(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Wanted!!!


__ADS_3

Sebelum baca, jangan lupa kasih vote dan likenya yaa...


****


Malam harinya, suasana terasa sangat mencekam bagi ketiga pemuda yang sudah terbiasa dengan segala hiruk-pikuk kehidupan dikota. Setelah makan malam, cuci piring, dan sholat isya mereka hanya duduk-duduk ditengah pondok tanpa ada kegiatan yang berarti.


Nyamuk kesana-kemari ditelinga dan mereka selalu siaga menepuk kala nyamuk itu hinggap dipermukaan kulit mereka. Tapi semakin malam, nyamuk semakin banyak membuat mereka tak bisa tidur. Dan saat malam semakin larut, suara hewan malam juga makin terdengar.


Suara jangkrik dan burung hantu sangat mendominasi. Lalu tiba-tiba dari tiang pondok yang ada dibawah mereka, terasa ada yang memukulnya. Itu terasa oleh mereka bertiga karena getaran dari kayu ke kayu tentu saling berhubungan.


Zapata pun membangunkan kakek dan memberitahu pelan-pelan kalau di bawah ada sesuatu. Kakek dengan santai bangkit dari pembaringannya dan membuka jendela lalu mengarahkan cahaya senter ke arah yang Zapata maksud.


Ternyata dibawah ada segerombolan babi hutan yang sedang mencari makan. "Oh, babi hutan" ujar kakek.


Zapata dan yang lain pun menongolkan wajah di jendela guna melihat bagaimana bentuknya si babi hutan itu.


"Ih, beda banget sama babi pink" ucap Zapata.


"Yang ini gede banget coy badannya" tunjuk Rama dengan kekaguman.


"Mirip kebo tapi pendek" ucap Nanda.


"Kebo pendek" jawab Zapata dan Rama serentak.


"Kalo udah di naturalisasi jadi kebo, artinya halal dong ya" celetuk Nanda.


Rama dan Zapata termangu, "Ih, gak gitu konsepnya" Zapata akhirnya menutup jendela yang terbuat dari papan itu lalu meminta yang lain untuk segera tidur.


Pagi harinya setelah Rama, Zapata, dan Nanda selesai melaksanakan sholat subuh, kakek berpamitan hendak pergi kehutan untuk mencari bahan makanan dan juga obat untuk Bibin. "Kek, tunggu kek. Aku mau ikut!" ujar Nanda.


"Eh gue juga deh kalo gitu" sambut Rama. Nanda dan Rama pun menyusul kakek yang telah menuruni tangga.


"Woi, kok gue ditinggal?" teriak Zapata dari jendela pondok.


"Lu jaga Bibin" teriak Rama dan Nanda yang sudah masuk ke kebun singkong milik kakek.


Rama dan Nanda berjalan tepat di belakang kakek. Sudah satu jam di dalam hutan, mereka juga sudah mendapat banyak bahan makanan untuk dimasak hari ini.


"Kek, pegel yang kemaren aja belum ilang total. Eh sekarang udah dibawa jalan jauh lagi" protes Rama.


"Kita mau cari daun obat untuk temanmu" ujar kakek.


"Masih jauh ya kek?" tanya Rama.

__ADS_1


"Masih. Kita harus nyebrang sungai juga yang ada di depan sana" ujar kakek.


"Nan, beneran ini gue udah cape banget. Udah ngos-ngosan" Rama mengadu pada Nanda.


"Kek, ini Rama udah kecapean. Gimana kalo kita nunggu kakek disini aja sekalian istirahat"


"Iya, tidak apa-apa. Biar kakek sendiri saja" lalu kakek pun melanjutkan perjalanannya semakin masuk kehutan.


Rama dan Nanda menyusun beberapa daun bambu untuk menjadi alas duduk. Hutan masih sedikit gelap karena sinar matahari belum menembus celah-celah pepohonan. Meski begitu, mata mereka sudah beradaptasi dengan minimnya cahaya sejak masuk kehutan tadi.


Sreeek sreeek tak


Rama dan Nanda saling berpandangan saat mendengar ranting pohon yang patah dan langkah kaki yang kemudian disusul langkah kaki beberapa lainnya. Nanda dengan cepat mencari sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk melindungi diri dan ia segera bersiap-siap menyerang barangkali itu adalah hewan buas yang siap memangsa mereka berdua.


Rama berdiri di belakang Nanda dengan keringat bercucuran. Belum apa-apa ia sudah basah duluan.


"Nan, kasih tips kek kira-kira kalo kita gulat lawan mereka mesti nyerang kek gimana"


"Gampang, serang aja bagian tulang kering atau alat vitalnya, atau bisa juga lo incar batang hidungnya sampe berdarah" ujar Nanda dengan sikap pasang kuda-kuda.


"Terus ini kita beneran mau fight lawan mereka?"


"Cari mereka sampai ketemu" ujar salah satunya dari balik rerimbunan semak. Suaranya kasar, tegas, membuat nyali Nanda hilang entah kemana.


"Ayo, tapi jangan lari kearah pondok. Kasian Bibin sama Zapata nanti ketahuan" tarik Rama untuk lari ke arah berlawanan.


Mereka pun berlari cepat sebelum wajah-wajah mereka dilihat oleh preman tersebut. Ternyata pelarian mereka yang tanpa arah itu justru mengarahkan mereka ke pondok kakek.


Akhirnya karena lelah, mereka pun langsung naik dan Zapata yang mendengar langkah cepat di tangga terkejut saat melihat Rama dan Nanda basah karena keringat. Zapata memberi mereka minum.


"Kakek mana? Kok gak bareng kalian?"


"Panjang ceritanya. Yang jelas kami berdua hampir tertangkap sama orang-orang itu" ujar Nanda.


"Orang-orang siapa?" tanya Zapata.


"Premannya Romi" sahut Rama dengan nafas masih tersengal-sengal.


"Mereka ngejar kalian?"


"Kayanya nggak, soalnya mereka masih jauh terus kami udah cepat-cepat lari"


"Baguslah kalo gitu"

__ADS_1


"Nan, sorry banget tadi gue suntuk abis terus pakek hp lo buat cari tahu berita tentang Romi. Terus di berita itu dibilang kalo Romi kabur pakek helikopternya dan ada juga kasus tahanan pengganti yang namanya Yono itu meninggal" ujar Zapata.


"Apa? Yono meninggal? Kapan?" tanya Nanda.


"Kemaren pagi" jawab Rama.


"Ma, kok lo tau?" tanya Nanda.


"Iya, gue dikasih tau Feza kemaren siang waktu dia telpon. Tapi itu juga maunya Dinda biar lo gak kepikiran" ungkap Rama.


"Kok kalian pada tega sih bohongin gue" kesal Nanda.


"Udah-udah. Sekarang fokus aja dulu sama yang didepan mata. Jangan bertindak gegabah dan lo jangan sedih. Kita disini pasti ada hikmahnya, begitu juga dengan kepergian Yono. Satu lagi, kita keluar dari hutan kalo Romi benar-benar sudah ketangkap. Karena kalo Romi belum tertangkap dan kita udah keluar dari hutan duluan, bisa-bisa si Romi aman terus kita bertiga jadi tumbalnya. Apalagi mobil gue udah pasti digondol mereka. Sialan tu, pasti dijual mobil kesayangan gue buat modal gempur kita" Zapata menenangkan Nanda yang hampir putus asa tapi dirinya sendiri nelangsa karena kehilangan mobilnya.


"Terus semalam Dinda bisa ketawa-tawa telponan sama gue, itu juga biar gue gak ngerasa ada apa-apa?"


Rama mengangguk.


"Kompak banget kalian" Nanda pun pergi kebelakang pondok. Mencuci muka dan membersihkan dirinya.


Ia mengirimkan Al-Fatihah dengan sambil menatap langit. Terukir jelas raut kesedihan bapak saat terakhir kali Nanda bertemu dengannya.


Sempat terbesit dalam pikiran, saat nanti Yono telah bebas. Akan ia kembalikan lagi taman bunga dan kafenya untuk modal Yono menyambung hidup di Jakarta.


Tapi niat baiknya tak akan terlaksana, kini Yono pergi dengan meninggalkan tanda tanya. Naluri kepolisiannya belum puas hanya mendengar kematian Yono tanpa tahu sebabnya.


Nanti saat di Jakarta, akan Nanda cari tahu sendiri.


Hari hampir siang, kakek baru sampai ke pondok. "Dicariin dihutan ternyata sudah pulang" gumam kakek yang melihat Nanda dan Rama sudah segar.


"Iya kek, tadi kita kehausan makanya langsung pulang. Maaf ya kek" ujar Nanda.


"Iya, tidak apa-apa. Tadi di hutan kakek bertemu dengan polisi. Katanya mereka mencarimu" tunjuk kakek pada Zapata. "Tapi kakek bilang tidak pernah lihat. Apa mereka itu temanmu?" lanjut kakek bertanya pada Nanda.


"Bukan kek. Dan terimakasih karena sudah mengamankan nasib kami kek. Bagaimana dengan obat-obatan Bibin?" ujar Nanda.


*****


Guys, jujurly geli banget rasanya sok nulis novel dengan genre action padahal sendirinya gak begitu suka yang action-action hehe...


Maaf banget yaa kalo novelnya jadi garing. Niat hati mau out of the box, malah terlanjur basah sekalian.... Tapi mo di bilang action juga ga action-action banget....


Maunya aku tuh apasiiiiih???? Jadi bingung sendiri

__ADS_1


__ADS_2