
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Dinda dan Nanda sampai juga kerumahnya. Dirumah, hanya ada Sherly yang sedang menonton drama korea di ruang tengah sambil memangku laptopnya.
"Assalamu'alaikum" ucap Dinda dan Nanda bersamaan tepat di belakang Sherly.
"Haaa" Sherly kaget karena keasikan menonton dan tiba-tiba ada orang di belakangnya.
"Ish abang, wa'alaikumsalam" lanjutnya yang tak lupa menjawab salam.
"Haha, maaf deh udah ngagetin. Nih kita bawa sate, kamu mau nggak?" tanya Dinda sambil memperlihatkan kantong kresek di tangannya.
"Mau, makasih ya kak" ujar Sherly lalu meletakkan laptopnya sembarang dan menerima kantong kresek dari tangan Dinda lalu berjalan menuju meja makan.
"Itu abang yang beliin, makasihnya sama abang aja" ujar Dinda yang berjalan mengikuti Sherly.
"Yah, kalo sama abang mah males" kata Sherly meledek abangnya.
"Jangan dimakan kalo gitu" balas Nanda.
Mereka berdua kakak beradik yang akur, tapi tak jarang mereka juga bisa menjadi Tom and Jerry yang sering berantem karena hal sepele.
"Kok pada ribut gini sih, udah ayo makan. Nanti makin malem kakak pulangnya" ucap Dinda mengakhiri kegiatan perang sendok antara kakak beradik itu.
Ditengah-tengah makan, mereka tetap mengobrol seputar kerjaan Nanda, Dinda, dan kegiatan di sekolah Sherly. Namun Nanda lebih banyak menasehati adiknya untuk belajar lebih giat karena sebentar lagi Sherly akan naik ke kelas XII (12 atau kelas 3 SMA).
"Kamu udah punya pacar?" tanya Nanda mengintrogasi Sherly yang masih asik menikmati makanannya sambil tetap memperhatikan Nanda yang berbicara padanya.
"Rahasia" jawab Sherly enteng.
"Kamu tuh abang larang pacaran demi kebaikan kamu juga. Jangan mau di tipu-tipu sama cowok-..."
"Tapi kita yang nipu" Ucapan Nanda di potong oleh Dinda dan Sherly. Mereka pun akhirnya melakukan tos sebagai tanda menunjukkak kekompakan mereka. Dinda dan Sherly pun tertawa ngakak karena Nanda tak lagi berbicara sepatah katapun, Nanda lemah menghadapi 2 wanita yang berharga dalam hidupnya ini.
"Sher, emang siapa pacar Sherly?" kini Dinda yang mengambil alih mengintrogasi Sherly.
__ADS_1
"Sgegejrnahdhsjsjfhejbsjfjfkfjrydj" Nanda hanya bisa mendengar dengan tidak jelas karena Sherly menjawabnya dengan membisiki Dinda.
"Sebenarnya ga punya kak, tapi yang deketin banyak. Aku ga mau pacaran, kata abang pacaran tuh ribet. Nanti sekolah aku keteteran" begitulah yang Sherly bisikkan pada Dinda. Membuat Dinda senyum-senyum menatap Nanda karena berhasil di kelabui adiknya sendiri. Sedangkan Nanda berpura-pura tak mendengar apa-apa.
"Semoga langgeng ya, jangan dulu di kenalin ke abang kamu yang galak ini yah, kalo ke kakak boleh" begitu ucap Dinda saat Sherly sudah selesai berbisik padanya.
Mereka pun akhirnya kembali makan dengan tenang. Sehabis makan, Dinda merapikan meja makan lalu mencuci alat makan bekas pakai mereka.
"Yank, ga usah. Kan besok bisa Bibi yang cuciin" ujar Nanda yang tak mau melihat Dinda harus repot-repot mencuci piring. Mungkin ia kira, selama ini Dinda tak pernah melakukan pekerjaan rumah. Padahal Dinda termasuk cewek yang sederhana meski banyak duitnya. Setiap kali dia bikin kue dirumahnya, nanti ia sendiri juga yang mencuci peralatan masaknya.
"Udahlah, cuci dikit doang. Kamu sana gih, ngapain disini ngeliatin aku cuci piring" ucap Dinda yang grogi karena Nanda memperhatikannya sambil duduk di meja makan yang berjarak hanya 2 meter saja darinya.
"Yank, nikah yuk" Nanda mengajak Dinda menikah tanpa babibu, ia memang sosok anti romantis. Berbicara apa adanya, mungkin kalau lelaki itu adalah Ariel, pasti akan mengajak Dinda makan malam romantis barulah melamarnya.
Dinda sudah selesai dengan kegiatannya. Ia berbalik menatap Nanda, mencari tahu melalui sepasang mata milik Nanda. Apakah ia sedang bercanda atau tidak?
"Serius?" tanya Dinda saat ia tak mendapati sinyal bergurau dari sorot mata Nanda.
"Ya iyalah, aku kan bakal naik pangkat. Terus pindah ke kantor yang deket pasar. Aku rasa, biaya hidup untuk kita bertiga, aku udah sanggup. Tapi ga bisa bermewah-mewah juga" begitu ucap Nanda yang sebenarnya tak ada kepikiran mau ngelamar Dinda mendadak begini. Tapi ya udahlah, udah keceplosan juga.
"Mau apa dulu nih?" tanya Nanda sengaja banget mau bikin Dinda kesal.
"Mau nikah sama kamu, mau jadi istri kamu, mau jadi temen berantem kamu" ucap Dinda lalu Nanda langsung menghambur ke pelukannya.
Ada tetesan air mata bahagia di pipi Dinda karena ia akan menjadi seorang istri dari laki-laki yang kini ia peluk erat. Ada bayangan kebahagian dalam biduk rumah tangganya kelak.
"Abang, ada tamu di depan. Mungkin kak Lita" Sherly berteriak dari ruang tengah. Ia tak membukakan pintu untuk Lita karena keseringan di peringatkan Nanda untuk tak membukakan pintu bagi siapapun tamu yang datang malam-malam. Karena memang Sherly terbiasa sendirian dirumah saat Nanda harus bekerja. Nanda pun spontan melepaskan pelukannya.
"Ada Lita, mau ngapain dia kesini" Nanda pun berjalan menuju pintu depan sambil menarik Dinda untuk ikut juga.
Nanda membuka pintu, ia melihat memang ada Lita di luar. Namun ia tak tahu apa tujuan Lita datang malam-malam begini.
"Masuk Ta" begitu tawar Nanda saat pintu terbuka. Ia meminta Lita duduk di ruang tamunya.
__ADS_1
Nanda dan Dinda ikut menyusul duduk disana.
"Mau minum apa, Ta?" tanya Dinda karena ia mungkin perlu pergi dari sana biar Lita bisa nyaman ngobrol bersama Nanda.
"Ga usah, Din. Gue kesini mau kasih ini aja. Ada undangan buat kalian. Nih..." Lita mengulurkan sebuah undangan berwarna hijau putih. Tanpa perlu di buka sudah terlihat jelas bahwa undangan itu adalah undangan pernikahan Lita.
Karena di bagian depan tertulis Lita dan Lucky.
"Lo balikan sama Lucky?" pekik Nanda saat melihat undangan itu.
"Iya, katanya dia belom bisa move on dari gue. Kasihan, ya udah gue ajak nikah aja" ujar Lita sambil mendapat toyoran di keningnya oleh Nanda.
"Dasar cewek ga ada harga dirinya, harusnya dia yang ngajak lo nikah" ujar Nanda sambil tertawa. Dinda pun yang mendengar jawaban kocak Lita ikut tertawa pelan. Karena ia takut Lita tersinggung dengan tawanya.
"Kalo ngajak lo kan jelas di tolak. Udahlah, Lucky aja" pungkas Lita sambil ketawa-tawa.
"Jadi kapan nih acaranya?" tanya Nanda.
"Lu bego apa gimana sih? Tuh undangan udah di tangan. Masih juga nanya gue" umpat Lita kesal.
"Gue mau denger langsung dari lo" ucap Nanda santai dan memberikan undangan itu pada Dinda. Siapa tahu Dinda juga mau liat undangannya Lita.
"Seminggu lagi, waktu gue ngurus persiapan pernikahan di kantor, pas banget lo lagi ga ada" ujar Lita yang berhasil membuat kejutan untuk Nanda.
"Wah bener-bener lu ya"
Mereka berbincang sebentar lalu Lita pamit pulang. Namun sebelum kepulangan Lita, Nanda juga sempat mengabarkan pada Lita bahwa ia dan Dinda juga akan segera menyusul. Dan Lita memberikan ucapan selamat pada keduanya. Sherly pun yang mendengar dari dalam ikut bahagia, karena sebentar lagi ia akan memiliki kakak perempuan. Terlebih Dinda juga memiliki sisi keibuan, ia sangat lembut memperlakukan Sherly. Membuat Sherly menjadi tidak sabar untuk segera menjadi keluarga yang utuh bersama Dinda.
Itu artinya, saat Nanda harus pulang larut malam, Sherly tak akan kesepian lagi di rumah.
●●●
Terimakasih ya buat kalian yang tetap setia nungguin Otor up, semoga jalan ceritanya makin menarik.
__ADS_1
Untungnya meski puasa otak Othor gak heng. Jadi tetap bisa di pake buat mikir hehe...
Jangan lupa di like, bagi hadiah, bagi votenya, favoritin novelnya, dan jangan lupa kasih komentar juga yaa... :)