
Sore harinya, Dinda yang perutnya sudah lebih enakan kini sedang menikmati pisang goreng buatan suaminya di halaman belakang. Karena Dinda sedang sakit, akhirnya Nanda-lah pihak yang menjadi penguasa dapur hari ini. Tentu saja dengan instruksi dari Dinda, karena jika tanpa pengawasan Dinda tentulah dapur akan disulap menjadi kapal pecah oleh suaminya itu.
Nanda duduk dengan membiarkan kepala Dinda bertengger di dada bidangnya. Walau hanya ditemani sepiring pisang goreng hangat, keduanya tetap bisa bermesraan layaknya pengantin baru. Memang baru sih, baru 3 bulan.
"Yank, kalo suatu saat Sherly bilang dia mau nikah. Kamu bakal kasih restu langsung, atau bakal cari tahu dulu tentang calon suaminya?" tanya Dinda seperti biasa kalau mereka berdua sedang quality time pastilah akan selalu ada pembicaraan mendalam antara mereka berdua.
"Cari tahu dulu. Karena aku ga bisa sembarang ngelepasin adik aku gitu aja. Setelah tahu baik buruknya, track record masa lalunya, paling aku kasih tahu aja sama Sherly. Kalo dia memang cintanya sama laki-laki itu, tugas aku tinggal kasih restu. Intinya gitu sih, Yank" jawab Nanda lugas.
"Kalo gitu, aku mau tahu laki-laki yang kaya gimana yang kamu mau buat jadi pendamping Sherly?" tanya Dinda lagi.
"Pokonya dia harus laki-laki yang seiman, takut akan Tuhan, bertanggung jawab, yang gak cuma menerima kelebihan Sherly aja. Tapi juga seluruh yang ada pada dirinya" ujar Nanda.
"Kamu sedih gak kalo Sherly nikah?"
"Ya sedihlah. Apalagi dia pasti bakal ikut suaminya. Tapi itulah kehidupan, gak bisa sama terus dari tahun ketahun. Pasti ada yang berubah. Tapi menikah itu kan ibadah, jadi aku juga pasti bahagia. Karena Sherly sudah menapaki jalan kehidupannya sampai di fase menjadi istri. Dan aku yang akan menikahkan dia nanti" Nanda menjadi berkaca-kaca membayangkan dirinya yang suatu saat akan melepas adiknya dan menyerahkannya pada suaminya kelak.
"Kamu sedih ya?" Dinda mengusap air mata yang mengalir di pipi suaminya. Ia tahu Nanda menangis karena kepalanya yang berada di dada Nanda terasa bergetar saat Nanda menceritakan perihal pernikahan Sherly yang entah kapan hal itu akan terjadi. "Kita jangan bahas itu lagi deh. Bahasnya yang lain aja" ujar Dinda agar Nanda tak semakin bersedih.
"Gak pp, setidaknya aku sedihnya udah nyicil dari sekarang. Jadi kalo suatu saat Sherly beneran nikah, aku udah gak sedih sedih amat" kata Nanda memeluk pinggang istrinya erat.
"Aneh banget sii, mana bisa gitu" ujar Dinda gemas mencubit kecil perut suaminya sembari bertatapan dengan Nanda.
Saat keduanya sedang bercum*bu, tiba-tiba mereja kedatangan tamu pengganggu dari rumah sebelah. Siapa lagi kalau bukan Jovan.
"Opss, astaga mata aku" ujarnya sok kaget.
"Heh dasar tetangga gak punya aturan. Masuk kerumah orang tuh ketuk pintu dulu" ujar Nanda menahan kesal karena hasratnya untuk bercocok tanam diruang terbuka sesuai dengan fantasinya selama ini kembali tertunda karena ulah Jovan yang tiba-tiba datang kerumahnya.
"Udah ketuk bang, nih lihat kepalan tangan gue aja sampe merah. Lagian mau ngetuk sampe nih tangan lepas juga gak bakal dibukain, lha abang sama kak Dinda lagi di belakang. Mana bisa dengar" Jovan malah asyik berdebat dengan Nanda sedangkan Dinda baru saja selesai merapikan pakaiannya di balik bangku tempat mereka bercum*bu tadi.
"Selama belom disuruh masuk ya jangan masuk" gerutu Nanda.
"Katanya aku udah dianggap adik sendiri" Jovan memasang wajahnya sememelas mungkin pada Dinda.
"Udah-udah, ayo masuk. Kita ngobrol di dalem aja" kata Dinda menengahi perdebatan dua pria beda generasi itu. Tak lupa ia juga membawa sisa pisang goreng buatan suaminya ke ruang tengah untuk disajikan buat Jovan.
Mereka pun akhirnya berbincang di ruang tengah. Jovan menyampaikan segala keluhannya pada Nanda dan Dinda bahkan saat sepasang suami istri itu baru saja mendudukkan tubuh mereka di kursi.
__ADS_1
"Sakit hati gue bang, sakiiiiit" ujar Jovan sambil *******-***** dadanya.
"Lo kenapa sih? Datang gak di undang, sekarang malah ngeluh-ngeluh sakit hati" sambut Nanda setengah tak peduli.
"Lo lihat ini bang" Jovan membuka ponselnya lalu memperlihatkan sebuah foto pada Nanda.
"Lah" kaget Nanda saat melihat foto Sherly bersama Rama dan anak bayi.
"Ini kapan ya?" gumam Nanda.
Dinda pun mendekat ikut memperhatikan ponsel Jovan yang ada di tangan Nanda.
"Mana gue tahu bang. Tuh foto baru dikirim Sherly sebelum gue kesini" ungkap Jovan.
"Apa mereka jadi ke panti hari ini?" tanya Dinda.
Seketika tatapan Nanda dan Jovan langsung beralih ke Dinda. Mereka merasa ada yang tidak beres hari ini. Terlebih Nanda sempat berkirim pesan dengan Rama tadi pagi. Dan Rama bilang bahwa dirinya dan Sherly tidak jadi ke panti asuhan hari ini melainkan besok sore setelah Sherly pulang sekolah.
"Gimana ni bang, kak? Banyak ketinggalannya gue. Tuh cowok dokter, sudah jelas mapan, dan tampan pula. Lah diriku?" mendadak Jovan berdrama di depan Dinda dan Nanda. Bukannya iba, tapi malah lucu melihat keadaan miris Jovan saat ini.
Nanda pun menghubungi Rama yang masih dalam perjalanan menuju apartemennya. Selama panggilang itu masih dalam keadaan belum diangkat, Nanda sudah mengaktifkan load-speakernya agar Jovan dan Dinda tak perlu ikut menempelkan telinga mereka.
"Halo Ma, sorry ganggu. Mau tanya, uang yang kemaren udah lo serahin ke panti?" tanya Nanda rada diplomatis biar Rama tidak curiga.
"Oh, udah udah. Ini gue baru aja pulang antar Sherly balik dari panti" ujar Rama.
"Oh, gue kira besok sore Ma habis Sherly pulang sekolah" sambut Nanda mengulik informasi.
"Nggak, kan kita janjiannya di depan elo juga kan? Masa lo lupa kalo perginya hari ini" jawab Rama.
"Ah ingat kok ingat. Cuman gue pikir kalian bakal re-schedule" ucap Nanda beralasan.
"Oh nggak kok, lebih cepat lebih baik" sahut Rama.
"Ya udah ma, syukurlah kalo uangnya udah sampe ke tangan yang tepat. Sekali lagi makasih ya karena udah mau nemenin Sherly kesana. Gue juga udah lihat fotonya" kata Nanda.
Jovan menendang kesal kaki Nanda karena Nanda malah ramah pada Rama sampai mengucapkan terima kasih karena sudah menemani Sherly ke panti asuhan. Membuat Jovan merasa tercabik-cabik hatinya karena menduga Nanda berpihak pada Rama.
__ADS_1
Sedangkan Nanda hanya melototkan matanya pada Jovan yang telah menendang kakinya.
"Hm, foto? Foto yang mana?" kali ini justru Rama yang ingin tahu.
"Foto lo sama Sherly, sama anak bayi" ujar Nanda.
"Oh itu, iya. Lucu banget bayinya. Jadi tergerak pengen buru-buru nikah gue" ujar Rama yang tak diketahui Jovan bahwa saat ini Rama sedang membayangkan Maudy, kekasihnya. Bukan Sherly. Sedangkan Jovan yang sudah terbakar cemburu langsung membasahi wajahnya di keran tempat cuci piring.
"Sudah saatnya gue menikah sama wanita yang bersedia untuk selalu ada selama kurang lebih 10 tahun ini" ungkap Rama.
Jovan langsung terkesiap mendengarnya. "Hah? Jadi bukan Sherly?" ucapnya pelan melihat ke arah Dinda.
Dinda hanya menggeleng kepala sebagai jawaban "tidak"nya.
"Ah baguslah kalo gitu. Gue sama Dinda ikut bahagia kalo lo menikah" ujar Nanda sembari menahan tawa karena menertawai Jovan.
"Iya, thanks ya. Walau kita baru kenal, tapi kayanya kalian termasuk tamu spesial gue" ungkap Rama.
"Iya, kapanpun acaranya kita pasti datang kok" ucap Nanda.
Akhirnya setelah berbincang cukup lama mereka pun mengakhiri panggilan teleponnya. Walau tadi Jovan sempat terbakar api cemburu namun kini hati dan kepalanya kembali terasa sejuk. Entah karena tersiram air atau karena mengetahui Rama akan segera menikah dengan kekasih hatinya.
"Dasar bocah gemblung. Tiba-tiba sakit hati tiba-tiba senyum lagi" ledek Nanda sembari menyantap pisang goreng buatannya.
"Cinta memang susah ditebak bang" ucapnya yang langsung mendapat tendangan balasan dari Nanda karena teringat Jovan lebih dulu menendang kakinya tadi.
"Sana sana pulang, udah mau maghrib masih aja dirumah orang" umpat Nanda agar Jovan tak lagi mengacaukan momen dirinya bersama sang istri padahal maghrib masih 1 jam lagi.
●●●●
Yahhh, besok udah senin lagi....
Siapa disini yang lemes banget menyambut hari senin?
Btw, tinggalin komen dan likesnya dong guys.
Jangan lupa kasih vote dan hadiahnya juga doong, pleaaaasseeeee.... Aku memohon
__ADS_1