
Pukul 6 pagi matahari sudah kelihatan. Tampaknya siang ini akan sangat terik di banding biasanya. Dinda dan Feza sudah terlihat sibuk membuat sarapan di dapur.
Nanda yang semalam begadang karena menahan gejolak dari hasrat yang tak tersalurkan akhirnya bangun kesiangan. Biasanya ia yang paling pagi bangunnya karena sudah kebiasaan untuk melakukan olahraga ringan seperti push up atau sekedar lari pagi di sekitaran rumah dinas dan puskesmas saja.
"Wah, wanginya udah kemana-mana" puji Rama sambil nyomot segenggam keripik singkong di toples.
"Nanda sama Pak Prima mana?" tanya Feza.
"Nanda masih tidur, Pak Prima lagi bangunin dia. Eh yang bangun malah bukan orangnya" ungkap Rama.
Dinda tersenyum geli mendengar ucapan Rama. Namun, senyum itu ia sembunyikan dari Rama dan Feza. Sebab, Dinda tahu apa yang di alami suaminya.
"Terus apa?". Lah, si Feza pakek nanya lagi.
"Anu" jawab Rama.
"Anu apa?" tanya Feza lagi.
"Ah lu, dokter macam apa sih? Gitu doang ga tau" rutuk Rama.
"Kan anu ada namanya, kenapa harus di sebut anu-anu" sambut Feza.
"Anu apa sih?". Eh yang anunya lagi di bahas nongol.
"Baru bangun?" sambut Dinda dengan wajah memerah.
"Iya, aku mau mandi" ucap Nanda dengan meraih handuk di gantungannya.
"Mandi apa tuh?" tanya Rama dengan jahilnya.
"Bodo" sahut Nanda lalu menutup pintu kamar mandi yang tak jauh dari dapur walau terpisah dari bangunan rumah itu sendiri.
Mereka pun menertawai kelakuan Nanda. Sebab di antara mereka laki-laki, yang ketahuan mimpi basahh hanya Nanda. Sedangkan yang lain benar-benar tidak ketahuan. Ini juga karena Rama yang ngebocorin pada Dinda dan Feza. Kalau tidak, ya nggak akan ketahuan juga. Dasar Rama!
Dinda menyadari sesuatu walau dirinya baru 2 malam saja menginap di rumah ini bersama yang lain. Yaitu, tampaknya Rama dan Feza selalu terlihat saling memperhatikan. Apakah ada benih-benih cinta di antara mereka? Ataukah sudah ada pembicaraan ke arah sana?
Hanya mereka berdua yang tahu. Sebab, Feza pun tak pernah curhat tentang Rama pada Dinda. Rama pun juga sama, yang dibahasnya sama Nanda paling seputar cewek-cewek bening di desa ini. Kalau ketahuan Dinda barulah pada diam.
"Za, nanti di Jakarta mau balik kerumah sakit?" tanya Rama yang sudah tahu bahwa Feza sudah mengundurkan diri jadi dokter di rumah sakit yang sama ditempatnya bekerja.
__ADS_1
"Gak ah, Ma. Aku rencana mau buka klinik aja, gak mau balik ke rumah sakit lagi" jawab Feza saat mereka bersama-sama sarapan diruang tengah.
"Ya udah, nanti gue bantu urus perizinannya" ujar Rama.
"Makasih Ma" jawab Feza tersenyum.
"Lo sendiri? Gak mau cari pacar lagi?" tanya Nanda pada Rama.
"Jodoh bakal datang sendiri, gak perlu repot-repot nyari" jawab Rama santai.
"Yeee, tetangga gue juga ada tuh yang ngomong kaya gitu barusan. Sampe umur 45 belum nikah-nikah juga" ujar Nanda begitu sangat meyakinkan padahal sedang berbohong.
"Tetangga kita yang mana?" tanya Dinda kepo.
"Ada, kamu belom kenal. Nanti pulang aku kenalin" ucapnya demi meyakinkan kebohongannya tadi.
"Ah sialan lo. Ya udah, nanti pulang ke Jakarta gue cari" timpal Rama yang tak mau senasib dengan tetangga Nanda.
"Ngapain harus nunggu ke Jakarta. Bukannya yang di sini juga ada?" tanya Pak Prima.
"Emh Bapak bisa aja" sahut Nanda.
"Itu" tunjuk Nanda dengan dagunya karena di halaman rumah mereka sudah ada Ratih yang datang membawa kresek yang tak tahu apa isinya.
"Assalamu'alaikum" salam Ratih di depan teras.
"Wa'alaikumsalam Tih, sini masuk aja sekalian sarapan bareng kita" sambut Feza.
Ratih pun masuk dan duduk di samping Feza dan Rama. "Gak usah Za makasih. Aku udah sarapan kok. Aku kesini mau kasih buah pepaya dari kebun Bapak" ucap Ratih yang tersenyum pada semuanya.
Wanita ini sedikit takut pada Dinda, walau Dinda tak tahu akan perasaannya pada Nanda. Namun, ia tetap merasa bersalah pada Dinda dan tak mungkin meminta maaf, karena Dinda pasti akan makin curiga dan bertanya alasan dirinya meminta maaf. Oleh karena itu, Ratih berusaha bersikap biasa saja dan mengabaikan sorot mata Dinda yang terus menatapnya intens.
"Makasih Tih. Wah, gede banget lagi buahnya" ujar Rama senang.
"Iya, dan kalau kalian mau kalian bisa ikut ke kebun Bapak. Sekedar cuci mata atau jalan-jalan aja, biar gak bosen disini" ujar Ratih.
"Ide bagus tuh, kita kan besok udah mau pulang. Jadi hari ini kita jalan-jalan aja" ujar Feza.
"Gimana?" sambungnya sambil menatap ke satu-persatu temannya.
__ADS_1
Akhirnya semua setuju, bahwa habis sarapan ini mereka akan bersiap untuk pergi ke kebun milik Pak Ratmo. Ratih pun dengan setia menunggui mereka selesai sarapan dan bersiap.
Saat diperjalanan, Dinda berjalan bersisian dengan Nanda. "Sayang, jujur ya aku gak suka sama dia" ungkap Dinda sambil mendongak ke samping menatap suaminya.
"Kenapa ga suka?" tanya Nanda lalu merangkul pundak istrinya.
"Entahlah. Kayanya dia suka sama kamu" ujar Dinda dengan ekspresi yang seketika berubah menjadi kesal.
"Gak mungkin. Sedangkan dia aja tahu kalo aku udah punya istri" kata Nanda.
"Jadi kamu gak percaya sama aku?" tanya Dinda kesal.
"Dengan terpaksa, aku jawab jujur. Iya, aku gak percaya sama kamu".
Mendengar jawaban Nanda, Dinda menjadi makin kesal padanya. Dilepaskannya tangan Nanda yang menggelayut di bahunya. Lalu, ia berjalan cepat meninggalkan sang suami sendirian di belakang.
Sampainya mereka di kebun jagung Pak Ratmo, mereka pun langsung duduk di pondokan sederhana tempat Pak Ratmo beristirahat.
Kebun jagung milik Pak Ratmo ternyata cukup luas, di pinggiran lahan jagungnya di tanami pohon pepaya dan singkong. Bahkan ada juga tanaman lain namun hanya 2-3 batang saja. Seperti pohon nangka dan pohon cempedak.
Tanaman jagungnya pun di tanam berjarak 3 meteran dari setiap batas pinggiran. Sehingga tidak akan terganggu oleh dahan-dahan pohon yang ada di tepinya.
"Wah, harusnya bawa makanan kesini tadi. Enak banget maka siang dengan suasana alam kaya gini. Anginnya juga sejuk banget" ucap Pak Prima.
"Iya pak. Nanti makan bareng aja sama Bapak saya. Beliau lagi milih bibit jagung di situ" ungkap Ratih.
"Gak usah, nanti saya beli aja di warung Bu Heni" tolak Pak Prima.
"Iya Tih, kita beli aja nanti. Bisa makan sama-sama disini" sambung Rama.
"Din, kesana yok. Kayanya bagus tuh buat foto-foto" ajak Feza ke tengah-tengah perkebunan. Dinda pun mengikutinya.
Berlatar belakang kebun jagung yang sangat luas dengan warna daun yang serba hijau ditambah lagi sudut pengambilan foto yang tepat oleh tangan 2 wanita ini sehingga menampilkan kontrasnya warna langit dan hamparan tanaman jagung serta pose menarik Feza dan Dinda sehingga foto yang mereka ambil menjadi begitu estetik.
...---------...
-------~Hai guys, makasih ya buat para pembaca yang royal dan loyal banget. Setia nungguin aku update dan selalu beri like, vote, dan komen. Kalo kata Nayoen, i pop you😚
---------~Tapi bagi yang belum sempat absen jempolnya, tolong disegerakan hhee. Kalo udah, komen dibawah⬇ Votenya juga jangan lupa, hadiah juga sekalian kalo bisa hehehe
__ADS_1