(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Tiba-Tiba Saja


__ADS_3

Jangan ngaku baik kalo kalian pelit like dan komen😏


*


*


*


Feza➡Dinda


"Za, sibuk ga? Gue mau kasih tau sesuatu nih tapi sambil makan siang aja"


Dinda➡Feza


"Kuy, hujan-hujan gini enaknya yang anget-anget. Ngebakso aja gimana?"


Feza➡Dinda


"Boleh deh, dimana tuh?"


Dinda➡Feza


"Bakso kriwil mas kribo, 100 meter dari kantor gue. Kalo lo dari arah rumah sakit Rama, letaknya sebelum kantor gue"


Feza➡Dinda


"Oke👍👍"


Hari ini rencananya Feza akan meceritakan perihal dirinya yang akan lamaran sama Rama. Mulai dari awal mulanya kenapa bisa tiba-tiba mau lamaran sampai ke rencana resepsinya.


*


*


Ditempat berbeda


Tok tok tok


Terdengar seseorang mengetuk ruang direktur dengan sangat tidak sopan. Orang tersebut membuat konsentrasi Rama yang sedang memeriksa beberapa berkas menjadi buyar.


Ia terganggu namun tetap mempersilahkan seseorang itu untuk masuk.


"Masuk" ucapnya.


Pintu pun terbuka, dengan seksama Rama memperhatikan hal itu sampai akhirnya menampilkan sosok yang sebenarnya tak lagi ingin ia lihat. Rama tercekat, rasanya belum sanggup untuk berurusan lagi dengan orang ini. Tapi ia tetap menjaga wibawanya dan membohongi dirinya sendiri.


"Ada apa?" tanya Rama dengan kembali sibuk membaca berkas.


"Aku dengar kamu mau lamaran" ucap Maudy dengan wajah memerah dan kilatan kemarahan begitu kentara di matanya.


"Yang kamu dengar itu tidak salah. Lalu apa urusan kamu sampai datang menemui aku?" tanya Rama bersikap santai dan tidak mau melihat Maudy yang berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Beberapa bulan lalu kamu masih curi-curi pandang padaku, lalu kenapa tiba-tiba kini bahkan lebih dulu kamu lamaran dibanding aku" ujar Maudy.


Rama menghempas berkas ke meja.


"Kenapa? Kamu tidak terima?" tanya Rama sambil berdiri lalu menopang tubuhnya menggunakan dua tangan ke meja. Ia tersenyum menyeringai menatap Maudy.


"Aku tidak masalah, hanya saja aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Aku tahu kamu tidak mencintainya, kamu cuma gak mau kalah sama aku. Kamu masih terlalu mencintaiku sampai menjadikan wanita itu pelampiasan. Rama, pernikahan bukan ajang perlombaan. Bukan mainan -..."


Belum selesai Maudy berbicara, Rama sudah memotongnya.


"Kalau kamu kesini hanya untuk menceramahiku, lebih baik kamu pergi. Aku sudah bukan Rama yang dulu. Dan kalau kamu berpikir aku hanya main-main, kamu salah".


"Rama, aku kenal kamu lama. Aku tau kamu masih cinta sama aku. Karena kalau memang kamu tidak mencintai aku lagi, lalu kenapa kamu masih peduli sama aku? Aku tahu kamu sampai mengirim orang buat mencari tahu siapa laki-laki yang setiap hari selalu antar jemput aku kerumah sakit. Aku juga tahu, kamu yang sudah minta satpam untuk melarang mobil dia masuk ke rumah sakit ini. Sampai-sampai dia harus parkir di pinggir jalan buat nungguin aku. Apa kamu masih mau mengelak?" tantang Maudy yang geram karena wajah Rama masih terlihat datar meski semua kelakuannya sudah Maudy ketahui.


"Lalu kalau aku mengaku masih mencintaimu, apa kita bisa kembali seperti dulu? Tidak 'kan?" ucap Rama. Ia kembali mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


Maudy berjalan mendekati Rama. Selama ini ia hanya berpura-pura tak lagi mencintai Rama. Itu karena diminta oleh keluarganya agar lebih mudah hatinya menerima Arjuna - lelaki yang telah dijodohkan dengannya.


Maudy berdiri disamping Rama, sedangkan Rama hanya terpaku di tempatnya. Maudy memainkan rambut Rama dengan jari-jari lentiknya. Hal yang dulu saat masih berpacaran sering ia lakukan jika dirinya sedang badmood.


Diperlakukan seperti itu, Rama tidak menggubris tindakan Maudy. Ia hanya membiarkannya saja.


"Aku masih cinta sama kamu. Aku selama ini cuma pura-pura kuat depan kamu. Aku pura-pura bahagia" perlahan-lahan Maudy mendekatkan wajahnya ke wajah Rama. Karena Rama masih diam, ia berpikir bahwa Rama juga menginginkan lebih. Lalu dengan sedikit berani, Maudy mengarahkan bibirnya ke bibir Rama, dengan jarak yang cukup dekat dan semakin mengikis jarak.


"Hentikan! Kamu masih ingat perkataanmu waktu itu? Bahwa aku tidak akan pernah bisa membuka hati jika aku sendiri belum mencoba. Kini aku sudah mencobanya, lalu mengapa kamu ingin mengacaukannya?" Rama mengeratkan rahangnya dan menggertak Maudy dengan kata-kata Maudy sendiri. Ia tahu dirinya harus menjaga jarak dengan Maudy.


Maudy tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia mengambil langkah mundur lalu pergi meninggalkan Rama tanpa sepatah kata. Menyedihkan memang, ditolak mentah-mentah oleh lelaki yang masih sangat dicintainya.


Rama kembali berkutat dengan berkas-berkasnya yang tadi sempat terhenti. Tak lama ia mendapati pesan dari Feza.


Feza➡Rama


"Nanti aku makan siang bareng Dinda sekalian mau ngundang ke acara lamaran kita"


Rama membacanya namun tak membalasnya. Ia merasa bersalah saat ini. Dirinya merasa telah mempermainkan Feza. Untuk mundur dari rencana lamaran pun tak mungkin. Itu artinya, akan menjadi kasus kedua kali dirinya menghilang saat mau lamaran.


Rama merenung diruangannya. Ia merasa puas mendengar kejujuran Maudy. Ia tahu bahwa Maudy kini tengah cemburu padanya yang akan segera lamaran bersama wanita yang Rama rasa Maudy belum tahu siapa calon istrinya itu. Kalau sempat tahu, mungkin saja Maudy akan mengolok-olok Feza dihadapannya yang merupakan korban peleecehan.


Rama bimbang, walau dirinya sudah yakin untuk tetap mau melamar Feza tapi kedatangan Maudy pagi ini keruangannya membawa beban tersendiri dalam hatinya. Rasa bersalah pada Maudy pun juga ada. Ada, yaitu telah menolak dicium olehnya.


"Arrrrggg" Rama kesal dan menampir pipinya beberapa kali dengan cukup keras.


"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku menjadi seperti ini. Bukankah niatku sudah bulat untuk menikahi Feza?". Rama mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu yang kemudian ia kirim pada Maudy.


Rama➡Maudy


"Maafkan aku"


Maudy➡Rama


"Kamu gak salah, tapi aku yang salah"

__ADS_1


Rama➡Maudy


"Nggak, aku yang salah"


Maudy➡Rama


"Terserah😋"


Rama➡Maudy


"Nanti mau makan siang bareng?"


Maudy➡Rama


"Boleh"


Rama➡Maudy


"Tapi keruangan aku dulu"


Maudy➡Rama


"Okeey"


*


*


Saat jam makan siang tiba, Dinda segera menuju tempat dirinya dan Feza sudah janjian. Diperjalanan, ia mendapati chat dari sang suami yang mengatakan bahwa baru saja melihat Rama gandengan sama cewek dan makan siang bareng yang ia duga itu pasti Maudy. Dinda hanya membalas dengan satu kalimat yaitu "Masih belum move on😒". Lalu tidak ada lagi balasan chat dari suaminya.


Setelah sampai, ternyata Feza sudah menunggunya.


Siang itu, Feza bercerita bahwa dirinya akan lamaran dengan seorang pria yang membuat Dinda ikut bahagia mendengarnya.


"Lo harus datang ya sama Nanda. Jangan lupa ajak Sherly juga. Acaranya habis Jum'atan di Hotel Marsutta. Ya ya ya" paksa Feza dengan mengguncang lengan Dinda.


"Inshaa Allah, gue dateng. Tapi lo belum kasih tau gue siapa calonnya" ucap Dinda karena sedari tadi Feza hanya menceritakan betapa sibuknya ia mempersiapkan acara ini dan lupa menyebut siapa calon suaminya nanti.


"Rama" Feza meyunggingkan senyum setelah menyebut nama yang ia yakini akan membuat Dinda kaget tercengang-cengang.


Dan benar saja, Dinda kaget. Masalahnya barusan tadi suaminya memberitahu kalau Rama pergi makan siang dengan seorang wanita dan gandengan pula.


Dinda bingung kini harus menceritakan itu kepada Feza atau tidak. Sebab melihat Feza yang terlihat bahagia membuat Dinda jadi tidak enak. Takut jika kabar darinya ini membuat hati Feza tersakiti.


...$...


...$...


...$...


^^^Jangan lupa like dan komen ygy, dan terimakasih buat yang udah kasih saran ke aku biar tulisanku ini jadi berkembang semakin bagus dan rapi🤗😚^^^

__ADS_1


__ADS_2