(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Hari Pertama


__ADS_3

Dinda dan Nanda menghabiskan malam ini dengan penuh keromantisan. Karena dirumah itu mereka hanya berdua saja, membuat mereka bebas mau berbuat apapun. Nanda yang sudah candu akan tubuh Dinda, sedikit-sedikit mau menempel terus pada Dinda. Kemana pun Dinda melangkah, ia selalu mengekori dari belakang.


"Yank, kamu kenapa sih? Heran banget, ke dapur ikut, aku pipis ikut, aku cuma melangkah buat cabut hp di colokan pun ikut" Dinda berjalan setengah berlari karena menghindari Nanda yang lagi-lagi mengekorinya padahal cuma mau cabut chargeran HP yang hanya beberapa langkah dari sofa yang mereka sedang duduki.


"Aku kangen sama kamu. Seminggu gak ketemu, bahkan chat aku jarang kamu balas, sekalinya di balas malah si Zara" ungkapnya yang kini tengah memeluk Dinda dari belakang.


"Namanya juga di pingit pak, masa iya di pingit tapi chatingannya lancar". Kini keduanya kembali duduk di sofa sembari menonton acara talkshow favorit Dinda.


"Di pingit itu wajib ya sayang?" tanya Nanda sambil membelai-belai rambut Dinda yang kini sudah setengah kering.


"Aku juga kurang tau. Kayanya tergantung pengantinnya aja" jawab Dinda yang mantap dengan posisi ternyamannya bersandar di dada bidang Nanda.


"Lah, kalo gitu kenapa kita pakek pingit-pingitan segala? Kamu sengaja mau nyiksa aku?" tanya Nanda sambil memutar wajah Dinda agar menatapnya supaya fokus dengan pembicaraan mereka saja.


"Gini lho Yank, setelah aku pikir-pikir. Kita di pingit aja biar pas ketemu jadi bener-bener pangling dan ada sirat-sirat kerinduan. Kan enak tuh, bertemunya di hari spesial. Coba kalo kita gak di pingit, gak mungkin nih kamu ngintilin aku sampe wc. Ya kan?" Dinda menjabarkan semua yang ada di kepalanya saat memutuskan sepihak untuk menjalani pingit. Ia tak membicarakan itu pada Nanda terlebih dahulu. Sedangkan Nanda yang notabenenya adalah pria lempeng. Manggut-manggut saja, karena ia pikir ini adalah kemauan dari keluarga Dinda. Tak mungkin Nanda akan menolaknya. Ah, ternyata ia sudah tertipu oleh Dinda.


"Jadi? Alasan kamu buat di pingit karena kepengen aku ngintilin kamu sampe wc ya?" tanya Nanda dengan wajah mesumnya.


"Ngapain mukanya begitu-gitu, geli aku lihatnya" tegur Dinda.


"Yee ngelak. Jawab dong" Nanda menusuk pinggang Dinda dengan telunjuknya sampai istrinya itu reflek tersentak karena kegelian.


"Hahaha, ampun yank. Iya-iya aku jawab" Dinda menjauhkan dirinya dari Nanda. "Ga gitu, aku mikirnya ga sejauh itu. Aku cuma mikir kalo di pingit kayanya bagus juga. Kan katanya bahaya kalo ketemu-ketemu mulu. Mentang-mentang udah mau nikah, nanti kitanya malah berbuat sebelum halal". Dinda menangkup kedua pipi Nanda dengan lembut. "Ngertikan sayang maksud aku?" sambungnya.


Nanda pun yang kini wajahnya sedang di pegang Dinda, lagi-lagi ia memanfaatkan kesempatan. Dengan cepat ia mencium bibir Dinda lalu Dinda reflek mendorong pipinya sehingga wajahnya dengan cepat terdorong menghadap ke kanan.


"Awww" ringisnya.


"Kamu sih, nyosor mulu. Udah ah, jadi ga seru nonton di ganggu kamu" Dinda pun berjalan masuk ke kamarnya meninggalkan Nanda yang kini tengah semangat 45 untuk kembali mengajak Dinda bergulat di malam hari.

__ADS_1


"Sayang.... Sayang...." sepanjang perjalanan Nanda menuju kamar, ia selalu memanggil-manggil Dinda.


Sengaja memancing kemarahan istrinya, karena ia akan membuktikan perkataan temannya yang sempat memberinya wejangan perihal pernikahan. "Kalo istri ngambek, bujuknya pakek senjata aja bro. Dijamin luluh 100 persen"


Nanda pun sampai di kamar. Ia melihat istrinya tengah bergelung dalam selimut.


"Cepet amat tidurnya" ucap Nanda. Ia pun duduk di sisi ujung kaki Dinda


"Yank" Nanda menggoyangkan kaki Dinda. Berusaha membangunkan istrinya yang ia tebak sedang berpura-pura tidur.


"Apasih" Dinda menjawab tanpa membuka matanya, lalu membalikkan badannya membelakangi Nanda.


"Kamu pura-pura tidur kan?" Nanda menggelitiki telapak kaki Dinda.


Lagi-lagi Dinda tersentak karena di gelitiki suaminya. Mereka pun akhirnya malah bergelut saling menggelitiki sampai akhirnya keduanya lelah sendiri lalu tertidur dengan posisi melintang. Dinda dekat sandaran kepala kasur, sedangkan Nanda di sampingnya dengan kaki yang menjuntai ke bawah karena posisi kepala mereka tidak sejajar.


Dinda berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar mereka. Ia mencuci muka lalu sikat gigi dan wudhu. Setelah itu ia membentangkan sejadah untuk dirinya dan suaminya.


Barulah setelah itu Dinda membangunkan Nanda yang tertidur pulas.


"Sayang, bangun" Dinda berbisik pelan di telinga suaminya sampai suaminya itu menggelinj@ng karena geli. Tapi Nanda tak kunjung membuka matanya.


Dinda pun tak kehabisan akal. Ia sengaja menggoda Nanda agar segera bangun.


Dinda memainkan jemari lentiknya. Lalu ia naik turunkan di atas dada Nanda. Kata Nanda semalam, ia suka di perlakukan seperti itu.


"Sayang, bangun"


"Kalo aku bangun sekarang, aku dapet apa?" tanya Nanda dengan suara khas orang baru bangun tidur. Dinda takjub, karena bau nafas Nanda yang sama sekali tidak berbau apa-apa membuat Dinda tak menghindar saat suaminya berbicara.

__ADS_1


"Dapet ciuman dari aku" jawab Dinda.


"Kurang menantang" jawab Nanda dengan isengnya.


"Ah lama banget, aku sholat sendiri aja lah" Dinda pun bangkit. Namun buru-buru di tahan Nanda.


"Gitu aja nyerah. Cup". Pagi-pagi buta Dinda sudah mendapat hadiah ciuman hangat dari suaminya. Lalu dengan santainya Nanda bangun dari tempat tidur dan berlalu masuk ke kamar mandi.


"Sayang, wudhu lagi. Tadi kan abis aku cium" teriak Nanda dari dalam kamar mandi.


Dinda pun menyusul Nanda ke kamar mandi. Setelah keduanya selesai wudhu, merekapun sholat dengan khusyu'. Setelah sholat, mereka menengadahkan tangan. Keduanya mengharap pada Tuhan yang Maha Esa agar selalu melimpahkan rahmatNya dalam hidup mereka. Dan semoga rumah tangga yang baru mereka bina ini bisa sakinah, mawaddah, warahmah.


Dinda mengaminkan do'a-do'a yang suaminya panjatkan. Dalam hati ia menambahkan, semoga mampu menjadi istri sholehah yang taat pada suami dan selalu mampu menjadi pendamping yang setia dalam suka maupun duka. Amiin.


"Sayang, kok kamu nyuruh aku wudhu lagi. Emang kamu tau ya kalo aku sebelumnya udah wudhu?" tanya Dinda saat mereka sama-sama lagi beresin peralatan sholat masing-masing.


"Ya taulah. Kan aku udah bangun" ucap Nanda sambil tersenyum.


"Kamu rese banget sih" timpal Dinda yang di kerjain Nanda.


"Lagian, siapa yang ga kebangun denger alarm kamu itu. Gendang telinga aku aja hampir pecah ni lihat" omel Nanda sambil mendekatkan telinganya pada wajah Dinda.


"Salah sendiri. Kalo bangun duluan ya matiin" Dinda bangkit menyimpan sejadah mereka lalu keluar kamar.


Dinda pagi ini akan resmi mengabdikan dirinya menjadi istri dari Nanda Wirawan. Ia akan menyiapkan segala kebutuhan suaminya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Dinda pun berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi mereka. Nanda menyalakan televisi di ruang tengah sembari menunggu Dinda selesai masak. Nanda tak lagi mengekori Dinda karena ia sendiri sebenarnya masih ngantuk tapi gengsi untuk kembali tidur.


Istri sudah rela bangun pagi demi masakin sarapan buat suami, masa suaminya malah enak-enakan tidur. Tahu-tahu bangun tinggal makan. Sebagai suami yang pengertian, Nanda tidak mau seperti itu. Ia harus ekstra menunjukkan pada Dinda, betapa bahagianya mendapatkan suami seperti dirinya. Nanda lelaki terbaik, tidak seperti mantannya, begitu pikir Nanda.

__ADS_1


__ADS_2