
Holaaa, terimakaaih atas support kalian semuađź’‹
...*...
...**...
...***...
Semakin hari perut Dinda semakin membesar. Namun, itu tidak menghalangi dirinya untuk mengurus kebun bunga. Dinda memang sudah meminta cuti pada papanya sampai melahirkan, makanya ia bisa meluangkan banyak waktu di kebun bunga.
Dinda dan Nanda juga kini sudah memiliki beberapa karyawan untuk membantunya merawat bunga-bunga yang ada. Sebab Dinda dan Nanda tidak mengerti apa-apa tentang memupuk atau memilih bibit yang baik.
Bentuk kebun bunga juga sudah banyak berubah. Jika dulu saat diurus Yono, semua bunga disebar dihalaman dan bunga air ditanam di bagian belakang. Dibawah kepemilikan Dinda, bunga-bunga itu dirapikan lagi dan juga bahkan sampai di buat beberapa gazebo untuk tempat duduk-duduk.
Dibagian belakang kebun bunga ini ada satu warmindo, warung yang menyediakan kopi sasetan juga mie beserta rokok. Tempat para pekerja pabrik yang ada di ujung gang ini beristirahat.
Yang menjadi masalah adalah pemilik dari warung tersebut. Namanya Mpok Ami, wanita usia 35 tahunan dan selalu memakai hot pants dengan kaos super ketat. Padahal tubuhnya tidak kurus, melainkan montok berisi.
Wanita itu juga yang sempat di panggil menjadi saksi ke kantor Nanda atas kasus Yono, tapi karena ia tidak terlibat apa-apa karena pernah diberitahu sendiri oleh Yono, namun dirinya tidak percaya dan menganggap Yono hanya bercanda. Oleh karena itu Mpok Ami lepas dari segala tuntutan.
*
Tentang Feza dan Rama
"Ma, kita kapan pulang kerumah orangtua kamu. Kan mama Rita minta kita sesekali nginap disana. Ini udah berapa bulan kita nikah tapi kamu gak pernah ajak aku kesana" Feza melayangkan protesnya pada sang suami karena memang Rama sejauh itu jaraknya dengan orangtuanya sendiri. Termasuk dengan adiknya yang laki-laki. Rama hanya betul-betul dekat dengan Puput saja. Karena Puput lahir saat Rama belum memilih meninggalkan Indonesia.
"Jum'at aja habis aku pulang kerja aku jemput kamu di klinik terus kita nginap dirumah Mama Rita ya" jawab Rama sambil memasang dasinya sendiri. Ini efek kelamaan jadi bujangan, dirinya sudah kepalang mandiri dan sampai nikah pun apa-apa tetap sendiri. Kecuali tidur dan ... (Isi sendiri, semua jawaban benar).
Setelah sarapan bersama, mereka pun menuruni apartemen Rama untuk sama-sama berangkat kerja walau dengan mobil yang berbeda. Feza mencium tangan dan pipi Rama saat hendak lebih dulu masuk kedalam mobilnya. Sedangkan Rama hanya menatap kepergian sang istri lalu ia pun segera menyusul pergi meninggalkan area parkir itu.
* Diwaktu yang sama, ditempat berbeda
"Halo Zap, kerja gak lo hari ini?" tanya Aidil.
"Hoam, jam berapa ni?"
"Jam 8, gimana? Kerja gak lo hari ini?" tanya Aidil menuntut meminta jawaban.
"Males gue. Kenapa emang?"
"Hehe, gue gak enak sebenarnya. Tapi gue butuh banget bantuan lo" kata Aidil.
__ADS_1
"Apa sih, buruan ngomong gue mau lanjut tidur nih" ucap Zapata.
"Gue titip Ijam ya, Ayu lagi demam terus gue kan ada urusan bentar nanti kalo gue udah kelar gue jemput langsung" tutur Aidil.
"Mbaknya ikut juga gak? Mana bisa gue jaga bocil sendirian" ungkap Zapata.
"Ikut, tapi jangan lu godain ya" canda Aidil.
"Tergantunglah, gue kan normal" jawab Zapata bercanda juga.
Sekitar jam 10, Aidil datang kerumah Zapata mengantarkan Ijam anaknya beserta pengasuhnya. "Bi, Zapata mana? Aku mau kasih langsung ke dia aja" ucap Aidil pada ART dirumah mewah itu.
Plak plak plak
Terdengar langkah kaki yang turun menapaki tangga. Zapata tau Aidil sudah sampai kerumahnya.
Dengan kaos polo warna putih dan celana cargo selutut, Zapata menemui Aidil yang sudah rapi tengah berbincang dengan bibi.
"Nah, ni dia orangnya" ucap Aidil.
Aidil langsung memberikan Ijam dalam gendongan Zapata yang nampak belum siap menerima. Namun, untunglah Ijam tidak sampai terjatuh. Lalu Aidil juga menggantungkan 2 tas di leher Zapata yang berisi kebutuhan Ijam seperti alat mandi, baju ganti, kotak susu, botol dot, dan juga mainan Ijam.
"Gue berangkat dulu, klien udah nunggu" Aidil pamitan dan tak lupa mencium sekilas pipi anaknya.
Tapi setelah itu kesadarannya sudah kembali saat Ijam merengek minta diturunkan. "Mbak, saya udah siapin tempat main khusus buat ijam. Ajak aja dia main disana ya. Saya mau sarapan dulu".
Ijam dan pengasuhnya pun di antarkan oleh bibi menuju kamar tamu yang sudah disulap menjadi ruang bermain. Sedangkan Zapata sudah berlalu ke dapur hendak sarapan.
Setelah usai sarapan, Zapata hendak ingin memeriksa ke ruang bermain Ijam. Tapi karena mendengar gelak tawa Ijam yang menandakan kalau bocah itu baik-baik saja, Zapata pun mengurungkan niatnya lalu pergi ke kamarnya di lantai 2.
Zapata ketiduran, tapi baru sebentar ia tertidur dirinyapun terbangun karena mendengar isak tangis Ijam dibawah. Dengan tergesa-gesa Zapata menuruni tangga untuk melihat apa yang terjadi dengan bocah itu.
Zapata sampai dan langsung membuka pintu ruang bermain Ijam. Terlihat Ijam tengah ditenangkan oleh Mbaknya.
"Ijam kenapa?" tanya Zapata.
"Jatuh pak dari tempat tidur" jawab Mbak itu dengan ketakutan.
"Sini saya cek" Zapata pun mengambil Ijam dari pengasuhnya. Dan saat ia melihat wajah Ijam, terlihat lebam di bagian tulang pipinya.
Zapata pun panik. Apalagi ini anak temannya sendiri, bisa kapok Aidil menitipkan Ijam padanya.
__ADS_1
Zapata dengan langkah besar langsung keluar dari ruangan itu. Ia ingin segera membawa Ijam ke dokter untuk di periksa. Seingatnya, di komplek perumahan tempatnya tinggal ada klinik yang baru buka setahunan ini. Dan Zapata pun segera mendudukkan Ijam yang menangis sesenggukan memanggil-manggil papanya di penumpang depan. Tak lupa dengan seatbeltnya agar anak itu tetap aman.
Zapata dengan cepat melajukan mobilnya menuju klinik yang ia ingat itu. Setelah hampir sampai, dengan jelas mata Zapata membaca tulisan KLINIK DOKTER GIGI lengkap dengan nama dokternya, dokter Feza.
"Lah, bukan dokter umum? Duh" Zapata mengaduh. Ia juga menenangkan Ijam dengan mengusap-usap pelan punggung Ijam.
Karena bagi Zapata semua dokter sama saja, ia pun membawa turun Ijam untuk berobat. Saat hendak masuk ke dalam klinik yang berdempetan dengan rumah, Zapata berpapasan dengan seorang wanita. Itu Feza.
"Selamat siang" sapa Feza. Feza ramah karena ia yakin pasti ini calon pasiennya.
"Siang. Dokter Fezanya ada?" tanya Zapata sambil menimang Ijam.
"Saya sendiri, mari masuk" Feza membukakan pintu kliniknya yang terbuat dari kaca bening yang cukup tebal.
"Anaknya sakit gigi ya pak?" tanya Feza sambil membujuk Ijam yang tengah menangis, ia belum melihat dengan jelas ada lebam di wajah Ijam.
"Bukan dok, tapi jatuh dari tempat tidur. Bisa gak dok lebamnya segera diilangin" Zapata menunjukkan sisi lebam yang ia maksud pada Feza.
Feza tersenyum, "Bapak yang overprotektif. Bocah kan kaya gini mah biasa" bisik Feza dalam hati.
Feza pun mengambil cairan alkohol lalu meneteskannya pada sejumput kapas dan menempelkannya dengan pelan di pipi Ijam. Sebenarnya ini hanya bantuan kecil saja bagi Feza. Karena cairan alkohol punya sensasi dingin, yang bisa menetralkan sedikit rasa sakit.
"Nanti pulang, bapak kompres saja dengan air dingin. Karena saya gak punya es batu jadi pakek alkohol" tutur Feza.
"Hal kaya gini biasa kok pak terjadi sama anak kecil" sambung Feza.
"Saya cemas karena ini bukan anak saya dok" tutur Zapata.
"Papaaaa... Papa.... Mau papa" Ijam menangis sambil minta di gendong oleh Zapata.
"Anaknya aja udah manggil papa papa masih mau ngaku lajang ke gue. Dasar laki-laki hidung belang" umpat Feza dalam hatinya.
Zapata mengeluarkan uangnya hendak membayar Feza. Namun Feza menolak, karena ia merasa sama sekali tidak layak untuk dibayar. Tapi Zapata malah meletakkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke atas meja. Dan menggendong Ijam lalu pergi.
Feza mau mengembalikan uang itu tapi Zapata tidak menggubrisnya. Bahkan kaca mobilnya tidak ia buka.
Tbc ya guys, jangan lupa likenya lhoo👍👍👍
...*...
...**...
__ADS_1
...***...