
Minggu pagi, Dinda dan Nanda yang telah rapi dengan pakaian kasual mereka kini tengah mengemasi beberapa pakaian Nanda. Karena hari ini mereka akan pulang kerumah orang tua Dinda untuk mempersiapkan acara resepsi esok hari.
Keduanya nanti malam akan menginap di rumah Dinda. Dan mungkin hari Rabu baru akan pulang kembali kerumah Nanda.
Triiing.... Triiing...
Sherly memanggil.
"Halo, kenapa Sher?" Nanda yang mengangkat panggilan Sherly di ponsel Dinda.
"Abang, papa mama nanyain jam berapa pulangnya? Jangan siang-siang, ini udah pada rame yang ngumpul katanya mau pada ketemu sama penganten baru" Sherly menyampaikan persis seperti yang di suruh oleh orang tua Dinda.
"Nih Yank, sakit kuping aku denger tikus got ini" Nanda memberikan ponsel di tangannya pada Dinda.
"Halo Sher" panggil Dinda kepada orang di seberang telepon.
"Kak, papa mama nanyain kapan pulangnya? Katanya jangan pulang kesorean, ini banyak tamu yang pengen ketemu penganten baru katanya" Sherly mengulang kembali ucapannya yang telah sedikit mengalami perubahan.
"Iya, bentar lagi kita otw. Ini lagi packing baju-baju abang" jawab Dinda dengan kode Nanda untuk menyampaikan sebaliknya tapi Dinda tak mau mengikuti perintahnya.
"Ya udah kak ya, buruan... Oh iya, aku mau nitip sesuatu, bawain dress panjang yang kegantung di lemari ya kak, yang warnanya putih".
"Iya, nanti di bawain. Ada lagi?" tanya Dinda berpura-pura kesal.
"Hehe, nanti deh aku telpon lagi kalo ada". Sambungan mereka pun terputus. Dinda langsung menuju kamar Sherly sebelum ia lupa dengan titipan adik ipar kesayangannya itu.
Setengah jam kemudian, mereka melakukan perjalanan menuju rumah Dinda. Sampai disana terlihat tiang-tiang tenda sudah banyak yang di tegakkan meski belum semuanya. Nanda pun turun lalu menyapa semua yang ia kenali meski baru beberapa kali bertemu.
Lalu Nanda pun menyusul Dinda untuk masuk ke dalam rumah sambil membawa koper berisi pakaian miliknya. Ia pun meletakkan kopernya di dalam kamar tamu, karena kamar Dinda yang lama sudah dikuasai sepenuhnya oleh Sherly.
Dinda berkumpul dengan para ibu-ibu di ruang tengah sambil menyapa para tetangga yang kebetulan tak sempat hadir di acara akad sebelumnya. Disana juga sudah ada Ayu dan teman-teman Dinda yang lain, namun mereka malah pamit karena ternyata ada urusan lain. Kini hanya tinggal Ayu saja teman Dinda yang masih berada disana.
Mereka seperti lagi reuni karena sudah lama tak bertemu. Ayu pun juga tak lupa menjelaskan alasannya yang tak hadir di acara Akad Dinda karena anaknya saat itu sedang demam sedangkan Aidil juga saat itu sedang berada di luar kota. Tapi hari ini Aidil sedang tak sibuk maka ia ikut Ayu berkunjung kerumah Dinda. Aidil duduk di depan rumah karena di sana memang perkumpulan laki-laki. Kenal gak kenal, Aidil nimbrung saja.
"Selamat yaaa, akhirnya nyusul juga" ucap Ayu yang tengah duduk sambil memangku anaknya.
"Iya, doain gue cepet punya momongan ya" jawab Dinda penuh semangat.
__ADS_1
"Eh BTW, ngobrolnya pindah aja yuk, di kamar gue aja" ajak Dinda pada Ayu yang langsung menyetujui perkataannya.
"Eh tapi gimana sama laki lu? Jadi gak enak gue" ucap Ayu yang berjalan bersisian sambil menggendong anaknya yang kini tengah lesu karena ngantuk.
"Suami gue di luar, paling lagi pedekate sama laki lu" jawab Dinda menebak saja.
Kini, keduanya pun berbaring mengitari anak Ayu yang telah terlelap di kasur itu. Mereka bercerita dengan pelan perihal apapun yang layak untuk diceritakan.
"Gue punya gosip hot" pancing Ayu memulai rapat paripurna mereka.
"Pa'an?" tanya Dinda penasaran.
"Temen 1 gengnya bini si Ariel ada yang janda anak 1, namanya Vina. Si Vina ini gangguin rumah tangga karyawannya Aidil, namanya Niko. Niko ini nikahnya baru setaon apa 2 taon gitu, yang jelas mereka pasangan muda gitu, belom punya anak. Terus Niko ini deket sama Vina. Katanya sih emang Vina ini janda gatel. Dia aja gayanya udah kaya anak pejabat, tasnya branded. Ada yang bilang dia gangguin Niko buat nguras hartanya aja, soalnya butuh duit buat nafkahin diri sendiri" beber Ayu menceritakan gosip yang ia bilang hot tadi.
"Lah terus bininya Niko tahu?" tanya Dinda.
"Nggak, tapi orang-orang di sekelilingnya tahu, cuman gak berani bilang ke bininya" ucap Ayu.
"Gilak sih. Agak serem juga ya circlenya bini Ariel"
"Gue denger, mereka 1 geng itu gaya hidupnya mewah-mewah. Padahal gak tajir-tajir amat" ujar Ayu lagi.
Keduanya pun tertawa, mengingat hal konyol bagaimana upaya mereka buat mendapatkan info tentang Ariel yang akan menikah, sampai-sampai Zapata yang tak tahu apa-apa jadi ikut turun tangan mencari tahu tentang kabar terbaru Ariel saat itu.
"Tapi kini loe sama Ariel udah sama-sama bahagia kan?" tanya Ayu.
"Jelas" jawab Dinda mantap. "Si Nanda tapi anti banget sama Ariel" sambungnya.
"Dia tahu kalo Ariel mantan lo?"
"Gue gak kasih tau, tapi dia tahu sendiri. Gue juga kaget"
"Cemburu tanda cinta, Sist" goda Ayu.
"Cemburu tapi dia gak mau ngaku. Gengsi banget kayanya"
"Cowok mah gitu. Eh tapi, lo udah...." Ayu bertanya menggantung. Dinda jadi megerutkan kening tak mengerti.
__ADS_1
"Ehem-ehem" Ayu memperagakan dengan tangannya.
"Oh itu, kayanya gue di panggil nyokap. Gue tinggal bentar ya" Dinda sudah berniat untuk keluar namun Ayu mencegahnya. Karena Ayu sudah paham bahwa Dinda tak mau berterus terang padanya bahkan sampai berbohong demi menghindari pertanyaannya itu.
"Gak ada nyokap lo nyariin. Lo malu kan sama gue? Hahaha" Ayu menertawakan Dinda karena telah ketahuan akal bulusnya.
"Udah" ucap Dinda.
"Udah?" tanya Ayu kurang jelas.
"Iya, udah. Ih lu ngapain nanya itu sih" Dinda menutup wajahnya dengan bantal membuat Ayu makin gencar menggodanya.
Tengah asiknya menertawakan Dinda, tiba-tiba Nanda membuka pintu.
"Eh maaf, kirain gak ada siapa-siapa" Kaget Nanda saat melihat Ayu di kasurnya.
"Eh Nan, gak papa masuk aja, biar gue yang keluar" Ayu pun turun dari kasur lalu berjalan keluar.
"Kenapa sayang?" tanya Dinda.
Kini mereka bertiga dikamar itu. Dinda, Nanda, dan Hizam anaknya Ayu yang masih tergolek tidur di sisi Dinda.
"Anak siapa Yank?" Nanda malah nanya balik.
"Anaknya Ayu sayang" jawab Dinda sambil mengelus pipi gembul Ijam.
"Udah cocok" puji Nanda.
"Jadi apa?" tanya Dinda yang sudah tahu maksud perkataan suaminya.
"Jadi Ibu" Nanda lalu menciumi pipi gembul Ijam.
Sepertinya Nanda lebih tak sabaran daripada Dinda perihal momongan. Sebab Nanda memang pecinta anak kecil. Sepupu Dinda saja pada betah kalau main sama Nanda.
●●●
Jangan lupa vote, like, dan komen ya guys, favoritin juga biar gak ketinggalan update terbarunya...
__ADS_1
Terimakasih:)