(Siapa) Aku Tanpamu

(Siapa) Aku Tanpamu
Akibat Salah Paham


__ADS_3

Keesokan harinya Feza, Rama, dan Nanda bermain-main ke sungai. Mereka duduk diam mengamati sungai yang memiliki lebar 5 meter dan kedalaman 1 meter saja.


Air sungai yang jernih itu bisa membuat mata mereka mampu menelisik sampai ke dasar sungai. Semua ikan kecil yang berenang di dalamnya membuat Nanda dan Rama gemas untuk menangkapnya.


"Nyari ****** yuk" ajak Rama.


Nanda pun langsung menaikkan kaki celananya sebetis. Lalu beranjak menuju papan yang ada di atas aliran sungai itu sebagai tempat memudahkan untuk orang yang ingin buang air di sungai itu.


"Mana ada ******, gue lihat dari tadi anak ikan gabus semua" ujar Nanda.


Feza turut ikut ke atas papan. Mereka bertiga tidak mengetahui bahwa papan itu sudah mulai rapuh termakan usia. Sehingga ketiganya jatuh tercebur ke dalam sungai. Alhasil, airnya menjadi keruh karena dasar yang terinjak kaki mereka.


"Berat dosa ni pasti" ejek Rama pada Feza. Karena memang setelah Feza ikut naik ke papan mereka langsung jatuh.


"Enak aja" Feza pun menyiram-nyiramkan air pada muka Rama dan Nanda.


Mereka pun bermain air seperti anak kecil, padahal usia mereka sudah melampaui seperempat abad. Hingga pada akhirnya seekor anak ular berenang dengan anggunnya di dekat mereka.


"Ulaaaaarrr" panik Feza langsung menjadikan tubuh Rama sebagai batu loncatan untuk dirinya bisa naik ke tebing sungai.


Nanda yang panik tidak sengaja justru malah mengangkat ular itu lalu membuangnya kesembarang arah dan malah ke arah Feza. Akhirnya Feza melompat-lompat ketakutan. Takut ular itu masuk ke dalam bajunya atau tersangkut di bahunya.


Nanda dan Rama yang tertawa akhirnya ikut naik ke tebing sungai. Mereka mencari dimana keberadaan anak ular yang hanya sepanjang 50an cm.


"Udah gak ada, masuk lagi ke sungai kali" ucap Rama saat menelusuri rerumputan mencari keberadaan ular tadi.


"Huft, jadi basah. Pulang aja yuk" ajak Feza.


Mereka pun pulang dengan keadaan yang basah kuyup. Lalu di tengah perjalanan pulang ke rumah dinas, mereka berpapasan dengan Ratih anak Pak Ratmo yang sedang membawa sebuah teko dan beberapa gelas plastik di dalam kantong kresek.


"Mau kemana Mbak?" tanya Feza.


"Saya mau ke desa sebelah, antarin minum buat bapak. Ini dari mana? Kok basah kuyup begini" jawab Ratih sambil tersenyum ramah.


Nanda menyenggol bahu Rama. Memberi kode bahwa wanita yang ada di hadapannya ini bisa di dekati.


"Kita habis main di sungai Mbak. Emh memangnya kebun Pak Ratmo di desa sebelah ya Mbak? Jauh dong berarti" sahut Feza lagi.


"Nggak Mbak, kebunnya bapak ada di desa ini. Ini mau saya antarin minum soalnya bapak lagi ikut gotong royong perbaikan jalan yang sempat ketimbun sama tanah longsor itu. Kebetulan ada polisi juga yang bantu buat ngerapiin jalan biar nyaman buat digunakan sama masyarakat sini" ungkap Ratih dengan lembut.


Mendengar bahwa ada acara gotong royong, Nanda pun berniat untuk ikut bergabung agar dirinya semakin merasa berguna di desa ini. Dan juga disana pasti ada sinyal, dirinya bisa menghubungi istri tercinta yang sudah lama tak ia hubungi.


"Boleh ikut gak Mbak?" tanya Nanda.


"Lo gila? Gak malu apa kesana pakek baju basah kuyup begini" timpal Feza.


"Kita ganti baju dulu dong. Mbak ikut kita aja ke rumah dinas, nanti berangkatnya bisa barengan" ujar Nanda.


Mereka berempat pun berjalan lagi menuju rumah dinas. Ratih menunggui Feza, Nanda, dan Rama berganti baju sembari duduk di teras rumah dinas ditemani Pak Prima.


"Ayo Mbak, kita udah siap. Bapak beneran gak mau ikut?" tanya Feza pada Pak Prima.


"Gak deh, saya nunggu rumah aja" ucap Pak Prima.

__ADS_1


"Woy tunggu dulu" ucap Rama yang keluar masih sambil mengenakan baju. Huft, pasti sengaja biar bisa pamer perut one packnya.


"Hp lo" ucap Nanda mengingatkan Rama untuk membawa ponsel.


"Udah" jawabnya sambil memukul satu kantong celana bagian depannya.




Sampailah mereka ke lokasi gotong royong warga bersama pihak kepolisian. Kini jalan itu sudah setengah bersih dari tanah dan reruntuhan pepohonan.



Nanda berjabat tangan dengan beberapa anggota kepolisian yang ikut membantu warga memperbaiki jalan. Mereka juga yang kemarin ikut Nanda menangkap pelaku yang melecehk@n Feza.



Karena kedatangan mereka itulah makanya mereka tahu kalau jalan di desa itu ada yang terkena longsor. Mungkin kalau polisi itu tidak datang ke Desa M\*\*\*\*u tentulah tidak akan bergerak memperbaiki jalan ini.



Selama Rama dan Feza ikut bergabung bersama warga, mereka pun jadi tahu kalau ternyata Ratih adalah janda kembang yang banyak di dekati oleh para pemuda di desa ini. Namun, Ratih tak menggubris segala usaha mereka untuk mendapatkan perhatiannya karena ia berniat tak mau menikah lagi.



Rama pun beberapa kali mengamati wanita itu. Ratih terlihat seperti gadis desa yang masih polos. Wajahnya mencerminkan sisi keibuan dan kelembutan. Rama jadi tahu mengapa Ratih banyak yang naksir.




Nanda memotret sajian gorengan yang begitu nikmat untuk ia pamerkan pada Dinda. Biar nanti saat pulang ke rumah di bikinin juga.



![](contribute/fiction/3335831/markdown/16679843/1659869794248.jpg)



Setelah memfoto gorengan itu dengan kamera ponselnya, barulah Nanda ingat untuk menyalakan data selulernya. Tak berapa lama setelah data seluler nyala, *chat* dari pujaan hatinya langsung bertubi-tubi memenuhi notifikasi.



Nanda pun membacanya satu-persatu.



"Semalam kutahan, kutahan semalam. Lama-lama rindu tak mampu kutahan. Tapi sayang cintamu cuma semalam lalu kau pergi menghilang" Nanda membaca pesan itu dengan raut serius. Tak kepikiran bahwa itu merupakan penggalan lirik lagu.



Dirinya sudah menduga istrinya berselingkuh dan telah salah kirim padanya. Lalu ia kembali menggeser kebawah.

__ADS_1



"Aku sayang kamu juga sayang, tapi sayang kita berjauhan" Nanda merasa untuk pesan yang satu ini memang pasti ditujukan untuknya. Tapi kalau pesan yang diatasnya tadi, ia yakin bukan untuk dirinya.



Lalu Nanda lanjut lagi membaca yang ada di bawahnya. "Sekedar info: Suami tak pulang-pulang. Istri open BO" Nanda menggenggam ponsel itu kuat. Dirinya segera menghampiri Feza dan Rama. Ia langsung memperlihatkan pesan yang Dinda kirim kepada Feza dan Rama. Feza dan Rama berusaha menenangkan Nanda yang terbakar api cemburu.



"Sabar Nan, jangan kepancing emosi. Pasti cuma becanda" saran Rama sambil menepuk pundak Nanda.



"Iya, Dinda kayanya cinta banget sama lo. Gak mungkin ditinggal beberapa hari doang sama lo dia langsung selingkuh" ucap Feza.



Beginilah efeknya kalau yang satu ngikutin *trend* sedangkan yang satunya lagi tinggal di pelosok tak ada jaringan. Alhasil gak nyambung buat di becandain dengan hal yang sedang viral. Nanda pun memilih tak membalas pesan Dinda, ia berniat mau sok tegar dan sombong terhadap istrinya itu.



~**Jangan lupa like dan komen ya guys**~~



Setelah jalan sudah di rapikan seperti sedia kala, mereka pun pamit pulang ke rumah dinas. Rama dan Nanda berjalan bersisian didepan, sedangkan Feza dan Ratih di belakangnya. Setelah hampir sampai ke rumah dinas, mereka bertemu Windu dan beberapa anak lain yang hendak menuju keperbatasan desa untuk mencari sinyal. Gerombolan itu pun hanya sekedar saling senyum. Begitu pun Windu dan ibunya, anak perempuan itu hanya berkata " "Kesana dulu ya Buk".



Dan sambil berjalan-jalan itulah terdengar lagu dari salah satu ponsel teman Windu yang liriknya persis seperti yang Dinda kirim padanya. Nanda pun mendesah pelan.



"Aihhh" ucapnya sambil matanya terus mengikuti kearah ponsel yang masih memainkan lagu itu.



"Hahahahhaa" Rama dan Feza menertawai kelakuan Nanda.



"Bilangin sama Dinda, lain kali kalo mau ngajakin bercanda, yang *relate* sama kita aja. Yang barusan gak *relate* hahahhaa" sambung Rama lagi.



Tinggal di pelosok ini memang membuat mereka jauh dari peradaban. Kejadian apa yang sedang viral saat ini saja mereka tidak tahu apalagi hanya sebuah lagu. Nanda membujuk temannya untuk balik lagi ke perbatasan, namun Feza dan Rama menolak karena sudah capek berjalan.



"Yah, gak bisa dong gue balas *chat*nya Dinda" ucapnya meringis.


__ADS_1


"Makanya, jangan jadi sumbu pendek. Nyesel kan sekarang". Setelah berucap demikian, Rama mengajak Ratih dan Feza untuk kembali meneruskan perjalanan. Nanda pun dengan langkah gontai mengikuti dari belakang.


__ADS_2