(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Mengajaknya Menikah


__ADS_3

...-- Diharapkan pencet tombol like sebelum membaca ya adik manis😚 --...


...$...


...$...


...$...


Sepulang dari acara makan malam dirumah Dinda waktu itu, Rama kini sedang menimbang sesuatu. Bukan berat atau ukuran, tapi ucapan. Ya, kini ia sedang menimbang-menimbang ucapan Sherly.


Apa iya dirinya cocok bersama Feza?


Apakah dirinya bisa menerima masa lalu Feza? Tidak, ini tidak adil untuk Feza jika aku mempermasalahkan masa lalunya sedang aku juga bukan manusia suci tanpa noda.


Lalu, apakah Feza bisa menerima dirinya lebih dari sahabat? Atau bahkan nanti Feza akan bertanya apakah menjadi sahabat saja tidak cukup?


"Arrrggg" Rama menarik rambutnya sendiri. Ia terlihat gusar bahkan sampai dini hari ia masih berada dirumah sakit.


Rama mencoba menghubungi Feza, namun sampai 5 kali melakukan panggilan. Tak kunjung mendapat sahutan dari seberang telepon.


Dasar bego, ini sudah pukul 2. Feza pasti sudah tidur.


Rama pun masuk keruang istirahatnya, ia memilih untuk menginap dirumah sakit saja. Walau tak senyaman apartemennya, minimal dirumah sakit dirinya tetap aman.


Pagi hari


Triiiing....Triiing...Triiing


Ponsel Rama berdering di samping bantalnya, membuat Rama sedikit terganggu dan menggeliat lalu meraba-raba disekitarnya. Rama bisa dengan segera menerima panggilan itu tanpa membuka mata dan melihat identitas si pemanggil.


"Halo Ma, kenapa semalem telpon gue?" tanya Feza yang kini sudah berpakaian rapi dan duduk di kursi kebanggaannya di klinik tercinta.


"Temui gue nanti siang dirumah sakit" jawab Rama dengan ekspresi datar dan suara yang berat ciri khas orang baru bangun tidur.


"Ma... Lo masih tidur?" tanya Feza yang merasa ada yang aneh.


"He'em"


"Ma... Lo mabok ya semalam?" tanya Feza lagi.


"Isshh, mana pernah gue mabok. Lo kenapa sih?" Rama semakin gusar dan kini ia telah mendudukkan dirinya sambil tetap terpejam.


"Habisnya, mana pernah lo telpon gue kaya gini" kata Feza sambil tertawa. Kalau Rama mulai emosi, itu artinya lelaki itu memang dalam keadaan waras tidak seperti kecurigaannya tadi.

__ADS_1


"Jangan ketawa aja, nanti siang lo harus temui gue dirumah sakit" titah Rama karena dirinya mulai emosi harus berbicara tapi sambil menahan kantuk.


"Iya, nanti gue kesana" ucap Feza menuruti kemauan Rama.


"Ya udah, kalo gitu gue mau tidur lagi". Rama menutup panggilan teleponnya setelah mendapat jawaban yang ia ingin dengar. Nanti siang Feza akan menemuinya dan nanti ia juga akan mengatakan apa yang menjadi alasan dirinya mengundang Feza datang kerumah sakit.


Untuk saat ini Rama ingin istirahat sekaligus mengumpulkan keberanian. Mungkin akan terdengar gila untuk Feza, namun apa salahnya dicoba.


Siang hari


Rama hilir mudik berjalan diruangannya sembari menunggu detik-detik kedatangan Feza. Pak Ali yang melihat kondisi dan situasi saat ini sedang tidak mendukung untuk mengajak Rama membahas perihal pekerjaan, ia langsung mengurungkan niat dan kembali menutup pintu.


Ia tidak tahu pasti alasan mengapa Rama sampai se-stres itu, namun dilihat dari bagian bawah matanya yang menghitam dan raut wajah yang terlihat tegang sudah membuat dirinya mengerti bahwa Rama jangan diganggu hari ini.


Tok...tok...tok...


Rama berjalan mendekati pintu, ia sengaja ingin menyambut kedatangan Feza. Rama membukakan pintu ruangannya untuk Feza.


"Masuk Za" ucapnya dengan gerakan tubuh yang tetap tegang meski sudah berusaha terlihat seperti biasa.


"Iya" Feza tersenyum lalu ia pun masuk dan duduk di sofa tamu yang tak jauh dari meja kerja Rama.


"Mau minum apa Za biar gue pesenin" tawar Rama sebelum masuk ke pembahasan yang lebih serius.


"Apa aja boleh. Lo kenapa sih, kok tegang gitu?" tanya Feza.


"Gakpapa, gue cuma kebanyakan begadang aja akhir-akhir ini" jawab Rama dengan lugas.


Feza berdiri lalu mendekatinya, menempelkan tangannya pada kening Rama. "Gue kira lo demam". Setelah berucap demikian, Feza kembali ke sofa. Sedangkan Rama makin gemetaran saat ini.


Rama pun menelpon seorang pelayan di bagian pantry untuk mengantarkan dua gelas kopi ke ruangannya.


Setelah memesan kopi, Rama ikut duduk di samping Feza yang sedang memperhatikan beberapa benda yang menarik perhatiannya diruangan itu.


"Kenapa? Takjub kan sama ruangan baru gue?" goda Rama yang setengah menyombongkan diri bahwa kini Rama sahabat karibnya sudah menyandang gelar sebagai direktur dirumah sakit ini.


Feza tertawa, ia menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Gue gak nyangka, action figure spiderman yang gue beli di London dulu masih lo simpan".


Rama mengikuti arah pandang Feza. Ia tersenyum sembari mengingat kembali saat-saat dirinya menata ruangan ini dengan style-nya sehingga kini terlihat berbeda dengan ruangan saat kakeknya dulu pakai. Entah mengapa, benda kecil dengan ukuran tinggi hampir sejengkal itu bisa terpikir olehnya untuk diletakkan tepat dibagian tengah lemari kaca besar itu.


Sedangkan seisi lemari itu sepenuhnya adalah buku, sehingga benar-benar mencuri perhatian. Rama merasa, mungkin ini kode alam.


Saat mereka sama-sama sedang berdiri menghadap lemari kaca itu, kopi pesanan Rama datang. Lalu mereka pun melanjutkan perbincangan sambil duduk lagi di sofa.

__ADS_1


"Za..." panggil Rama gugup.


"Iya Ma, kenapa?" sahut Feza.


"Kita udah pernah kentut dihadapan masing-masing belom?" tanya Rama.


Ini bibir kenapa malah ngomongin kentut sih, batin Rama menyesali ucapannya.


"Hahaha, pernah. Tapi lo sih yang paling sering, parah lu" ucap Feza masih dengan tertawa.


"Za..."


"Iya, kenapa Rama?" tanya Feza gemas.


Disaat mau ngajak nikah, kenapa susah banget ya rasanya ngomong ama Feza. Biasanya juga gue gak begini, bahkan sering ngomong gak di filter. Ini Feza sahabat gue kan? Bukan orang lain.


Rama mengumpulkan keberanian segenap jiwa dan raga, menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar.


"Mau nikah gak sama gue?" tanya Rama dengan tegas dan cepat.


"Hah" kaget Feza. "Lo ngomong apa?"


"Lo mau nikah gak sama gue?" ulang Rama.


"Lo gila apa?" tanya Feza masih dengan rasa tak percaya.


"Za, gue serius. Memang saat ini gue ngerasa sayang ke lo hanya sebatas sahabat. Tapi kan kita bisa pendekatan dulu. Kita bisa coba-coba aja dulu kencan berdua, nonton berdua, makan berdua. Kita sama-sama lajang, gue gak rebut lo dari siapapun dan lo gak rebut gue dari siapapun gue rasa itu udah cukup meyakinkan gue kalo ini tuh gak akan jadi masalah"


Feza terdiam, masih mencerna ucapan Rama. Dirinya juga hanya sayang pada Rama sebatas sahabat, tidak lebih. Tapi untuk menerima ajakan menikah tentu bukan perihal sepele. Feza merasa dirinya butuh waktu untuk berpikir.


Rama masih setia menunggu Feza selesai berpikir.


"Aku belum bisa jawab sekarang"


"Gakpapa, jangan jadikan ini beban buat kamu. Kalaupun nanti kamu ingin menolak, jangan sungkan. Aku janji gak akan maksa dan kita tetap sahabatan seperti biasa"


Jangan jadikan beban? Hellow evribadeh, bahkan baru dengar ucapan lo ini aja udah bikin kepala gue cenat-cenut.


...$...


...$...


...$...

__ADS_1


Jangan lupa komen ya guys, kira-kira nanti enaknya Rama ditolak aja, apa diterima nih sama Feza? Otor sih jujur aja udah kasian banget sama nasib Rama.


Btw, segini dulu ya upnya aku capek guys hueheheu


__ADS_2