
"Sana gih masuk, salam sama Mama ya" ucap Ariel sambil mengusap kepala Dinda.
"Mamanya siapa?" tanya Dinda polos.
"Mama mertua" canda Ariel sambil tertawa kecil.
"Mulai ga jelas nih orang. Daa, aku masuk yaa" ucap Dinda yang sudah membuka pintu mobil dan hendak meninggalkan Ariel.
Ariel hanya menatap punggung Dinda yang semakin jauh dari pandangannya. Ada rasa bahagia yang membuncah di hatinya. Namun Ariel harus memastikan terlebih dahulu, ini rasa cinta atau hanya sekedar rasa sayang layaknya kakak-adik. Sebab usia mereka memang terpaut 5 tahun dan bisa saja Ariel hanya sayang kepada Dinda karena menganggapnya sebagai adik. Apalagi Ariel terlahir sebagai anak tunggal dan ia benar-benar senang ketika Dinda hadir dalam hidupnya. Dinda adalah perempuan manis, cantik, manja, baik, cerewet, bisa membuat Ariel nyaman dalam waktu yang singkat. Kalau begitu, apakah rasa ini hanya sekedar nyaman terhadap seorang adik, atau teman lawan jenis pada umumnya, ataukah memang ini yang dinamakan cinta.
Ariel masih terdiam di dalam mobil, masih berpikir tentang rasa yang ada didalam hatinya. Pengalaman dalam hal percintaan memang sangat sedikit dalam hidupnya. Sudah 23 tahun ia hidup di dunia ini, pengalaman pacarannya hanya 2 kali. Pertama, saat SMA itupun hanya cinta monyet dan karena di paksa temannya untuk jadian. Akhirnya memang jadian, tapi hanya bertahan 3 minggu sebab saat itu Ariel sedang betul-betul ingin fokus balapan saja. Ariel sangat cinta dengan dunia otomotif. Makanya sampai sekarang ia lebih suka naik motor daripada naik mobil. Pergi bawa mobil hanya untuk jaga-jaga saja, takut hujan. Seperti halnya pergi bersama Dinda malam ini.
Pengalaman kedua, saat baru-baru masuk kuliah. Saat itu, ia merantau jauh dari keluarganya jadi jarang pulang. Giliran pulang, jatuh cinta dengan adik temannya yang sudah lama tak bertemu. Namun hubungannya tak berlangsung lama, sebab menjalin hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Mereka putus ditengah jalan setelah 3 bulan pacaran.
Dan setelah itu Ariel tidak pernah lagi mendekati perempuan sebab ia hanya ingin fokus dengan pekerjaan yang baru ia tekuni selama 1 tahun di perusahaan orangtuanya. Dalam hati kecilnya, ingin membuat usaha sendiri tanpa embel-embel orangtuanya. Namun, karena sadar ia anak satu-satunya maka Ariel bersedia untuk menunda keinginannya tersebut dan meneruskan usaha sang Papa sebagai bentuk baktinya kepada orangtua.
Dinda yang saat itu baru selesai cuci muka, melihat sekilas ke arah jendela yang tertutup tirai tipis. Sehingga masih bisa melihat cahaya lampu mobil. Dengan rasa penasaran, Dinda membuka pintu balkon yang ada dikamarnya untuk melihat secara langsung.
Ia menyadari jika Ariel masih berada di depan pagar rumahnya. Dengan segera ia mengambil handphonenya untuk menelepon Ariel.
Nada panggilan tersambung...
Ariel:"Halo"
Dinda:"Kok masih disitu?"
Ariel:"Tau darimana aku masih disini?"
Dinda:"Aku dibalkon"
Ariel pun membuka kaca jendela mobilnya dan memundurkan sedikit mobilnya agar bisa melihat ke arah balkon tempat Dinda berada.
__ADS_1
Ariel:" Ada yang mau aku omongin"
Dinda:"Kalo gitu sebentar, aku turun dulu ya"
Ariel:"Jangan jangan, disitu aja"
Dinda:"Emang mau ngomong apa?"
Ariel pun terdiam, satu sisi masih ragu. Tapi sisi yang lain seperti sudah menggebu-gebu.
Ariel:"Aku suka kamu, Dinda. Kamu mau jadi pacar aku?"
Tanpa pikir panjang, Dinda menjawab...
Dinda:"Aku ga bisa, maaf ya Riel. Jujur, aku memang nyaman sama kamu, aku seneng deket kamu. Tapi ga secepat ini untuk aku bisa nerima kamu jadi pacar aku".
Ariel:"Makasih jawabannya"
Ariel mematikan sambungan telepon lalu menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Dinda. Malam ini sepertinya ia akan begadang untuk sejenak melupakan kesedihannya karena cintanya yang ditolak mentah-mentah. Ia berpikir, apakah Dinda tak memiliki perasaan terhadapnya? Sedikit pun? Bukankah perempuan biasanya akan lebih mudah luluh dan jatuh cinta ketika diperlakukan dengan baik oleh laki-laki? Ataukah selama ini ia masih "kurang" dalam mendekati Dinda? Tapi Dinda pasti sudah tahu sinyalnya, bukan?
Wanita memang kaum yang susah ditebak. Setelah ini entah harus bersikap bagaimana jika bertemu Dinda. Inginnya bersikap biasa saja, tapi alangkah lebih baik jika tidak usah bertemu lagi.
Ya, jaga jarak aja dulu batin Ariel dalam hati.
POV Dinda
Aku sedih malam ini, aku baru saja menolak cinta Ariel. Ada apa denganku? Aku sebenarnya juga memiliki rasa terhadapnya. Tapi yang terucap dari mulut ini justru sebaliknya.
Tak mengapa, setelah kupikir-pikir, jika ia memang untukku pasti ia akan tetap berjuang. Tapi jika ia menjauhiku setelah kejadian malam ini, berarti ia bukan untukku. Berpikir positif saja, hanya itu yang kubisa.
"Ariel, maafkan aku. Aku tak jujur kepadamu. Salahkan bibir ini yang tak mau mengatakannya. Selamat malam, mimpi yang indah. Jangan kecewa terhadapku, aku masih berharap kau tetap berjuang. Aku tidak akan menolakmu untuk yang kedua kali" ucap Dinda sambil memperhatikan foto Ariel yang tersimpan di galerinya.
__ADS_1
POV Dinda end
Pagi itu Dinda terbangun dari tidurnya, ia merasa merindukan Ariel. Bergegas dari tempat tidur, membuka tirai dan berdiri di balkon. Ia mengingat kejadian semalam, ia berdiri di balkon dan menolak cinta ariel.
Dinda menatap lurus kedepan, menatap rumah Ariel yang pintunya tertutup. Berpikir bahwa Ariel pasti sedang siap-siap berangkat kerja. Dinda akan menunggunya, sekedar ingin melihatnya. Agar hatinya tenang dan menebus kerinduan yang membuncah tiba-tiba pagi ini.
Dinda duduk dibalkon sambil berpangku dagu, menunggu kapan Ariel akan keluar. Setelah sekian lama, Dinda melihat Ariel keluar dari rumahnya dengan setelan rapi dan membawa tas kerjanya menuju garasi. Dinda tersenyum meski yang dilihat tidak menyadarinya. Dinda merasa sudah puas walau hanya melihat punggung Ariel pagi ini, ia tak berani menuntut lebih, sebab menurut perasaannya, hubungannya dan Ariel akan berubah. Sudah pasti ke arah yang lebih buruk. Akan kaku mungkin, atau berubah menjadi dingin, atau kembali ke "pengaturan awal" alias tidak saling mengenal seperti sedia kala.
Motor berlalu keluar pagar, tanda Ariel telah berangkat menuju kantornya.
Hati-hati dijalan, ucap Dinda dalam hati.
Masih adakah hari esok dimana aku bisa menatapmu melalui kaca spion? Masih adakah kesempatan untukku menemanimu cari makan? Keluhnya.
Setelah bosan duduk dibalkon sendirian, Dinda segera mencuci muka dan bersikat gigi sebelum turun dan sarapan bersama kedua orangtuanya.
"Pagi ma, pa" sapa Dinda dengan ceria seperti biasanya.
"Pagi sayang" jawab papa dan mama hampir berbarengan.
"Mata kamu kenapa? Kamu begadang?" tanya mama sambil menyiapkan sarapan dipiring Papa.
"Iya ma, soalnya semalam gerah banget jadi ga bisa tidur" jawab Dinda berbohong.
"Lho, AC dikamar kamu rusak. Bukannya habis di servis ya ?" tanya papa yang memang meminta tukang servis Air Conditioner (AC) selalu datang tiap 3 bulan sekali kerumahnya.
"Iya pa, ACnya baik-baik aja. Tapi remotnya ilang. Tadi pagi baru ketemu hehe" ucap Dinda beralasan.
...-...
...-...
__ADS_1
...-...
Sebelum lanjut, tekan tombol like dulu ya, mau komen juga boleh