
Setelah adu senjata dan bergumul dengan para pria kekar itu, Nanda dan teman-temannya akhirnya berhasil medapatkan Lita yang sudah dalam keadaan memprihatinkan. Ia memiliki tanda memar di sekujur tubuhnya. Dan Nanda langsung mengangkat tubuh lemah Lita ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Lita mendapat perawatan yang mengharuskannya untuk di rawat beberapa waktu sampai ia kembali pulih. Nanda pun bersedia untuk bergantian berjaga di rumah sakit dengan teman yang lain.
Untuk malam ini, Nanda yang kebagian jaga Lita sebab Lita di kota ini memang hidup sendirian. Semua anggota keluarganya berdomisili di Surabaya dan mungkin Lita sendiri nanti yang akan mengabari keluarganya karena sepanjang yang Nanda tahu, hubungan Lita dan keluarganya kurang baik.
Nanda menghubungi Bibi di rumah, ia meminta Bibi untuk mengemasi beberapa pakaian untuknya dan minta tolong sampaikan pada Sherly kalau malam ini ia akan menginap di rumah sakit karena Lita mengalami cidera saat penangkapan. Begitulah alasan yang Nanda buat.
Nanda juga tak lupa untuk mengabari Dinda yang sudah lama tak ia kabari. Ia mengatakan pada Dinda akan menjaga Lita di rumah sakit malam ini.
Nanda
Sayang, aku di rumah sakit. Lita cidera dan dia harus dirawat beberapa hari. Nanti malam aku bakal nginap sini, gapapa, kan?
Gapapa, kan? Adalah bentuk penekanan minta izin akan sesuatu yang ia sendiri tahu bahwa hal ini bisa memicu konflik.
Dinda
Semoga Lita lekas sembuh yaa, nanti aku ke rumah sakit juga. Rumah sakit mana?
Dinda sengaja tak menjawab pertanyaan "Gapapa, kan?" . Karena serba salah. Mau jawab iya, gapapa. Jelas bertentangan dengan hatinya. Tapi kalo jawab ga boleh. Kejam banget, takutnya Nanda akan merasa bahwa Dinda sangat posesif bla bla bla. Bahkan manggil Nanda "sayang" saja tidak!
Begitulah namanya pacaran. Terlalu sayang, jangan. Tapi perasaan kan ga bisa di atur dan ga bisa di takar juga. Cemburu juga tanda sayang, tapi terlalu ngikutin maunya hati takutnya bikin semua jadi berantakan. Takut runyam, di bilang terlalu cemburu atau terlalu posesif. Argggg.
Nanda
__ADS_1
Rumah sakit Bhayangkara sayang
Sampai sini, Nanda sudah menyadari bahwa pacarnya pasti sedang sensi mengetahui kalau dirinya akan menginap di rumah sakit demi menjaga Lita. Terlihat dari cara Dinda balas pesannya, Nanda sudah mendapat lampu kuning dari Dinda.
Dinda
Oke
Nanda tak lagi membalas pesan Dinda karena Lita yang tiba-tiba memanggil namanya.
"Kenapa Ta? Ada yang sakit?" tanya Nanda dengan penuh kehati-hatian memperhatikan Lita yang meringis menahan sakit. Nanda yang tadinya duduk di sofa berpindah ke kursi yang berada di sisi Lita.
"Nan, kepala gue pusing banget. Terus badan gue sakit semua" ringis Lita yang kesulitan mwnggerakkan tubuhnya.
"Gue maunya lo aja yang jagain gue disini sampe gue sembuh. Gue risih kalo sama yang lain. Ga nyaman" lirih Lita membujuk Nanda.
"Iya, nanti gue bicarain sama komandan" pungkas Nanda biar Lita tenang dan tak banyak bicara lagi.
Setelah itu Lita pun kembali tertidur. Nanda mengamati cara tidur Lita. Ia tahu bahwa Lita sedang gelisah, mungkin karena kondisinya saat ini yang membuat tidurnya tak nyenyak dan badannya yang sakit-sakitan. Nanda juga takut jarum infus yang menempel di tangan Lita akan terlepas kalau Lita selalu grasak-grusuk.
2 jam kemudian, Lita terbangun karena ia ingin buang air kecil. Namun dengan kondisi yang masih lemah, ia harus meminta bantuan Nanda untuk membantunya bangkit dari tempat tidur.
"Nan, tolongin" lirihnya dengan manja.
"Jangan bangun dulu, lo harus banyak-banyak istirahat" cegah Nanda biar Lita tidak bangun dari posisi berbaringnya.
__ADS_1
"Terus gue harus kencing disini, gitu?" ucapnya kesal karena sudah tak tahan lagi.
"Bilang dong kalo mau kencing. Bentar-bentar gue panggil suster". Nanda pun memencet tombol yang berada tak jauh dari posisi Lita.
Tak lama masuklah seorang suster dan ia membantu Lita untuk ke kamar mandi. Setelah itu Lita juga minta suster untuk membersihkan badannya karena Lita merasa gerah dan berkeringat.
Suster pun mengikuti apa yang Lita perintahkan. Selama Lita sedang di bersihkan badannya oleh suster, Nanda duduk di depan ruang rawat Lita sambil bermain game di ponselnya.
-
Hari sudah malam, jam 7 tepat makanan untuk Lita sudah di antarkan. Dan kini Nanda sedang membantu Lita menyiapkan makanannya untuk di santap di tempat tidur. Karena tangan kanan Lita terkilir dan kondisi tangan kirinya sedang di infus, maka Nanda-lah yang akan menyuapinya makan.
Dengan telaten Nanda menyuapi Lita makan sampai habis. Nanda juga membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di mulut Lita dan yang berjatuhan ke kasur. Lita terharu dengan perlakuan Nanda yang sangat perhatian padanya. Bahkan keluarganya saja tak pernah sekalipun menujukkan kasih sayang padanya. Hal itu membuat Lita lebih bahagia ketika harus jauh dari orang tua dan keluarganya.
"Nan, kenapa ya orang tua gue ga pernah sepeduli ini sama gue. Sedangkan lo yang gue kenal beberapa tahun aja bisa perhatian banget ke gue. Kalo gue mati ada ga ya yang nangisin gue?" tanya Lita dengan mata berkaca-kaca.
"Lo tuh cuma kebentur doang. Bukan kena kanker stadium akhir. Ngapain bahas mati sih?" ucap Nanda tidak peka dengan kesedihan hati Lita.
"Mati juga syaratnya ga harus kena kanker kali" ucap Lita dengan ketus.
"Maksud gue, lo tuh ga bakalan mati. Dalam beberapa hari lagi juga lo pasti pulih. Dan semua keluarga lo pasti sedih kalo mereka tahu keadaan lo yang kaya sekarang ini" bujuk Nanda biar Lita tak menangis. Nanda sebenarnya tak tega melihat Lita yang sedih dan pasti selama ini ia merasa kesepian karena Nanda juga tak setiap waktu bersamanya. "Jangan sedih lagi ya" sambung Nanda. Ia memeluk Lita dengan penuh kehangatan. Ia mencoba meyakinkan Lita bahwa di dunia ini masih ada orang-orang yang menyayanginya seperti Nanda contohnya.
Saat mereka sedang berpelukan, Dinda sampai tepat di depan pintu ruang rawat Lita. Ia hanya bisa berdiri mematung melihat pemandangan yang menyayat hatinya melalui kaca yang terdapat di bagian tengah pintu kamar itu.
Dinda sengaja menunggu sesi pelukan mereka berakhir barulah ia memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan itu. Ia berusaha menguatkan dirinya sendiri meski rasanya sia-sia datang ke tempat ini. Seperti menyerahkan diri ke kandang singa, sudah tahu akan terluka tapi masih datang juga.
__ADS_1