
Malam harinya Dinda dan Nanda gagal janjian untuk pergi makan sate, alhasil mereka hanya video call-an karena Nanda yang menderita flu. Setelah berjam-jam melakukan panggilan video, akhirnya Dinda meminta Nanda untuk segera istirahat saja jangan sampai tidur terlalu larut.
Pagi harinya...
Dinda berangkat kerja sendiri seperti sebelumnya saat dia menghindari Nanda. Namun pagi ini beda cerita, karena Nanda memang tak bisa menjemputnya dikarenakan sedang demam. Nanti saat pulang kantor, Dinda akan menjenguknya di rumah.
Sampai kantor...
"Sttt, lo baru datang?" sapa Sigit saat Dinda baru saja meletakkan tasnya di meja kerja. Oh iya, Sigit ini satu-satunya karyawan paling on time daripada yang lain, sedangkan Sari dan Vinike belum kelihatan wujudnya.
"Menurut lo?" sahut Dinda memutar bola matanya jengah.
"Ya kali aja udah dateng dari tadi, tapi ngetem dulu di toilet" ujar Sigit. Padahal selama 3 tahun Dinda kerja bareng dengannya baru 4 kali Dinda sampai kantor mules-mules. Tapi hal itu di pandangan Sigit sudah seperti kebiasaan Dinda tiap hari.
"Lo tenang aja. Gue udah nyetor di rumah" sahut Dinda sambil memeriksa berkas yang kemaren sudah ia fotokopi.
"Nih, berkas yang lo mau" Dinda menyerahkan kertas-kertas itu pada Sigit.
"Thank you, babe. Eh by the way kemaren lo digosipin kena kasus sama anak-anak" ujar Sigit sambil menerima uluran kertas dari Dinda.
"Hm? Kenapa?"
"Gara-gara lo di jemput Nanda kan kemaren?" tanya Sigit.
"Huftt, terus disangkain gue kena kasus gitu? Ah bener-bener deh. Anak-anak kok pada cuek banget sih, harusnya mereka tuh ngeh kalo selama ini gue di antar jemput sama polisi itu artinya pacar gue ya polisi" tutur Dinda yang merutuki sikap teman sekantornya.
"Terus lo ga jelasin ke mereka? Itung-itung bantu belain gue gitu" sambungnya.
"Hahaha gue sama Sari sama Vinike, cuma ketawa doang. Biarin aja mereka dengan tudingannya. Nanti juga tahu sendiri"
Dinda dan yang lain yang juga sudah sampai kantor pun melakukan tugas sesuai bagian kerja mereka. Sampai jam kerja usai, akhirnya mereka pun berpisah di halaman parkir kantor.
Dinda melajukan mobilnya menuju ke sebuah apotik untuk membeli vitamin serta obat flu dan kemudian membelikan buah segar untuk Nanda. Sampai di rumah Nanda, ia di persilahkan masuk oleh Bibi.
Tok... tok... tok...
__ADS_1
Dinda mengetuk pintu kamar Nanda yang selama ini tak pernah ia masuki. Dan saat pintu kamar terbuka, Dinda melihat wajah Nanda yang merah di bagian hidungnya tanda keseringan di usap.
"Masuk Yank" tawar Nanda mempersilahkan Dinda untuk masuk.
Dinda membiarkan pintu kamar terbuka lalu ia melangkah dengan ragu-ragu, karena tak enak dengan Bibi masuk ke kamar laki-laki meskipun mereka memang ga ada niat mau ngapa-ngapain.
Nanda berbaring di tempat tidur karena katanya kalau duduk atau berdiri kepalanya pusing sekali. Sedangkan Dinda fokus mengamati poster yang terpajang di dinding kamar Nanda. Poster wanita bule dengan pakaian minim dan lain-lain.
"Jadi begini isi kamar cowok?" ucap Dinda. Entahlah, saat ini ia sedang bertanya pada Nanda atau bergumam dengan dirinya sendiri.
"Apa Yank? Aku ga denger" sahut Nanda sambil tetap memejamkan matanya untuk mengurangi sakit kepalanya.
"Jadi begini isi kamar cowok?" ulang Dinda dengan suara lantang.
"Emang kenapa sama kamar aku? Perasaan biasa aja" sahut Nanda, mungkin ia lupa dengan poster yang ada di kamarnya.
"Biasa gimana? Posternya kelewat terbuka begini" sahut Dinda masih berdiri menatap semua poster yang terpajang.
"Hehe, dulu nempelnya waktu masih nakal Yank" sahut Nanda cengengesan.
"Kalo sekarang?" tanya Dinda mengintrogasi.
"Terus kok gak di lepasin aja Yank?"
"Takut catnya ikutan copot Yank" jawab Nanda. Ada-ada saja alasannya.
"Terserah deh. Kamu udah makan belom?" tanya Dinda duduk di sisi samping Nanda sambil menyentuh kening Nanda dengan punggung tangannya.
"Tadi udah, makan bubur tapi dikit. Gak selera Yank" sahutnya dengan nada lemas membayangkan tiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya akan terasa pahit.
"Aku bawa buah tadi, kalo makan buah mau?" tanya Dinda sambil memijit-mijit kening Nanda.
"Enak Yank, sakitnya jadi agak berkurang" timpal Nanda yang melenceng dari pertanyaan Dinda.
"Iya. Jadi makan buah mau? Aku suapin" tawar Dinda yang langsung di jawab "Mau Yank" oleh Nanda.
__ADS_1
Dinda pun ke dapur untuk mengupas buah semangka dan beberapa buah lainnya yang tadi ia beli biar Nanda ga cuma makan 1 jenis buah saja. Setelah itu ia potong-potong dadu buah-buahan itu biar muat 1 kali suapan.
Dinda pun kembali ke kamar untuk memberi Nanda makan buah-buahan. Nanda pun menerima saja tiap buah yang Dinda dekatkan ke bibirnya.
"Tebak Yank, yang kamu makan buah apa?" tanya Dinda seolah Nanda benar-benar kehilangan fungsi indera pengecapnya.
"Duren" sahut Nanda cepat dengan diringi tawa.
"Apel Yank. Lagian mana ada orang sakit di sodorin duren" tukas Dinda sambil menyuapi Nanda buah yang lain.
"Kamu tuh yang ada-ada aja. Dikira aku udah ga punya lidah apa?" jawab Nanda sambil ngunyah.
"Yang lagi kamu makan, buah apa?" tanya Dinda lagi.
"Pir" sahut Nanda.
"100 untuk kamu" pekik Dinda seolah mereka lagi main kuis-kuisan.
"Ini lagi, aaa, buah apa hayoo?" tanya Dinda.
"Buah dada" ujar Nanda jengah karena tiap buah yang masuk ke mulutnya di tanyain terus.
Plak
Bibir Nanda yang sedang mengunyah pun di "cium" oleh jari Dinda. "Sembarangan aja" umpat Dinda karena di saat sakit otak Nanda kok jadi mesum begini.
Sedangkan yang di tabok malah tertawa. "Kamu tuh, aku sakit malah di tanya-tanyain. Aku malas mikir" ujar Nanda masih dengan tawa renyahnya.
"Kan jawab beginian doang ga perlu mikir" kata Dinda menolak pernyataan Nanda.
"Bagi aku tetap mikir Yank, apalagi apel sama pir rasanya mirip-mirip"
"Ngeles terus" timpal Dinda.
Sehabis sholat maghrib di rumah Nanda, Dinda pun akhirnya pamit undur diri pada Nanda dan Sherly. Ia sudah puas menjenguk kekasihnya yang sebentar lagi ia yakini akan segera sembuh karena dari cara bercanda Nanda yang sudah kembali normal.
__ADS_1
Sepulang dari rumah Nanda, Dinda membersihkan tubuhnya. Sudah beberapa lama ia tak membuka sosial medianya, karena sibuk dengan pekerjaan dan juga sibuk dengan waktunya bersama sang pacar yang kalo lagi ada waktu, ada banget. Tapi giliran ga punya waktu, bener-bener ga punya banget.
Dan saat Nanda sibuk bekerja, Dinda hanya fokus pada pekerjaan di kantor dan melatih kemampuan masaknya sebagai usahanya mengalihkan kerinduan hatinya pada Nanda.