
Setelah kepulangan semua kaum adam dari masjid, rumah Dinda pun kini sudah di penuhi dengan kedatangan para tamu undangan. Meski Dinda saat ini masih berada di lantai 2, ia bisa mendengar bahwa di bawah sudah banyak tamu yang datang, karena hiruk-pikuk sudah terdengar kemana-mana. Namun, ia tidak tahu apakah si calon suami dan kerabatnya sudah hadir atau belum.
Dinda di dandani dengan tampilan make up flawless, dan terkesan natural di wajahnya. Dinda yang sedang di dandani saja merasa deg-degan bukan main, bagaimana dengan Ariel yang harus berjabat tangan dengan Papa Dinda dan mengucap ijab kabul.
13:30
Di parkiran rumah Dinda, terlihat mobil Nanda yang masuk beriringan dengan mobil milik kerabatnya. Mereka datang jauh-jauh dari luar pulau demi menghadiri acara spesial bagi keponakannya. Keluarga Nanda pun di sambut hangat oleh para penyambut tamu yang berdiri di halaman depan pintu rumah Dinda.
Tak lama kemudian, pak penghulu pun datang berbarengan dengan salah seorang petugas KUA. Mereka pun di persilahkan masuk lalu duduk di tempat akad akan di laksanakan. Yakni di ruang tengah yang memang sudah di dekor khusus akad lengkap dengan karpet, meja, dan kursi.
Tepat pukul 14:00, Nanda di minta oleh penghulu untuk segera duduk di posisinya. Begitu juga dengan papa Dinda. Mereka duduk berhadap-hadapan. Namun sebelum akad dimulai, Nanda di minta untuk mengucap 2 kalimat syahadat. Lalu barulah akad dimulai.
Nanda menjabat tangan papa Dinda dengan mengucap shalawat dalam hatinya karena jujur saja, ini kali pertama dalam hidupnya dan ia berharap pernikahan ini akan kekal abadi selamanya. Seperti kedua orangtuanya, yang sehidup semati. Amiiiin.
"Bismillahirrahmanirrahiim, Nanda Wirawan. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Dinda Astria binti Fadlan Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan senilai 150 juta rupiah, dibayar TUNAI" ucap Papa Dinda dengan lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dinda Astria binti Fadlan Ahmad dengan mas kawin tersebut, TUNAI". Dengan satu tarikan nafas, Nanda berhasil mengucap kabul tanpa kesalahan.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah" ucap para saksi yang hadir di acara tersebut.
"Alhamdulillah"
Semua yang hadir di acara tersebut pun menengadahkan tangan. Mereka berdoa dengan khidmat atas resminya pernikahan yang terjalin di antara Nanda dan Dinda.
Setelah resmi menjadi anak dan menantunya, papa Dinda langsung meneteskan air mata bahagia. Tak lupa, ia juga memeluk sekilas Nanda yang berusaha menahan tangis karena ada sesak dalam dadanya saat menikah tanpa kehadiran orang tuanya yang sudah lebih dulu berpulang menghadap sang Ilahi.
"Papa titip Dinda ya, papa yakin dia bisa menjadi istri yang baik. Kini kamu juga sudah menjadi anak papa, kasih sayang papa dan mama kepada kamu dan Dinda tidak ada bedanya" ucap Papa berbicara pada Nanda saat Dinda masih dalam perjalanan menuju meja akad.
__ADS_1
"Makasih pa, aku izin bawa Dinda untuk tinggal sama aku, boleh?" balas Nanda dengan tatapan penuh harap pada mertuanya itu.
"Tentu boleh, kamu kan suaminya" ucap papa sambil memukul pelan pundak Nanda biar Nanda tak perlu merasa sungkan padanya.
Dinda pun sampai di meja akad, sejak tadi ia tak berani menatap Nanda karena ini kali pertama ia menggunakan dandanan yang menurutnya sangat tebal. Membuatnya malu jika sampai di lihat Nanda.
Nanda pun menyematkan cincin kawin di jari manis tangan kanan Dinda, dan begitu pula sebaliknya. Dinda memasangkan cincin kawin di jari manis Nanda. Lalu mencium punggung tangan suaminya. Setelah itu Nanda memegang puncak kepala Dinda sambil membaca do'a suami kepada istri. Lalu mencium kening Dinda. Sampai sini, Dinda masih malu-malu. Ia tak berani menatap wajah Nanda karena jantungnya masih berdebar dan juga sangat kikuk menjadi pusat perhatian banyak orang.
Selanjutnya Nanda mengucap beberapa kewajiban yang harus ia lakukan setelah resmi menjadi suami. Kemudian mereka berdua mencantumkan tanda tangan pada dokumen pernikahan yang diserahkan kepada keduanya. Lalu mereka pun berfoto bersama para keluarga, kerabat, dan para tamu yang hadir.
Setelah acara selesai, Nanda dan Dinda kini masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Malam ini, mereka akan makan malam bersama di rumah Dinda. Dan setelah itu, Dinda akan ikut Nanda pulang ke rumahnya.
"Sayang, kamu duluan aja pakek toiletnya" ujar Dinda saat keduanya berniat berganti pakaian.
"Kamu aja sayang, aku mah gampang" lalu Nanda langsung membuka jas, kemeja, dan celana panjangnya. Yang tersisa hanya kaos oblong dan celana boxer. Nanda pun sempat mengerlingkan matanya pada Dinda lalu memakai pakaian ganti yang sebelumnya sudah diletakkan Sherly di atas tempat tidur.
"Hahaha, sama istri sendiri boleh dong" jawab Nanda lalu kembali membuka pakaian yang baru saja terpasang di badannya.
"Lah, kenapa di lepas lagi?" Tanya Dinda yang khawatir akan mendapat serangan dadakan apalagi ini masih sore.
"Mau mandi aja deh" ucap Nanda. "Eh tapi, kamu ga mau ganti baju? Daritadi ga ada perubahan sama sekali" sambungnya sebelum melangkah ke kamar mandi.
"Ini, bukain tolong Yank" ucap Dinda lalu berbalik biar Nanda bisa menurunkan resleting kebayanya.
Pikir Dinda, Nanda cukup nurunin sedikit saja resletingnya sampai tangan Dinda bisa buat menggapainya. Eh ternyata Nanda langsung saja menurunkan resleting itu dari atas sampai batas bawahnya. Yang mana, hal itu bisa mempertontonkan bagian belakang bra-nya dan punggung putih mulus yang selama ini sekalipun tak pernah di lihat Nanda.
Nanda menelan salivanya kasar. Besar sekali godaan sore ini. Tapi harus ia tahan mengingat saat ini mereka berada di rumah Dinda yang masih banyak keluarganya di bawah. Bisa di ledek habis-habisan nanti kalau mereka turun dalam keadaan sudah keramas. Bisa saja berbohong, tapi membohongi orang yang lebih berpengalaman itu namanya sia-sia.
"Yank" tepuk Dinda pada tangan Nanda yang masih di posisi memegang resleting.
__ADS_1
"Udah yank" ucap Nanda yang sudah sadar dari lamunannya.
"Aku mandi duluan ya" ucap Dinda kabur menghindari tatapan sayu Nanda.
Nanda pun hanya mampu mengangguk. Ia pun melingkarkan handuk miliknya di pinggang karena tak pernah se"berani" ini sebelumnya di hadapan perempuan. Nanda memainkan ponselnya sambil menunggu giliran untuk mandi.
15 menit kemudian
Cklek
"Yang, minta handuk. Di jemuran balkon" ucap Dinda tak lupa memberitahu dimana keberadaan handuknya.
Nanda pun bangkit berdiri mengambil handuk Dinda yang terjemur di balkon. Ia masuk lalu memberikannya pada Dinda yang mengeluarkan tangannya di pintu.
Tak lama, Dinda pun keluar dengan hanya menggunakan bathrobe dan handuk yang melilit rambut tepat di atas kepalanya.
"Ah Yank" Nanda tiba-tiba seperti menyesali sesuatu. Membuat Dinda heran ada apa dengan suaminya ini.
"Kamu kenapa?" tanya Dinda mengelus pipi suaminya.
"Kamu keramas" desisnya dengan setengah merengek seperti bocah kehilangan jajan.
"Ya terus kenapa?" tanya Dinda masih tak mengerti.
"Dari pada kamu keramas tanpa sebab, mending tadi kita hore-hore dulu" sesalnya karena daripada di bully tapi gak ngapa-ngapain. Lebih baik di bully tapi ngapa-ngapain, masih ada enaknya.
●●●
Vote novel ini yaa, dan kasih like serta komentar kalian supaya novel ini panjang umur dan sehat terus, eh
__ADS_1