
1 bulan berlalu, kehidupan rumah tangga Dinda dan Nanda terlihat semakin hangat setelah kehadiran Feza waktu itu. Dan tak ada satupun di antara mereka yang tahu bahwa setelah kepulangan Feza dan Pak Permana dari restoran itu kini Feza berada di sebuah tempat terpencil. Ia dikirim kesana oleh papanya agar bisa bertingkah lebih baik dari sebelumnya. Apalagi dengan gelar dokternya itu, Feza bisa menjadi manusia yang berguna untuk menyalurkan ilmunya ditempat tersebut.
Walau dalam hati Feza ia sangat mendendam pada Dinda dan Nanda yang telah membuat dirinya dikirim ke tempat yang sama sekali tak punya sarana hiburan seperti di kota tempat tinggalnya. Jangankan hiburan, bahkan sinyal untuk kartu provider apapun tak ada disini. Di setiap harinya, Feza hanya duduk di puskesmas desa menunggu pasien yang datang berobat. Atau menunggu seseorang menjemput untuk diminta mengobati pasien rawat jalan di rumahnya.
-
Di tempat lain
Dinda dan Nanda kini sedang bersilaturahmi kerumah orang tuanya. Mereka berbincang-bincang perihal sesuatu yang menyenangkan bahkan termasuk membully Sherly. Yang kabarnya beberapa hari ini pulang sekolah selalu tak mau di jemput sopir atau pulang bareng papa. Justru ternyata ia pulang di antar oleh seorang laki-laki yang kata Mama berambut ala jamet alias jawa metal.
"Ma, itu tuh keren tau. Mama aja yang gak ngerti seni" bela Sherly.
"Seni apaan kaya gitu. Model rambut kan ada banyak, kenapa milih yang jeleknya" ujar Nanda yang setuju dengan pendapat Mama padahal Nanda sendiri belum melihat bentukan si laki-laki tersebut.
"Ishhh, belom apa-apa udah dikatain. Bilang aja aku dilarang pacaran" rutuk Sherly yang memelas karena sudah tahu maksud dan tujuan semua orang dihadapannya.
"Tuh tau" ujar keempat orang itu berbarengan.
Setelah waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Dinda dan Nanda pun berpamitan ingin pulang. Keduanya mengajak Sherly untuk menginap dirumah lama mereka, namun Sherly menolak karena ia takut abangnya itu akan memarahinya karena ketahuan punya gebetan. Kalau disini, abang akan jaga image dan tak berani memarahi Sherly di depan papa mama, tapi kalau dirumahnya sendiri pasti Nanda akan bebas sepuasnya memarahi Sherly. Oleh karena itu, Sherly enggan untuk ikut pulang kerumah lamanya bersama Dinda dan Nanda.
"Ayolah, pulang. Abang rindu" bujuk Nanda yang terdengar aneh ditelinga Sherly karena jarang sekali abangnya itu berkata manis seperti "rindu", pikirnya. Bahkan Nanda sampai menyeret-nyeret tangan Sherly. Kentara sekali bahwa ajakannya berupa paksaan. Tapi Sherly buru-buru meneriakkan papa mamanya agar Nanda berhenti menyeret dirinya sampai teras.
"Gak mau. Kata papa pengantin baru jangan diganggu" ujar Sherly yang sudah terlepas dari seretan Nanda.
"Baru apanya, udah lama gue nikah. Jovan dan yang lain juga kerumah mulu nanyain lu" rayu Nanda agar adiknya pulang bersama dirinya.
"Boong lu bang. Orang mereka udah tau dari lama kalo gue pindah kesini" timpal Sherly yang ketahuan dibohongi Nanda.
"Nan, Sher, ngapain debat-debat disini. Masuk-masuk, Dinda juga lagi nyiapin makanan buat dibawa kerumah kalian" ujar mama menengahi pertengkaran keduanya.
"Ini ma, susah banget sekarang ngajak dia pulang. Takut mungkin si jamet kesayangannya itu di omelin" ujar Nanda yang memang penasaran dengan sosok yang mendekati adiknya itu.
"Udah udah, yang penting kan gak pacaran ya Sher" bela mama yang baik hatinya.
"Huuu, dengerkan? Yang penting gak pacaran" Sherly pun berlalu masuk kedalam meninggalkan abangnya sebelum Nanda kembali melontarkan keberatannya.
__ADS_1
Setelah Dinda selesai menyiapkan makanan yang sudah di masak oleh mama dan Bi Hanum ke dalam tupperwore, Dinda dan Nanda pun pamit pulang. Mereka tak perlu pusing lagi mau makan apa nanti malam karena sudah di bawakan dari rumah mama masakan yang enak.
Sesampainya dirumah, terlihat kondisi rumah mereka dalam keadaan gelap. Mungkin tadi sebelum Bibi pulang, ia lupa akan pesan Dinda untuk menyalakan seluruh lampu teras agar terlihat seperti ada penghuninya.
"Bibi tuh pelupa banget ya, apa perlu kita ganti pemain?" tanya Nanda bercanda.
"Kamu tuh ya, tega banget" ujar Dinda lalu keduanya masuk kedalam rumah berbarengan dengan adzan maghrib di samping rumahnya.
"Yank, aku sholat di masjid ya" pamit Nanda yang masuk rumah hanya untuk mengambil sejadahnya dan mengganti celananya dengan kain sarung.
"Iya sayang, bawa kunci sekalian ya. Aku mau mandi"
Akhirnya Nanda pun berangkat pergi untuk sholat maghrib di masjid. Seperti biasa, Nanda sholat berjamaah dengan para tetangganya mulai dari bapak-bapak sampai para remaja yang wajahnya memang sudah sangat ia hapal.
"Bang!" sapa Jovan tetangga Nanda sekaligus teman adiknya.
"Eh Van, tumben ni" ujar Nanda karena jarang sekali bisa bertemu pemuda tanggung itu di masjid.
"Hehe, lagi ngarep sesuatu sama Tuhan soalnya" ujar Joval malu-malu.
"Bang, kemaren kemana? Aku liat ada tamu kerumah abang tapi mungkin karena gak ada orang dirumah, jadi dia pergi gitu aja" adu Jovan pada Nanda sambil keduanya duduk-duduk di teras masjid.
"Oh, abang lembur kemaren. Terus kak Dinda pulangnya juga jam 3 sore biasanya. Emang tamunya datang jam berapa?" tanya Nanda.
"Sekitar jam setengah 2 bang. Aku perhatiin aja mana tahu mau nanya alamat kan bisa tanya aku. Tapi pas dia liat aku ya langsung pergi" ucap Jovan.
Plak
Nanda memukul siku Jovan yang sedang di hinggapi nyamuk.
"Aduh bang, mukul nyamuk apa memang ada dendam lama sama gua?" rengek Jovan sambil mengelap sikunya yang terdapat darah nyamuk.
"Ya udahlah Van, kalo memang dia ada perlu pasti datang lagi. Yuk pulang banyak nyamuk nih" Nanda melongos pergi tanpa menanggapi rutukan Jovan yang ia tinggal di belakang.
"Bang... Bang, calon ponakan buat gue udah ada belom?" tanya Jovan sambil mensejajarkan langkahnya dengan langkah Nanda.
__ADS_1
"Do'ain aja. Yang jelas produksinya tetap lancar" jawab Nanda lalu masuk kedalam pekarangan rumahnya sedangkan Jovan masih harus berjalan menuju rumahnya yang berada di samping rumah Nanda.
"Huu, dasar nafsuan" ledek Jovan masih terdengar di telinga Nanda.
"Biarin wee, anak kecil jangan ngebayangin" titah Nanda yang menggoyangkan telunjuknya pertanda "dilarang". Sedangkan tangan satunya sedang membuka kunci pintu.
Jovan pun tak menjawab lagi perkataan Nanda karena si polisi itu sudah keburu masuk dalam rumahnya. Nanda yang bergegas ingin meletakkan sejadahnya pun segera ke kamar. Ternyata Dinda baru saja selesai menunaikan sholat.
"Kok lama Yank?" tanya Dinda.
"Itu tadi ngobrol dulu sama Jovan. Dia juga nanyain calon ponakannya udah ada apa belom"
"Oh, dasar si Jovan. Dia tuh setiap hari ketemu aku, dan nanyanya itu mulu" beber Dinda.
"Ketemu gimana?" tanya Nanda.
"Kan aku berangkat kerja selalu barengan sama dia yang lagi ngeluarin skuter kesayangannya. Terus aku berangkat duluan nanti pasti di jalan dia gedor kaca mobil aku, terus nanya deh tuh" ucap Dinda bercerita perihal kelakuan tetangganya yang bernama Jovan itu.
Tangan Nanda tiba-tiba meraba-raba di sekitar dadanya, Dinda sudah dapat menebak sesuatu yang akan terjadi 1 menit kedepan.
"Gimana kalo -..."
"Ya ampun, makan malam kita belom aku keluarin dari tupperwore" potong Dinda saat suaminya belum selesai bicara dan lalu pergi ke dapur sebelum suaminya makin mes*um.
"Yank, tanggung jawab donk. Udah on ini" teriak Nanda yang berbaring lemas di tempat tidurnya dengan masih menggunakan kain sarung anti ribet kalo mau 'bertarung'.
Bener juga kata si Jovan, gue nafsuan hehe.
●●●
Hai-hai-hai....
Apa kabar gengs, udah lama ya aku gak nyapa kalian. Sowryy, soalnya aku tuh emang sombong banget orangnya haha...
Eh iya, kalian jangan lupa like dan komen ygy, sekalian vote juga dong gengs, terimakasih:)
__ADS_1