(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Mendapat Bukti


__ADS_3

Yo, yang baik hatinya mohon di like dan kasih vote ya guys... Aku sepenuh hati ngetiknya masa kamu setengah hati dukungnya👍💋


***


Setelah makan malam, mereka pergi lagi menuju gudang yang tadi sore mereka pantau. Mereka memang harus bergerak cepat guna menggagalkan sidang putusan Yono yang akan dilangsungkan esok hari pukul 2 siang.


"Lo bisa kesana mengendap-endap. Kalo tiba-tiba ada orang, sembunyi ditempat gelap dan tutup mata" kata Nanda.


Bibin pun berjalan dengan perlahan sambil mengamati situasi. Dengan ukuran tubuhnya yang mini, ia bisa sedikit lebih aman masuk ketempat itu dibandingkan 3 orang temannya.


Bibin menyelinap berjalan perlahan merapat ke dinding gudang. Ia takut sekali tersentuh dengan dinding itu karena terbuat dari seng untuk atap, yang mana jika tersentuh sedikit saja bisa menghasilkan bunyi yang cukup nyaring.


Bibin kini sudah berada di depan pintu bagian belakang gudang. Ada 3 orang penjaga dengan ciri seperti preman, tubuhnya besar dan penuh tato. Pokoknya seram.


Beruntung dibagian sana pencahayaannya terbilang minim, sehingga Bibin lewat tidak ada yang sadar. Dan masuklah Bibin dengan kamera yang telah terpasang di mobil-mobil mainan.


Dengan remot kontrolnya Bibin melajukan mobil-mobil mainan itu masuk ke sebuah ruangan yang paling dekat darinya sembari Bibin tetap bersembunyi di belakang sebuah mesin derek yang tak terpakai. Ditelinganya, juga sudah terhubung dengan Zapata, Rama, dan Nanda. Sebab kamera yang ada di mobil mainan memang dimonitor oleh Zapata dan yang lain.


"Masuk, jalan terus, lurus aja. Percaya sama gue. Berputar sebentar gue mau liat sekeliling. Nah oke, stop disitu aman" lapor Nanda ditelinga Bibin.


Bibin pun melajukan mobil mainan lainnya yang juga sudah terpasang kamera pengintai untuk di simpan satu-satu ditiap ruangan. Semua kamera itu guna menjadi saksi bisu untuk mengetahui percakapan ataupun tindakan ilegal Romi lainnya.


"Bin, cukup. Lo keluar sekarang juga" ujar Zapata.


Setelah tepat memarkirkan mobil pada posisi yang dirasa cukup aman, Bibin pun mematikan sambungannya dengan yang lain agar saat dirinya keluar kalau-kalau tertangkap setidaknya temannya yang lain tidak akan ketahuan.


Ditempat Zapata, Rama, dan Nanda menunggu, mereka masih belum melihat kedatangan Bibin. Dan makin lama, mereka mulai menyadari pasti ada sesuatu yang tidak beres.


Nanda berdiri dan memasang maskernya hendak maju menuju gudang, tapi Rama mencegatnya. "Kita maju lawan mereka pakek apa? Lo jangan nekat dulu. Cari apa kek buat jadi senjata" kata Rama menahan Nanda untuk tidak pergi dengan tangan kosong.


"Gue bisa bela diri. Kalian kalo mau ikut ambil kayu, disekitar kita ada banyak" titah Nanda.


Rama dan Zapata pun mencari kayu yang cukup besar yang mampu menggaplok orang sampai pingsan. Lalu mereka pun mendekati pintu gudang yang sama dengan yang di lalui Bibin sebelumnya. Mereka masuk mengendap-endap dan disana ketiga preman penjaga di pintu itu sedang tidak ada. Lalu tiba-tiba dari arah belakang mereka ada yang berjalan sambil bersiul dan dengan cepat Rama sambil gemetaran langsung memukul batang hidungnya hingga berdarah dan tak sadarkan diri. Untunglah pria pingsan itu belum sempat melihat mereka sudah digaplok duluan. Setidaknya ini akan aman.


Pria itu akhirnya mereka gotong kesisi yang gelap, untuk disembunyikan dari rekan preman yang lain. Agar tidak ada kegaduhan selama Rama dan yang lain masih berada disana.

__ADS_1


Tak dapat dipungkiri, dengan ambruknya tubuh besar itu ke dinding seng, membuat temannya yang lain ikut mendekati lokasi keberadaan Rama dan yang lain. Hal itu membuat mereka siap-siap ambil posisi untuk bersembunyi.


Tak lama, karena tak ada yang mereka temukan akhirnya para preman itu pergi lagi masuk kedalam ruangan yang tak diketahui oleh Nanda dan yang lain. Nanda dan yang lain belum berniat untuk menyerang mereka. Karena bekal untuk menjatuhkan Romi belum ada. Sedangkan tujuan mereka kesini murni untuk mencari keberadaan Bibin.


Mereka masih betah bersembunyi diatas mesin derek. Dan kemudian terdengar suara Bibin yang tertawa dengan beberapa laki-laki.


"Adek jangan main jauh-jauh lagi ya, disini bahaya" ucap seorang lelaki bertubuh gempal dan berpakaian rapi sedang menggendong Bibin.


"Iya om" ucap Bibin dengan diringi kekehan khas anak kecil.


"Kamu pulang kemana? Biar om antar ke tempat orangtuamu" ujarnya.


"Gak usah om, aku bisa pergi sendiri ketempat nenek" Akhirnya Bibin diturunkan di depan pintu belakang lalu mereka dadah-dadah sebentar dan Bibin pun pergi.


Dengan nafas ngos-ngosan, Bibin masih berlari menuju rumah. Ia sengaja berlari kearah pemukiman warga guna memastikan bahwa para preman yang menangkapnya tadi tidak lagi mengintainya dan percaya bahwa Bibin memang pulang ke rumah neneknya. Setelah dirasa aman, ia pun berbalik dan berlari lagi menuju hutan tempat Zapata dan yang lain berada.


Saat sampai dihutan, kosong. Tidak ada siapa-siapa. Yang Bibin jumpai disana hanya layar monitor yang menampakkan hasil rekaman dari kamera yang sudah ia tinggalkan diruangan gudang.


Terlihat disalah satu rekaman, ada Romi yang tengah menyiksa seorang wanita paruh baya. Tidak tahu apa kesalahan dari wanita tersebut, namun tanpa pikir panjang, Bibin segera menyiarkan itu di stasiun TV swasta yang ditonton secara nasional dengan kemampuan retasnya. Dan setelah dirasa rekaman itu sudah berhasil ia tayangkan, ia pun berusaha merapikan semua barang-barang yang ditinggalkan ketiga rekannya lalu berniat untuk segera pulang karena tubuhnya sudah letih berlari sejauh hampir 2 kilometer dan juga sempat menguji adrenalinnya saat ia tertangkap namun untunglah dengan tubuh mininya ia bisa berpura-pura menjadi bocah.


Namun sebelum beranjak, Bibin meninggalkan kertas bertuliskan "Andai Kamu Udah Pergi Untuk Langka Ajak Nasi Goreng".


Semoga aja otak mereka nyampe.


Bibin pun kembali kerumah kontrakan dan merebahkan tubuhnya yang penuh dengan keringat. Ia tertidur sebentar kemudian terbangun untuk mencari ponsel Nanda atau Rama guna memastikan dengan benar apakah rekaman video tadi sudah disiarkan. Karena hanya ponsel milik Rama dan Nanda saja yang memiliki kartu sim spesial yang ada sinyalnya.


"Halo yank" sapa Dinda dari seberang telepon.


"Halo, mbak ini saya temannya Nanda. Bisa minta tolong gak mbak? Tolong nyalain TVnya buat liat T*ran*stv. Kira-kira ada berita tentang penyiksaan gak disitu?" ucap Bibin.


"Hah? Maksudnya ada apa ini mas?" tanya Dinda panik. Dirinya saat ini tengah bersiap untuk tidur, namun batal karena telpon Bibin.


"Bukan Nanda mbak yang disiksa, tapi orang lain. Saya udah retas stasiun TV tersebut buat mengungkap sesuatu mbak. Tapi jujur disini gak ada TV jadi saya telpon mbak buat mastiin"


Dinda pun berjalan menuju ruang tengah guna menyalakan TV. Saat TV menyala ia pun langsung menekan nomor stasiun TV yang Bibin maksud.

__ADS_1


Dan tampaklah kejadian yang sangat menyedihkan, dimana saat wanita paruh baya yang dilihat Bibin sedang disiksa tadi ternyata kini sudah meninggal dengan keadaan mati terikat. Dinda pun menyampaikan apa yang dilihatnya pada Bibin.


"Mbak, tenang aja ya. Disini kami semua baik-baik saja. Suami mbak lagi boker makanya saya yang disuruh ngomong dan sebelum mbaknya udah tidur duluan" ungkap Bibin berusaha meyakinkan.


"Kamu pasti bohong. Karena suami saya mau dalam keadaan apapun tetap akan hubungin saya langsung. Telponan sambil boker sama suami saya udah sering. Mas ini bohong kan?" Dinda mulai terisak. Dirinya mengkhawatirkan Nanda yang sama sekali tidak pernah seperti ini. Ia jadi yakin bahwa Nanda sebenarnya tidak ada disana.


"Ta... Tapi saya beneran mbak" Bibin masih berusaha meyakinkan.


Digudang


"Turun turun, kayanya lagi ada acara deh. Kok gak ada yang ngecekin kita sih?" ujar Rama.


"Ah udah jangan banyak omong. Ayo kita balik ke hutan pasti Bibin udah nungguin"


Mereka pun segera berlari cepat menuju hutan. Dan ternyata disana semua peralatan pemantauan mereka sudah hilang. Dan menyisakan secarik kertas bertuliskan tulisan tangan Bibin.


"A KU PU LANG" rangkai Nanda.


"Dia udah dirumah, pasti Bibin yang beresin semuanya" sambut Zapata cepat.


Mereka pun segera pulang. Sesampainya dirumah, Nanda mengetuk pintu depan dan Bibin membukakan pintu dengan wajah tanpa dosa segera menyodorkan ponselnya ke Nanda.


Nanda menatap ponselnya, terlihat nama istrinya di panggilan yang tengah berlangsung itu. "Halo yank, kamu nangis? Kenapa?" tanya Nanda. Ia tidak pernah panik lagi ketika mendengar isak tangis istrinya, karena sang istri memang sangat cengeng, makanya Nanda jadi biasa saja karena memang sudah terbiasa.


"Ya ampun, aku kan memang lagi boker. Ya itu kan dulu. Disini ada temen-temen, aku kan malu masa boker sambil telponan. Udah-udah jangan nangis, emangnya kamu belum ngantuk? Iya, istirahat yang cukup ya. Selamat tidur istriku sayang" Nanda pun mengakhiri panggilan setelah mendapat kecup mesra dari istrinya.


"Mau berdiri sampe kapan nih?" tegur Rama karena posisi Nanda menghalangi pintu.


"Hehe, sorry sorry" Nanda menyingkir memberi jalan untuk Rama dan Zapata masuk terlebih dahulu.


Cletak


"Aaarggg" Rama meringis karena ternyata kakinya tersandung sebuah dingklik yang dipergunakan Bibin untuk menggapai kenop pintu.


Semua orang tertawa karena merasa terhibur dengan kecerobohan Rama yang berjalan tidak lihat-lihat.

__ADS_1


***


TBC ya guys, kalo ada yang nyemangatin heheww😔


__ADS_2