(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
56. Kamis


__ADS_3

Di Pagi hari yang mendung seperti hati Dinda, Dinda mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikannya dengan lampu kamar yang semalam ia biarkan menyala sampai pagi ini. Dinda terbangun tanpa bantuan alarm ponselnya.


Dinda pun beranjak untuk segera mandi dan sholat Subuh. Beberapa hari ini semenjak Dinda tahu kalau Ariel akan lamaran, Dinda jadi semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.


Ia tak lagi mengulur-ulur waktu untuk beribadah, seperti halnya semalam. Ia sholat tepat waktu meski saat itu ia sedang berbelanja di mall.


Biasanya Dinda lebih memilih untuk sholat di rumah saja, karena lebih khusyu'. Dan juga tidak akan terganggu dengan aktifitas di sekelilingnya, pikirnya.


Semua barang belanjaan Dinda semalam juga telah ia serahkan kepada Bi Hanum. Terserah Bi Hanum mau di apakan atau di kemanakan.


Karena Dinda pun membelinya tanpa sadar, jadi bukan berdasarkan kebutuhannya. Contohnya, saat ia membeli perkakas.


Dalam hatinya saat itu ia ingin sekali menggetok kepala Ariel dengan tang. Lalu menyumpal mulutnya dengan kaos kaki.


Biar Ariel itu tahu rasa. Dia pikir enak di gantungin gitu aja tau-tau mau nikah. Otakmu dimanaaaa? Untung aja kamu punya mantan kaya aku. Coba bayangin kalo bukan aku? Mungkin kamu udah di viralin di sosial media. Di bikin malu sekeluarga. Pekik Dinda dalam hati saat ia sedang tak sadar bahwa sudah menyerahkan uang kepada petugas kasir untuk membayar alat perkakas yang sebelumnya lebih dulu ia serahkan.


Kini, hari kamis. Dinda yang telah rapi dengan setelan kerjanya tampak sangat cantik meski belom memoleskan satu kosmetikpun di wajahnya.


Pandangannya tertuju pada kalender yang tersedia di meja belajarnya. Ia memandanginya...


"2 hari lagi kamu resmi jadi calon suami orang. Semoga bahagia ya. Semoga 1 pun keturunan kamu kelak ga akan ada yang senasib sama aku. Nyesek banget, Riel. Tapi berkat kamu, aku bisa jadi lebih tegar. Suatu saat kalo ada yang nyakitin aku lagi, aku yakin lukanya masih ga ada apa-apanya. Karena ada luka yang jauh lebih sakit, yaitu luka dari kamu, Riel. Gila ya, standar luka aku tinggi banget. Susah lho orang-orang mau ngalahin standar yang kamu buat" ucap Dinda sendu tanpa mengalihkan pandangannya dari kalender itu.


Dinda pun yang sudah bisa mengontrol perasaannya pagi ini langsung duduk ke meja riasnya. Karena mau bagaimanapun hidupnya harus tetap berjalan.


Pagi ini ia harus bekerja dan tampil ceria seperti biasanya. Lambat laun ia pasti bisa mengikhlaskan Ariel dengan wanita pilihannya.

__ADS_1


Setelah puas dengan tampilan paripurnanya hari ini, Dinda pun segera turun dengan menenteng tas tangannya dan menuju ruang makan. Hari ini Dinda sarapan sendirian saja karena orang tuanya sedang pergi ke Sumatera, kalo ga salah kata Bi Hanum semalam mereka berangkat ke Medan untuk kontrol perusahaan papa Dinda yang ada di sana.


Setelah memakan sepotong roti tawar lengkap dengan selai nanas dan segelas teh hangat. Dinda pun pamit pada Bi Hanum untuk pergi ke kantor dan akan pulang malam lagi hari ini karena ada urusan.


(Padahal urusan melupakan Ariel)


Tepat saat Dinda melajukan mobilnya keluar dari pagar rumahnya, ternyata mobil Ariel pun baru saja keluar pagar. Meski hanya sebatas iring-iringan keluar komplek.


Hal ini cukup membuat jantung Dinda cenat-cenut. Bagaimana tidak? Orang yang Dinda cap paling kejam dalam hidupnya kini ada di depan matanya. Tapi rasanya sudah berbeda. Kalau dulu Dinda bisa tersenyum senang dengan keadaan seperti ini. Kini semua sudah berbeda. Ariel kembali menjadi orang asing dalam hidup Dinda. Ya... Orang asing yang tahu segalanya tentang Dinda.


10 menit berlalu, mereka masih iring-iringan. Tapi kemudian mereka harus terpisah di persimpangan jalan. Dinda yang harus belok kiri. Memang harus begitu, karena jalan menuju kantornya berbeda dengan jalan menuju kantor Ariel.


(Itupun kalo Ariel ngantor, huft masih aja mikir yang ngga-ngga tentang Ariel)


Kini Dinda sudah sampai di kantor, ia di minta untuk segera ke ruang meeting, karena pagi ini akan ada meeting internal yang dadakan terkait perjanjian kontrak yang Dinda dan Sigit tangani.


"Masih muda udah renta" ucap Sigit yang baru saja masuk ke ruang kerja mereka.


"Tau deh yang anak Ge Ye eM. Ototnya kekar tapi kebanyakan jeruk makan jeruk" balas Dinda tak mau kalah.


"Enak aja. Itu mah merekanya aja yang dari sononya ga normal" ucap Sigit beralasan.


"Gue normal yee" sambungnya dengan memamerkan jari kelingking yang di buat selentik mungkin di depan wajah Dinda.


Hal itu membuat Dinda tertawa lepas. Sigit memang satu-satunya cowok yang seruangan kerja sama Dinda.

__ADS_1


Kepada Sigit, Dinda paling akrab. Vinike sama Sari cuma sebatas teman kerja biasa.


Vinike sama Sari seperti menjaga jarak banget. Karena Sigit ini sudah mempunyai istri. Dan begitulah, namanya juga lingkungan kerja. Bergaul seperlunya saja.


Berbeda dengan Dinda, selaku karyawan paling muda. Jadi paling di sayang. Apa-apa tanya Dinda. Sigit pun kalau mau makan siang pasti nanya pendapat Dinda dulu, enaknya dimana dan makan apa.


Dinda pun merasa nyaman di perlakukan demikian oleh teman kantornya. Ia merasa punya kakak meski Dinda tak pernah bersopan santun terhadap mereka tapi justru seperti teman sebaya. Dan mereka fine-fine aja tuh karena jarak usia mereka pun tak begitu jauh hanya 2-4 tahun. Jadi enak juga untuk terbuka. Seperti tidak ada benteng yang menghalang di antara mereka.


Semenjak kehadiran Dinda di kantor itu, Dinda menjadi duta persahabatan di tengah-tengah Vinike, Sari, dan Sigit. Yang tadinya mereka tak begitu akrab, jadi akrab.


Bahkan mereka sering kali keluar makan siang bersama. Kata Sigit, semua berkat Dinda. Bocil yang masuk ke kantor karena nepotisme itu.


Mereka semua tahu, Dinda masuk kantor mereka secara cuma-cuma. Karena Dinda sahabat dari Istrinya Pak Aidil.


Awalnya mereka berniat ngospek Dinda, karena hal itu. Tapi setelah melihat wajah Dinda yang polos seperti adik sendiri, mereka pun menggagalkan sendiri niat awal mereka.


●●●


Sore harinya Dinda pun pulang kerja dan melanjutkan kegiatan hampanya lagi. Berkeliling sambil menjelajah tak tahu arah sampai Adzan Maghrib yang akan menghentikan laju kendaraannya.


Setelah selesai dengan kewajibannya senja itu, Dinda menuju ke salah satu Cafe di mana dulu ia sering menunggu Ariel menjemputnya saat habis mengunjungi Ayu di rumah orang tuanya. Di Cafe itu ada live musicnya.


Dinda begitu menghayati tiap-tiap lirik yang di nyanyikan oleh penyanyi itu. Kebanyakan lagu yang ia bawakan bertemakan patah hati.


Membuat Dinda semakin hanyut dalam perasaan hatinya. Apapun liriknya, ia cocokkan dengan kejadian saat ini.

__ADS_1


Sampai Dinda harus kembali terisak. Padahal ia sudah mulai senang hari ini. Tak lagi membayangkan wajah Ariel saat bekerja.


__ADS_2