
Sebelum baca, jangan lupa yang diatas udah kasih like belom? hadiahnya sekalian vote juga dah๐๐
******
Tinggal di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk metropolitan membuat Bibin dan yang lain menjadi lebih bersyukur. Menurut mereka, tinggal di hutan jadi jauh dari dosa. Bayangkan, di kota kemanapun mereka pergi pasti mudah sekali mendapati tontonan paha putih mulus atau penampakan ketiak tak berbulu, dan masih banyak lagi jenisnya.
Sedangkan di hutan, boro-boro nemu yang seperti itu. Lagi-lagi yang ditemui hanya b*abi hutan dan monyet.
Dan yang membuat pagi terasa labih baik dibanding kota adalah sambutan dari kicauan burung dan udara segar saat baru terbangun. Seketika terngiang-ngiang arti salah satu ayat dari surah Ar-Rahman, yaitu maka nikmat (Tuhan) mana lagi yang kau dustakan.
Rutinitas mereka setiap hari adalah memeriksa kebun cabe rawit, cabe merah, terong ungu, dan kebun kakek lainnya. Memeriksa apakah ada yang sudah layak petik atau apakah pagar tanamannya di rusak b*abi semalam. Kalau rusak, biasanya akan segera mereka perbaiki.
Zapata dan Rama termasuk yang paling tidak ahli dalam menggunakan gergaji, golok, sabit, cangkul, mesin rumput, dan alat pekerja lainnya. Tapi mereka gigih dan mau belajar sampai bisa.
Sedangkan Nanda sudah terbiasa dengan alat-alat tersebut. Karena selama ia hidup, dirumah lelaki ya hanya dia. Lantas siapa lagi yang mengurusi pekerjaan laki-laki dirumah kalau bukan dirinya.
Mereka juga membuat ayunan yang di gantungkan di bawah pundok kakek. Talinya terbuat dari rotan dipasang dan diikat dikiri kanan papan yang digunakan sebagai tempat duduknya. Hal itu merupakan hiburan Nanda dan yang lain kala tak punya kegiatan apa-apa.
Jujur saja, mereka punya dompet yang berisi cukup uang. Tapi karena keberadaan mereka saat ini jauh dari warung dan bahaya untuk keluar dari hutan, jadi mereka sama sekali tidak bisa jajan. Hanya menunggu waktu kakek untuk membeli kebutuhan ke desa barulah mereka bisa nitip, tentu ada uang imbalan yang cukup besar untuk kakek.
Hari ini, sudah seminggu mereka jadi penghuni hutan. Dengan pakaian yang cuci-kering-pakai, tak membuat mereka mengeluh. Padahal sejatinya Rama dan Zapata paling higienis tadinya. Tapi lagi-lagi, keterbatasan keadaan membawa banyak perubahan.
Zapata yang tadinya termasuk jarang sholat, jadi rajin karena Nanda, Rama, dan Bibin yang tak pernah tinggal sholat.
Rama yang terbiasa tak pernah berbagi karena dikehidupan sebelumnya ia tak pernah hidup berbaur dengan orang lain, kini ia sama sekali tak keberatan meminjamkan pakaiannya pada orang lain. Bahkan bajunya termasuk yang paling sering Bibin pinjam.
Nanda yang sejak kepergian orangtuanya terpaksa tumbuh dewasa lebih cepat dari usianya dan menjadi tulang punggung serta kepala keluarga diusia muda juga selalu jadi lelaki satu-satunya dirumah, merasakan adanya perbedaan antara pola pikir dan cara menikmati hidup antara laki-laki dan perempuan. Nenek, Sherly, dan istrinya Dinda adalah perempuan yang ia kepalai dirumah. Tapi disini, dihutan ini semuanya laki-laki. Sangat berbeda sekali.
Sedangkan Bibin, ia selama ini menganggap yang bisa berteman dengannya hanya Zapata seorang. Tapi kenyataannya tidak, Rama dan Nanda masuk-masuk saja tektokannya dengan Bibin. Itu memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Bibin.
"Mancing aja yok. Bosan nih" ujar Nanda saat mereka tengah bermain ayunan dibawah pondok.
"Ayoo" sambut ketiganya.
Tak peduli matahari sedang terik-teriknya siang itu, semangat mereka bermain air jauh lebih besar daripada rasa takut akan gosong terpanggang matahari.
"Sekalian gue mau cuci baju" ujar Nanda dengan menenteng ember yang lengkap dengan baju kotornya, sabun cuci, dan brush sikat.
Mereka mancing sampai sore, lalu sekalian mandi sore dan setelah itu pulang. Sampai di pondok, kakek tengah menyusun barang-barang dapur yang telah dibelinya.
"Kek, kita tadi mancing dapet udang banyak lagi. Nanti biar kita-kita aja yang masak, kakek istirahat. Pasti capek balik dari desa" ucap Nanda.
"Iya kek, biar kita aja yang masak" ujar Rama sepakat dengan Nanda.
"Kalian sudah mandi?" tanya kakek.
"Udah kek, mancing langsung sekalian mandi" jawab Zapata.
"Ya sudah, kalau begitu masaklah. Kakek mau mandi"
Mereka pun berbagi tugas. Nanda dan Rama kebagian mencuci udang sampai bersih, kebetulan sudah dilakukan pas di sungai tadi. Kini giliran Zapata dan Bibin yang memasaknya.
Bibin si tukang ambil-ambilin bahan masakan yang Zapata butuhkan, sedangkan Zapata hanya fokus di pertungkuan. Mereka membuat udang saos pedas manis karena bahan-bahan masih lengkap habis belanja. Walau udangnya kecil-kecil tapi beruntungnya mereka dapat banyak dibanding biasanya jadi akan cukup untuk mereka berlima.
"Cek sana di kebun kakek, terong ada yang tua belom? Kalo ada kan enak, bisa nambah-nambahin lauk. Tinggal goreng aja kaya biasa" celetuk Zapata sambil mengaduk-aduk masakannya.
__ADS_1
"Oke, kita cari" Rama dan Nanda yang sedari tadi hanya menonton Zapata masak akhirnya berjalan menuju kebun terong.
Saat kakek pulang dari sungai, masakan Zapata sudah tercium wanginya tapi masih belum selesai. Karena masih ada terong yang mau digoreng.
Saat malam hari, mereka pun makan diatas pondok. Semua memuji masakan Zapata yang menurut mereka sangat enak.
"Ini yang masak siapa sih? Pengen gue tonjok! Masak kok enak banget!" celetuk Bibin meniru ucapan yang sering Zapata lontarkan.
Nanda dan Rama tertawa sambil menunjuk-nunjuk Zapata. Karena tau Bibin lagi ngeledek Zapata. Sedangkan Zapata cuma diam, malas menggubris celotehan tak berfaedah itu.
"Lo ada masalah apa sih? Makan kok cepet banget" lanjut Rama ikut menggoda Zapata dengan kalimat yang juga sering Zapata lontarkan.
Bibin mengacungi jempolnya pada Rama karena bisa hapal dengan ucapan-ucapan jenius milik Zapata.
Nanda sambil ketawa tapi tetap fokus juga pada makanannya. Beda dengan Bibin dan Rama yang sudah tidak fokus lagi pada makanannya karena asik tertawa.
"Mau gak?" tanya Zapata pada Bibin yang duduk tepat disampingnya sambil memegang udang ditangan.
Bibin menyudahi tawanya, lalu hendak menerima udang penawaran Zapata.
"Penawaran hanya berlaku dua detik" tarik Zapata lagi. Ia pun memakan udang yang tadi sempat mau ia beri pada Bibin.
"Niat ngasih gak sih" cebik Bibin.
"Itu dia balas dendam sama kamu Bin. Tadi kamu ngolok-olok dia terus" ujar kakek.
Bibin pun mendekatkan wajahnya ke piring Zapata. Sengaja memancing lagi reaksi Zapata.
"Bin, masuk ni cabe ke mata lo nanti nangis" tegur Zapata.
Lama-kelamaan akhirnya makan malam pun usai. Mereka duduk ditangga pondok sambil menurunkan makanan dan memperhatikan bintang dilangit.
"Kangen sih, tapi kan harus hemat batre biar bisa tau info terbaru. Apalagi yang tersisa cuma batre hp Nanda. Lo sama Bibin gak ada yang bawa hp" jawab Rama.
"Sedih juga ya nasib kalian" sahut Bibin.
"Gak kok Bin, biasa aja. Toh istri kita juga pasti baik-baik aja" jawab Nanda.
"Eh Zap, sorry nih ya kalo pertanyaan gue menyinggung. Tapi, emang iya lo dulu pernah macarin cewek satu geng?" tanya Rama.
"Iya. Cuman itu gak sengaja, ditantangin temen. Dan karena gue tipe yang gak mau terlihat lemah, gue tunjukin aja ke dia kalo gue bisa macarin semuanya di waktu yang sama" pungkas Zapata.
"Gila lo. Apa gak takut karma?" tanya Bibin.
"Heh bahlul, itu juga ide lu" sangkal Zapata cepat.
Bibin tertawa puas karena Zapata langsung naik darah setelah mendengar ucapannya.
"Lah ini gimana sih?" tanya Rama penasaran.
"Tau ni bocah. Ide jelas ide dia, kok malah nanya karma ke gue. Seolah-olah karma cuma berjalan ke gue. Heh, jangan sombong. Karma sekarang kabarnya udah di Tapanuli Selatan, bentar lagi nyampe. Siap-siap aja lu" ancam Zapata.
"Kabarnya karma buat lu udah sampe Jakarta, berarti lu yang harus siap-siap dari sekarang" balas Bibin.
Nanda dan Rama bertos ria. Karena telah berhasil membuat Zapata dan Bibin berdebat. Debatnya mereka itu, hiburan bagi Nanda dan Rama.
__ADS_1
"Heh, masuk-masuk udah malam. Giliran bab*i hutan yang berkeliaran" titah kakek dari belakang mereka.
"Bentar kek, masih seru" tolak Nanda.
"Jangan turun, nanti kalian dikejar ba*bi" kakek memperingatkan.
"Iya kek" sahut keempat-empatnya.
"Bikin acara tarung celeng seru ni" cetus Nanda.
"Bin, lo wasit ya" ujar Zapata.
"Yang gak enak kasih gue, giliran yang enak-enak kalian ambil" ujar Bibin dengan acting sedihnya.
"Mulai playing victim kan nih orang. Jelas-jelas gue nawarin lo duluan karena rasa hormat gue ke lo. Jawab aja, mau gak jadi wasit?" tutur Zapata.
"Nggak"
"Nah, kalo gitu kan enak. Biar bisa di oper ke yang lain" sambung Zapata.
Hening.
"Mana? Katanya mau ngoper ke yang lain?" tanya Bibin.
"Dih, suka-suka guelah kapan mau ngoper. Tadi katanya gak mau, tapi kek gak terima kalo gue kasih yang lain" sangkal Zapata.
"Bilang aja sengaja mau ngena-ngenain gue" sindir Bibin.
"Lah, gak percaya nih orang. Emang gue lagi pelit aja ke mereka. Kalo sama lu gue baik. Apa-apa gue dahuluin. Masalah wasit tarung celeng, lo duluan gue tawarin. Masalah tulang? Lo juga. Masih ingat kan gue nanya: Bin, tulangnya mau gue buang apa lu yang makan? Lu sendiri jawab, buang aja! Kurang baik apalagi gue?"
"Iya lu baik, tapi lebih baik diem sih" kesal Bibin.
"Debat mulu, udah masuk yuk. Ntar masuk angin" ajak Rama.
"Mending masuk angin, daripada masuk kris*en" sahut Nanda.
Semua tergelak mendengar ucapan Nanda. Kini semua sudah ketularan Zapata yang kebiasaan asal nyeletuk.
Malam itu tidak ada ba*bi hutan yang berkeliaran. Karena sudah terbiasa dengan aktifitas hewan tersebut, tanpa gerombolan mereka suasana jadi terasa ada yang kurang.
"Kok sepi ya?" tanya Bibin.
"Iya nih" sahut Zapata lalu mendekat ke jendela untuk mengecek keberadaan segerombolan ba*bi hutan. Setelah mengecek kearah bawah, kini kepala Zapata terlihat menangadah menatap kilau bintang dilangit.
"Ya Tuhan, mana serudukan yang mengagetkan itu? Mana si seksi berdaging tebal yang biasa aku lihat itu? Kenapa malam ini tak menemuiku? Aku rindu serudukan manjanya Tuhan, aku rindu!" ucap Zapata dengan serius.
Sedangkan teman-temannya dan juga kakek sekuat hati menahan tawa karena kelakuannya. Tapi bukan Zapata saja yang merasa ada yang kurang tanpa serudukan ditiang pondok malam ini. Semua merasakan hal yang sama.
******
Kalau ba*bi hutan saja mampu buat hatiku merindu, apalagi kamu! (Zapata)
Cukup ba*bi hutan yang ngilang tiba-tiba, kamu jangan! (Nanda)
Kalau ba*bi haram bagiku. Kalo kamu? Kapan halal untukku? (Bibin)
__ADS_1
Rama:"Author udah kehabisan quote. Kalo kalian punya ketik dibawah ya. Masa gue doang yang gak ada๐ญ"
Vote and like this๐๐