
--Sebelum menikmati hasil karya jempol keriting kepunyaan Otor, mohon di like dulu ya. Biar kita sama-sama enak😋--
-
"Gak usah di lawan Nan, hatinya lagi senang kayanya" ujar Rama mengompori Feza.
Plak
Terbitlah tamparan manis di bahu Rama. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Feza.
"Jangan banyak omong, sekarang giliran lu. Pokonya semua harus ngungkapin kata sambutan masing-masing, ya!" titah Feza.
"Kata sambutan? Lu kira kita lagi pidato?" sanggah Rama.
"Tau nih, sekalian aja lo bilang kata pengantar" sahut Nanda sewot.
"Terserah dah apa namanya. Cepetan Ma, giliran lo dulu terus Dinda terus ke siapa tuh, lupa gue namanya" balas Feza menggoda Nanda dengan berpura-pura tidak kenal.
Cletak
Feza mendapatkan lemparan sendal jepit dari Nanda yang berhasil ia hindari. Kalau sampai kena bisa-bisa Feza mandi lagi karena sendal itu yang ia pakai tadi siang ke kebun jagung Pak Ratmo yang jalannya di penuhi becek dimana-mana.
"Ih, Nanda jorok" ucap Feza sambil menjauhkan lagi sendal itu darinya dengan menggunakan 2 jarinya saja. Jijik.
"Udah diem, gue udah siap berkata-kata nih" timpal Rama ditengah-tengah "kericuhan" antara Nanda dan Feza.
Semua pun kembali serius dan suasana menjadi hening seketika. Semua mata tertuju pada Rama dengan telinga yang siap mendengar ungkapan perpisahannya.
Hening
Masih hening
"Ah lupa... Pertamanya gimana tadi?" ucap Rama tanpa beban.
"Ahhh, selalu kaya gitu. Dari awal kenal emang lo gak bisa di harepin. Jadi inget jaman ko-*** -..."
"Sssttt diem" Rama menggamit bibir Feza yang masih ingin meneruskan ucapannya. "Lo ungkit-ungkit lagi cerita itu, nih lo blokir sendiri aja nomer lo". Rama memberikan ponselnya pada Feza seolah-olah jika Feza sampai menceritakan kejadian bertahun-tahun yang lalu, maka hubungan persahabatan mereka hanya sampai disini saja.
"Hahaha, ngancem. Takut banget sih lu. Iya-iya, gue gak cerita" kata Feza dengan mengacungkan dua jari tanda "peace".
"Mulai deh rahasia-rahasiaan, katanya besti" ucap Nanda yang terkesan ingin tahu tapi dengan cara yang agak maksa.
__ADS_1
"Hiii badan kekar kaya lo ngomong besti, merinding gue" ucap Rama mendelik.
"Pak, apa kita masuk aja ya. Ini debat antar agama masih belom selesai" sindir Dinda karena dari tadi gak jadi-jadi dengerin Rama ber"pidato".
"Ayo, Din. Disini juga banyak nyamuk" sambut Pak Prima.
"Eh ntar dulu Pak, kata-kata mutiara dari aku kan belom" sahut Nanda.
"Ya makanya buruan. Ini udah hampir jam 9 lho" ucap Dinda memperingatkan.
"Buruan, Ma" lempar Nanda agar Rama langsung saja tanpa bertele-tele menyampaikan salam perpisahannya.
"Baiklah. Ehem.
Yang pertama, untuk sahabat karibku yang tercantik dan paling baik. Gue juga sayang sama lo, jangan berbuat semena-mena lagi dan harus nurut sama orang tua. Karena biar bagaimanapun, hidup kita 'kan selalu berevolusi dan gue gak tahu kelak jodoh lo laki-laki yang seperti apa.
Mungkin dulu tiap kali lo berantem sama tante, gue selalu siap sedia bantu menyelesaikan masalah lo. Dan takutnya, gue gak bisa lagi jadi pembela garis keras lo. Tolong kedepannya, carilah pasangan yang bahkan bisa memperlakukan lo lebih baik dari gue.
Gak ada ungkapan perpisahan dari gue buat lo, karena mau dimanapun kita selalu bisa ketemu. Bahkan dikota lebih parah, lo punya akses bebas masuk ke apartemen gue. Tolong pinnya di rahasiakan ya?"
"Ck, bisa serius dikit ga sih?" ucap Feza menahan kesal.
"Itu kan kata-kata gue tadi" jawab Rama.
"Buat yang lain, next time harus ketemu. Gue kerja di rumah sakit Budi Batoe kalo Nanda udah tau, ini buat yang gak tau aja. Hari kerja sesuai kemauan karena yang punya rumah sakit kakek gue sendiri. Udah deh, lanjut Din"
Dinda pun merilekskan dirinya sebelum menjadi pusat perhatian. Menarik nafas lalu buang perlahan.
"Bisa ga jangan gitu banget liatinnya. Gue grogi" ucap Dinda yang berasa lagi di ruang introgasi.
"Sana-sana, liat ke puskesmas aja. Kenyamanan bini gue nomor 1" tukas Nanda si suami kesayangan Dinda ini.
"Lanjut sayang" sambungnya lalu di angguki mantap oleh Dinda.
"Emmm, buat Feza dulu deh. Za, kalo ada apa-apa jangan sungkan buat cerita sama gue. Karena sekarang kita kan udah saling kenal dan lo bilang tadi kalo gue adalah sahabat lo, maka manfaatkanlah gue layaknya seorang sahabat. Jangan tanya gue anggap lo apa? Pokonya lebih dari sahabat. Lo ternyata orang yang asyik banget buat di ajak cerita. Bisa nyambung kemana-mana kalo udah cerita sama lo.
Buat Pak Prima, emm... saya pikir bapak orangnya kaku, gak seru, tapi ternyata kalo udah ngobrol "berisi" banget ya. Keliatan banget berilmunya. Seneng deh bisa kenal bapak. Semoga suami saya ketularan, kan udah berhari-hari kenal bapak-... awh" Nanda mencolek pinggang istrinya.
"Jangan bikin malu suami" tegur Nanda pelan.
Namun, teguran itu di anggapnya angin lalu. Karena Dinda kembali fokus pada pembicaraannya.
__ADS_1
"Buat Rama semoga segera menemukan tambatan hati. Entah yang pergi tiba-tiba kembali, atau dapet yang baru lagi. Intinya, gue aminin kalimat yang lo langitkan di sepertiga malam hehe.
Terus buat suami tercinta, contohlah Pak Prima yang matanya selalu terjaga, menundukkan pandangan. Gak lirik sana sini saat jauh dari istri. Contoh juga Rama, tahajudnya luar biasa. Awas aja pulang dari sini gak ada perubahan" ancam Dinda.
"Udah, segitu aja" ucap Dinda mengakhiri salam perpisahannya.
"Lo Nan" tunjuk Rama.
"Oke, buat istri gue yang meletakkan salam perpisahan buat gue di paling akhir tapi gue justru menjadikan dia yang pertama. Jangan minta aku jadi kayak Pak Prima, karena kami berbeda. Aku masih muda, Pak Prima udah tua. Pak Prima menundukkan pandangan bukan karena setia tapi mungkin karena kepercayaan dirinya sudah mulai sirna" canda Nanda yang membuat Pak Primanya sendiri ikut tertawa.
"Emang cowok tuh susah dibilangin, gak pernah mau nurut tanpa ngebantah" bisik Feza pada Dinda.
"Iya, selalu ngebantah. Ujungnya bilang gak mau cari masalah tapi sebelum itu udah ngajak gelud duluan, kan aneh" sambut Dinda yang tetap tidak terdengar oleh Nanda.
"Nah kalo Rama, iya aku akuin tahajudnya luar biasa. Tapi itu karena putus cinta doang. Tanyain deh kalo gak percaya".
"Heleh, kirain" ucap Dinda dan Feza bersamaan.
"Buat kalian semuanya, gue undang makan malam dirumah gue malam minggu. Kebetulan istri gue jago masak, terus juga biar menjaga solidaritas pertemanan kita yang lebih muda dari usia jagungnya Pak Ratmo. Gue harap semua bisa hadir. Nanti alamat bisa aku kasih tahu pas di kota aja Pak, sekalian sama peta-petanya biar gak nyasar. Kalo bisa ajak sekalian istri dan anak bapak biar kita pada kenal". Nanda pun menyudahi salam perpisahannya dengan tersenyum lebar ke semua audience.
"Ngapain repot-repot salam perpisahan eh ujung-ujungnya 2 hari lagi kita ketemu" gerutu Rama sambil menepuk-nepuk nyamuk.
"Bener-bener ya nih orang" Feza pun lalu beranjak masuk karena hari sudah mulai larut, ditambah lagi nyamuk yang selalu terbang di sekitaran telinganya mengganggu suasana.
"### Bubar-bubar, tapi inget ya guys malam minggu makan malam dirumah gue" teriak Nanda ikut menyusul yang lain masuk kerumah dan tak lupa mengunci pintu demi keamanan bersama.
-
Jawab pertanyaan Otor dulu ya...
Udah pada komen belom?
Udah tap jempol belom?
Kasih kopi sama bunga udah?
Kasih votingnya udah?
__ADS_1
Belum semua? Kalian sungguh Ter...la...lu-_-