy, apa kesempatan buat aku memang betul-betul udah ga ada lagi?" tanya Rama dengan jantung yang berdebar tak karuan.
"Harusnya dari kemaren-kemaren kamu sudah tahu, apa sikap aku masih kurang dingin ke kamu?" jawab Maudy dengan tanpa menolehkan wajahnya pada Rama.
"Apa ga ada pertimbangan lagi Dy? Kita 10 tahun sama-sama. Aku bahkan ga bisa lagi adaptasi dengan orang baru. Dunia aku udah penuh dengan kamu semua" bujuk Rama yang kini sudah bercucuran air mata. Sudah ia coba untuk ditahan, namun sepertinya ini adalah air mata yang sejak awal putus yang ia tahan ternyata sudah mengembun dan penuh.
"Itu karena kamu belum mencoba" jawab Maudy singkat. Bahkan wanita itu tidak juga peduli dengan deraian air mata Rama. Betapa sangat cintanya Rama pada wanita ini, sampai ia dengan tanpa ragu menangis begitu deras dihadapan Maudy. Tanpa malu menutupi rasa sedihnya. Tapi wanita itu tetap sama, mungkin ia memang sudah tak cinta.
"Dy, aku punya segalanya. Kamu mau kita menikah sore ini juga aku bisa. Kamu mau kita nikah di Bali atau luar negeri sekalipun aku turuti. Apapun yang kamu minta bakal aku lakuin. Asal kamu jangan pergi" Rama memohon di kaki Maudy agar wanita itu tetap tinggal disini, di hatinya. Tidak pergi kemana-mana dan menjadi milik orang.
"Aku gak bisa, aku udah dijodohin". Rama semakin tak bisa menerima kenyataan ini. Apalagi sedari tadi Maudy hanya meresponnya singkat. Mungkin memang Rama tak berarti apa-apa baginya.
Rama melepas pelukannya di kaki Maudy, berat memang langkahnya saat ini. Tapi mau bagaimana lagi. Wanita ini sama sekali tidak luluh dengan semua usahanya.
Bahkan air mata Rama pun tak lagi ia pedulikan. Dulu, wanita inilah sumber bahagianya. Dan kini, wanita ini pula yang menjadi sumber lukanya.
Maudy pergi meninggalkan Rama. Rama pun tak berniat menahan atau memanggil namanya. Mungkin memang ini yang terbaik untuk dirinya dan Maudy. Walau dengan berat hati melepasnya pergi, tapi Rama akan mencoba untuk menjalani hari sambil menata kembali hati yang berantakan ini.
...-...
......-......
...-...
Terimakasih buat yang udah baca, like, dan komen ya guys🤗
__ADS_1