
"Ma, beli nasi bungkus yuk ke warung Bu Heni" ajak Pak Prima pada Rama. Sedangkan Nanda di biarkan sendirian menikmati angin sejuk di sekitaran lahan jagung Pak Ratmo.
"Hayuk" sahut Rama. "Gais, gue sama Pak Prima mau beli makan, kalian mau pesen lauknya apa?" teriak Rama namun tak ada yang menyahut. "Kalo gitu lauknya di samain aja" teriaknya lagi karena tak mendapat respon apa-apa dari temannya.
Rama dan Pak Prima pun pergi menuju warung Bu Heni. Mereka pergi tanpa memberi tahu Nanda. Sedangkan Nanda kini mencari-cari 2 pria dewasa itu di sekitaran pondok namun hanya ada Ratih di sana.
"Rama sama Pak Prima kemana ya, Tih?" tanya Nanda.
"Pergi beli nasi bungkus, Mas" jawab Ratih sambil duduk menatap hamparan pohon jagung di depannya.
"Oh gitu". Nanda pun akhirnya mendudukkan tubuhnya berjarak 1 meter dari Ratih. Ada perasaan was-was saat Nanda hanya berdua saja di pondok ini bersama Ratih. Namun, mau menyusul Dinda juga tak tahu kemana. Di panggil-panggil tidak ada jawaban.
"Jadi kalian bakal pulang ke kota besok ya, Mas?" tanya Ratih.
"Iya, Tih. Urusan disini udah selesai soalnya" jawab Nanda.
"Urusan apa?" tanya Ratih.
"Mengurus kepindahan Feza" jawab Nanda seadanya.
"Kalo gitu, Mas ... Aku boleh jujur gak?". Ratih pun mengubah posisi duduknya menghadap Nanda. Nanda merasa kaget dengan apa yang Ratih lakukan. Ia juga penasaran hal apa yang ingin dikatakan oleh wanita itu. Ratih menatap wajah Nanda, namun Nanda tak menatap balik ke arahnya. Suasana menjadi hening seketika sebelum akhirnya Ratih mulai membuka suara.
"Aku sangat senang kalian datang ke desa ini. Kalian banyak membantu para warga dan kalian juga mau menjadi teman aku walau baru beberapa hari saja. Aku sedih sebenarnya kalau kalian pergi. Dan yang paling sedih, saat tau kamu sudah punya istri". Ratih terus saja menatap intens Nanda, sampai Nanda akhirnya menatap balik padanya.
"Aku suka sama kamu, Mas. Kamu punya banyak kesamaan sama mendiang suami aku. Dengan melihat kamu, aku bahagia. Karena bisa mengurangi rasa rindu pada suamiku. Kalau saja kamu belum punya istri, aku mau minta sama Tuhan biar kamu saja yang jadi ayah sambungnya Windu". Ratih memutus tatapan mata antara ia dan Nanda. Rasa getir dihatinya karena Nanda hanya diam saja serta malu karena sudah menaruh rasa pada orang yang salah membuatnya tak berani lagi meneruskan ucapannya. Sedangkan sikap Nanda sedari tadi hanya diam, membuatnya makin merasa ditolak mentah-mentah.
"Tih, kamu wanita yang baik. Kamu mampu menjadi sosok ibu yang hebat walau tanpa dukungan suami. Laki-laki mana yang tidak kagum dengan kepiawaian kamu yang pandai mengurus anak dan -"
Cletak
__ADS_1
"Arrgg" keluh Nanda saat tulang keringnya menjadi korban pelemparan jagung yang dilakukan oleh istrinya sendiri. Dan kaget juga kenapa tiba-tiba istrinya sudah berada disini. Ia bahkan tak mendengar suara langkah kaki, lalu sejak kapan istrinya itu datang.
Dinda mendengar semua percakapan bahkan pujian sang suami pada wanita yang bernama Ratih itu. Sampai-sampai ia tak sanggup lagi menahan kekesalannya lalu dengan gesit mencabut buah jagung dari pohonnya dan berjalan mendekat ke arah 2 orang tersebut. Dan melemparkan dengan keras jagung itu kearah suaminya.
"Jadi, ini alasan kamu gak percaya sama aku. Karena sebenarnya kamu juga punya rasa buat dia. Iya?". Dinda mendekat ke arah suaminya
"Sayang, gak gitu sumpah. Dengerin dulu penjelasan aku" Nanda beranjak dari duduknya lalu memegang erat kedua lengan Dinda agar Dinda bisa mendengar penjelasannya.
"Apa untungnya aku dengerin penjelasan kamu? Kamu bahkan gak percaya sama istri kamu sendiri. Kamu tuh harusnya tahu, kalo aku gak pernah nuduh sembarang. Sekarang terbukti kalo ucapan aku bener 'kan? Justru yang gak bisa dipercaya tuh kamu". Dinda menghempas tangan Nanda kasar lalu pergi meninggalkan kebun jagung. Nanda pun berniat mengejar sang istri.
"Maaf Mas, aku udah buat kalian jadi bertengkar" ucap Ratih dengan penuh rasa bersalah atas pertengkaran yang ia sebabkan.
"Iya, Tih. Aku pergi dulu". Nanda pun berlari menuju ke rumah dinas. Ia yakin pasti istrinya pulang kesana. Jangan sampai Dinda ke tempat yang salah, nanti bernasib sama seperti Rama waktu itu.
-
Saat di depan pintu kamar Feza, ia tak mendengar apapun. Akhirnya Nanda membuka pintu itu perlahan.
Dilihatnya Dinda sedang memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper dengan sembarang. Wanita itu sudah tidak berniat menyembunyikan kekesalannya seperti yang sudah-sudah pada sang suami.
Nanda masuk, lalu meraih tangan Dinda. "Sayang, kamu marah?"
Pertanyaan bodoh macam apa ini? Kok bisa-bisanya Tuhan kasih aku jodoh laki-laki yang gak peka begini? Ya Tuhan, kalau ada garansinya aku minta di ganti saja.
"Sayang, jawab dong" rengek Nanda masih dengan ketidak-pekaannya.
Dinda berhenti dengan kegiatan memasukkan pakaian ke koper. Menarik nafas dalam, lalu buang.
"Gak, aku gak marah. Sama sekali gak marah. Buat apa juga marah-marah, belum tentu kamu bakal peka" jawab Dinda dengan emosi yang meledak-ledak.
__ADS_1
"Iya iya, aku tahu kamu marah. Tapi 'kan aku salah apa? Salah karena gak percaya sama kamu?"
"Itu satu" jawab Dinda singkat.
"Sayang 'kan kamu bilang kayanya dia suka aku tapi gak ada buktinya, dan aku ngerasa dia biasa-biasa aja. Sampe akhirnya dia ngaku sendiri baru aku tahu. Apa aku se-salah itu?" tanya Nanda yang membuat Dinda hampir kehabisan kata-kata.
Ya, hampir. Karena wanita selalu punya kalimat-kalimat ampuh untuk mendebat lawan bicaranya. Sebab, wanita adalah makhluk yang lebih cerewet dibanding pria.
Ditambah lagi menurut studi yang di langsungkan di Amerika Serikat mengatakan, bahwa dalam sehari wanita mampu berbicara sampai 20 ribu kata, sedangkan pria hanya 7 ribu kata. Mampus gak tuh?
"Salah banget. Dimana kepercayaan kamu buat aku? Aku ini istri kamu. Kalo kamu lebih percaya orang lain dibanding aku, terus gunanya aku jadi istri kamu tuh apa?"
"Maaf sayang, aku bisa jamin ini kali terakhir aku gak dengerin kamu. Kedepannya aku dengerin kamu terus. Aku sayang kamu, muach muach muach" Nanda terus saja menciumi kedua tangan istrinya sampai Dinda luluh dan menampilkan kembali senyum di wajah cantiknya.
"Yee, istri aku udah gak marah lagi" soraknya dengan gembira. Kalau saja kejadian ini disaksikan oleh para anggota kepolisian bawahannya, runtuh sudah imej Nanda sebagai polisi dan pria tangguh.
"Sini aku bantu keluarin pakaiannya" ucap Nanda nge-baik-baikin istrinya.
"Gak usah, kan besok juga mau pulang" cegah Dinda.
Setelah acara debat-debat tadi, dan juga karena kondisi yang memungkinkan. Akhirnya Nanda pun bisa mendapatkan haknya sebagai suami. Tidak peduli akan nasib teman-temannya yang kini mendengar desah@n nikmat 2 orang itu dari luar kamar.
-
●Hayooo, jangan lupa di like ya. Habis di like, bisa kali komen di bawah. Komen apa aja, kalo bingung kalian bisa kasih vote sebagai gantinya hueheee.
●aku yakin kalian lagi kekenyangan habis makan kerupuk 'kan? Atau lagi di urut karena kecapean balap karung? 😂😂
Yang ikut lomba dan lombanya apa aja, boleh komen dibawah. Ceritain dong keseruannya, kan Otor penasaran
__ADS_1