
Di sebuah apartemen tempat Dinda berada. Ada seorang perempuan cantik dengan tampilan make up flawless dan berpakaian formal layaknya wanita karir. Ia datang untuk menemui rekan kerjanya yaitu Putra.
Sejak kedatangan wanita itu, Dinda hanya diam di kamar. Ia hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk kabur dari dalam sana. Saat tahu bahwa Putra sedang menerima tamu, ia pun segera melancarkan aksinya untuk keluar dari apartemen dan mencari bantuan.
Dinda keluar dari kamar itu dengan mudah karena tidak terkunci. Ia berjalan dengan sangat perlahan takut langkahnya akan ketahuan. Dinda sudah tahu dimana pintu keluar dari unit apartemen itu berada, namun sebelum sampai disana, Dinda harus lebih dulu melewati sebuah ruangan yang bentuk pintunya juga sama dengan pintu kamar sebelumnya.
Dengan mengendap-endap, Dinda melangkahkan kakinya sambil memastikan bahwa pintu itu tertutup rapat. Namun hampir saja Dinda melewati kamar itu, ia melihat bahwa ternyata pintunya sedikit terbuka.
Dapat Dinda lihat dengan sekilas bahwa furniture yang ada di dalam sana sama seperti layaknya kamar, hanya saja ada sofa besar di dalamnya. Mungkin ini kamar utama, pikir Dinda.
Dinda berusaha untuk berjalan cepat melewati pintu itu agar tidak terlihat oleh Putra yang sedang berbicara dengan seseorang di dalam sana. Saat dirinya baru saja akan menyentuh handle pintu keluar, tiba-tiba Dinda di suntik oleh seseorang dibelakangnya.
Dinda pun pingsan. Ia dibawa kembali menuju kamar yang ia gunakan sebelumnya.
"Ma, makasih udah mau bantuin gue" ucap Feza dengan sungguh-sungguh karena Rama telah berbaik hati mau membantunya menculik dan membawa Dinda ke apartemennya.
Rama adalah seseorang yang mengaku bernama Putra pada Dinda. Ia adalah seorang dokter yang juga merupakan sahabat Feza. Ia sengaja ingin membantu Feza karena alasan Feza yang mengatakan bahwa ada seorang perempuan yang perlu di jauhkan dari suaminya karena sang suami sangat kejam pada istrinya. Feza bermaksud ingin menolong wanita itu.
Rama percaya saja dengan alasan yang dibuat Feza karena memang selama ini Feza orang yang sangat baik bahkan terkadang ia menolong orang tanpa pamrih. Mirisnya, Rama tidak tahu bahwa Feza sudah berubah. Karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan membuat Feza jadi gelap mata dan berani berbuat apapun demi membalaskan sakit hatinya.
Dan Rama yang tak tahu apa-apa harus ikut terbawa dalam skenario yang telah Feza ciptakan. Rama adalah pria yang baik dan hubungannya dengan Feza murni hanya sebatas sahabat, tidak ada rasa yang menjurus pada asmara. Bahkan saat Feza 1 bulan berada di pelosok, Rama dengan rutin mengunjunginya setiap akhir pekan.
-
Ditempat lain
__ADS_1
Nanda dan Jovan malam ini berkeliling mencari dimana kemungkinan Dinda berada. Jovan membawa mobil milik Nanda menuju kerumah mertuanya untuk sama-sama mencari. Sedangkan Nanda menggunakan mobil Dinda melaju memecah kepadatan jalan untuk mendatangi rumah Ayu.
Sesampainya disana hanya jawaban yang tak ia harapkan yang ia dapat. Karena tak bisa kemana-mana, Ayu pun hanya mampu memberikan sedikit bantuan pada Nanda. Bahwa ia akan menghubungi semua teman-teman Dinda untuk menanyakan keberadaan Dinda. Dan jika ada kabar tentang Dinda, maka Ayu akan segera menghubungi Nanda.
Sampai tengah malam pun pencarian Nanda masih tak menemukan hasil. Nanda mulai merasa putus asa malam ini. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan mulai menyalahkan dirinya sendiri.
"Yank, kamu dimana?" tanya Nanda berbicara dengan foto Dinda di ponselnya.
"Jangan buat aku cemas kaya gini Yank, apa yang mau aku jawab sama orang tua kita kalo mereka nanyain kamu. Aku harus cari kamu kemana? Apa salah aku sampe kamu ninggalin aku kek gini? Aku memang bukan suami yang baik, tapi seburuk-buruknya aku ga pernah terlintas buat ninggalin kamu. Tolong pulang Yank hiks... hiks" Nanda dengan kasar mengelap air matanya yang mengalir deras. Ini kali pertama dalam hidupnya menangis sesenggukan setelah kehilangan neneknya.
Dering ponselnya berbunyi, Nanda kembali menetralkan deru nafasnya untuk menjawab panggilan dari mertuanya. Sebisa mungkin ia harus tegar di hadapan semuanya, walau nyatanya ia sendiri baru saja menangis.
"Assalamu'alaikum pa"
"Belum pa, aku masih di jalan mau cari Dinda" jawab Nanda kembali teringat istrinya dan lagi-lagi air matanya menetes namun dengan cepat ia hapus.
"Sudah larut malam, kamu pulang saja kesini. Papa yakin Dinda baik-baik saja. Kita lanjut cari besok pagi. Jangan siksa diri kamu, Dinda pasti baik-baik saja" ujar Papa yang sebenarnya hatinya juga tak kalah cemas dari Nanda tapi membiarkan Nanda hilir-mudik di jalanan dan ditengah malam seperti ini juga bukan sesuatu yang baik. Dan ia terus-terusan mengucap "Dinda pasti baik-baik saja" itu terus yang ia tekankan pada istri dan anak angkatnya (Sherly) dirumah.
"Iya pa, tapi biarin aku 1 jam lagi buat cari Dinda ya" ujar Nanda yang merasa terlalu cepat jika ia harus menghentikan pencariannya malam ini.
"Iya, tapi nanti kamu pulangnya kesini saja" perintah papa yang tak ingin Nanda ikut kenapa-napa.
"Jovan udah pulang pa?" tanya Nanda.
"Ini baru sampe. Dia juga habis keliling sama Sherly ke arah perusahaan sama nanyain ke rumah sekretaris Dinda" kata Papa dengan sedih.
__ADS_1
"Gak ada juga ya pa?" tanya Nanda.
"Iya, papa gak tahu lagi mau nanya ke siapa. Teman Dinda juga sudah di hubungi tapi gak ada yang tahu" ucap papa yang kini kekuatan hatinya mulai luntur.
"Ya udah pa, aku mau lanjut nyari lagi. Papa sama mama tenang ya, do'ain semoga malam ini juga aku ketemu Dinda" ucap Nanda yang kini gantian menyemangati papanya.
"Kamu hati-hati ya" ucap papa sebelum mengakhiri panggilan mereka.
Nanda pun bergerak menuju kantornya. Disana ada beberapa anggota kepolisian yang berjaga. Nanda meminta mereka untuk ikut mencari Dinda malam ini. Mereka bergerak berpencar. Nanda sendirian menggunakan mobil Dinda kearah Utara. Sedangkan yang lain menggunakan mobil dinas kepolisian satu mobil berdua ada yang ke arah barat, timur, dan selatan.
Nanda terus memacu mobilnya dengan kecepatan sedang sambil terus menatap kekiri dan kekanan. Ia sudah tak peduli seberapa jauh dirinya berkendara malam ini, karena keselamatan istrinya jauh lebih penting.
Nanda sampai ke tempat dimana terdapat banyak gedung apartemen yang tingginya begitu menjulang. Satu demi satu gedung tinggi itu ia lewati. Hingga entah mengapa ia merasa dirinya begitu dekat dengan Dinda.
Nanda menghentikan laju mobilnya di samping trotoar. Ia mengelus dadanya, ada perasaan aneh dalam dirinya. Perasaan itu terus saja memberi sinyal bahwa Dinda di dekat sini. Tapi Nanda yakin ini hanya halusinasi dirinya yang telah lelah mencari Dinda.
"Aaarrrggg" Nanda memukul setir mobilnya.
"Jangan tinggalin aku, Dinda. Kamu dimana? Pulang sekarang. Jangan buat aku cemas, Dinda. Aku mohon pulanglah. Jangan biarkan aku sendirian dirumah kita. Kamu sudah nyiapin lilin dirumah, pasti kamu mau kita makan malam romantis 'kan? Ayo pulang. Aku mau makan malam sama kamu. Kenapa kamu malah pergi, Din? Kamu sengaja mau lihat aku nangis? Aku sudah menangis sekarang, Din. Sekarang giliran kamu untuk segera pulang" Nanda berteriak-teriak dalam mobilnya. Berharap Dinda segera ditemukan.
●●●
Hai hai hai, maaf ya kalo ceritanya membosankan sampe aku lihat ada yang "unfav". Jujur aku sedih lho kalo kalian "unfavorite" tapi ya udah, mungkin memang aku belom terlalu jago nulis atau novelnya yang kurang seru, it's ok. Semoga kedepannya ide di kepala ini bisa meluncur tanpa batas, dan makin banyak mendulang support dari kalian...
Terimakasih:) buat yang sudah menyedekahkan vote dan likenya..., dan juga yang sudah meluangkan waktu menulis komentar di bawah ini, terimakasih:)
__ADS_1