(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Talk That Talk


__ADS_3

Selamat membaca👀


...***...


Malam harinya, setelah makan malam bersama. Feza dan Rama tengah disibukkan dengan membungkus kanvas dan cat lukis menjadi beberapa bungkus kado.


Semua kertas kado adalah pilihan Rama. Mayoritas warnanya merah dan bergambar kartun khas anak laki-laki.


Feza membungkus kado tersebut dengan melihat tutorial di youtube. Sedangkan Rama sebagai penyedia selotip dan kebagian menggunting jika ada bagian kertas yang kepanjangan.


Setelah misi membungkus kado selesai, Feza pun kini tengah menyusun kado-kado tersebut ke tangan Rama. Disusun dari yang besar-besar hingga yang terkecil.


Lalu mereka pun berjalan menuju pintu kamar Arse. Tentu saja Rama dituntun oleh Feza biar tidak nabrak.


Tok tok tok


Feza mengetuk pintu kamar Arse. Seperti dugaannya, pasti akan di acuhkan oleh Arse.


"Se, kak Feza boleh masuk?" tanya Feza.


Hening.


"Arse lagi ngapain sih? Bukannya bukain pintu malah diem aja" Rama mulai ngedumel.


"Ssstt, bisa sabar gak sih" gertak Feza dengan suara pelan. "Udah janji bakal mau bantu Arse buat ngomong lagi ih malah kaya gini" Giliran Feza ngedumel.


"Iya maap maap" balas Rama tidak ikhlas. "Cewek tuh kebiasaan banget ya nambah-nambahin kalimat. Mana ada aku janji mau bantu kamu, kok tiba-tiba ada yang bilang aku udah janji" Rama ngedumel lagi tapi dengan suara sangat pelan dan memang ditujukan untuk menyindir Feza. Namun telinga Feza mampu mendengar jelas kalimat yang suaminya lontarkan.


"Ya udah sana kalo gak ikhlas bantuin" gertak Feza dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.


"Gak usah pake ngambek-ngabek segala. Udah tanggung juga" gerutu Rama.

__ADS_1


"Sumpah mati setelah ini aku gak mau lagi minta-minta tolong sama kamu. Makan hati!" Feza dan Rama akhirnya ribut beneran di depan kamar Arse.


Sedangkan Arse di dalam kamarnya sedang asyik melukis dengan menyalurkan segala isi kepalanya di atas kanvas. Tapi tiba-tiba gerakan tangannya berhenti karena terganggu dengan suara orang berdebat tepat di depan kamarnya.


Awalnya Arse masih sanggup untuk mengacuhkannya, tapi lama-lama Arse merasa sangat-sangat terganggu dan itu membuat konsentrasi melukisnya hilang. Arse menghempas kuas kecil ke atas palet yang berakhir jatuh ke lantai.


Cklek


Pintu kamar terbuka. Ketiga orang yang sama-sama berdiri di depan pintu itu pun sama-sama terdiam. Arse menduga-duga apa yang ingin atau sedang dilakukan oleh dua orang dewasa di depannya itu.


"Eh Arse" Feza menggaruk tengkuknya sambil mencoba merangkai kata-kata yang tepat yang hendak ia sampaikan.


Arse hanya diam. Lagi-lagi Feza jadi semakin bingung untuk memulai kedekatan atau membuka percakapan dengan adik iparnya yang satu ini.


"Ngh, begini Arse waktu kakak liat lukisan kamu tadi siang. Kayanya ada bagian yang catnya kurang jelas, kakak pikir cat lukis kamu mungkin udah hampir habis. Jadi... Kakak sama mas Rama beliin kamu cat sama kanvas" Feza mengkode Rama dengan melirik-liriknya. Tapi Rama tetap diam saja, karena memang tidak mengerti dengan kode Feza.


Feza mulai mengkode lebih keras. Matanya melotot tajam tapi Rama tetap diam saja. Rama mulai paham ternyata Feza ingin dirinya yang berbicara. Tapi menurutnya, lebih baik ngerjain Feza saja karena tadi sempat membuatnya kesal.


Membuat Rama merasa mual seketika namun tidak sampai memuntahkan isi perutnya.


"Se, ini semua buat kamu. Tapi kita bukanya sama-sama ya. Kan biar seru" ujar Feza dengan diiringi tawa hambar lalu kemudian ia diam. Karena hanya dirinya yang tertawa diruangan itu.


Feza, Rama, dan Arse sudah duduk ditepian tempat tidur Arse. Walau Arse masih diam tidak menunjukkan ekspresi senang sama sekali, tapi Feza dan Rama sama-sama menampilkan senyum pepsod*ent berharap agar Arse ikut histeris seperti mereka. Tapi nihil. Boro-boro histeris, tersenyum pun tidak. Muka Arse tetap datar seperti papan cucian.


Rama meminta Arse untuk menunjuk kado mana yang mau dibuka duluan. Awalnya tidak ada respon, tapi lama-kelamaan Arse mulai ada kemajuan.


Arse menunjuk kado dengan bingkisan bergambar bis tayo warna-warni. Rama pun ber-acting seolah sedang berusaha menebak-nebak isi kadonya dengan mendekatkannya ke telinga. Sedangkan Feza bertepuk tangan mencoba meracuni pikiran Arse agar mengikutinya bertepuk tangan. Tapi usaha Feza gagal, Arse tidak terpengaruh. Rama tertawa melihat Feza mendengus. Seolah keduanya kini tengah bersaing mendapat perhatian Arse.


Setelah 5 kado terbuka dan masih menyisakan 3 kado lagi yang belum dibuka. Arse tiba-tiba berkata, "Gak usah dibuka, aku tau isinya".


Rama meneguk ludahnya kasar. Suara Arse benar-benar nge-bass. Tentu saja hal itu karena Arse sudah remaja dan sedang mengalami masa pubertas.

__ADS_1


Sedangkan Feza tersenyum senang mendengar Arse mau bicara. "Arse... Arse mau ngomong sama kita berdua?" tanya Feza penuh semangat.


"Hm" sahut Arse masih pelit bicara.


Feza memukul-mukul bantal ke lututnya. Ia begitu senang karena tak perlu banyak tenaga ternyata cukup mudah membuat Arse bicara.


"Za, bisa keluar dulu ga? Ada yang mau aku bahas berdua sama Arse" perintah Rama.


"Kenapa? Aku kan juga udah jadi kakaknya Arse. Boleh dong aku tau" sanggah Feza yang tak mau pergi dari sana.


"Urusan laki-laki" sahut Rama kali ini dengan raut wajah serius.


Feza pun tak bisa lagi berkutik, ia menuruti perintah suaminya dan pergi menuju kamarnya disebelah kamar Arse. Kemudian segera membereskan sisa-sisa kertas kado yang berserakan di lantai.


Sekitar 30 menit berlalu, Feza yang kini tengah berganti pakaian dengan dress tipisnya barulah Rama menyusul ke kamar. Feza baru saja membuka mulut hendak bertanya tapi langsung di bungkam oleh Rama.


"Jangan banyak tanya! Gak semua hal kamu perlu tau" Setelah berkata demikian, Rama tersenyum miring. Sengaja membuat Feza kesal karena ia masih dendam perihal tadi. Bahkan perutnya masih terasa nyeri di bagian tulang rusuk sebelah kiri.


Akhirnya Feza hanya bisa mendengus sebal saat Rama lewat didepannya menuju ke kamar mandi. Dengan pikiran jahilnya, Feza sengaja berbaring dengan posisi menggoda. Ia sangat tahu kelemahan suaminya.


Dan saat pintu kamar mandi terbuka, Rama terkesiap dengan pose menantang Feza yang menampilkan dua gundukan yang berhimpitan karena Feza berbaring miring. Rama yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan pun lalu membuang handuknya ke sembarang arah dan berjalan penuh gaira*h menuju tempat tidur.


"Mau cium" ujar Rama dengan tangan terbuka.


Tapi Feza dengan cepat meraih bantal sehingga menciptakan jarak antara tubuh Rama dan tubuhnya. "Jangan macam-macam! Gak setiap malam aku mau kasih jat*ah!"


Lalu Feza berbalik dan langsung pura-pura tidur. Agar kalau Rama protes, dirinya tak perlu repot-repot meladeni.


...***...


Thanks for reading...😊😊

__ADS_1


Kalau kalian suka, silahkan tekan tombol like dan komen dibawah untuk ide-ide atau saran penulisan🙆🙆


__ADS_2