(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
48. Kita Ini Apa?


__ADS_3

Seperti pembahasan semalam, Dinda pagi ini kembali di jemput oleh Ariel karena akan menemani Ariel seharian di kantor. Aneh sih, tapi... itung-itung mengobati rasa rindu hehe, ucap Dinda dalam hati.


Dinda yang berpakaian semi-formal itu pun segera turun untuk sarapan. Di meja makan sudah ada orang tuanya yang sedang berbincang-bincang.


"Pagi ma, pa" sapa Dinda sambil mencium pipi mama dan papanya.


"Pagi sayang, kamu mau ngampus? Ga mau rehat sejenak gitu?" tanya mama yang salut dengan semangat anaknya untuk cepat-cepat menyelesaikan studi S1nya.


"Aku ga ngampus kok ma hari ini" jawab Dinda dengan tersenyum simpul.


"Terus? Anak papa mau kemana?". Kali ini papa yang bertanya.


"Mau ke kantor Ariel. Ga ngapa-ngapain sih. Arielnya yang ngajakin aku, terus aku iyain deh. Boleh ga nih ma, pa?" tukas Dinda sekalian meminta izin.


"Ya boleh-boleh aja. Pulang jangan larut" ucap papa memberi ultimatum seperti biasanya.


"Yee, sesuai jam pulang kantor dong pulangnya pa. Emang aku sama Ariel mau kemana lagi?" sungut Dinda yang tak terima telah di curigai oleh papanya.


"Iya iya, papa tau kamu sama Ariel bisa di percaya" ucap sang papa.


"Makasih ya pa, ma". Dinda pun sarapan bersama orang tuanya.


"Pa, ma, pergi dulu ya. Ariel udah di depan tuh" pamit Dinda pada orang tuanya dan tak lupa mencium punggung tangan kedua orang tuanya sebelum berangkat.


"Hati-hati di jalan sayang" ucap sang mama lalu di angguki Dinda.


Dinda berjalan ke luar menuju Ariel yang terlihat memainkan ponsel di dalam mobilnya.


Tuk tuk...


Dinda mengetuk kaca mobil Ariel sebagai pengganti Assalamu'alaikumnya. Sebab kalo langsung masuk nyelonong begitu saja ia agak canggung.


Ariel yang tersadar kalau Dinda sudah datang lalu menyimpan ponsel dan membukakan pintu mobil Dinda tanpa turun dari mobilnya.


"Masuk, Din" ucap Ariel yang wajahnya seperti sedang banyak masalah. Tapi tampilannya hari ini sangat rapi bisa sedikit menutupi kekalutannya dan wangi semerbak parfum yang Dinda suka langsung menyeruak masuk dalam indra penciuman Dinda saat Dinda terduduk di dalam mobil.


Saat pintu Dinda di tutup, Ariel tak langsung tancap gas. Dan hal ini membuat Dinda ingin bertanya namun tak ia lakukan. Jangankan bertanya, noleh ke arah Ariel saja ia tak berani. Lehernya kaku, hanya bisa melihat sisi kiri dan depannya saja.


Di dalam mobil itu, Dinda dan Ariel saling diam. Tak ada yang berani membuka percakapan lebih dulu.


Hingga terdengar suara keroncongan dari perut Ariel barulah Dinda berani menoleh. Ariel sedang menahan malu ternyata.


"Kamu lapar?" tanya Dinda akhirnya.

__ADS_1


"Kita beli sarapan dulu ya, terus ke kantor" jawab Ariel yang tampak tak nyaman di tatap oleh Dinda.


"Iya" jawab Dinda singkat.


Mobil pun melaju membelah jalanan yang padat pagi itu. Ada banyak gerobak penjual sarapan yang sudah Ariel lewati.


Dinda pun bingung, sebenarnya Ariel mau cari menu sarapan yang bagaimana. Toh namanya menu sarapan pasti yang di jual ya itu-itu saja.


"Beli sarapan apa?" tanya Dinda dengan tanpa menatap Ariel. Melainkan menatap ke arah luar jendela.


"Bubur ayam. Di depan sana bubur ayamnya enak. Kan kita pernah beli" jawab Ariel dengan nada datar.


"Kita? Kayanya ga pernah" tutur Dinda setelah mengingat-ngingat bahwa mereka sepertinya belom pernah beli bubur ayam berdua.


"Eh... ehmm, aku sama temen aku kayanya. Si Fikri" pungkas Ariel yang tergagap mencari alasan.


Dinda hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf "o". Karena ia yakin, pasti Ariel sama cewe lain. Di bohongin? Kusudah biasa, ujar Dinda dalam hati.


Setelah menemani Ariel sarapan dengan hanya diam saja, kini mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kantor.


Sesampainya di kantor Ariel pukul 08:10, semua karyawannya sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dinda yang pertama kalinya menginjakkan kaki di kantor milik papa Ariel ini pun banyak menyita perhatian para karyawannya.


Terlebih, Ariel selama ini tidak pernah membawa 1 perempuan pun ke kantor. Di lihat dari gesture tubuh Ariel saja pasti semua karyawan juga tahu kalau wanita yang berjalan bersisian dengannya ini ada hubungan spesial bukan klien bisnisnya.


Di tambah lagi desain interiornya yang terlihat mahal dan berkelas.


Wow, selera papanya Ariel benar-benar ga ngotak. Ini sih kantor rasa rumah. Kerja bisa nyaman banget, puji Dinda dalam hati.


Di sana juga terdapat toilet lengkap dengan westafelnya dan ada 1 ruangan lagi. Yakni kamar, biar kalau lelah bisa istirahat tiduran di sana.


Dinda hari itu benar-benar menjalankan tugasnya sebagai pajangan yang hanya bertugas menemani Ariel kerja. Kalau Ariel tak mengajaknya bicara maka ia pun tak akan bersuara.


Canggung sih, tapi ya mau bagaimana lagi. Toh lama-kelamaan begini saja juga bikin nyaman.


Dinda yang mengantuk karena ia merasa suntuk tidak melakukan aktifitas apa-apa akhirnya tertidur di sofa kursi tamu yang ia duduki sejak baru sampai ke ruang kerja Ariel dengan posisi membelakangi Ariel. Ariel yang melihat Dinda tak lagi melakukan pergerakan apa-apapun akhirnya mendekat.


Setelah tahu jika Dinda tertidur, akhirnya Ariel menggendong Dinda ala bridal style menuju ke kamar. Setelah meletakkan Dinda dengan perlahan, Ariel pun sedikit membetulkan posisi bantal serta merapikan pakaian Dinda yang sedikit berantakan karena ia gendong tadi.


Seusai membawa Dinda menuju kamar, Ariel pun kembali berkutat dengan pekerjaannya. Pukul 12.00 Ariel memesan makan siang untuknya dan Dinda melalui aplikasi di ponselnya.


Saat makanan sudah datang, Ariel pun membangunkan Dinda untuk makan siang bersamanya.


"Dinda... bangun, ayo makan" ucap Ariel dengan nada datar.

__ADS_1


"Dinda... Din... Dinda" ucapnya lagi dengan suara naik 1 oktaf.


"Sayang bangun" kata Ariel lagi dengan melembutkan suaranya dan mengelus pipi Dinda.


Karena sentuhan lembut di pipi, Dinda pun terbangun dengan wajah kaget. Namun, melihat wajah Ariel yang sedekat itu ia tiba-tiba sendu. Ia bangkit dari tidurnya dan memeluk Ariel.


Hiks... hiks. Dinda menangis dalam pelukan Ariel. Ariel pun membalas pelukan Dinda.


Semua kejadian yang tidak mengenakkan akhir-akhir ini seolah bisa teratasi dengan pelukan. Jarak yang membuat mereka renggang seketika kembali mengerat setelah berpelukan.


"Balikin Ariel aku yang dulu... Balikin pacar aku yang dulu... Mana Ariel aku yang dulu? Ariel... Aku kecewa sama kamu" ucap Dinda dalam pelukan Ariel dengan sesekali ia memukul dada Ariel yang bergetar hebat karena Ariel pun menangis.


"Kamu jangan nangis, kamu ga sebaik itu" ucap Dinda setelah melepas pelukannya pada tubuh Ariel. "Kamu jahat. Aku benci kamu" pekik Dinda yang memegang kerah kemeja Ariel lalu mendorongnya.


"Sayang, maafin aku... Aku sengaja ajak kamu ke kantor biar kita bisa bicara berdua. Aku mau menebus kesalahan aku. Kamu tenang dulu, ayo kita makan. Nanti pasti aku jelasin" ujar Ariel menangkan Dinda karena menurutnya menyelesaikan masalah bisa nanti-nanti. Saat ini Dinda pasti lapar karena sudah waktunya makan siang.


Ariel menarik Dinda ke sofa untuk makan siang bersamanya. Namun, Dinda ingin ke toilet terlebih dahulu karena ia ingin mencuci wajahnya agar tampak lebih segar.


Sedangkan Ariel, ia hanya mengelap sudut matanya dengan lengan kemejanya. Lalu duduk dan menyiapkan makanan untuk segara mereka santap.


Mereka makan dengan suasana hening. Mereka sama sekali tak menghiraukan satu sama lain.


"Tadinya aku pikir, setelah pelukan kita jadi lebih baik" ucap Ariel saat mereka telah selesai makan.


"Tadi katanya mau jelasin sesuatu, mana coba? Aku mau dengar" titah Dinda tanpa melihat Ariel.


"Aku tau aku salah, aku ngelakuin itu waktu kamu putusin aku" ujar Ariel.


Cih...


"Selalu aja kamu beralasan kaya gitu. Aku memang pelupa, Riel. Tapi ga bego juga. Jangan karena aku sering mutusin kamu terus pas kita udah balikan dan kelakuan kamu baru ketahuan kamu beralasan kalo kamu begitu saat kita putus. Pinter dikitlah, Riel kalo cari alasan. Itu aja tanggalnya waktu kita habis balik dari bukit kan? Dan kita bener-bener sedang akur waktu itu. Aku cinta sama kamu, Riel. Tapi rasa cinta juga bisa luntur kalo kepercayaan aku kamu uji terus" rutuk Dinda pada Ariel yang terkesan selalu memanfaatkan sikap Dinda demi menutupi kesalahannya.


"Aku ajak kamu ke kantor biar kita bisa habisin waktu berdua. Aku rindu kamu. Aku ga bisa tanpa kamu. Aku memang ga setia, tapi sejauh apapun aku baliknya ke kamu juga. Kamu udah paling baik buat aku, Din. Maaf kalo aku ga bisa sebaik kamu. Aku ajak kamu ke kantor ini, biar kamu tahu, aku ga main-main sama kamu. Aku serius kerja biar bisa cepat halalin kamu. Dan biar kamu tahu, ini kantor aku. Ini bukti seriusnya aku buat masa depan kita nanti. Aku selama ini bener-bener pengen setia sama kamu. Tapi aku lemah, Dinda. Aku butuh sesuatu yang beda. Sama kamu aku ngerasa terlalu monoton. Dan ke mereka, cewe cewe yang kamu tahu jadi selingkuhan aku itu, aku cuma iseng. Ga lebih, aku aja sempat kaget waktu liat respon mereka yang justru lebih agresif dari aku". Ariel pun seketika menumpahkan semua sesak di dadanya dengan sambil memeluk kaki Dinda.


Dinda yang kaget dengan tindakan Ariel pun mencoba melepaskan rangkulan lengan Ariel pada kakinya. Namun, hasilnya nihil. Kekuatan Ariel jelas lebih besar di banding Dinda.


"Biarin aku kaya gini, aku ga tau harus apa lagi biar kamu tetap bertahan sama aku yang bodoh ini. Aku tahu kamu pasti capek ngadepin sikap aku yang ga pernah nepatin janji buat berubah. Nyatanya malah aku ulangin terus. Dinda, aku sayang kamu. Jangan benci aku. Aku salah udah buat hubungan kita hancur. Jangan pergi dari aku, Din. Jangan pergi". Ariel menangis di pangkuan Dinda. Ia benar-benar tak peduli dengan yang namanya harga diri, gengsi, dan lain-lain. Ia sedang berusaha keras untuk mempertahankan wanita yang ia cintai agar tidak pergi dari sisinya. Ia ingin hubungannya yang sudah di ujung tanduk ini bisa seperti sedia kala. Yang selalu menawarkan kehangatan, keceriaan, kebahagiaan.


"Kamu boleh hukum aku dengan cara apapun. Tapi jangan tinggalin aku" ucap Ariel yang mendongak menatap Dinda.


Melihat air mata yang mengalir di pipi Ariel, Dinda pun tergerak untuk mengusapnya. Dan akhirnya Dinda pun mengangguk. Tanda ia takkan meninggalkan Ariel. Ia tak tega melihat Ariel yang bersimpu di kakinya dan menangis sejadi-jadinya seperti sekarang ini.


Dinda pun meminta Ariel untuk kembali duduk di sampingnya dan Ariel pun menurut. Mereka berpelukan. Mereka kembali meneteskan air mata namun dengan senyuman yang mengembang di bibir masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2